Tilawah Hati

Reads
462
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Indah Parasanti

2. Santri "x"

Dari semua daftar hari, Minggu lah yang menjadi primadona. Niat hati ingin memuaskan diri untuk mendengarkan musik-musik rock yang sedang popular dalam daftar video offlineYoutube, membaca majalah yang berisi tentang berita terkini artis luar negeri. Dan banyak lagi keinginan lainnya. Namun, semua itu hanya bayang-bayang semata. Abi sudah mendaftarkan sejak seminggu yang lalu untuk belajar mengaji di sebuah pesantren dekat rumah.
Sedangkan Umi mendaftarkanku untuk belajar menjahit di tempat kursus yang jaraknya lebih jauh dari pesantren. Tapi kedua usulan tersebut dua-duanya tidak ada yang sesuai dengan minat dan keinginanku. Tekad abi agar aku bisa mengaji sepertinya lebih kuat dibandingkan keinginan dari Umi. Akhirnya aku mulai menjalankan rutinitas belajar mengaji seminggu sekali di pesantren tersebut.
Santri-santri yang lainnya, merka full day belajar mengaji dan mengkaji kitab-kitab kuning. Namun, berhubung di sekolahku sudah full time. Jadi, Umi menyarankan untuk istirahat di rumah. Lagi-lagi lain pendapat dengan Abi, yang mengusulkan agar aku belajar juga di pesantren setiap hari walau tidak sepenuh waktu. Baik itu sore atau pun malam.
Yang membuatku kagum, mereka tidak sama sekali menunjukkan bahwa sedang ada perselisihan diantara keduanya. Sempat suatu malam, ketika terbangun dari tidur, dan jam menunjukkan pukul sebelas malam. Abi dan Umi beradu pendapat tentang sekolah dan belajarku. Tidak terlalu jelas semua isi percakapannya. Namun, keesokan paginya ketika sarapan bersama, mereka saling melemparkan senyuman dihadapanku. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Hari Minggu, bertepatan dengan hari bermalas-malasan bagiku. Hanya Minggu sore, aku mengenakan busana muslim. Aku diberi hadiah gamis oleh Umiku dari koleksi butik miliknya setiap Lebaran. Jadi, aku pakai untuk acara keagamaan di sekolah dan setiap hari Minggu ketika berangkat mengaji. Sebenarnya tidak betah memakai baju panjang, apalagi menggunakan kerudung. Rasanya panas. Karena khas para santri di sini menggunakan pakaian yang tertutup, maka aku harus menyesuaikannya.
Ustadz Mukhlis sebagai pengajar para santri “X”, yaitu santri yang belajar mengaji khusus hari Minggu. Santri “X” berjumlah empat orang. Dua orang laki-laki, dan dua orang perempuan. Beliau sudah tiba di tengah-tengah kami. Teman mengajiku di santri “X” bernama Shafaa, rumahnya berdekatan denganku. Dia lembut dan sabar. Tidak sepertiku yang pecicilan dan mudah marah. Pernah ketika di dalam kelas, karena aku lagi tidak enak badan, kemudian teman-teman sekelas malah berisik dan bercanda tidak karuan. Kulontarkan kata-kata sebagai perwakilan dari kemarahanku. Ah, harusnya aku bisa menahan hawa nafsu marah itu.
Seperti biasa, ketika Ustadz Mukhlis menjelaskan, aku kurang konsentrasi. Belajar mengaji pun selesai. Ketika di perjalanan, ada sekelompok santri perempuan yang seakan-akan menghadang perjalanan pulangku bersama Shafaa.
“Hai anak santri yang rajin, dan alim. Sampai-sampai hanya di pesantren ini saja pakai kerudungnya. Biasanya pakai baju pendek dan rambut terurai pakai pita Hello Kitty.Ha…ha… ha…” ledek salah seorang santri perempuan.
Baru saja aku ingin membalasnya karena kesal terhadap ucapannya, tiba-tiba istri Ustadz Mukhlis yang kebetulan sedang berbelanja di warung, segera melerai.
“Fitri, Izzah, Sari, ayo pulang! Jangan mengganggu santri yang lainnya!” istri Ustadz Mukhlis berhasil menyuruh mereka pergi.
“Wina, Shafaa, maafkan mereka ya!” pinta istri Ustadz Mukhlis.
“Iya, Bu.” jawab kami berdua.
Gerbang berwarna hitam dengan desain minimalis sudah terlihat di depan mata. Aku sudah sampai depan rumah. Sedangkan Shafaa masih harus melanjutkan perjalanan pulang kurang lebih lima puluh meter dari rumahku. Setelah kutaruh tas selempang berisi Iqro, buku, dan alat tulis, Abi langsung menanyakan pelajaran mengaji yang barusan aku kerjakan. Berhubung sering tidak konsentrasi, jadi setiap Abi bertanya, aku tidak bisa menjawabnya. Untungnya Abi mengerti. Beliau selalu sabar menghadapiku. Dan aku yakin, Abi pasti percaya, bahwa untuk menjadi bisa, perlu pembiasaan serta keseriusan. Keseriusan inilah sebenarnya yang belum bisa aku praktikkan. Bahkan Iqro pun belum lancar.

Other Stories
Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Percobaan

percobaan ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Download Titik & Koma