Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
zen zen sense (kehidupan sebelumnya)
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Penulis Koro Taiyou

3. Dan Akhirnya, Aku Berjanji Dengan Perempuan Itu

Suara jam beker yang cukup nyaring itu membangunkanku. Aku merasa pusing sehabis bangun tidur. Ini pasti gara-gara semalam begadang di kamarku sendirian. Menonton serial TV yang belum sempat kutonton.
Aku duduk dengan setengah sadar. Mencoba mengumpulkan nyawa sambil menghirup napas dalam-dalam dan meregangkan tubuh.
Aku menatap ke arah jam beker.
“Jam sembilan.” gumamku yang masih ingin tidur itu. Aku yakin pasti akan terlambat bila bertemu dengannya.
“Jam sembilan?!” Aku memaksakan tubuh untuk segera bersiap-siap. Mandi seadanya, makan, terpaksa aku hanya mengunyah roti sambil menggosok kepala yang penuh dengan shampoo, juga berpakaian seadanya.
Kaos lengan pendek, celana jeans dan sepatu. Tak lupa aku mengenakan syal hitam hadiah kepergianku itu. Setelah merapikan rambut di depan cermin, aku sudah siap.
Untuk sekedar pengetahuan, apabila kita berjanjian untuk bertemu dengan seseorang, kita paling tidak harus datang lima belas menit lebih awal. Dan kali ini aku benar-benar melanggarnya. Gara-gara aku lupa memasang waktu yang tepat di jam bekerku.
Meski dengan persiapan seadanya, aku tetap saja tidak bisa. Sekarang sudah pukul sembilan lebih lima puluh sedangkan aku harus naik kereta, belum lagi berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh pasti tidak memungkinkanku untuk sampai kesana tepat waktu.
Bersamaan dengan aku memikirkan hal yang barusan, suara bel berdering di depan pintu. Ada orang.
Aku segera membukannya tanpa menanyakan siapa yang datang.
Aku mematung “Eh, kenapa kau tahu tempat tinggalku?” tanyaku pada tamu yang mengejutkanku itu.
Dia menunjukkanku sesuatu, sebuah isi dari buku catatan. “Seorang Shinigami memiliki alat navigasi untuk mengetahui letak keberadaan musuhnya. Sebuah peta yang akurat.”
Buku catatan itu menampilkan peta berukuran kecil, mirip denah sebenarnya, dengan sebuah titik merah. Aku meyakinkan diri untuk berpendapat bahwa titik merah itu adalah letak keberadaanku saat ini.
“Aku hampir mengira kau ini stalker,” komenku.
“Kau tahu, aku kebosanan menunggu di taman tanpa seorang pun.” Dia mencoba berdalih. Syal dan pakaiannya yang sama warnanya berkibar di terpa angin. Hari ini dia tidak membawa pedangnya.
“Memang seberapa lama kau menungguku di sana?” tanyaku.
“Lima menit.”
Aku menundukkan kepala menyadari seberapa bodohnya dia. Tapi karena ini kesalahanku juga, aku memakluminya.
“Jadi, kita berangkat sekarang?” tanyaku lagi. Dia mengangguk.
Aku segera keluar dari kamar itu dan mengunci pintunya lalu berjalan menemaninya. Semua hanya demi rasa penasaranku.
Tempat tinggalku itu memang cukup dekat dengan stasiun kereta sebenarnya, jadi aku tidak membutuhkan motor atau sebagainya karena aku mempunyai “Kendaraan pribadiku” sendiri.
Kereta dengan gerbong berwarna putih itu segera melintas dihadapan kami. Dan karena sekarang adalah hari libur, maka kereta ini akan lebih penuh dari biasanya. Aku menyiapkan diri untuk tidak muntah.
Beruntung, kami termasuk orang-orang yang masuk pertama dan karena ini pemberhentian pertama jadi kupastikan bahwa gerbong ini benar-benar kosong.
Hiruk-pikuk ratusan manusia yang memiliki berbagai keperluan segera memenuhi tempat ini. Pemandangan manusia yang sangat aku suka itu terlihat kembali. Kali ini banyak sekali wajah gembiranya, termasuk gadis di sampingku ini.
“Kau tahu, aku merasa lebih beruntung saat mati daripada saat aku hidup.” Dia memberitahuku. Aku menoleh padanya.
“Maksudnya?” Aku tak mengerti. Karena biasanya orang-orang pasti memilih untuk hidup daripada mati.
Dia menarik napas. Bersiap untuk melanjutkan ceritanya sementara peluit dibunyikan. Kereta sudah melaju.
“Waktu itu, saat aku masih hidup, sudah sekitar tiga bulan aku menjadi penghuni tetap di rumah sakit warisan ayahku.” Dia memulai cerita.
