3. Dihantui
Aku merasa tidak berdaya.
Aku melihat langit yang penuh dengan salju. Bertumpuk-tumpuk hingga aku hampir menyangka kalau aku berada di ruangan putih. Namun hanya satu yang membedakannnya. Wajahnya.
Wajah yang sangat tidak jelas. Menangisiku sepertinya.
Wajah yang menatapku penuh dengan tangisan, kesedihan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk menggerakkan mataku saja itu sulit sekali.
Wajahnya terangkat dan memperlihatkanku pohon-pohon yang dihiasi lampu kerlap-kerlip. Aku hampir tidak mengenal tempat ini. Namun saat aku melihat cahaya lain yang beterbangan, aku mulai mengingatnya.
Bagaikan ada yang mengisi otakku, sebagian kecil ingatanku kembali. Ini taman yang sangat populer itu. Taman Ueno. Sepertinya aku bisa menemukan orang itu di sana.
Aku tidak bisa bergerak dalam mimpiku. Bahkan hanya untuk sekedar menengok. Aku hanya bisa melihat wajahnya.
“Tidak. Ini tidak boleh terjadi,” dia terus berbisik mengatakan seperti itu. Air matanya yang mengalir membuat wajahku terasa agak basah.
Aku pasrah saja. Menutup mata. Sepertinya itulah akhir dari hidupku.
Dan hal itu terus berlanjut. Mimpiku tentang gadis itu terus menghantuiku setiap hari. Apa sebenarnya yang sudah kulakukan? Berbagai perasaan tercampur aduk di dalam pikiranku. Takut, sedih, penasaran, itulah yang terus aku alami selama seminggu terakhir ini.
“Aneh sekali. Biasanya setelah arwah masuk ke tempat pengosongan pikiran, maka segalanya akan terhapus dari otak kita. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menghilangkannya, tapi yang penting jangan lakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri, oke?” itulah saran dari Akane. Yang menurutku tidak berguna.
“Tapi, aku hanya ingin mengetahui apa yang terjadi, bukan ingin menghilangkannnya,” seruku.
“Itulah yang membahayakan dirimu,” dia menyilangkan tangannya di dada, lalu pergi.
Argh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku merasa aneh bila semuanya hanya tinggal dilupakan saja. Aku, aku harus mencarinya. Tak peduli seberbahaya apapun itu. Namun aku hanya memiliki satu petunjuk. Taman tersebut.
Aku segera menyiapkan diri dengan peta sebelum aku pergi. Aku tahu bisa mendapatkannya dari siapa.
“Peta Tokyo? Untuk apa?” tanya Yamada.
“Eh, aku hanya ingin pergi keluar saja sebentar untuk menikmati kota yang indah ini, kau tahu? Sebelum aku menyelesaikan pekerjaanku,” dustaku.
“Tak biasanya ada Shinigami yang ingin keluar dari kantor ini karena tahu bahwa bahaya besar tepat berada di depan mata, dan hanya tempat ini saja yang paling aman,” aku hampir mengira kalau dia tidak akan mengizinkanku.
“Karena itu, tolong carikan foto yang bagus, ya?” Yamada memberikan petanya sekaligus kamera.
“Untuk apa ini?” tanyaku.
“Aku selalu ingin keluar dari tempat ini, tetapi aku takut untuk melakukannya. Jadi mungkin itu semua tidak masalah untuk seorang Pelenyap. Dan tolong, jangan beri tahukan ini pada siapapun,” jari telunjuknya ia simpan di bibirnya. Tanda untuk diam.
“Terima kasih,” aku pun melenggang pergi.
Pikiranku berteriak, yes!
Yes untuk apa Kanzaki? Aku baru ingat kalau segala hal yang aku ucapkan dalam otak akan terdengar olehnya.
Eh, tidak. Kataku.
Aku keluar dari kantor dan mendapati pemandangan yang sama semenjak pertama kali aku keluar. Trotoar, jalan raya dengan pohon, semuanya terasa sama saja.
