Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
zen zen sense (kehidupan sebelumnya)
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Penulis Koro Taiyou

Epilog...

Pagi. Adalah saat-saat di mana kita memulai hari baru dengan penuh semangat setelah terlewati delapan jam di dalam alam mimpi yang terkadang menghantui, terkadang membuat kita tidak mau terbangun dan terkadang membuat kita mengingat hal-hal yang pernah terlupakan.
Pagi, adalah saat di mana kita dihidupkan kembali, sembari disinari cahaya matahari yang menembus kedalam melalui kaca-kaca jendela dan suara kicau burung dari luar rumah meminta kita segera bangun dan memulai hari.
Dan pagi ini, aku memulai hari baru di tempat tinggal lamaku. Berhadapan dengan Ibu dengan batas meja berukuran persegi yang penuh makanan. Badanku terasa segar setelah tidur semalam suntuk meninggalkan Ibu mengendarai sendirian di malam gelap.
Setelah menyesap teh panas, dengan cepat aku mengembalikan nyawaku yang masih ingin tidur di atas kasur.
“Selamat makan.” Ibu memulai menyumpit makanan. Dan aku masih menunggu beberapa saat sebelum mengambil bagianku karena masih haus meregangkan sendi-sendi terlebih dahulu.
“Shuu, dia ke mana?” tanyaku lalu menyuap nasi.
“Dia Ibu antar langsung ke rumahnya. Lagi pula, rumahnya cukup dekat dari sini,” jawab Ibu.
Makanan yang enak menghantarkan kita pada aktifitas yang maksimal, itu yang dikatakan Ibu setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah. Ibu yang selalu memasak makanan yang spesial itu tak pernah membuat kami sekeluarga bosan untuk terus menyantapnya. Dan hari ini akhirnya aku merasakan lagi masakan tersebut.
Rumah tradisional yang berada di desa Akita terlihat sangat cocok apabila dipadukan dengan suasananya. Pepohonan yang hijau, hewan-hewan kecil yang berkeliaran kesana kemari juga jalanan tanah yang mengarah ke jalan utama dan sawah.
Setelah beberapa menit dalam diam karena sibuk menyantap makanannya masing-masing, aku akhirnya menyimpan sumpitku lalu segera beranjak untuk mandi.
Keran yang mengalirkan air dingin itu segera membasahi tubuhku yang agak bau ini. Membuatku menggigil karena tidak terbiasa oleh air bersuhu rendah. Tidak seperti di kota, aku selalu dimanjakan oleh pemanas air yang bisa mengatur suhu sesuka kita.
Sesekali aku merenung. Memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya sembari membasuh tubuhku. Aku tidak memiliki petunjuk apapun dan bola kaca yang bisa menghantarkanku ke masa lalu itu sudah lenyap.
Namun, mengapa aku masih terus melakukannya? Setelah beberapa kali gagal mengulang waktu dan satu kali pergi ke kehidupan yang sebelumnya apa yang kudapat? Faktanya, Yumi sudah mati dan yang kulakukan hanyalah mengulang waktu, terus menerus.
Lagipula, apa yang kudapat meski berhasil sekalipun? Entahlah, otakku yang masih waras tentu saja menolak semua ini namun seluruh anggota tubuhku selalu bersikeras untuk terus melakukannya.
Tidak ada kata istirahat bagi tubuhku ini. Setelah aku gagal mengabulkan keinginan Yumi, aku dikejutkan oleh Shuu yang bisa membuat mesin waktu dan setelah aku gagal mengulang waktu karena di garis waktu ini Shuu tidak membuatnya, beberapa jam kemudian aku pergi ke kehidupan yang sebelumnya.
Dan sekarang setelah terbangun dari koma selama tiga bulan, apakah ada kejutan lagi yang ingin diberikan padaku hari ini, wahai takdir?
Lamunanku dibuyarkan dengan suara seseorang di luar selain ibu. Suara yang samar dan terdengar seperti laki-laki dan disertai derap langkahnya masuk kedalam. Aku mempercepat kegiatan mandiku.