Aku hanya menatapnya tanpa bertanya.
“Saat itu penyakit leukimiaku kian parah. Sudah berliter-liter darah kuhabiskan untuk di salurkan lewat selang yang yang dimasukkan ke venaku. Wajahku pucat, seperti mayat hidup. Meski terkadang aku datang ke sekolah, namun pada akhirnya aku tetap disuruh tinggal di rumah sakit selama berhari-hari lamanya,” lanjutnya. Dia membuatku merasa iba.
“Aku selalu terbaring di kasur. Tanpa teman. Menunggu hari esoknya,” kepalanya menunduk seakan-akan tak mampu menjelaskan.
“Bagaimana sekolahmu?” Aku mencoba bertanya.
“Itulah saat-saat yang kutunggu. Aku selalu menunggu waktu saat aku bisa kembali beraktifitas di sekolah. Namun saat aku sehari ke sekolah, Beberapa hari kemudian terbaring lemah di rumah sakit. Hanya terkadang, kakakku yang berjaga di bagian administrasi ikut menemani.” Dia mengangkat wajahnya. Tersenyum.
“Tapi, pada hari selasa pukul lima sore setelah pulang sekolah, aku bertemu denganmu yang menyelinap masuk kedalam ruangan klub melihatku berakting. Kau yang terlihat takjub dan tertarik dengan klub tersebut akhirnya memutuskan masuk dan menjadi anggota di klub tersebut.”
“Dan pada saat itu juga, aku merasakan ada yang spesial dari dirimu. Orang yang pernah menangis karena kehilangan ingatannya itu terlihat sangat bersenang-senang dengan semuanya.”
“Padahal, sebenarnya kau itu hanya merasuki tubuh orang lain. Aku sempat mencari-cari kau berada di mana setelah Yuuki mendapatkan kesadarannya kembali.
Dan ternyata selama ini kau tinggal di kehidupan ini.”
Aku kebingungan, padahal aku ada di sini bersamanya. Segala hal yang bersangkut paut dengan semua itu, apakah aku memang bisa melakukannya? Dan kurasa tidak mungkin ada hal yang seperti itu.
Kereta yang kami tumpangi berhenti. Suara decitan antar besi yang kami dengar membuat Yumi menghentikan pembicaraannya.
“Kita berhenti di stasiun selanjutnya.” Aku memberitahunya.
Yumi yang sedari tadi sudah mengangkat tubuhnya, kembali duduk rileks sementara pintu otomatis itu terbuka.
“Hingga pada hari terakhir, saat kau berpisah dengan tubuh Yuuki dan kembali ke tempat asalmu tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku. Semuanya kembali seperti sedia kala.” Kereta yang kami tumpangi sudah berjalan lagi.
“Aku benar-benar tidak mengerti,” komentarku.
“Tidak apa, mungkin karena cerita ini agak aneh sepertinya. Namun kurasa dengan waktu yang berjalan kau akan segera mengerti,” jawabnya setelah mendengar responku. Satu-satunya hal yang bisa kupercaya adalah Yumi dan pekerjaannya.
Setelah itu hanya lengang. Kami berdua hanya diam saja. Entah, mungkin karena Yumi sudah capek bercerita atau bagaimana.
Hingga kereta itu berhenti untuk yang kedua kalinya.
Kami secara serentak sudah berdiri setelah pemberitahuan lewat speaker itu diumumkan. Jadi kami segera mengantri menunggu giliran keluar.
“Ayo kita jalan.” Aku mengajaknya. Dia mengangguk.
Jalanan kota terlihat ramai lancar. Mobil, motor atau sepeda berkeliaran kesana dan kemari seperti sedang ada urusan yang penting. Namun aku abaikan saja, orang-orang di sini sebenarnya sibuk sekali.
Aku menatap jam yang berdiri tegak di atas tiang yang berada di trotoar. Jam dua belas lewat. Sepertinya kami terlambat sekali. Namun, keterlambatan tersebut bertepatan dengan sampainya kami didepan taman tersebut. Taman Ueno. Setelah menyeberang, taman tersebut sudah berada di hadapan kami.
“Ramai sekali. mungkin karena sudah tengah hari sepertinya,” kataku.
“Tak apa, kan tempat ini luas.”
Kami berjalan menyusuri jalan ukuran dua meter yang cukup dilewati oleh pesepeda dan pejalan kaki.
Yumi berhenti mematung. Menatapi pohon sakura yang masih kuncup bunganya. Bunga berwarna merah muda yang masih berbentuk bulatan-bulatan kecil itu ternyata sudah terkumpul banyak.
“Aku sudah lama tidak melihat yang seperti ini,” ucap Yumi tanpa berpaling padaku yang berada di sisinya.
