4. Bertemu Part 1
Sebulan setelah pencarian nihilku, aku bermimpi lagi.
Tempat yang sama, kejadian yang sama. Namun kali ini aku bisa sempat mengobrol dengannya. Meski aku tidak mengerti sebagian dari pembicaraan itu.
Kalau begitu aku tunggu di tepi sungai, saat bunga sakura telah mekar sempurna dan arak kekuningan di langit mulai muncul, hanya itu yang kuingat dari obrolan itu dan aku pun menutup mata untuk menjemput kematian dalam mimpi.
Lalu terbangun dengan keringat dingin dan kamar tidur yang kosong.
Setelah mengenakan setelan dan terlihat keren seperti biasa, aku mendapat panggilan. Buku sakuku yang terasa panas sebelum kubuka dan aku mendapati kalau ada arwah berstatus neraka yang siap aku kirimkan ke tempat yang seharusnya.
“Keluar!” dan tubuhku bersinar.
Aku berada di tempat yang sama seperti pertama kali aku pergi. Trotoar di jalanan yang tidak terlalu ramai, orang berlalu lalang bahkan tidak melihat ataupun menyadariku. Mungkin aku bisa sekalian membeli sarapan di sini.
Aku harus segera pergi. Penghitung mundurku menunjukkan waktu 3 menit sebelum ia berkeliaran, sedangkan jaraknya masih 200 meter lagi. Aku segera membuat tolakan di kakiku dan melompat tinggi.
Pagi, Kanzaki. Pedangku Eguchi menyapa di dalam otakku. Suaranya yang mengiang-ngiang dalam otakku memang agak mengganggu kalau aku tidak segera terbiasa.
Seperti biasa. Maukah kau membantuku untuk mengirimkan arwah liar hari ini? pintaku padanya.
Pekerjaan yang mudah. Tapi sebelumnya maaf, tidak berhasil menemukan gadis itu. Jawabnya. Aku tersenyum mendengarnya.
Tak apa.
Sekitar jam sepuluh aku sampai. Ternyata ada kecelakaan di perempatan. Korbannya seorang siswa SMA (yang kuketahui dari bajunya) yang terserempet lalu terlindas mobil. Motor yang dikendarainya pun rusak parah. Menyia-nyiakan hidup.
Aku melompat dari gedung tempat aku berdiri sebelumnya dan sampai di tanah dengan aman.
Jalanan menjadi semakin ramai karena peristiwa tersebut. Polisi mulai berdatangan, orang-orang mulai mengerumuninya, dan sirene ambulans sudah terdengar dari jarak yang cukup jauh.
Beruntung aku ‘tidak terlihat’ bagi mereka. Jadi aku bisa leluasa keluar masuk tempat tersebut.
Aku menembus kerumunan dan melewati tanda polisi. Sejenak aku sempat melihat buku sakuku yang juga berisi daftar para arwah yang pernah kukirim ke neraka. Penghitung mundur sudah menunjukkan angka nol. Sudah saatnya.
Mayat yang berdarah tidak keruan itu mulai bergerak sedikit. Sepertinya arwah yang menempatinya sulit menemukan jalan keluar di dalam tubuh tersebut. Setelah menunggu, arwah tersebut akhirnya keluar. Aura menakutkan sudah muncul dalam dirinya.
Namun, aku tidak melihat di mana titik kelemahannnya. Belum.
Kubuka Eguchi dari sarungnya dan kusiapkan kuda-kuda buatanku sendiri. Biarpun arwah ini mudah disingkirkan, namun aku harus tetap waspada terhadapnya.
“Wah, seperti biasa. Ada malaikat penjemput arwah yang sudah berdiri di hadapanku,” Sapanya. Suaranya yang terkesan jahat membuatku semakin waspada terhadapnya. Aku menilik wajahnya.
“Diamlah. Aku harus segera menyingkirkan dan mengirimmu ke tempat seharusnya!” aku mendekatinya yang semakin menjauh.
“Menyingkirkan? Apakah itu yang kau katakan setelah dua tahun kita berteman? Kau tidak ingat aku? Oh, aku lupa. Ingatanmu dihapus. Ya, karena itu kau tidak ingat apa-apa, kan? Tidak adil sekali,” dia menggelengkan kepalanya.
“Sebentar, apakah kau membaca kertas tersebut? Tidak kusangka kita akan bertemu lagi. Dalam keadaan sama-sama mati,” dia mencoba mengingatkanku.
Aku tersenyum sinis. Orang yang waktu itu menyemprot wajahku dengan semprotan merica. Aku tak peduli. Dia hanyalah seorang pengecut.
“Iya, aku tau itu.”
