5. Bertemu Part 2
Aku akhirnya kembali merasakan makanan manusia yang masih hidup. Ya ampun, sudah lama aku tidak makan yang seperti ini.
Burger dua lapis dengan kentang goreng ukuran sedang dan soda merah ukuran besar memang merupakan sarapan yang sangat enak, meskipun tidak dianjurkan. Peduli amat, aku kan sudah mati.
Lagi pula, Eguchi lebih parah daripada aku. Dia memesan burger ukuran besar plus kentang goreng dan soda yang juga berukuran besar. Entah mengapa nafsu makan pedang sangatlah besar.
“Jadi, apa petunjuknya?” tanyanya. Mulutnya sudah belepotan karena makanan yang terlalu besar untuk ia gigit.
“Oh,” aku menyimpan makananku terlebih dahulu. “Kau ingat mimpi tadi malam saat aku berbicara padanya tentang sungai? Itulah petunjuknya,” jawabku lalu melahap lagi burger-ku. Aku melupakan nama sungainya.
Eguchi bersendawa setelah meminum soda, “Tapi, bukankah ada ratusan tanggul sungai di Tokyo? Aku tidak ingin lagi berkeliaran sampai larut mencarinya.”
“Ada petunjuk kedua, di tanggul itu ada pohon sakuranya. Dan kau tahu?”
“Sekarang musim pohon sakura. Betul sekali. Saat ini pasti banyak orang yang sedang berkunjung ke sana. Ayo, tunggu apa lagi!?” jawabnya.
Kami cepat-cepat membereskan makanan kami lalu meninggalkan tempat itu begitu saja. Lagipula, manusia tidak akan menyadari keberadaan kami. Makanan gratis di semua tempat yang fana ini.
Aku mencari info tentang Kota Tokyo lewat peta. Memang banyak sekali tanggul sungai di kota ini. Namun kami sudah tahu di mana harus mencarinya.
“Oh, aku baru ingat sesuatu,” Eguchi berhenti sejenak.
“Hmm… ada apa?” tanyaku.
“Ini tempat kedua dan terakhir. Aku tidak ingin lagi ikut campur dengan investigasi masa lalumu, atau apalah itu. Aku hanya ingin menjadi rekan kerjamu saja. Tidak lebih!” Eguchi memberitahuku.
“Tak apa. Dia sudah berjanji akan datang, kok.”
....
Orang-orang berkumpul dengan ramai di tempat itu, beberapa ada yang membawa karpet untuk bersantai bersama sambil menikmati cemilan yang mereka bawa. Aku baru pertama kali datang ke festival yang seperti ini saat mati.
Namun aku harus segera mencarinya.
“Sepertinya akan sulit untuk menemukannya,” Eguchi sudah mengeluh duluan. Dia memang tidak ikhlas untuk membantuku.
“Meskipun ini tempat terakhir, bukan berarti kau boleh bersantai,” aku menyuruhnya pergi.
“Bercanda,” wajah cemberutnya berubah menjadi senyum seketika. Aku tidak mengerti candaannya.
Kami segera berjalan. Mengelilingi tempat yang ramai dan cukup seru ternyata. Mungkin aku bisa membeli (mencuri) beberapa makanan di stan terdekat. Seperti yang sering dilakukan oleh Eguchi.
Aku berhenti di salah satu warung untuk mengambil beberapa jajanan khas festival bunga sakura, dan saat kembali, Eguchi sepertinya sudah membeli di semua tempat. Buktinya, mulut, tangan dan kantongnya sudah dipenuhi makanan.
“Mwasikh lwapar…” katanya. Kalau kau tidak mengerti, maksudnya dia ‘masih lapar’.
“Dasar rakus!” kataku. Dia hanya tertawa pendek. Lalu kami melanjutkan berkeliling. Semoga Eguchi tidak melupakan tujuannya ke sini.
Aku mencari tanggul sungai untuk beristirahat. Namun semua tempat tersebut sudah dipenuhi oleh orang-orang yang berkumpul menggunakan karpet untuk piknik bersama.
Berarti aku harus turun lebih jauh ke sungai.
Aku meninggalkan Eguchi di atas dan turun secara hati-hati agar tidak disadari oleh orang-orang tersebut.
Menuruni tanggul tersebut rasanya seperti bermain seluncuran. Rasanya cukup menyenangkan saat aku berseluncur sambil menangkap beberapa kelopak bunga sakura. Aku tahu ini bukan saatnya bersenang-senang, namun setidaknya aku mendapatkan pengalaman baru hari ini.
