Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

4. Mawar Tak Bertangkai

Baunya yang sangat wangi, keindahan yang secara khas memantulkan pesona di hadapan sang pendambanya, kerap kali tak terelakkan. Jika ada satu kata bahwa di taman itu indah, maka ia adalah unsur dari keindahan itu. Wow, terlebih saat sang pendamba berada di dekatnya. Maka andai saat itu badai melintas, ia akan tetap memperjuangkannya. Keteguhan luar biasa yang dihadirkan seorang pemujanya. Dialah mawar. Yang membuat hati Rahman membelah niatnya menjadi dua bagian. yang pertama mendapatkan ilmu untuk jaminan di masa depan, dan yang kedua untuk mempertahankan mawar yang selama ini ia perjuangkan.
Sebelum berangkat ke Hadhramaut, terlebih dahulu ia menyatukan kata dan menyimpannya di perbendaharaan masa depan. Kiranya di masa yang akan datang, saat ia menjadi sarjana dari luar negeri, kata yang selama ini hanya berupa janji itu akan merubah wujudnya menjadi kata ijab dan qabul di hadapan sang wali nikah. Semangat yang ada pada dirinya tercampur dengan semangatnya untuk mempertahankan Bunga yang ia dambakan. Tak jarang jika setiap minggu ia harus memberikan kabar ke kampung, atau terkadang pesan yang dikirim melalui whatsapp.
Rahman mengakui memang terkadang tak mudah menyatukan keinginan itu dengan niat menuntut ilmu, karena terkadang keduanya bertabrakan. Namun, bukanlah hal yang mustahil menggandengkan keduanya dalam satu hentakan langkah, toh ia juga beranggapan jika nantinya ilmu itu sudah melekat di dinding pikirannya, ia akan coba untuk mengamalkan ilmu yang baik itu bersama istrinya, dan menggali segala ilmu yang berkaitan dengan cara memperteguh keharmonisan rumah tangga ala nabi. Tak jarang Rahman bercerita tentang "Keteguhan seorang lelaki dalam membimbing sang istri" kepada Bunga yang didambanya itu, atau terkadang sang Bunga menanyakan segala yang berkaitan dengan cara mendidik dan hukum-hukum fiqih wanita kepada Rahman. Dengan senang hati Rahman selalu menjawab semua pertanyaan itu. Tak jarang juga Rahman memberikan isi dari pengajiannya di masjid jami' Kota Tarim, Hadhramaut.
Bila ia ditanya tentang keadaan bumi Hadharamaut, Rahman dengan segera menyifatinya dan memberikan gambaran kepada Bunga. Bahkan ia sering berdoa agar kiranya nanti ia akan dapat berkunjung ke Yaman untuk menziarahi para ulama bersama Bunga dambaannya itu. Khayalan dan harapannya seakan telah mendekati kelopak matanya. Rahman sangat yakin bahwa harapannya akan berbuah senyuman. Mengingat wanita bukanlah sesuatu yang kurang baik menurut Rahman. Terbukti, selama ini tak ada masalah di akademiknya. Padahal di samping kanan dan kirinya sering tidak lulus di ujian, sedangkan mereka adalah orang yang sangat rajin dan belum terikat janji dengan gadis manapun.
Ternyata memang benar semua yang disangka Rahman. Seringkali kabar dari kampung membuatnya cemas, ke sana dan kemari memikirkan apa yang dirasakan bunga di negeri yang jauh. Terlebih saat itu orang tuanya yang telah lelah memikirkan putrinya, disebabkan tak jarang lelaki datang ke rumah dengan maksud untuk menyunting sekuntum bunga yang ada di rumah itu. Terlebih lagi goncangan itu menjadi sangat besar tatkala lelaki yang datang katanya telah duduk di kursi atasan dan menyandang suatu tali kehormatan.
"Bang, Abang serius kan dengan Adik?" tanya dari si Bunga dengan seriusnya, karena seringnya pemuda datang ke rumah dengan maksud meminangnya.
"Apakah Adik ragu?" jawab Rahman meyakinkan.
"Bang, Abang cepat-cepat ya selesaikan studinya, Adik tidak mau lagi banyak pria datang kemari, yang Adik harapkan pria yang datang itu hanyalah Abang," pujaan hati mengutarakan harapannya.