“Ternyata kau mengingatnya juga. Maaf tak bisa menjelaskan waktu itu. Kau tahu, keadaannya sedang genting. Aku bisa ketahuan polisi kalau kau menahanku lebih lama. Kau mau memaafkan?” dia melebarkan tangan, lalu tersenyum. Mencoba merangkulku.
Namun aku mengangkat pedangku lagi untuk menakutinya. “Jaga jarak denganku kalau kau tidak ingin hilang dari sini,” ancamku, meskipun aku tidak berniat mengirimkan arwahnya. Aku hanya ingin dia cepat membayar utang penjelasan.
Kanzaki, cepatlah kau kirimkan arwahnya. Dia bisa menghasutmu. Suara Eguchi mulai terdengar di otakku.
Tenang, aku sedang memikirkan sebuah rencana. Lagipula, orang pengecut seperti dia pasti dirasuki iblis yang lemah bukan? jawabku tenang. Jawaban yang akan kusesali beberapa menit kemudian.
Tetap saja kau harus berhati-hati.
“Kau masih berutang janji penjelasan padaku. Kurasa ini saat yang tepat,” pintaku. Masih mengacungkan pedang.
“Baiklah, tapi dari mana, ya?” dia berpikir sejenak. “Seperti biasa, kita hanyalah teman masa kecil yang cepat akrab. Awalnya kau sangat pendiam, namun kau mudah sekali didekati. Kita jadi sahabat baik akhirnya, namun karena gadis itu…” wajahnya memurung. Mungkin dia tidak ingin melanjutkannya.
“Gadis, yang mana?” dengan berani aku berjalan mengelilinginya. Mencoba menghindari beberapa polisi dan para dokter yang mengerumuni jasadnya. Tempat ini sedikit demi sedikit mulai sepi.
“Gadis yang menyebalkan itu. Dia yang membuatmu seperti ini,” dia menghembuskan napas.
Aku seketika mengingat gadis yang berada di mimpiku. Mungkin itulah yang dia maksud. Ketika aku ingin mendengar lebih lanjut, Eguchi kembali berbicara.
Cepatlah, informasi itu sepertinya cukup untukmu. Dia mengingatkanku.
Baiklah. Aku sudah menemukannya. Titik kelemahannya ada di punggungnya. Jawabku. Aku tinggal membereskannya saja.
“Kurasa itu cukup. Kalau begitu, selamat tinggal,” itu ucapan selamat tinggalku, lalu kulempar Eguchi menuju punggungnya.
“Sayang sekali,” katanya. Lalu menghilang.
“Ap-apa, apaan ini?” aku berseru kaget karena dia menghilang begitu saja, sementara pedangku hanya mengenai udara kosong. Dan dia menuju salah satu polisi.
“Eguchi!” aku memanggilnya tepat sebelum mengenai polisi tersebut. Pedangku menghilang dan sampai di tanganku lagi.
Apa yang terjadi? Aku mencoba bertanya pada Eguchi.
Gawat, Kanzaki. Siluman itu sudah mencapai wujud sempurnanya. Sekarang dia sulit untuk dikalahkan. Kekuatannya akan bertambah saat itu terjadi. Eguchi memberitahuku. Sekarang aku mulai panik.
Aku diam saat mengetahui dia semakin kuat.
Tunggu apa lagi? Kejar dia sekarang! Eguchi berseru dalam otakku. Aku melompat tinggi.
Aku mendarat dengan aman di atas gedung yang paling dekat. Ternyata siluman dengan wujud sempurna itu sudah menungguku dari tadi. Dia berdiri membelakangiku dan dengan senyuman seramnya dia tertawa pelan.
“Mau apa kau sekarang. Mengejarku?” tanyanya.
Aku tidak menjawab. Hanya berjalan pelan-pelan mendekatinya. Langit mulai terik sekarang ini.
Beberapa langkah lagi aku dalam posisi siap untuk menyerangnya. Aku memegang Eguchi dengan kedua tangan. Semakin aku mendekatinya, aura gelapnya semakin terasa. Mungkin ini salahku telah membiarkannya.
“Jadi, siapa namamu? Kita belum berkenalan dan kau sudah pergi begitu saja.”
“Oh, kau tidak perlu tahu. Aku hanya ingin kita bertarung saja,” dia menengokku sambil mengangkat… pedang di pundaknya.
Sial. Aku tak menyangka, membiarkannya lebih lama membuatnya berkembang menjadi lebih kuat dan memiliki senjata. Aku yang sudah sebulan menjalani masa penyucian ini baru mengetahui hal yang seperti itu.
“Mari kita duel, sahabatku,” dia menghilang dengan cepat.