Lalu, apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak tak tahu cara membaca peta. Bodohnya aku.
Petanya terbalik, kata Eguchi. Aku tersentak kaget. Mungkin ini adalah hubungan batin yang suka dibicarakan oleh Aizawa waktu itu. Aku dan Eguchi dapat melihat hal yang sama, berbagi pikiran dan juga berkomunikasi satu sama lain. Seperti satu tubuh dengan dua jiwa di dalamnya.
Oh, terima kasih.
Aku membalikkan peta dan mencoba mencari Taman Ueno di dalamnya. Namun satu hal yang pasti adalah, taman ini terlalu besar.
Ini akan membutuhkan waktu seharian penuh, Eguchi berkomentar.
Eh, sudah pasti. Balasku.
Aku tidak peduli. Aku sudah terlanjur melakukannya.
Setelah keluar dari kantor, aku langsung menjalankan aksiku. Melompat-lompat seperti ninja.
Tanpa kusadari, aku menemukan segerombol aura gelap yang membumbung ke langit bagaikan asap. Itu artinya adalah tempat berkumpulnya para iblis yang bersemayam pada tubuh manusia. Namun yang harus kulakukan hanyalah membunuh siluman saja, tidak dengan iblisnya, karena itu tidak akan mungkin dilakukan.
Shinigami dan para iblis adalah musuh abadi.
Jarak tempat tersebut sangat jauh dari kantorku. Sekitar 30 kilometer bila kuhitung. Mungkin untuk sementara aku akan menginap di taman tersebut.
Aku tahu alat transportasi umum sekitar sini yang bisa digunakan. Kita bisa naik bus. Jarak terminalnya tinggal beberapa meter lagi. Eguchi memberitahuku.
Aku agak penasaran mengapa kamu mengetahui hal-hal seperti itu? Padahal kau mati bahkan sebelum kau mengenal tempat ini. Kataku penasaran.
Berarti kau belum tahu kalau sebenarnya aku adalah arwah gentayangan yang bebas pergi ke mana saja. Aku juga memiliki wujud selain menjadi pedang. Kau penasaran? Eguchi sepertinya ingin membuktikan sesuatu.
Aku melihat terminal yang dimaksud Eguchi. Aku mendarat dengan kedua kaki secara aman, lalu sadar kalau pedangku yang semula berada di pinggangku kini menghilang seketika.
Aku kebingungan. Menengok ke sana ke mari untuk mencarinya. Ya ampun kenapa ini bisa terjadi? Barusan dia masih ada di sini mengobrol denganku, sekarang pedangku menghilang.
“Mencariku?” seorang bocah kecil memanggilku.
“Itu, kau? Bagaimana…?” tanyaku balik.
“Bagaimana dengan wujud manusiaku? Keren bukan?” Eguchi dengan bangga memperkenalkan wujud manusianya. Aku mengangguk hanya sekedar mengiyakan.
Anak kecil berumuran sekitar dua belas tahun dengan kaos cerah polos dan celana jeans yang terlihat cocok. Setidaknya, Dia bisa membantu pencarianku.
“Jadi, apa yang kita tunggu? Busnya hampir berangkat,” tanyanya.
Oke, kami harus mengejar bus tersebut.
Kami melompati loket pembelian tiket dan dengan mudahnya memasuki transportasi umum tersebut. Tepat sebelum pintunya hampir ditutup.
Bus yang setengah kosong itu memberikan kami ruang untuk tidur, sementara busnya berjalan melewati beberapa terminal lain yang berjarak cukup jauh. Ini akan memakan waktu lama.
Dan aku pun terlelap.
“Hei, bangun, sebentar lagi kita sampai,” Eguchi membangunkanku yang ketiduran. Aku mengucek mata dan segera berdiri.
Turun dari bis lalu berjalan jauh sehabis tidur itu membuatku pusing. Apalagi siang ini terasa agak panas. Meskipun aku sudah mati, aku tetap bisa merasakan penderitaan manusia hidup.