Setelah tubuhku dikeringkan, aku segera mengenakan kaus dan celana pendek lalu keluar dari kamar mandi.
“Shin-chan, Shuu datang kemari.” Ibu berseru memanggilku. Ternyata orang itu.
“Ya, aku segera kesana.” jawabku lalu melangkah ke ruang tamu.
Temanku sejak SMP itu berdiri dengan santainya sambil menungguku. Pakaian kasual yang sering ia kenakan sehari-hari membuat orang lain tak percaya kalau dia adalah jenius fisikawan yang telah membuat mesin waktu, walau di garis dunia ini dia belum berhasil.
Aku menarik syal yang kugantungkan di dekat pintu lalu minta izin untuk bermain sebentar. Aku mengikat syal tersebut di leherku lalu berjalan keluar dari rumah bersama dengan Shuu.
“Aku tidak mengerti mengapa kau selalu mengenakan syal itu.” ucap Shuu.
“Entahlah, mungkin ini hadiah dari kefemininan almarhum ayahku mungkin? Kau tahu tidak banyak laki-laki yang mau merajut.” balasku.
Jalan yang belum diberi aspal dan hanya muat untuk dilewati satu mobil itu kami lewati, dengan perlahan kami melangkah menikmati alam pedesaan yang sudah lama kami tinggalkan ini.
Matahari pagi memberikan cahaya yang cukup. Hangatnya yang memberikan banyak manfaat bagi kehidupan membuatnya sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup. Semak-semak yang berfungsi sebagian pembatas jalan terjejer dengan rapi bersamaan dengan pepohonan yang berada di belakangnya.
“Jadi, kita mau kemana?” tanyaku.
Shuu menunjuk sesuatu. “Bukit itu. Katanya ada kuil yang bisa mengabulkan segala permintaan baik. Kesempatan terakhir yang kau punya.”
“Maksudmu, kuil bobrok itu? Aku tidak tahu kuil itu masih tetap bertahan meski sudah berpuluh tahun ditinggalkan begitu saja. Saat itu kita begitu ketakutan karena mengiranya kuil berhantu. Dan baru kali ini aku lihat orang jenius sepertimu menyerahkan semuanya pada Dewa.”
“Hei, aku ini masih memiliki kepercayaan.”
Kami terus melangkah, sesekali bertegur sapa dengan orang-orang yang kami kenal dan juga yang kami lupa.
Sebagian besar penduduk disini bekerja sebagai petani. Karena itu wajar saja kalau di temukan belasan tangga terasering yang menjulang dari atas ke bawah tempat padi-padi di tanam. Juga beberapa rumah kaca yang jaraknya agak jauh tempat sayuran bisa tumbuh dengan baik.
“Oh, ayolah,” Shuu memergokiku yang tertinggal. “Aku tak menyangka ada orang pedesaan yang masih harus menyeimbangkan tubuhnya saat berjalan di pematang sawah.”
“Diam,” ucapku yang berada jauh di belakangnya. “Kakiku masih belum terbiasa saat menyeimbangkan tubuh seperti ini. Seperti seluruh aktifitas yang berhubungan dengan sendi-sendiku di reset.” Kedua tanganku terbentang lebar-lebar untuk menjaga agar aku tidak terjatuh.
“Sudahlah. Aku tunggu di kaki bukit.” ucapnya lalu berjalan dengan santainya meninggalkanku yang berjalan saja sudah kesulitan.
Akhirnya aku bertemu lagi dengan Shuu diujung pematang sawah yang tengah bersantai menyandarkan diri ke pohon sambil menggigit rumput dimulutnya. Aku yang agak kesal hanya berjalan melewatinya.
“Ayo cepat,” ucapku diiringi dengan bangkitnya Shuu dan berjalan beriringan denganku.