“Ohanami. Aku biasanya sudah pulang ke kampung halaman saat bunga itu sudah mekar. Tapi, apakah kau masih berkesempatan untuk melihatnya?” tanyaku.
Dia untuk kedua kalinya memperlihatkanku isi buku catatannya yang tersimpan di saku jaketnya itu, kali ini berisi hitungan mundur yang kian detik kian sedikit jumlahnya. Dia menatapku sambil tersenyum.
“Ini waktuku yang tersisa sebelum aku bereinkarnasi,” ucapnya.
“Dua belas jam lagi. Berarti, kau akan menghilang pada tengah malam ini?” tanyaku.
Dia mengangguk. “Dan aku ingin melakukan sesuatu, semacam perayaan misalnya untuk merayakan kepergianku ini. Dan aku ingin mengajakmu ke sana. Aku ingin mengajakmu untuk melihatku pergi. Seperti saksi untuk melepas kepergian, kau tahu.”
Ternyata itu keinginannya.
“Mudah sekali.” Aku menyilangkan tangan didada lalu menutup mata, menganggap remeh.
Saat aku membuka mata, jari kelingking Yumi terangkat. Wajahnya tertunduk.
“Kalau begitu, maukah kau berjanji?” suaranya melemah.
Angin yang berhembus kencang secara tiba-tiba mengangkat rambut dan syalku. Aku menatap sekitar. Orang-orang masih mengerjakan aktifitasnya seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar aneh. Hanya janji biasa.
Aku mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya yang sedari tadi terangkat. Saat ini bahkan bunga sakura yang belum mekar sudah terasa berguguran menimpa diriku. Janji ini harus ditepati.
“Aku berjanji,” kataku akhirnya.
Wajahnya terangkat. Bibirnya yang murung sekarang membentuk garis setengah lingkaran. Bagai bulan sabit yang sering aku jumpai. Manis sekali.
Aku menghela napas. Rasanya jadi terasa canggung berlama-lama disini.
“Sekarang, apakah kau tahu apa keinginan terakhirmu?” Aku bertanya. Aku harap keinginannya mudah untuk dikabulkan.
Dia hanya menatap kosong jalanan. Melihat kepada para pejalan kaki yang berlalu lalang bersama para pesepeda yang sudah mengucurkan air dari kulitnya. Kepanasan saat berolahraga di siang hari ini.
“Entahlah. Namun, aku pernah bermimpi melihatmu untuk terakhir kalinya. Mimpi itu sangat samar sekali. Namun intinya, aku menerbangkan sesuatu bersamamu. Hanya itu saja yang kuingat. Kurasa itulah keinginan terakhirku.” Dia sangat berharap ingin segera mengetahuinya.
Aku merangkulnya. “Janji adalah janji. Aku akan membantumu mengabulkannya, Yumi.”
“Kurasa, ini pertama kalinya kau menyebut namaku.” Dia terlihat senang sekali.
“Begitu, ya. Kalau begitu, apakah aku bisa memanggilmu demikian?” pertanyaanku dijawab dengan anggukan yang terasa di lenganku yang sedang merangkulnya.
Lengang. Sepertinya rasa canggung melanda kami berdua saat ini. Aku segera melepaskan rangkulanku.
“Jadi, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu, mungkin itu akan membuatmu mengingat keinginanmu.” Aku mengajaknya.
“Baiklah, kita mulai dari papan informasi,” sambung Yumi.
Papan informasi yang terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang dengan ukuran kurang dari semeter itu ditutupi kaca yang seprtinya rajin sekali di bersihkan oleh petugas kebersihan sekitar sini.
Kami terkejut melihat apa isinya.
Selain peta Taman Ueno yang kami berada di dalamnya kami juga menemukan banyak sekali brosur yang ditempelkan ke papan informasi yang terbuat dari kayu triplek itu. Brosur itu hampir memenuhi papan informasi.
“Festival kembang api di sini. Pukul tujuh sampai sembilan malam.” Yumi membaca teks yang berada di papan informasi tersebut.
“Wow, ini ide yang sangat bagus. Kau tahu, banyak adegan di anime yang aku tonton dimana kebanyakan orang menemukan kembali ingatannya setelah melihat kembang api menyinari wajah mereka.” Aku memberitahu sembari melanjutkan langkah meninggalkan papan informasi itu.
“Rasanya ini bukan anime yang kamu tonton tapi hal tersebut bisa dicoba.” wajahnya terlihat kurang puas tapi dia setuju.
“Yosh, kalau begitu kita tinggal menunggu saja.” Aku merasa ini pasti akan berhasil.
“Tapi,” dia melihat buku catatannya. Sepertinya ada jam disana. “Masih ada tujuh jam kurang. Apa yang akan kita lakukan?” pertanyaanya membuatku harus berpikir.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang saja?” Aku mengajukan pendapat yang aku yakin tidak akan disetujui.
