Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

1. Jatuh Bangunku Di Seleksi

Selesai sudah perjuanganku di pondok Musthafawiyah, kini tibalah saat untuk memikirkan jenjang selanjutnya, yaitu jenjang ke perguruan tinggi. Bingung bercampur harapan telah menyatu di ruang cita-citaku. Sejenak berpikir, sebenarnya keingingan tertinggiku adalah belajar di luar negeri, tidak ada yang mematahkan keinginanku ini. Jangankan orang tua, bahkan tetangga dan temanku pun ikut mendukung.
Berawal dari suatu pengajian tauhid dari pondok pesantren. Saat pengajian itu, mata tidak hanya tertuju pada wajah sang guru, dan pikiran tidak hanya terikat dengan materi yang disampaikan, melainkan semuanya telah bercampur aduk dengan kehadiran dua pemuda berserban yang duduk di sebelah sang guru. Berkacamata hitam, berjubah putih, lambang akan kewibawaan.
Saat itu, biasanya pengajian berjalan satu jam. Kali ini masih empat puluh menit, guru pengajian mengambil rehat dan memperkenalkan kedua pemuda itu. Guru berkata bahwa mereka adalah dua pelajar yang dulunya pernah belajar juga di pesantren ini, dan saat ini masih melanjutkan studinya di Makkah Almukarromah. Kedua pemuda itu pun tersenyum. Hati terbuka dengan rasa terharu dan wow, melihat senyum yang bersanding dengan kewibawaan.
Terbersit di hatiku untuk menanyakan tips-tips kuliah di luar negeri, sejenak kucolek dengkul teman yang kutahu bahwa cita-cita kami sama, yaitu ingin kuliah ke Timur Tengah, "Gimana kalau kita tanya mereka berdua bagaimana cara bisa ke sana?" sapaku dengan cara membisikkan kalimat itu di telinganya. Diapun menjawab, “Santai kawan, nanti kan kalau pengajian udah selesai bisa kita tanyakan mereka di luar, yang penting selama mereka masih di sini kamu tenang aja, nanti kita tanya mereka," aku menjawab dengan nada rendah, "Oke lah”.
Tak sampai pengajian selesai ternyata kedua pemuda itu izin untuk keluar. Ternyata sebelum pengajian dimulai, mereka telah berbincang-bincang lama dengan guruku. Dan kali ini agaknya waktu menjemput mereka untuk melakukan aktivitas lainnya. Saat itu, teman yang duduk di sebelah berkata "Yaah udah pulang, jadi gak bisa bertanya dong," jawabnya dengan spontan. Keinginan untuk bertanya itu lahir dari keraguan yang selama ini menggandeng impianku. Mungkinkah orang yang biasa-biasa saja dan terlalu rajin sepertiku ini bisa kuliah ke Timur Tengah? Sedangkan orang yang bisa belajar ke sana bukanlah sembarangan orang. Keraguan itu bukan hanya menggandeng impianku, namun iringannya dapat memberatkan impianku untuk melangkah menuju kenyataan.
Pengajian telah usai. Guru pun mengambil kesimpulan dari materi yang disampaikan. Tutur yang menurutku sangat indah waktu itu adalah ketika guru mempersilakan kami untuk bertanya. Sengaja hening kuhadirkan di hadapan beliau, berharap kiranya ada teman yang terlebih dahulu bertanya tentang materi pengajian. Karena pertanyaanku keluar dari materi. Setelahnya guru menjwab pertanyaan seputar materi, guru masih memberi kesempatan untuk bertanya. Tanpa banyak berpikir kuangkat tangan, dan setelah diperbolehkan untuk bertanya di luar materi, aku pun berkata, "Ayah (panggilan guru di pondok pesantren Sumatera) bagaimana cara agar bisa kuliah ke Timur Tengah seperti Abang-Abang yang duduk di sini tadi?"
"Oh mudah Nak, sungguh-sungguhlah belajar dan banyak berdoa, lalu menabunglah mulai sekarang! Insya allah kalian akan ke sana," jawab guruku dengan wajah tersenyum.
Usai pertanyaanku itu, temanku pun ikut bertanya, "Ayah, mungkinkah orang seperti kami ini bisa ke sana? Sedangkan kami ini mungkin tidak punya kemampuan seperti mereka berdua," sambil tertawa guruku menjawab, "Jangan takut Nak, percaya diri aja, kalian bisa kok. Yang tadi berdua duduk di sini bisa jadi sama seperti kalian, bahkan dulunya mereka orang yang sering berdiri di depan kelas (karena hukuman) toh bisa juga mereka ke sana," dan akhirnya semua santri pun tertawa mendengar penjelasan guruku.
