Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
zen zen sense (kehidupan sebelumnya)
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Penulis Koro Taiyou

5. Tidak, Aku Tidak Bisa Melupakan Janji Itu

 “Bung, hari ini wajahmu kusut sekali. sama seperti kemarin,” ucap rekan kerjaku sambil memposisikan kacamatanya. Takut-takut kalau dia salah melihatku.
“Bahkan kau berkantung mata sekarang.” kata yang lain. Mereka semua terkejut dengan penampilanku sekarang ini.
Aku hanya melangkah dengan lunglai. “Aku baik-baik saja.”
Ya, sudah dua hari aku harus bersudah payah hanya untuk masuk ke alam mimpi. Mataku begitu sulitnya hanya untuk terpejam, sulit untuk memasuki alam mimpiku. Setelah pulang dari tempat tersebut, aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku yang polos. Bertanya-tanya dalam hati.
Apakah boleh seperti ini?
Sebagian dari diriku ingin segera melupakannya dan berharap bahwa itu semua hanya mimpi. Namun, ini lebih nyata dari mimpi yang kualami. Saat dia menangis di hadapanku, saat dia secara blak-blakan memperkenalkan diri, dan saat dia menunjuk ke langit mengatakan ada bintang jatuh disana.
Saat kami belum sempat mengatakan sampai jumpa padanya.
Jam dua dini hari, akhirnya tubuhku mengalah. Tertidur dengan mata merah karena kehabisan air mata. Kering dan membuat mataku gatal.
Anehnya, aku bisa bangun tepat waktu. Dan di sinilah aku, berjalan dengan loyo dan menguap beberapa kali sambil mengucek mata, tidak peduli dengan wajah tidak percaya yang dibuat rekan kerjaku di studio enam.
“Kurasa lebih baik kau istirahat saja. Kondisimu sangat tidak baik.” Ketua juga berpendapat demikian.
Aku melambaikan tangan lalu duduk di salah satu kursi dekat proyektor. “Aku, baik-baik saja. Sekarang film apa yang kita putar?”
“Film baru. Tinggal beberapa menit lagi,” jawab Ketua setelah mengecek jam tangannya.
Aku menyalakan proyektor yang siap memutarkan iklan-iklan sembari menunggu datangnya penonton.
“Film baru, berarti penontonnya akan banyak.” gumamku sambil mengucek mata. Aku hanya harus kembali ka rutinitas semula. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku yakin, waktu akan menyembuhkan segalanya.
“Sekali. Bahkan kursi penontonnya sudah penuh karena ini penayangan pertama,” salah satu rekanku sepertinya mendengar gumamanku.
Aku mengangguk mengiyakan.
Perlahan, kursi penonoton dipenuhi. Penuh sesak dan agak ribut. Sebagian besar penonton adalah orang dewasa yang mungkin kebetulan sedang tidak ada pekerjaan. Mereka sibuk mencari kursi, mengunyah popcorn atau sekedar berbicara dengan temannya.
Cahaya berintensitas tinggi yang menyorot dari puncak studio menuju layar di depannya sekarang sedang memberikan peringatan untuk diam. Lampu-lampu dimatikan dan para penonton segera menenangkan diri. Menciptakan suasana hening yang menyejukkan. Begitu tenang.
Sejenak aku menatap langit-langit studio yang berwarna hitam polos. Seketika aku teringat langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Bintang yang jatuh. Ingatan tersebut bersamaan dengan rasa bersalah yang kembali menghantuiku.
Aku menutup telingaku dan menutup mataku yang tak sadar sudah mengalirkan air mata. Lagi.
“Tidak.” gumamku. Aku masih tidak mengerti mengapa rasa bersalah yang kurasakan bisa separah ini. Seperti akan menghantuiku seumur hidup. Hingga tak terasa hanya kehampaan yang kulihat.
Dalam waktu yang lama.
Shin ... suara samar tersebut memanggilku. Aku membuka mata. Semua yang kulihat bergoyang-goyang, memusingkan penglihatanku.
“Shin.” Suara itu kian nyata. Seperti suara seorang laki-laki. Aku memfokuskan penglihatanku pada suatu titik yang semakin jelas. Pikiranku sekarang jadi jernih.
“Shin!” aku membuka mataku secara paksa. Itu suara Ketua yang membangunkanku.
Tersadar, aku segera mendudukkan diri. Kursi yang tadi aku duduki sekarang terbaring. Sama seperti diriku beberapa saat yang lalu.
Aku menatap ke arah layar. Film tersebut masih berjalan. Kepalaku pusing.
“Kau tadi pingsan. Beruntung aku menyadarinya. Ternyata kamu sulit dibangunkan.” ucap Ketua sambil terkekeh. Meski dia tersenyum, gurat wajah khawatir masih tersirat di wajahnya.
“Kau tiba-tiba jatuh dari kursi dan berbaring. Beberapa penonton bahkan kaget setelah mendengarnya hingga berbalik.” rekanku yang menatap layar besar ikut menatapku.