“Itu tidak akan kusetujui.” Dan ternyata benar perkiraanku.
“Eh, apakan ada hal lain yang kau inginkan sebelum bereinkarnasi? Seperti yang sering dilakukan perempuan-perempuan lain.” Aku mengajukan pendapat lain.
“Aku sudah berbulan bulan di kasur yang sempit itu dan hanya sesekali keluar darinya. Aku lupa apa yang diinginkan oleh perempuan lain.”
Aku mendesah. Kasihan sekali dia.
“Kalau begitu, kau ikut aku saja.”
Aku melangkah pergi sementara dia masih berdiam karena bingung. Mungkin jawaban itu membuatnya aneh.
“Anggap saja kejutan,” akhirnya dia ingin mengikuti langkahku.
Taman Ueno adalah tempat yang paling sering kudatangi, karena setiap liburan aku selalu mendatangi tempat ini tanpa bosan-bosannya. Entah mengapa, mungkin karena disini banyak sekali tempat yang harus kudatangi, mungkin karena aku tidak mempunyai pekerjaan lain, entahlah.
Jalan utama yang kami lewati ini sudah dipenuhi banyak orang. Lagi-lagi, pemandangan manusia yang sangat kusukai. Kali ini tidak disebabkan oleh film yang mereka tonton, melainkan karena interaksi mereka dengan yang lain.
“Hey, masih jauh tidak?”
“Itu ada di hadapan kita.”
“Maksudmu kuil itu?” Dia menunjuk sesuatu di hadapannya.
“Iya.”
Aku menunjukkan jalan padanya menuju salah satu kuil dari sekian banyaknya kuil di taman ini. Kuil yang berjarak sekitar beberapa meter dari daratan ini sebenarnya berada di atas danau.
Kuil Bentendo namanya. Kuil yang berada di tengah sungai Shinobazu ini terlihat sangat mencolok karena berada di tempat yang cukup berbeda dari lokasi kuil lainnya. Lonceng, tempat untuk berdoa, meski terlihat hampir sama dengan kuil-kuil lainnya, kuil yang satu ini berada di tempat yang tidak lazim.
Yumi lagi-lagi menghentikan langkahnya. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya di tempat ini.
Aku menoleh padanya. Dia sedang menatap sekitar. “Indah sekali.”
Aku ikut menatap danau yang tidak beriak sedikitpun. Memang benar, kuil yang berukuran cukup kecil ini seperti menghiasi kosongnya danau Shinobazu yang masih asri. Airnya yang berwarna biru jernih ini ikut memantulkan langit beserta awan-awannya. Juga, terlihat berkilauan saat memantulkan sinar matahari.
Seperti cermin.
Jembatan yang pondasinya terbuat dari batu dan beratapkan kayu yang berguna sebagai tiang pancang itu kami lewati secara perlahan. Suara langkah kaki kami membuat suara ‘dug, dug’ yang tidak terlalu jelas beserta suara berderit dari kayu yang sudah agak keropos dan belum diganti ini.
Aku meraba-raba pagar yang terbuat dari batu kasar itu. Batu berukuran besar dan diukir sehingga membuat pola ukiran yang indah menurutku. Jarang ada jembatan yang dibuat serumit ini.
Aku berhenti sejenak. Panas matahari yang bersinar terang itu seakan menyorotku. Bayanganku yang berada di belakangku juga sudah semakin memanjang. Tanda siang hari akan segera berakhir.
“Shin, ayo.” Yumi terlihat tidak sabaran untuk segera berteduh di bawah atap kuil yang melingkar itu. Dia terus saja berjalan.
“Tunggu aku.” Aku mengikuti langkahnya.
Yumi kelihatannya senang sekali. Dia berputar putar dan menari-nari seakan-akan tidak ada yang melihat tingkah kekanak-kanakannya itu. Aku tidak salah mengajaknya ketempat yang cukup unik seperti ini. Yah, dia memang pantas mendapatkannya.
Kami sudah sampai di kuil tersebut. Di sini, di bawah atap kuil yang meneduhkan, rasanya cukup menyenangkan apabila menikmati siang bolong disini.
“Rasanya, kita harus berdoa.” Aku memutuskan. Berbalik dari pagar dan berhadapan dengan kuil.
“Tapi, aku tidak punya uang,” kata Yumi urung.
Aku melempar dua koin yang bernilai sepuluh yen itu ke dalam. Menciptakan suara dentingan antara besi dan kayu sebelum koin tersebut masuk kedalam. “Tenang saja. Aku punya banyak koin hari ini.”