Lama tak ada kabar. Rasa rindu, rasa ragu dan rasa keliru bercampur di hati Rahman. Namun, semua rasa itu ia tutupi dengan menengadahkan tangannya ke langit, juga dengan menuturkan lisannya dalam doa, semoga tak terjadi apa-apa pada insan yang ia sukai itu, dan semoga semua usahanya berjalan lancar. Namun terkadang di musim panas itu kegelisahan semakin menambah kadarnya, sehingga tak jarang Rahman merasa acuh tak acuh pada dosen. Mata pelajaran yang disampaikan juga terkadang tak terasa masuk di memorinya. Malah, terkadang ia tak paham sedikitpun tentang materi yang diajarkan dosen.
Semua kegelisahan yang Rahman rasakan seakan telah terpatri di hatinya. Akhirnya Rahman pun mengirimkan pesan di whatsapp, "assalamu alaikum Dek, apa kabar?" dengan harapan agaknya sang adik mau membuka dan membalas pesan darinya. Keesokan harinya Rahman mencoba untuk membuka whatsapp miliknya, mungkin pesan yang kemarin ia kirim sudah dibalas. Tapi kenyataan berbeda dengan yang ia harapkan. Si adek belum juga membalas pesan dari abangnya, husnudz-dzon Rahman hidup kala itu. hatinya berkata, "Mungkin dia sedang sibuk, atau banyak tugas dari kampus. Lebih baik aku bersabar, insya Allah kabar baik akan datang," Esoknya balasan belum datang juga. Rahman bersabar hingga seminggu menanti balasan dari pesannya. Akhirnya, Rahman menambah pesannya, "Dek, kenapa pesan Abang gak dibalas?"
"Maaf Bang, sebenarnya Adek sudah lihat pesan Abang, tapi Adek gak bales karena bingung, kalau-kalau nantinya Abang marah sama Adek. Adek sudah menikah Bang. Adek dinikahkan ayah dengan Bang Umar, anak Desa Cempaka. Adek minta maaf Bang. Adek harap Abang bisa sabar dan terima semua kenyataan yang ada, ini juga bukan sengaja Bang, Adek hanya ngikut aja. Adek gak tahu kenapa ayah segitu cepatnya mengambil keputusan. Padahal, sebelumnya beliau selalu berpikir panjang sebelum memberi keputusan. Adek akan terus berdoa agar Abang nantinya mendapatkan wanita yang lebih baik dan lebih cantik dari Adek. Dan Adek berharap walaupun kita tidak jadi pasangan, minimal kita bisa menjadi teman," bentuk pesan yang paling akhir, hadir dari sang wanita pujaannya. Kini Rahman seakan hilang rasa dan hilang kuasa. Dia baru menyadari bahwa sang pendamba bunga bahkan yang merawat bunga dengan kasihnya belum tentu dia sebagai pemiliknya. Rahman juga sadar bahwa selama ini ia hanya sebagai penjaga bunga yang pada hakikatnya adalah milik orang.
Langit di Kota Tarim yang sangat cerah karena hadirnya musim panas kala itu menjadi mendung dalam pandangan Rahman. Bahkan, makanan yang selama ini menjadi favoritnya tak lalu lewat tenggorokannya. Keramahan yang selalu terpancar dari senyumnya kini menjadi hambar. Kamar yang biasa hadir dengan keramaian kini menjadi hening. Bahkan, sering Rahman tidur di luar hanya karena rasa galau masih melilit perasaannya. Padahal, saat itu adalah pertengahan musim panas. Musim di mana semua mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian semester genap. Semua mahasiswa telah menyiapkan bekal materi kuliah yang tersimpan di kepala, kecuali Rahman yang sampai saat itu juga masih berbekal rasa sedih. Dahulu, setiap teman yang jumpa atau bersimpangan saat jalan pasti menyapanya dengan senyuman atau dengan panggilan. Tapi kini semua itu telah tiada, cemberut yang selalu memudarkan perhatian orang itu masih melekat di wajahnya. Semua itu menjadikan Rahman sedikit berbicara dengan orang-orang di sekitarnya.
Tibalah waktu ujian. Semua mahasiswa mengatur waktunya. Melainkan Rahman yang masih hidup biasa-biasa aja. Buku pun terbuka hanya bertahan selama satu jam. Agaknya, pikiran yang masih bercampur sedih itu sangat mengganggu dan sangat berpengaruh terhadap stamina sehingga dengan mudahnya Rahman merebahkan badannya setelah satu jam membuka buku. Padahal, andaikata orang yang ujian pada saat itu ingin lulus, maka waktu dari magrib sampai jam dua belas malam bukanlah waktu yang cukup untuk mempersiapkan semua materi yang akan diujikan. Pengumuman yang menyatakan Rahman tidak lulus ujian seakan sebagai pelengkap perih di hatinya.