“Memangnya seberapa besar keyakinanmu terhadap kuil yang satu ini? Bisa jadi kuil tersebut sudah roboh atau dipindahkan.” tanyaku.
“Entahlah, bukankah kuil tersebut dihuni hantu? Dan hantu tidak mungkin membiarkan tempat tinggalnya hilang begitu saja,” kata Shuu santai.
Aku memasang wajah datar. “Kalau kau masih bercanda aku pulang duluan.”
Shuu terlihat kaget. “Eh, iya. Sebelum aku tidur aku teringat ada kuil yang sering kita kunjungi namun tidak kita dekati, saat aku bertanya pada ibu, kuil tersebut masih ada namun semakin tidak keruan bentuknya.” Dia mencoba menenangkan amarahku.
Aku memaklumi jawaban tersebut dengan dehaman pendek.
Jalanan semakin menanjak. Pepohonan dan rumput semakin lebat kelihatannya, mungkin karena bukit ini jarang dijelajahi orang-orang. Bukit tempat kami sering bermain dengan yang lain ini kelihatannya semakin menyeramkan saja karena jarang dikunjungi.
“Tunggu dulu.” Langkahku terhenti karena melihat sebatang tongkat yang ukurannya pas untuk digunakan. Ini akan membantuku menaiki bukit yang semakin curam ini.
Dalam lengan sesekali terdengar suara tonggeret yang asik berbunyi tanpa mempedulikan sekitarnya. Entah dia berada dimana, namun yang pasti hanya suara itulah satu-satunya yang mengisi kekosongan hutan.
Tinggal beberapa langkah lagi sebelum kami sampai di kuil tersebut. Shuu yang tidak sabaran malah meninggalkanku lalu berlari menuju puncak bukit yang datar tersebut. Sedangkan aku hanya bisa bertopang tubuh ke tongkat tersebut lalu berjalan dengan pelan.
Hingga aku sampai di puncak tesebut. Di lapangan kosong yang hanya tersisa alang-alang setinggi pinggang dan kuil kecil tersebut di tengahnya.
Alang-alang yang sudah menguning itu seakan berusaha melindungi kuil yang berada di tengah, membingungkan kami untuk mencari jalan masuk hingga Shuu memutuskan untuk menginjak alang-alang tersebut.
“Salah siapa menyimpan kuil ditengah lapang?” gumamnya. Aku yang hanya mengikutinya dari belakang mendapatkan firasat buruk kalau sesuatu akan terjadi.
Dan sayangnya, firasat itu benar.
Hujan tiba-tiba turun tanpa membuat aba-aba. Meski tidak terlalu deras namun tetap membuat kami harus segera mencapai kuil tersebut dan berlindung di bawahnya.
Memang benar, kuil kecil tersebut sudah termakan waktu yang terlalu lama. Beberapa bagiannya sudah patah akibat tidak dirawat. Penopangnya sudah reyot dan lapuk karena basah. Lonceng besar didalamnya juga sudah berlumut, seakan-akan hanya dengan tangan kosong saja, kuil tersebut bisa roboh.
Atap tempat kami bernaung juga sudah bolong, meneteskan air hujan dalam jumlah yang banyak. Namun ini lebih dari cukup agar baju kami tidak terlalu basah.
“Salahmu,” ucapku. Menyalahkan Shuu karena sudah mengatai.
“Diamlah, tiba-tiba saja aku tidak enak hati,” kata Shuu. Dia lalu duduk di tanah yang agak becek itu sambil menatap ke arah alang-alang yang semakin menunduk. Seakan tidak mau melawan pada dewa yang memberikan hujan.
Aku mengikuti apa yang ia lakukan. Sementara langit semakin menghitam, kami menikmati suara hujan yang turun.
Keheningan yang luar biasa nyamannya. Dengan syal panjang yang menyelimuti leherku, aku tidak merasa keberatan karena hujan yang mencoba menghentikan langkahku ini.
Hingga hujan tersebut berlalu begitu saja. Menyisakan matahari yang semakin naik menuju tengah hari.