Senyum Yumi merekah. Dia segera membunyikan loncengnya, lalu kami menepuk tangan dua kali lalu membungkuk.
Setelah bangkit dan bertepuk tangan sekali lagi, kami segera berdoa.
Aku memejamkan mata. Mencoba berpikir atas kejadian yang sudah terjadi semenjak aku bertemu dengannya. aku berdoa pada dewa, berdoa dengan keinginan yang sama saat aku melihat bintang jatuh itu.
Aku membuka mata. Melihat Yumi yang sedari tadi sudah selesai berdoanya. Menungguku sambil menatap kembali danau yang luas itu.
“Aku selalu suka melihat pemandangan yang seperti ini,” katanya. masih menatap danau. “Entah, meskipun kelihatannya seperti padang pasir yang kosong, membosankan, dan tidak ada yang berbeda antar satu dengan yang lainnya tapi aku selalu merasa ada sesuatu di balik itu. Seperti ada sebuah rahasia yang bisa membuat hamparan danau itu sangat menyenangkan untuk dilihat.” Dia berhenti berbicara lalu berbalik padaku.
Lengang sejenak.
“Maaf, aku ngelantur.” Dia berbalik dan meminta maaf.
“Tidak apa, aku juga sering melakukan yang seperti itu. menjelaskan apa yang kita rasakan dengan kata-kata terkadang terdengar memalukan.” Aku menatap matahari yang membuat bayanganku semakin memanjang.
“Sudah saatnya untuk makan.”
Kami segera menuju tempat yang bisa dicapai dari kuil yang barusan kami kunjungi. Hanya saja, hanya ini tempat yang kutahu tempat yang paling dekat di taman ini.
Warung ramen.
“Tidak apa, kan? Makan di sini,” sebelum masuk, aku sempat bertanya terlebih dahulu pada Yumi apakah dia setuju memakan masakan yang penuh dengan lemak itu. Aku takut kalau-kalau orang mati membutuhkan diet untuk menjaga tubuhnya tetap sehat.
“Tidak apa. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kesehatan orang mati,” jawabnya santai. Aku anggap itu sebagai iya.
Kami melangkah lalu membuka gorden yang menutupi warung berukuran cukup kecil itu. seketika, hawa panas langsung terasa. Uap kuah ramen yang mengepul-ngepulkan asap hingga memenuhi warung tersebut membuatku langsung gerah.
Namun, setelah melihat harumnya bumbu yang dicampur dengan sempurna oleh koki, aku tak sabaran untuk segera mencicipinya.
“Hoi, Shin! Ternyata kau datang juga hari ini.” Pak Hodoki menyambutku ramah. Pemilik warung yang selalu laku ini sudah kukenal sejak hari pertama datang ke Tokyo. Matanya yang sipit, kulitnya yang sudah keriput, janggutnya yang hanya tersisa beberapa mili itu juga sudah berwarna abu.
Plus, topi kokinya yang menjulang tinggi dan tidak pernah dilepasnya itu menjadi ciri khas orang yang kukenal selama ini.
“Wah, kali ini semakin ramai juga, ya.” Aku membalas sapaannya. Memperhatikan disamping kiri dan kananku yang hampir seluruhnya diisi oleh pelanggan. Kami mencari tempat duduk.
“Ramen ichiraku?” tanyanya yang masih menyendokkan kuah kedalam mangkuk. Dia memang selalu tahu apa yang kuinginkan
“Dua porsi.”
“Dengan siapa?” Dia tahu aku bukan orang yang rakus. Aku menunjuk ke arah Yumi yang langsung memperkenalkan diri.
“Oh, begitu.” Dia mengangguk-angguk lalu segera memberikan mangkuk ramen yang penuh itu pada pelanggan yang lebih dulu memesan.
Aku memperhatikan cara mereka bekerja yang tidak pernah membuatku bosan. Pak Hodoki beserta dua pegawainya yang setia itu selalu menunjukkan atraksi berupa kelincahan dan ketepatan saat mereka bekerja di dapur yang terbuka ini.
Mereka berestafet. Setelah mie dimasukkan, lalu langsung disiram oleh kuah keemasan yang masih panas lalu diberi hiasan seindah mungkin dengan kecepatan konstan. Seperti mesin pembuat mahakarya.
“Tempat ini sibuk sekali.” kata Yumi. Kelihatannya ia tidak terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Aku hanya bisa menghela napas mendengar keluhan Yumi.
Tangan-tangan cekatan itu akhirnya terjulur ke arah kami dengan mangkuk yang dipegang tangan tersebut. Aku menelan ludah. Entah mengapa makanan berkuah seperti ini selalu membuatku tidak sabaran.
“Silakan dinikmati.” Aku melihat wajah yang menjulurkan tangan tersebut. Salah satu pegawai laki-laki di warung ini.