Layaknya obat, Rahman menjadikan kepahitan yang ia alami hanyalah sebagai pengajaran, kiranya semua yang ia rasakan menjadi manis di masa mendatang. Saat istinhaj (tidak kuliah, karena mengulang setahun) Rahman banyak membaca kitab-kitab ulama klasik. Ia tak mengotori waktunya dengan perbuatan yang sia-sia seperti bermain game.
Di tahun berikutnya, Rahman mulai mengikuti jalannya kuliah. Agaknya semua kejadian di tahun 2015 itu tak dijadikan racun yang membasmi semua mimpi-mimpinya. Kini, telah terlihat mimpi yang semu dan mimpi yang sebenar-benarnya mimpi. Air mata bukanlah ujung dari derita, melainkan pesan tersirat akan datangnya kabar gembira. kelulusan sudah menjadi target baginya. Mengulang setahun bukanlah suatu aib atau cela baginya. Semua layak dapat pelajaran dari pengalaman hidup. Semua berhak bahagia, dan kesuksesan adalah hak bagi setiap orang.
Mungkin inilah pecut pengajaran bagi Rahman agak tidak sembarangan memilih dan memetik bunga yang ia lihat. Mungkin memang duri dari mawar itu tak sampai melukai kulitnya. Tapi siapa sangka jika hasrat yang sangat besar untuk memiliki melebihi duri yang bahkan bisa menusuk sampai ke dalam hati. Kita boleh saja memegang dan mempunyai prinsip yang berbeda, karena mungkin sebagian dari kita juga memiliki kiblat pandangan yang berbeda. Sebagian orang menganggap tak mengapalah jika urusan akademikku kurang baik, asalkan si pujaan hati akan tetap bertahan bersamaku. Biar nantinya di masa depan akan kupikirkan sendiri untuk tetap bersamanya. Biar permintaan orang tua atas diriku tak bisa kutepati, asalkan aku mendapatkan dia yang kuidamkan. Aku kan anak yang sudah dewasa, tak semua yang diinginkan orang tua harus kuturuti. Kisah yang seperti ini banyak kita dapati dalam cerita film atau novel.
Siapa pria yang tak senang jika dapat membahagiakan orang yang ia sukai, pasti semuanya akan senang. Namun semua itu ada batasannya. Baik lelaki ataupun wanita harus memiliki kekuatan dan prinsip yang lebih kuat daripada hanya sekedar memperkuat hubungan yang tidak ada artinya dan tidak ada hikmahnya. Selayaknya kita mengutamakan apa yang kita prioritaskan, agar hidup yang singkat ini tidak menjadi sia-sia. Yang diprioritaskan adalah apa yang sekarang ini masih kita genggam. Apa yang selama ini masih menjadi alasan mengapa kita masih berada di suatu yayasan. Di suatu tempat bimbingan ilmu.
Memang semuanya merasa bangga bila ada seseorang yang mendambakan kita, atau suka kepada kita, namun kita harus rela jika akhirnya dia bukanlah pasangan hidup kita. Kita hanya bisa berencana. Kita tidak tahu bahwa Allah punya yang lebih baik untuk kita. Allah bahkan tahu yang lebih pantas untuk kita. Ini bukanlah masanya. Memang mempercepat resepsi itu lebih baik, iya benar, tapi itu resepsi yang sudah disetujui. Berbeda dengan resepsi yang masih dalam angan-angan. Kita hanya bisa berharap dan berusaha juga nantinya, untuk hadir ke rumahnya dan menyatakan semua maksud kita.
Semua orang punya cobaan dalam hidupnya, dan cobaan yang terbesar bagi Rahman adalah lawan jenisnya. Sekali ia terjatuh karena menyatukan niat kuliahnya dengan niat kepada wanita. Dan seketika ia terpelanting karenanya. Dua hal itu tak bisa disamakan, jika keduanya telah berlawanan, maka kita harus rela meninggalkan salah satunya. Waktu menuntut kita untuk fokus. Keadaan menarik kita untuk pintar menempatkan sesuatu pada posisinya. Kita harus kuat, kita harus lebih kuat dari masalah, kita harus lebih hebat dari masalah. Jangan cengeng!

Other Stories
Kamera Sekali Pakai

Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Jogja With You

Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Download Titik & Koma