“Hujan lewat, ya?” gumamanku itu diiringi sinar matahari yang kembali menyinari lapangan ini. Mengeringkan segala yang basah yang dilakukan oleh awan hitam yang melewati kami.
Keheningan suara hujan digantikan oleh tetesan air tersebut di kuil ini. Suara tetesan air di lenceng, di ujung atap dan lainnya, juga ditambah suara tonggeret yang kembali asyik bernyanyi menghiraukan hujan yang lewat tersebut.
“Kurasa ini saatnya.” kata Shuu.
Kami berbalik kehadapan kuil yang sekarat ini. Menatapnya penuh rasa kasihan karena tidak ada yang merawatnya. Aku hanya bisa memberikan sumbangan berupa uang koin dari saku kami. Aku melemparkan koin ke dalam boks besar tersebut.
“Shin, apakah kau pernah meminta sesuatu yang sama dua kali?” tanya Shuu sementara koin tersebut berputar-putar sebentar menunggu jatuh.
Seketika aku teringat. Saat aku meminta hal yang sama pada bintang jatuh dan kuil di Taman Ueno. Meminta hal aneh yang kurasa jarang orang lain minta. Berdoa semoga hal tersebut segera dikabulkan.
Aku ingin mendapat kesempatan yang lebih. Itu yang kuminta.
Lalu, koin tersebut masuk ke sela-sela lubang setelah berputar.
...............................
Aku seketika saja sudah berada di sini. Seperti berteleportasi dan pindah ke suatu tempat yang sangat kukenal.
“Kau mau membeli apa, Nak?” tanya suara tersebut. Aku tersentak dan mendapati nenek-nenek tersebut sudah berdiri di hadapanku dengan wajah keriputnya. Memintaku untuk membeli sesuatu.
Toko kelontong tempat aku membeli lampion. Itu yang kupikirkan setelah melihat-lihat sebentar tempat ini. Apakah aku kembali ke saat Yumi yang sudah menjadi Shinigami? Kalau benar begitu maka sudah bisa dipastikan kegagalan yang terjadi.
Tapi tak apa. “Aku beli lampion dan pemantiknya satu.”
Nenek berwajah masam tersebut segera mengambilkan barang yang hendak kubeli setelah membayar, aku pergi keluar.
Sekarang sudah malam, tepat seperti saat kegagalanku yang berturut-turut itu.
Tapi, mengapa tempat ini terlihat berbeda dari pada yang sebelumnya?
Seharusnya toko ini berada di seberang Taman Ueno tepat di tengah kota. Namun yang kulihat adalah komplek pertokoan berjajar rapi dan beritngkat. Seperti ada yang berbeda dengan tempat ini.
Aku memperhatikan sekitar. Tempat ini memang berbeda dengan yang sebelumnya. Jalanan utama tempat ini juga dihiasi lampu jalanan yang bersinar terang.
Tepat saat aku menduga hal tersebut, seseorang melintas tepat di hadapanku. Dengan pakaian sekolahnya yang aku kenal, aku memastikan kalau dia itu orang yang telah meminjami tubuhnya untuk kurasuki.
“Yuuki ....” gumamku karena kaget.
Siswa SMA tersebut menengok ke arahku dengan aneh hingga beberapa saat kemudian dia kembali melangkah, menganggapku angin lalu.
Lalu, bila ini adalah kehidupan yang sebelumnya, mengapa aku tidak masuk ke dalam tubuh orang itu?
Hingga aku tersadar kalau celana pendek yang basah, kaus dan syal hitam itu masih melingkar di leherku. Aku masih menggunakan tubuh Shin yang asli melintasi ruang dan waktu menuju kehidupan yang sebelumnya.
Aku segera berlari menuju kediaman Yumi, kesempatan terakhir sebelum terlambat.
...................
Rumah sakit tersebut masih sama seperti saat terakhir kali aku berkunjung ke sana. Lampu-lampu yang menyala terang membuatku berpikir kalau rumah sakit itu masih beraktifitas seperti biasa.