“Terima kasih.” Aku mengangguk sambil menerimanya.
Tak berselang lama, sumpit yang kami pegang erat-erat itu sudah kehilangan makanan yang harus disumpitnya karena semuanya sudah tandas di dalam perut kami. Yumi selesai lebih dulu, sekarang dia sedang meneguk teh hijau yang mendinginkan tenggorokannya.
“Ah, segar sekali.” Dia menghela napas. Menikmati perutnya yang sudah penuh itu.
“Memang ramen tidak pernah kehabisan peminat,” sambungku. Teh hijau yang kuteguk juga sudah habis.
Kami pun keluar setelah membayar sebelum pelanggan lainnya datang ke tempat ini.
Kami kembali ke jalan utama aku bertanya. “Selanjutnya, kau mau ke mana?” pertanyaanku membuat Yumi sedikit berpikir. Setelah beberapa saat, dia akhirnya memutuskan.
“Aku ingin menikmati saat-saat terakhirku.”
..............
Setelah seharian bermain di taman kota, akhirnya kami sampai pada tingkat kebosanan yang cukup tinggi. Namun untungnya, hal itu terjadi sekitar tiga puluh menit sebelum stan-stan makanan yang berjajar rapi itu sudah selesai dibangun.
“Aku ingin bersiap. Aku harus pulang dulu.” Yumi meminta izin padaku.
“O, oke.” Aku mempersilahkan. Yumi akhirnya meminta pulang, meski Yumi sendiri yang melarang hal tersebut.
“Masuk,” kata Yumi. Dalam sekejap, dia menghilang entah kemana. Kekuatan teleportasi yang dimiliki oleh para Shinigami ternyata sangat berguna juga.
Akhirnya, aku sendirian juga. Terduduk di bangku taman yang terlihat baru sambil berteduh di bawah pohon sementara semakin menjingga di ufuk barat. Sebentar lagi bulan akan menggantikan tugasnya menyinari bumi.
Aku melihat sekeliling. Beberapa stan sudah hampir jadi, beserta dengan lampion-lampion bohlam yang dinyalakan ikut memeriahkan malam yang akan datang. Festival di taman yang cukup luas itu sebenarnya ide yang bagus.
Pemandangan manusia itu sudah kulihat. Beberapa orang yang datang secara berkelompok itu memilih datang duluan sembari melihat para penjual yang masih menyiapkan makanannya. Beberapa ada yang sudah selesai, mereka duduk manis menunggu pelanggan yang datang.
Aku menghitung detik waktu yang dibutuhkan hingga matahari benar-benar tenggelam. 30 ... 40 ... 45 ... 46 ... 47 detik.
Matahari sudah tenggelam, persis seperti yang pernah aku baca di novel kesukaanku itu. Aku menatap jam taman yang menggantung di tiang di sebelahku itu. Sudah pukul setengah enam.
Yumi masih belum datang.
Lampu-lampu berwarna kuning itu sudah menghiasi dataran taman ini. Belakang, samping, semuanya sudah dinyalakan. Aku memutuskan untuk berjalan, semoga dia tidak menungguku.
Jalan utama Taman Ueno sudah dipenuhi oleh hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu-lalang. Beberapa dari mereka memakai kimono yang berwarna-warni. Mereka semua semakin menghiasi tempat ini.
“Hoi, Shin!” seseorang memanggilku. Asal suaranya dari belakangku. Aku berbalik dan mendapati bahwa Pak Hodoki yang beberapa jam lalu kami temui juga ikut andil dalam festival ini. Stan yakisobanya yang berwarna merah putih itu juga dipasangi beberapa lampu bohlam, baik di atap stannya maupun di lampion yang mengantung di sisinya.
Aku mendatangi stan bapak setengah baya itu.
“Dua ratus yen, kau mau?” Pak Hodoki menawarkan dagangannya padaku. Pria yang sudah menikah itu menunjukkan kehebatannya dalam memasak yakisoba. Dia menuangkan telur beserta bumbunya ke atas wajan datar lalu memasukkan mie kedalamnya, setelah itu dia mengaduk-aduknya dengan alat masaknya.
Aku memberinya beberapa koin lalu mengacungkan jumlahnya dengan jari.
“Oke.” Itu responnya.
Tangan-tangan lincah Pak Hodoki yang bekerja sendiri di stan itu kembali beraksi untuk menyiapkan sebungkus yakisoba.
Tak lama kemudian, bau harum mulai tercium dari dalam bungkusan plastik yang diserahkan padaku. Aku menerimanya dengan senang hati lalu berterima kasih padanya.
“Tenang saja, aku bisa membuat lebih banyak lagi kalau kau mau,” ucap Pak Hodoki.