Aku akhirnya sampai di pinggir sungai. Mencoba bersantai dengan melipat kedua tangan sebagai bantal di bawah kepalaku. Aku membiarkan sementara tujuanku ke sini, karena yang kutahu dia akan datang nanti sore. Juga mengabaikan Eguchi yang masih mencuri makanan.
Aah, ini sangatlah menenangkan. Aku belum pernah bisa bersantai semenjak aku menjadi Shinigami. Seakan-akan seluruh beban dalam tubuhku hilang begitu saja. Aku harap ini bisa berlangsung selamanya.
Perlahan aku mengantuk. Aku mencoba menutup mata dan tanpa kusadari…
Aku tertidur.
***
Di tengah kenyamanan dalam tidurku sambil berselimut bunga sakura, aku merasakan ada yang menusukku di bagian tulang rusuk dengan tongkat. Aku yang merasa terganggu tentu saja bangkit untuk duduk dan melihat orang yang menusukku.
“Hey!” seruku karena merasa begitu terganggu.
Begitu duduk, aku langsung tahu siapa yang menusukku dengan tongkatnya. Seorang gadis yang tersenyum kepadaku. Orang asing? Namun dia seperti orang yang kukenal sebelumnya. Apakah....
Dia tersenyum kepadaku seolah-olah dia memang mengenalku. Mata biru itu mengingatkanku akan seseorang. Seseorang yang meskipun ingatanku sudah terhapus, aku tetap mengenalnya.
Ternyata dia yang selalu menghantuiku. Dia yang selalu membuatku penasaran bahkan setelah aku mati. Rasa yang bercampur aduk dalam diri ini ternyata sudah terpecahkan. Aku duduk di sampingnya yang masih berdiri. Aku akhirnya menemukannya.
Ingatanku kembali lagi sedikit demi sedikit.
Ternyata aku yang seharusnya menepati janjinya. Aku merasa berdosa telah meninggalkannya sendirian dengan janji yang tidak ditepati. Dan dia datang, untuk menagih janji yang ditunggu-tunggu.
“Eguchi!” aku memanggilnya. Sekilas kemudian dia sudah menggantung di pinggulku sebagai pedang.
Apa yang terjadi? Aku bahkan belum puas makan. Protesnya.
Aku menemukannya. Dan… aku rasa kita harus pergi sekarang. Aku cukup puas dengan melihatnya saja.
Sebenarnya aku tak mampu. Aku tak mampu rasa bersalah ini kembali lagi. Aku tahu ini tindakan pengecut. Aku akhirnya tahu apa penyesalan besarku. Aku tahu dan aku ingin segera melupakannya.
Salahku mencarinya.
Aku mencoba melangkah untuk menghindarinya. Matahari yang terbenam terlihat sangat indah saat kulihat dari tanggul ini. Namun, aku tidak bisa melihatnya lebih lama lagi. Aku hanya ingin pergi dari sini.
“Tunggu!” serunya. Aku secara membatu berhenti di tempat.
Dia sepertinya melangkah ke arahku. Aku hanya ingin pergi. Tapi, mengapa ini sulit sekali? Seolah-olah, kakiku ini membatu.
Suara langkahnya yang lambat laun semakin membesar membuat pikiranku untuk berbalik dan melihatnya lagi. Namun yang kulakukan hanyalan diam saja. Aku, aku tak melakukan apapun.
“Kau, Kanzaki bukan?” dengan suara yang lembut dia menyebut namaku.
Dia memang mengenalku. Namun, tetap saja aku tidak mau berbalik untuk melihatnya. Aku tetap takut untuk hanya sekedar menyapanya.
Kanzaki? Itukah dia? Aku tidak tahu padahal aku melihatnya berkeliaran beberapa menit lalu. Eguchi memberitahuku.
Aku hanya diam saja, tidak menjawab. Sementara langkahnya semakin terdengar dan dekat. Bunga-bunga sakura yang berjatuhan mulai menempel di rambutku. Langit senja dan dia, ingin membuatku menangis.
Kanzaki? Kau baik-baik saja? Eguchi memanggilku dengan suara yang semakin keras. Namun tetap saja aku diam.
Tak kusadari, dia memelukku dari belakang.
Rasa yang bergejolak di hati akhirnya keluar juga. Seperti nuklir yang diledakkan, pelukannya mengeluarkan ingatan-ingatan. Memori yang lebih baik kuhapus saja.
Air menetes dari kelopak mataku mengiringi langit senja dan gugurnya bunga sakura.
Other Stories
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Kuntilanak Gaul
Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...