Namun tak apa, ini semua demi masa laluku.
Aku melangkah menuju salah satu pohon rindang untuk berteduh. Aah, aku merasa lebih baik. Beberapa menit di sana, aku siap melakukan pencarian lagi.
Dan lagi, Eguchi menghilang. Anak itu memang sangat tidak bisa diatur. Pencarian hari ini dimulai dengan mencari pedangku yang kabur di sebuah taman yang sangat luas.
Aku mencoba mengelilingi taman ini. Meskipun terlihat wajar, taman ini sepertinya menyimpan banyak hal di dalamnya.
Banyak orang berlalu lalang di tempat ini. Dan mereka semua benar-benar mengacuhkanku. Aku tidak peduli, yang penting aku bisa menemukannya. Aah, coba saja kondisinya sama seperti dalam mimpiku, pasti pencariannya akan sangat mudah (meskipun aku tahu kemungkinan menemukannya hampir mustahil).
Beberapa kedai makanan yang buka sesekali dipenuhi orang-orang. Aroma yang keluar dari sana mulai menggoda diriku untuk ikut membeli makanan. Namun para Shinigami itu memiliki masalah terkait dengan krisis ekonomi.
Aku mengingat kamera yang diberikan Taka. Aku tak terlalu tahu cara menggunakannya, tapi yang penting aku mendapat beberapa gambar yang bagus (meskipun agak blur).
Sesekali aku menghentikan langkah hanya sekedar untuk melihat beberapa hal yang menarik, seperti patung, taman bunga, dan pemakaman.
Entah, seperti ada sesuatu yang menarik diriku, aku memasuki tempat tersebut.
“Pemakaman Yanaka. Nama yang bagus,” aku pun melangkahi gerbang masuk.
Aku memperhatikan sekeliling dan langsung memutuskan bahwa ini adalah pemakaman khusus yang sangat mewah. Pemakaman yang kebanyakan berisi kuburan keluarga ini bahkan diberikan semacam rumah untuk kuburannya. Dasar para orang kaya.
Kuburan ini belum terlalu penuh dan masih tersisa beberapa lahan kosong. Aku mulai membaca satu-satu nama keluarga penghuni kuburan.
“Keluarga Kasumigaoka, Keluarga Otosaka,” aku menyebutkan beberapa nama keluarga. Nama-nama yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Aku terus melangkah di jalan setapak sambil melihat kuburan-kuburan tersebut. Hingga ujung barisan, aku mendengar nama yang tak asing. Sangat kukenal dengan baik. Aku terpaku. Napasku tak beraturan. Perlahan-lahan, dengan hati yang berdegup kencang, aku menyebutkannya.
“Kanzaki… Suraha.”
Aku jatuh berlutut, memegangi batu nisan kuburanku sendiri. Tak kusadari, air mataku jatuh menetes. Aku menemukan kuburanku sendiri.
Aku mendengar napas yang terengah-engah di sebelahku. “Aku mencarimu ke mana-mana. Kanzaki, kau tak… oh wow,” itu Eguchi yang ikut terpaku melihat apa yang kulihat. Dia sendiri terkejut.
Saat ini aku mengingat kembali bahwa aku sudah mati. Aku sudah mati dan tidak bisa kembali lagi. Aku harus sadar itu.
“Kanzaki, aku rasa kita harus beristirahat sebentar,” Eguchi menarik-narik bajuku. Aku segera bangkit dan mengikuti langkah perginya. Harus kusadari, aku benar-benar syok. Entah apa yang harus kurasakan saat itu. Apakah aku harus senang karena menemukan kuburanku sendiri, atau sedih karena aku sudah mati.
Wajahku menunduk dan hanya melihat langkah kaki Eguchi yang berada di depanku. Kami berjalan cukup lama hingga langkah Eguchi benar-benar terhenti. Aku mendongakkan kepala. Ternyata hanya sebuah kafe.