Aku menatap langit yang sudah mulai gelap gulita. Kurasa sudah waktunya untuk kembali.
Aku memperhatikan stan yang lain sembari melangkahkan kaki menuju tempat semula. Permen apel, okonimiyaki, bahkan permainan arcade yang sering ditemukan juga ada di sini. Para penjual memang tahu cara menghibur para pembelinya.
Bangku di bawah pohon itu sudah ditempati seseorang. Sementara daun-daun berguguran, aku memperhatikan orang tersebut. Duduk dengan pakaian yang sering ditemukannya itu dengan pedang hitam yang tersampir di pinggangnya.
Dia mengusap rambut yang menghalangi wajahnya. Menatapku.
Aku mendekat ke arahnya. “Maaf membuatmu menunggu.”
Dia tersenyum. Syal hitam yang melingkar di lehernya itu melambai, seakan ikut memberi salam. Dia berdiri. “Tidak, aku baru menunggu beberapa menit.”
“Aku kira lima menit saja sudah membuatmu bosan.” candaku.
Dia terkekeh. Tersipu malu atas apa yang pernah ia katakan itu. dia mengatakan untuk bersiap, aku kira dia akan mengganti bajunya, tapi dia hanya membawa pedangnya saja.
“Hei, Yumi, apakah tidak apa-apa menampakkan wajah kita seperti ini?” tanya sebuah suara. Suara berat yang memanggil Yumi itu berasal dari balik pohon, aku tidak mengenal siapa mereka tapi sepertinya mereka malu untuk menampakkan diri.
Yumi berbalik ke arah pohon itu. “Ayolah, teman-teman. Shin itu orangnya baik, kok.” Dia mencoba menenangkan temannya itu.
“Setahuku, baik itu relatif. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.” Sebuah suara yang lain ikut menjawab. Kali ini suaranya terdengar lebih ringan, sebenarnya, apa yang mereka takutkan dariku?
“Heh, lebih baik kita pulang saja. Kita menghabiskan banyak waktu di sini.” Suara ketiga ikut menyahut. Suaranya yang nyaring itu terdengar meremehkan.
Yumi merasa tidak ingin berdebat lagi. Dia berjalan kebelakang pohon tersebut lalu mengacungkan pedangnya. “Lebih baik kalian segera keluar. Aku tidak akan bermain-main dengan pedangku ini.”
Mereka yang menyerah memutuskan keluar dengan kedua tangan di atas, mereka sebenarnya juga membawa pedang namun sepertinya mereka tidak bisa melawan Yumi, entah mengapa.
Tiga orang laki-laki, aku menebak mereka adalah teman Yumi di tempat kerjanya. Aku mencoba menyapa mereka meski dengan wajah kebingungan. Mereka juga memutuskan untuk memperkenalkan diri.
“Sudah kubilang, Shin itu orangnya baik.” kata Yumi. Aku hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sebagai respon.
“Jadi ini, orang yang kau temui setelah ingatanmu kembali?” Aizawa mangut-manggut.
“Tunggu dulu, kalian tahu di mana Kanzaki?” tanya Akane yang memiliki suara berat dan besar sama seperti tubuhnya.
Konna mengusap rambutnya yang berwarna merah itu. “Anak bawang itu. sepertinya dia tidak bisa diam saja.”
Kelihatannya ada orang keempat yang diajak Yumi. Dan aku yakin dia sedang berjalan ke arah kami.
“Hai teman-teman. Maaf aku menghilang, Eguchi menyuruhku untuk segera membeli makanan, kalian tahu kan, dia itu memang cepat lapar.” Kanzaki tersenyum lebar. Dia memang tidak berbohong soal makanan yang ia beli, seluruh jarinya juga dipenuhi oleh plastik makanan yang masih penuh bahkan ia harus menggantungkannya di pedangnya itu.
Kuperhatikan semua teman Yumi masih mengenakan pakaian kantoran, orang mati sepertinya sudah kehilangan minat untuk berbelanja baju.
“Semuanya sudah lengkap, kalau begitu, lebih baik kita berpencar saja, aku merasa aneh kalau sebelas orang berjalan bersamaan,” usul Konna. Dia sedang duduk di bangku sambil meluruskan kakinya, mungkin dia kecapekan berdiri.
“Sebelas?” tanyaku, bingung dengan ucapan Konna yang tidak sesuai dengan hitungan aslinya.
“Teman-teman.” Yumi memerintahkan sesuatu. Mereka semua langsung menyebut nama (yang bukan nama mereka) secara bersamaan. Dan dengan keajaiban, cahaya meliuk-liuk yang berasal dari pinggang mereka itu segera merubah pedang menjadi manusia yang berumur macam-macam.
“Aku mengerti.” ucapku. Melihat mereka yang ternyata memiliki partner berupa pedang mereka sendiri.