Aku benar-benar berlari kencang. Memaksa seluruh tubuhku yang masih terasa sakit karena sehabis koma tiga bulan. Menggandeng lampion masuk ke dalam seperti orang gila yang seenaknya masuk kedalam. Syal yang berkibar-kibar karena terangkat oleh angin seperti menyemangatiku untuk terus berlari.
Lift terbuka lebar, memberikan kesempatan untuk masuk kedalam. Menunggu beberapa saat sambil menyapa pasien yang satu lift denganku. Mereka hanya menatapku aneh lalu balas menyapa.
Ruangan A202 itu kelihatannya tidak terkunci. Aku mendobrak masuk kedalam dan mendapati Ratu berpenyakit itu duduk disana. Dan kejutan lainnya.
Orang-orang yang berada di dalam menatapku aneh karena ada orang asing yang sembarangan masuk kedalam.
Namun Yumi mengenaliku. “Shin? Apakah itu kau?” Mungkin ini karena wajahku dan Yuuki tidak berbeda jauh.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk. Berbicara sebentar dengan anggota klub perfilman yang sering mengunjungi Yumi di sini. Hashida yang berpikir aku tidak akan kembali lagi ke sini memelukku erat hingga menimbulkan rasa nyeri di beberapa bagian tubuhku. Senpai juga ikut menjenguk.
“Dan, apa gunanya lampion itu?” tanya Ayano padaku.
Aku menggaruk kepala. “Aku hanya ingin memberikan kejutan saja, sekaligus doa untuk Yumi dengan menerbangkan lampion ini.” Kurasa itu alasan yang bagus untuk menutupi alasan sebenarnya.
“Kalau begitu, ayo kita pergi. Aku tahu tempat yang cocok untuk menerbangkannya.” Yumi sudah bangkit duluan.
Kami mengangguk setuju lalu naik ke atap rumah sakit menggunakan tangga. Hanya Hashida saja yang keberatan dengan itu semua.
“Lain kali, kau harus belajar diet,” ucapan Ayano membuat wajah Hashida menjadi datar disertai dengan tawa kami. Ternyata benar, kurasa inilah kesempatan terakhir yang akan dibuahi keberhasilan. Inilah satu-satunya kesempatan dari ribuan kesempatan yang ada.
Kesempatan untuk menepati janji.
Langit malam kali ini tidak dihiasi bintang. Namun jutaan lampu di bawahnya hampir membuat kilauan cahaya langit itu kehilangan tugasnya. Diiringi dengan angin yang bergerak secara perlahan, kami menikmati sebentar keindahan kota lewat atap rumah sakit ini.
Hingga aku menyalakan lilin, memanggil semua untuk berkumpul di tengah. Rasa khawatir kembali menghantuiku. Dan aku mencoba menutupinya dengan senyuman kepada mereka.
“Yumi, tolong pegang sisi yang satunya lagi.” ucapku.
“Oke teman-teman, saatnya berdoa.” perkataan Yumi kami jawab dengan menutup mata. Meminta sesuatu pada yang memiliki seluruh kekuasaan.
Aku pun ikut menutup mata. Berterima kasih atas seluruh hal yang telah diberikan. Meski harus diuji berkali-kali, meski harus jatuh berkali-kali namun semuanya dibalas dengan satu kesempatan terakhir yang ....
“Aku sangat berterimakasih, Shin.” suara itu keluar dari mulut kecil Yumi. Aku membuka mata dan melihat Yumi masih menutup matanya. Aku melingkari lehernya dengan syalku sambil berkata dalam batin,
Yumi, kore wa yume de wanai, anata ga sonotoki itai you ni[1].
BERSAMBUNG KE VOL. 3: SPARKLE
[1] Yumi, ini bukanlah mimpi. Tidak seperti yang kau katakan waktu itu.

Other Stories
Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Download Titik & Koma