“Aku sering datang ke sini saat aku sedang nganggur. Tenang saja. Aku akan mentraktirmu,” Eguchi dengan percaya diri melangkah masuk. Aku hanya sekedar mengikuti.
Meskipun ini adalah hal yang baru bagiku, aku tidak tertarik. Aku hanya mengikuti Eguchi yang duduk di salah satu meja dan memesan sesuatu.
“Kau ingin memesan apa?” tanya Eguchi. Wajahnya masih menandakan keprihatinannya padaku. Aku merasa aneh saat melihat anak yang selalu ceria tersebut merasa khawatir pada orang yang lebih tua. Jadi aku membaca menu dan langsung memutuskan.
“Coffie latte saja.”
“Selera yang cukup bagus,” ucap Eguchi sembari tersenyum. Aku hanya membalas dengan seringai.
Eguchi kemudian memanggil pelayan dan segera memesan. Lengang sejenak.
“Jadi, apakah kau berhasil menemukannya?” tanyanya penasaran.
“Nihil,” jawabku pendek.
“Sudah kuduga. Memang tidak ada gunanya melakukan seperti ini. Tapi kemungkinan besar dia memang orang Tokyo,” pernyataan Eguchi membuatku terperanjat.
“Kau tahu dari mana?” tanyaku bersemangat.
“Analisis sederhana. Kau melihat kuburanmu dengan seksama tidak?” tanyanya (menyebut-nyebut kata yang tidak kusuka).
“Eeh, mungkin,” aku mengedikkan bahu. Setahuku tidak ada yang aneh dengan kuburanku. Hanya batu nisan biasa dan bekas galian tempat mengubur mayatku. Tidak ada yang lain.
“Kau melihat sekitarnya tidak?” aku mengedikkan bahu sebagai jawaban. Aku hanya memperhatikan sedikit.
“Oh, tentu saja. Bagini, saat aku melihat kuburan di sekitarmu, aku sadar bahwa kuburanmu berada di kuburan keluarga. Namun ada yang aneh….”
“Coba kutebak, marganya berbeda,” aku memotong ucapannya. Kalau itu aku juga menyadarinya. Aku mulai membangun analisis. Aku harap apa yang kupikirkan itu sama dengan Eguchi.
“Betul sekali. Sekarang pertanyaannya, siapa orang yang mau menempatkan kuburan di kuburan keluarga lain? Pasti orang yang memberikan izin adalah orang yang sangat dekat denganmu, dan aku yakin gadis itu adalah orang yang sangat dekat denganmu setelah keluargamu sendiri,” jelas Eguchi. Seperti dengan apa yang aku pikirkan.
Lengang sejenak. Aku hanya memikirkan ulang analisis tersebut. Memang hal tersebut bisa saja terjadi, namun aku masih ragu.
Datangnya pesanan kami memecahkan keheningan.
Aku menyeruput kopi yang masih panas, “Analisismu bisa diterima, namun aku yakin ada alasan yang rumit di balik semua itu.”
“Setidaknya itulah petunjuk lain yang mungkin bisa membawakan kita ke hadapannya,” Eguchi menyandarkan diri sambil mengunyah roti lapis yang baru dimakan setengahnya itu.
Menit-menit berikutnya hanya diam. Berpikir ulang dan menghabiskan pesanan masing-masing.
KRING! Bel di pintu masuk yang berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam. Seseorang yang berpakaian serba hitam dan bertopi masuk. Perawakannya yang sepertinya seumuran denganku itu jelas-jelas mencurigakan. Aku terus memperhatikan gerak-geriknya.
Dia melangkah dengan cepat menuju kasir.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya penjaga kasir.
Tanpa sepatah kata pun, dia mengarahkan senjata ke arah penjaga kasir tersebut. Wajah penjaga kasir langsung pucat pasi.
Senjata yang diarahkan tidak terlihat oleh siapa pun kecuali aku dan Eguchi, karena kami yang paling dekat dengan kasir.
“Uang. Cepat!” hanya kata-kata itu yang dikeluarkannya. Aku bisa mendengarnya.
