Tilawah Hati

Reads
462
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
tilawah hati
Tilawah Hati
Penulis Indah Parasanti

1. Tentang Cita-cita

Riuh tawa terdengar sangat ramai di kelas lima SD Nusantara, Bogor. Apalagi kalau Gia, teman sebangkuku yang sudah bercanda. Murid dengan postur tubuh lebih besar dua kali lipat dari teman sebayanya. Gia adalah siswi di sekolah ini yang paling cerewet apabila aku belum selesai mengerjakan PR.
“Prak… prak… prak…”suara bambu kecil terdengar dipukul-pukulkan ke pintu oleh Bu Hanin. Guru yang terkenal galak dan pelit memberi nilai. Namun, kata-kata nasihat yang terlontar dari beliau sungguh memesona hati para siswa. Ah, kelak apabila aku jadi guru, ingin seperti beliau. Bisa memberikan nasihat-nasihat, tapi tidak untuk sifat galaknya, karena menyeramkan, pikirku dalam hati sambil tersenyum-senyum.
“Winaa!”tak disangka Bu Hanin memergokiku sedang melamun.
“I…iya Bu.”
“Dari tadi Ibu perhatikan, kamu terlihat melamun! Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Itu Bu… saya ingin menjadi guru seperti Ibu, namun tidak ingin mengikuti sifat marah-marahnya,” spontan tangan kananku menutup rapat-rapat mulut yang sudah terlanjur diucapkan. Dan seluruh siswa tertawa kecil.
“Winaa!” Bu Hanin terlihat ingin marah, namun sekejap diurungkan. Karena mendengar suara pintu terbuka yang ternyata adalah Pak Ridwan. Beliau Kepala SD Al-Iman, Bogor.
“Assalamu`alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,” sapa Pak Ridwan.
“Wassalamu`alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,”jawab semua siswa dengan serentak dan kompak.
“Berhubung Bu Hanin ada urusan mendadak, jadi jam mata pelajaran Agama, Bapak akan menggantikannya untuk sementara.
“Hore...!”
“A`uudzubillaahiminassyaitoonirrojiim. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ar-Rahmaan. `Allamal quran. Kholaqol insaan. `Allamahul bayaan. Sementara Pak Ridwan melanjutkan tilawahnya. Seperti biasa, aku mulai melamun sambil menikmati lantunan tilawah ayat suci Alquran yang dibacakan oleh Pak Ridwan.
“Wina, kamu tertidur?” tanya Pak Ridwan dengan lembut.
“Ma… maaf, Pak” jawabku sambil melihat ke kanan dan kiri dengan setengah sadar, seraya mengusap muka dan mata sedikit sipit karena rasa kantuk.
“Bapak kurang bagus ya tilawahnya, sehingga membuat kalian mengantuk?” Pak Ridwan bertanya kepada seluruh siswa, khas dengan nada lembutnya.
“Tidak, Pak. Maaf ya, Pak… tadi saya ketiduran.”
“Huuu…” teman-teman meledek.
“Sudah, tidak apa-apa. Baiklah, Bapak lanjutkan ya. Dalam sebuah kumpulan sari hadist nabi dijelaskan. Tidak ada yang dapat menjamin keselamatan seseorang dari kesesatan kecuali sejauh mana kehidupannya merujuk kepada Alquran dan hadits. Sampai di sini, apakah ada yang ingin kalian tanyakan? Apabila ada, silakan angkat tangan terlebih dahulu.”
“Saya Pak,” Ikhsan mengangkat tangan kanannya. Siswa yang satu ini terkenal dengan sifat pendiamnya. Dan sering mendapat nilai tertinggi di setiap semesternya.
“Ya, silakan Ikhsan.”
“Bapak belajar di mana? Lantunan bacaan Alqurannya bagus.”
“Oh, Bapak belajar tilawah ketika kuliah di Jakarta. Pada Ustadz Hidayat namanya. Beliau sering mengajarkan tilawah di masjid.”
Tiba-tiba muka Pak Ridwan terlihat pucat, semua siswa panik. Karan, yang kebetulan ketua kelas, langsung ke kantor untuk memberi tahu guru-guru yang lainnya. Sepuluh menit setelah kejadian itu, suara sirine ambulans terdengar mengarah ke sekolah. Seiringan dengan itu, suara belpun berbunyi. Pertanda jam pembelajaran di sekolah sudah selesai.
Padahal jarak dari sekolah sampai rumah tidak terlalu jauh. Namun, berhubung sifatku yang malas, jadi aku selalu minta untuk dijemput dengan ojek. Akhirnya Abi dan Umi menyewa ojek untuk antar jemput aku. Setiba di rumah, selesai mandi dan ganti baju, kuceritakan kepada Abi dan Umi, kejadian di sekolah mengenai pingsannya Pak Ridwan. Namun, anehnya Abi dan Umi tidak kaget. Hanya menundukkan kepala.
“Nak, doakan semoga almarhum Pak Ridwan diterima oleh Allah, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya,” perintah Abi kepadaku.
“Maksud Abi?” tanyaku penasaran dan bermaksud ingin mendapatkan penjelasan.
“Ya, Pak Ridwan sudah menghadap kepada Allah SWT. Pak Ridwan menghembuskan napas terakhirnya ketika masih di perjalanan dalam mobil ambulans. Abi mendapat kabar duka tersebut dari grup whatsApp orangtua murid,” papar Abi.
“Innalillahi wainna ilaihi roji`un. Abi, Wina mengagumi sosok guru seperti beliau. Bacaan Alqurannya bagus. Wina ingin seperti beliau. Walau sekarang yang sering didengarkan adalah musik-musik rock. Sebenarnya Wina tidak tahu artinya, namun masih suka aja mendengarnya. O ya, dan apabila sudah besar nanti, Wina ingin memiliki suami seperti itu,” ucapku sambil menatap wajah abi.
“Untuk musik yang selalu kamu putar setiap hari, memang sangat mengganggu. Apalagi Abi juga tidak paham artinya. Jangan-jangan liriknya tidak bagus. Tapi Abi yakin suatu saat nanti, pasti kamu akan menyukai apa yang seharusnya kamu sukai. Mengenai harapan, berharap, dan bermimpi, boleh-boleh saja Nak. Yang penting sekarang belajar dulu yang rajin ya!” kata-kata Abi selalu membuatku semangat. Berbeda dengan Umi.

Other Stories
Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Painted Distance (tamat)

Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Download Titik & Koma