Banyak orang yang tidak sampai ke dermaga impiannya hanya karena merasa diri bak semut di sebelah timbangan gajah. Lalu semua perasaan itu ia perkuat sehingga menjadi alasan yang berpondasi baja, sehingga tak satupun orang dapat menggoyangnya. Padahal, kalaulah ia mengingat dan menarik benang waktu yang selama ini ia ulur, pastilah ia mendapatkan hakikatnya. Dan keinginan itu adalah keniscayaan yang akan hadir di depan matanya.
Kurangnya rasa kepercayaan itu karena hati dan pikiran telah menyatu dan sepakat untuk menuju satu arah, yaitu jalan yang gelap. Bahkan saking gelapnya, butalah mata akan pandangan kehebatan diri. Dan jelaslah kehebatan orang lain. Nah penyakit yang selama ini diidap si pesimis adalah tidak menyamakan dirinya dengan diri si sukses. Pandangan matanya jelas melihat kemampuan tetangga, namun buta saat melihat kemampuan sendiri. Padahal, pada hakikatnya adalah sama. Bener gak?
Bahkan tak jauh kemungkinan bahwa kita memiliki power yang lebih kuat dari mereka. Hanya saja mereka sudah sampai di tujuan sehingga terkadang kita tidak fokus membimbing langkah kita. Percayalah, mungkin kita bisa mendapat nilai lebih dari pada nilai yang mereka dapatkan. Agama kita melarang untuk meremehkan orang lain, namun ironisnya kita malah meremehkan diri kita sendiri. Loh ini malah lebih berbahaya bro. karena siapa yang meremehkan orang lain pastinya dia tetap melangkah, tapi kalau meremehkan diri sendiri, jangankah melangkah bro, melihat garis start aja kita bisa menutup mata karena ketakutan.
Kenapa kita boleh berperndapat bahwa kita mendapat nilai lebih dari mereka? Karena, terkadang rintangan yang ia rasakan mungkin tak seberat dengan yang kita alami. Mungkin, bahkan di jalannya dia tidak menemui sedikitpun rintangan, karena lazimlah di sana dan di sini ada sanak saudara mamak atau paman yang menjemput, menggendong dan mengantar ke tujuan impiannya. Berbeda dengan kita yang harus menyiapkan kekuatan simpul dan tumpuan kita untuk bekal di perjalanan menuju impian. Nah kalau sudah begini adanya, setuju gak kalau kita lebih dari mereka?
Setan tak ingin kita mendapatkan impian kita, maka dari itu dapatlah dia memegang kesempatan untuk menutupkan pandangan kita dengan tirai berkain sutra, hingga yang terlihat hanyalah kain sutra itu. Bahkan kain sutra itu terasa indah bagi kita, hingga kita pun lupa dengan keindahan di balik kain sutra itu. Padahal, tak lain dan tak bukan kain sutra itu adalah alasan dari hentinya langkah yang selama ini tampak kuat dan tampak indah bagi pandangan kita. Hingga kita lupa untuk mencoba melihat hakikat yang lebih indah di balik kain sutra itu. Nah karena pandangan mata tak layak lagi melihat hakikat di balik sutra itu, menjauhlah diri dari orang yang berpengalaman, hingga tak satupun pertanyaan keluar dari lisan untuk menanya jalan keluarnya, atau caranya, atau bahkan tuntunannya.
Berhati-hatilah kawan, karena menyesal di alam dunia masih ada arti yang dapat kita genggam, namun menyesal di alam fana hanya janji dan tanggung jawablah yang tergenggam. Hidup hanya sekali. Lebih baik mati tersenyum karena kepuasan atas tercapainya impian, daripada mati tersenyum karena men-sayonara-kan kesedihan akan gagalnya impian.

Other Stories
Beyond Two Souls

Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Randa Pulau Rante

“Kadang, kebebasan hanya bisa ditemukan setelah kita berani meninggalkan semuanya.” Sa ...

.

. ...

315 Kilometer [end]

Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...

Hibur Libur

Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...

Download Titik & Koma