Sekali lagi, aku berkenalan dengan mereka. Beberapa dari pedang tersebut ada yang sudah setengah baya, seumuran denganku, bahkan ada yang masih berumur enam tahun.
“Oke, kalau begitu, kami bertiga pergi duluan.” ucap Konna, merangkul Akane dan Aizawa di kedua sisinya lantas melangkah pergi meninggalkan kami dan ketiga pedangnya yang memutuskan untuk pergi juga.
“Aku akan tinggal di sini saja, kami harus memakan semua yang kita beli.” Kanzaki sudah duduk dan membuka bungkusan okonomiyaki. Eguchi yang menjadi pedangnya juga sudah meneteskan air liur sejak tadi.
Aku menjulurkan bungkusan yakisoba itu ke tumpukan makanan yang ditempatkan di atas bangku. “Sebagai tambahan.” Ucapku. Kanzaki berterima kasih sementara Eguchi berseru riang.
Aku menatap Kuro, yang masih berdiri di samping Yumi. Pemuda yang seumuran dengan kami itu lantas membuang napas. “Aku, aku akan pergi sendiri saja, sepertinya banyak yang harus kulihat di tempat ini.” Dia lantas melangkah pergi.
Kami saling bertatapan. “Ayo kita pergi,” kata Yumi padaku. Aku mengangguk.
Kami melangkah bersamaan. Menatap ke kiri dan kanan untuk melihat orang-orang di sekitar. Mereka semua sibuk dengan apa yang mereka lakukan masing-masing. Sama seperti kami.
“Jadi, kau sudah mendapatkan pencerahan?” tanyaku, mempertanyakan ingatannya yang berupa mimpi itu.
Yumi menepuk jidatnya. “Aku terlalu menikmati hari ini sehingga lupa apa tujuanku berada disini.” Dia terkekeh lalu tersenyum dengan dua jarinya yang terangkat, meminta maaf.
Aku membuang napas lewat mulut. “Aku tidak pernah tahu kalau kau sebodoh ini.” dan melanjutkan langkah.
“Maaf, meski sebenarnya para Shinigami itu seharusnya sudah dihapus ingatannya sejak kematiannya. Dan aku tidak terlalu mengerti mengapa aku bisa mendapatkan ingatanku kembali.” Dia mencoba menjelaskan.
“Maksudmu, seharusnya kau tidak mengingatku?”
“Tentu saja tidak, seharusnya seorang Shinigami tidak mendapatkan kembali ingatannya, ‘mereka’ sengaja melakukannya agar para Shinigami tidak terlupakan oleh tugasnya sebagai seorang Shinigami. Kau tahu, lagipula bila Shinigami tersebut bertemu dengan orang dari semasa hidupnya pasti akan terjadi perpisahan yang kedua ‘kan? Dan tidak ada yang menginginkan perpisahan.”
“Itu masuk akal untukku, namun, apa yang bisa mendapatkan ingatanmu kembali?”
“Entahlah, aku hanya bertemu denganmu saja ingatanku sudah kembali padahal kau bukanlah orang dari masa laluku. Entah bagaimana kau bisa datang dari kehidupan yang sekarang ini.”
“Yang kau katakan itu terlalu berbelit-belit.”
“Iya ....”
SYUUT! DUAR!
Suara itu kukenal sekali. suara yang nyaring itu membuat semua orang menghentikan kegiatannya hanya demi melihat cahaya menyorot yang dilempar-lemparkan ke langit lalu meledak begitu saja.
“Kembang apinya ....” Aku kehilangan kata-kata. Hanya mampu menatap kosong langit yang semakin bercahaya itu.
“Indah sekali.” Yumi melanjutkan perkatanku.
Atraksi cahaya yang simetris itu terus berlanjut. Meskipun hanya lingkaran berwarna, meskipun berasal dari kesalahan teknis, namun kurasa ini adalah mahakarya paling hebat dalam sejarah manusia.
“Hei, Shin. Kurasa aku tahu apa mimpiku.” Yumi memanggilku dengan suara yang agak berbisik. Aku menengokkan wajahku ke arahnya yang masih memantulkan cahaya kembang api karena menatap ke arahnya.
“Apakah menerbangkan layang-layang?” candaku.
“Tidak, sesuatu yang lebih baik dari itu.” Dia berhenti sejenak. Seperti mencoba berimprovisasi sebelum mengatakan keinginan terakhirnya.
“Sebuah lampion harapan.” Dia menyebutkan nama benda tersebut.
Aku kembali menatap langit di mana atraksi itu terus berlanjut. “Kalau begitu, sudah saatnya membuat mimpi itu menjadi sebuah kenyataan.”

Other Stories
Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Tes

tes ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Download Titik & Koma