Setahuku, tempat-tempat yang agak sepi memang selalu menjadi korban orang-orang jahat. Aku sangat tidak terima dengan keadaan ini.
Penjaga kasir dengan terburu-buru memberikan uangnya. Aku harus bertindak melihat hal seperti ini. Setelah menghabiskan kopiku, aku segera bangkit, hanya ingin membela.
Dan Eguchi menggenggam tanganku erat.
“Kau tahu kan, tidak boleh mencampuri urusan orang-orang hidup,” Eguchi memperingatkanku.
“Kalau begitu, aku akan menyesal menjadi orang yang mampu,” aku menarik lenganku dan terus melangkah.
“Hei, Kanzaki!” Eguchi meneriakiku dengan kencang hingga orang-orang di sekitar melihatnya. Baru kali ini aku melihat ada arwah yang menjadi pusat perhatian.
Eguchi segera menutup mulutnya dan meminta maaf.
Termasuk perampok itu. Dia melihat Eguchi setelah mendapatkan uangnya. Dia lalu melihat sekitar hingga kami bertatapan.
Lengang sejenak. Yang terjadi selanjutnya adalah wajahnya yang memucat saat melihatku. Mungkin dia takut kalau aku melihatnya merampok kasir kafe ini. Aku tak bisa melihat wajahnya, namun dia bisa melihat wajahku.
“Aku kira kau sudah mati, Kanzaki,” Itu satu-satunya hal yang ia katakan. Dan itu membuatku kaget untuk kedua kalinya di hari ini.
Lalu dia kabur.
“Eguchi!” aku memanggilnya dan membuatnya menggantung di pinggulku sebagai pedang lalu berlari mengejarnya.
Dia sedang berlari menuju jalan besar yang dikerumuni orang-orang. Dia ingin menghilang rupanya. Segera aku membuat tolakan di kaki lalu terbang tinggi. Aku melihat sekeliling. Dia sudah sampai di jalan besar tersebut. Beruntung aku masih bisa melihatnya.
Aku meluncur dengan cepat seperti elang yang menukik tajam untuk memangsa makanannya. Aku tak peduli akan dilihat banyak orang yang masih “hidup”. Yang penting aku dapat bertemu dengannya. Dengan orang yang mengenalku waktu aku masih hidup.
Terdengar bunyi debum yang cukup keras ketika aku menyentuh tanah. Aku berdiri tepat di hadapannya.
“Apa yang kau mau, Kanzaki!” dia berseru di hadapanku.
“Aku mau penjelasan. Semuanya!” jawabku pendek.
“Itu tidak penting. Yang penting ialah, kau adalah musuhku untuk selamanya, dasar pengkhianat,” tangannya ternyata sejak tadi memegang sesuatu. Dan dia menyemprotkanya padaku.
“Akh! Panas!” aku mengerang kesakitan.
Itu semprotan merica, ternyata dia cukup pengecut juga menggunakan benda seperti itu untuk pertahanan diri. Eguchi berkomentar.
Aku mengelap kelopak mataku pada baju. Ini lebih baik meski masih terasa panas. Aku masih ingin mencari orang tersebut, namun terlambat, dia sudah menghilang di antara kerumunan orang-orang. Aku tak melihatnya lagi.
Aku memperhatikan sekitar. Hanya ada orang-orang yang berlalu lalang di jalanan ini. Aku menghela napas. Dan aku melihat secarik kertas yang jatuh ke tanah. Terinjak-injak oleh puluhan orang yang melintas sejak tadi.
Kertas yang agak lecek itu kubaca. “Kita akan bertemu lagi,” hanya itu, namun tersirat banyak hal di dalamnya.
Aku menghela napas. Merasa menyesal dengan apa yang telah aku perbuat lalu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sembari di perhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.
Beruntung masalah yang kau buat tidak terlalu besar kali ini. Eguchi menggerutu padaku. Nadanya terdengar tidak mengenakkan.
Diam kau. Jawabku spontan.
Other Stories
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...