Di belakangmu! Eguchi memberitahuku. Dengan tubuhku yang luwes aku segera berbalik. Sesegera mungkin aku menyerangnya dengan pedangku saat pertahanannya sedang terbuka lebar.
Namun dia menghilang lagi.
Kali ini dia muncul di depanku. Dengan pedangnya yang ia ayunkan ke samping, aku menangkisnya dengan seluruh kekuatanku. Sial, dia terlalu kuat. Aku akhirnya terpental ke dinding atap.
Parahnya, aku masih bisa merasakan sakitnya menabrak tembok.
Aku mencoba bangkit. Darah yang sudah keluar dari mulutku terasa aneh. Namun aku tetap mengangkat pedang.
“Kurang puas, ya?” tanyanya lalu berteleportasi lagi.
Aku pun diserang lagi. Setelah menahan serangannya, aku kembali terpental. Kali ini menabrak lift yang tidak berdosa sama sekali. Menghancurkannya seolah-olah lift itu hanyalah balok-balok mainan belaka.
Banyak luka yang sudah menghiasi tubuhku. Darah yang keluar segera aku usap dengan lengan bajuku.
Berapa detik? tanyaku pada Eguchi.
Teleportasi yang ia lakukan semakin sering ia gunakan semakin lama untuk mengisi ulang, barusan 10 detik, serangannya juga melambat. Sepertinya dia hanya mementingkan kekuatannya saja. Jawabnya. Ternyata Eguchi cukup pandai menganalisis serangan lawan. Ini akan mempermudah mengetahui kelemahan lawan.
“Hei, siluman! Kurasa aku tidak perlu lagi menggunakan pedangku. Aku bisa melawanmu tanpanya,” aku menjatuhkan pedangku. Menatapnya dengan sombong.
“Cih! Kalau begitu, ini serangan terakhirku,” suaranya sudah berubah. Kini, wajahnya sudah menjadi monster.
Siluman itu bodoh sekali. Dengan merubah diri menjadi lebih besar, kekuatannya hanya akan memperlambatnya. Kecepatan yang kumiliki membuat pertarungan kali ini aku lebih unggul daripada dia.
Hati-hati, kalau kau mati, kau akan berada di neraka selamanya. Ucap Eguchi.
Aku tahu… aku tahu, tapi aku yakin tidak akan kalah. Kebenaran akan selalu menang. Jawabku.
Siluman itu berteleportasi lagi. Serangan terakhirnya.
Dia sudah berada di hadapanku. Dengan pedangnya, dia membuat serangan yang cukup mengagumkan. Meskipun akan kalah denganku karena saat dia menghilang, aku sudah berada di belakangnya.
“Apa?!” katanya saat dia sudah melihatku berada di belakangnya.
“Kau kuat, tapi aku lebih cepat,” aku mengangkat pedang yang sudah kuambil lagi sebelumnya. Tentu saja aku berbohong tidak akan menggunakan Eguchi.
Tusukan mematikan pada punggungnya membuat dia lenyap seperti asap hitam yang terbawa angin. Semuanya sudah selesai. Aku menggerakkan sendi-sendiku yang kaku. Pertarungan yang menguras banyak tenaga.
Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Tanya Eguchi.
Bisakah kau berubah menjadi manusia lagi? Aku merasa tidak enak kalau kau terus berbicara di kepalaku. Membuatku pusing. Suruhku.
Maaf.
Cahaya yang meliuk-liuk muncul di sampingku. Eguchi sekarang sudah menjadi bocah berumur dua belas tahun lagi.
“Aku menemukan petunjuk selanjutnya,” aku memberitahunya. Meskipun aku agak tidak yakin terhadap hal tersebut.
“Tentang gadis itu?” Eguchi bertanya seakan-akan tidak tahu tentang apa yang aku bicarakan. Aku memasang wajah kesal.
“Siapa lagi?”
“Ya ampun, sampai kapan kau akan terus mencarinya? Lagi pula, kau mengharapkan apa darinya?”
“Ya, aku hanya ingin mengetahui masa laluku saja. Kau tahu, hidupku!” aku menjawab asal.
“Itu saja? Tidak ada yang lain?” pertanyaan mendesak dari Eguchi.
“Ya, mungkin aku bisa mengetahui hubungan dia denganku, bisa jadi dia adalah saudara jauh...”
“Pacar, maksudmu?” dia memotong kalimatku, dengan tatapan menggoda.
“Terserah,” jawabku tidak peduli. Dia mulai menyebalkan bila sudah bertanya yang aneh-aneh. Aku melangkah pergi meninggalkannya. Dia berjalan mendekatiku. Mencoba untuk menghentikan langkahku.
“Baiklah, tapi kurasa kita perlu makanan saat ini.”
***
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...