“Jelas sekali kau tidak baik-baik saja. kau butuh istirahat sehari ini saja,” kata yang lain.
Aku berdiri lantas mengusap kepalaku yang pusing. “Kurasa memang benar. Semalam aku benar-benar kurang tidur. Aku pamit.” Tas kecilku yang tergantung segera kuambil lantas setelah itu membuka pintu.
“Hati-hati di jalan,” ucap Ketua yang kulihat wajahnya tersinari sebagian dari cahaya layar. Tersenyum padaku.
Aku mengambil syalku yang digantung lalu membuka pintu ruang kerjaku.
Bioskop tempatku bekerja berada di lantai paling atas di antara empat lantai yang ada. Terkadang aku sengaja berkeliling hanya sekedar mencari tahu seberapa luas tempat ini. Dan itulah yang kulakukan sekarang. Untuk mencari makan.
Pintu lift terbuka, menampakkan seorang ibu-ibu yang tengah menggandeng tangan anaknya yang menangis seperti habis meminta sesuatu namun tidak dikabulkan oleh Ibunya. Ibu itu menyuruh anaknya diam sementara mereka keluar dari lift.
Giliranku masuk. Aku menuju lantai satu tempat restoran makanan cepat saji.
“Tunggu sebentar,” suara laki-laki yang sengaja memasukkan tangannya ke sela-sela lift yang hampir tertutup sempurna itu membuatku kaget. Pintu lift tidak jadi tertutup. Aku menatap orang yang melakukan sesuatu yang sangat berbahaya tersebut.
“Eh, kau tidak bekerja?” tanyanya.
“Aku diberi izin karena sakit. Kau?” tanyaku balik.
Dia mengusap kepalanya lalu masuk ke dalam. Menutup pintu. “Hehehe. Bolos sehari tidak akan terlalu berpengaruh. Lagipula, pantatku sudah sakit parah karena terlalu lama duduk.”
“Gajimu bisa dipotong.” Aku memperingatkan.
Dia menyandarkan kepalanya pada sikutnya. “Tidak juga. Jadi, hari ini kau mau kemana?”
Pintu lift terbuka. Kami melangkah bersamaan. “Makan, lalu beristirahat. Aku benar-benar kurang tidur tadi malam,” jawabku panjang lebar.
Dia hanya mengangguk. “Kalau begitu, bagaimana di rumahku saja? Aku baru saja dapat kiriman bahan mentah dari Akita.” ajaknya.
Tawaran yang bagus. “Kurasa ini lebih baik daripada mengunyah junk food yang banyak minyaknya.” Lalu aku menghentikan niatku untuk berbelok ke kiri tempat restoran itu berada dan menyamakan langkah.
Setelah berjalan beberapa meter, naik kereta lalu berjalan lagi, kami tiba di pintu kamar apartemen milik Shuu.
Shuu merogoh sakunya, mencari kunci sementara aku menyadarkan tubuhku di pagar pembatas lantai tiga belas ini. Menunggu Shuu membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
“Kurasa ini baru kedua kalinya kau berkunjung ke kamarku.” Shuu membuka percakapan. Pintu kamarnya yang dibuka membuat suara derit yang melengking. Sepertinya pintu ini jarang dibuka.
“Aku jarang keluar kamar. Lagipula, bila ingin bertemu denganmu aku hanya perlu memanggilmu dari balkon,” jawabku. Membuka sepatu lalu melangkah masuk kedalam.
Dia terkekeh kecil. “Iya juga.”
Aku meletakkan syal yang membuatku cukup kepanasan, memasukkan dalam tas kecilku lalu duduk di lantai sementara tangan-tangan Shuu beraksi di dapur.
Aku melihat-lihat sekeliling kamarnya. Ukuran yang sama dengan kamarku hanya berbeda warna dan peletakkan barang-barang. Rak penuh berisi buku, kasur yang tertata rapi dan lemari baju yang terbuat dari kayu. Kamar biasa.
Hingga aku menemukan sesuatu yang aneh. Ada kabel berukuran sedang yang mencuat keluar dari dalam lemari baju yang tertutup itu.
Aku yang penasaran segera merangkak ke arahnya.
Kabel berwarna hitam tersebut aku tarik. Membuat pintu lemari tersebut terbuka lebar. Aku tak bisa menjelaskan apa yang kulihat saat ini.
“Apa ini?” ucapku. Melihat benda tersebut.
Benda berbentuk kubah dengan lubang beserta kabel-kabel yang seukuran yang tertancap dalam kubah tersebut aku pegang. Kubah itu terbuat dari plastik berwarna biru. Aku membolak-balik benda tersebut mencari semacam petunjuk. Tidak ada.
“Jangan!” seruan Shuu mengagetkanku. Memergokiku yang sedang memegang benda aneh ini. Merebut benda tersebut secara paksa lantas merapikan dan memasukkannya kembali ke tempatnya.
“Kau berutang penjelasan padaku,” ucapku ketus. Membuat wajah mengintimidasi yang membuatnya ketakutan. Itu yang selalu kulakukan apabila dia menyembunyikan sesuatu dariku.
Dia duduk dihadapanku. “Baik.”

Other Stories
Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Download Titik & Koma