6. Setelah Langit Mendung, Akan Ada Cahaya Terang
Akhir bulan Syawal, di tahun 2012 itu merupakan awal sejarah langkahku menjalani studi yang selama ini kuimpikan. Kuanggap bulan itu sebagai bulan yang manis. Manis karena di bulan itu aku akan memulai catatan sejarah pengalamanku. Semua tetangga dan saudara sering bertanya tatkala datang ke rumah, "Kapan Iqbal berangkat?" Pertanyaan itu sering kudengar baik di masjid, di kedai maupun saat berjumpa teman-teman. Agaknya mereka penasaran.
Saat itu aku dan ayah sedang berada di sawah. tak terpikir olehku apapun tentang keberangkatan, hingga semua kerjaan di sawah kuselesaikan saat itu. Tiba saat istirahat, aku dan ayah terduduk di galngan. Suasana pagi itu sangat tenang. Segerombolan burung putih datang menitili sisa padi dari panen bulan kemarin. Satu per satu datang berkecak manja di atas tanah berlumpur. Mengaktori pandangan kami layaknya tontonan tunggal yang dapat memberi hikmah. Menepis keheningan panjang antara aku dan ayah sejak awal duduk tadi. Kucoba melirik ke wajah ayah. Sedang diam. Pandangannya jauh. Kukira saat itu bukan hanya mata kepala yang sedang digunakan ayah untuk melihat, melainkan mata hati juga turut aktif menembus tirai batin. Kata lisannya bisu, namun tidak dengan kata hatinya. Aku coba memahami, karena selama ini, tak satupun burung putih datang ke sawah kecuali ayah berusaha mengusirnya. Namun kali ini ada yang beda.
Setelah beberapa menit kebisuan menjelma, aku mencoba untuk memecah keheningan saat itu, "Ayah, ayo dimakan ini bakwannya," sapaku sambil memegang gorengan.
Kiranya tak hanya keheningan yang meliputi pikiran kami. Setidaknya ada sepatah dua patah kalimat antara kami. "Iya… Bal," kata ayah sambil memilih gorengan yang ada di plastik.
"Nanti kalau udah sampai di sana… baik-baik ya, rajin-rajin, dan jangan lupa jaga kesehatanmu, Ayah tidak mau kejadian seperti saat kamu di pesantren dulu, Ibumu dengar kabar sehat. Eh tiba-tiba esoknya kamu datang dengan kabar sakit. Ingat, kali ini tidak seperti di pesantren. Ini lebih jauh. Bahkan sampai melewati beberapa negara. Jadi kalau kamu sakit, gak bisa secepatnya boleh pulang. Karena Yaman itu jauh. Biaya juga mahal. Bergaullah dengan orang di sana seperti angin pada sifat dinginnya, sehingga apapun kebaikan yang mereka perbuat, begitu juga kamu adanya. Dan jika terjadi apapun dari mereka yang kurang cocok dan tidak sesuai denganmu, setidaknya kamu tak memutus tali silaturrahim dengan mereka. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena apa yang kamu rasakan di sana, walau sedetik takkan terulang. Dan banyaklah berbuat baik. Jika kamu mendapatkan kesedihan dan kesulitan, bertahanlah. Jangan terlalu cepat menyerah. Karena setiap langit mendung, akan datang setelahnya langit yang cerah. Nanti ada saatnya kamu akan merindukan masa-masa kuliah di sana," tegas ayahku saat itu.
Ternyata benar, diamnya bukan berarti bisu. Diamnya karena merenung. Semua nasihat beliau kurekam di kepala. Tiba-tiba burung putih yang dari tadi makan di hadapan kami terbang pergi meninggalkan jatah makannya. Seketika itu juga ayahku tersenyum.
Selalu terbayang di mata kepalaku tentang bumi Hadhramaut. Sayangnya, bayangan itu adalah angan-anganku saja. Karena yang kubayangkan adalah negeri yang belum pernah kulihat, dan kusifati dengan sifat yang sesuai dengan keinginanku. Apalagi pada saat itu tertera di brosur akan bangunan-bangunan yang megah dan besar, hingga siapapun yang melihatnya, dengan sekejap akan mengira bahwa bagaimanapun bentuk bangunan itu, pasti isinya bagus dan mewah. Tinggal di sana pasti menyenangkan, pasti tempatnya nyaman. Hingga khayalan itu kupendam di hatiku.
Waktu terus berlalu, berjalan menuju jawaban dari semua keinginanku, sesampainya di sana, semua terasa beda dengan apa yang diangankan. Kota Mukalla tak seperti apa yang dibayangkan. Di gedung-gedung yang terlihat mewah itu, ternyata isinya tak seperti yang digambarkan luarnya. Tempat yang banyak lalat, berdebu, dan terkadang tercium bau. Jarak antara asrama dengan dapur sangat jauh, sehingga banyak temanku yang berkata, "Sampai di dapur perut kenyang, setelah pulang dari dapur kenyangnya hilang,".
Ditambah lagi jumpa dengan orang-orang yang berbadan panjang. Dari belakang antri, namun mereka tak perlu sampai depan sudah bisa mendapatkan roti, apalagi kalau sudah main sikut kanan dan kiri, karena cukup tangan mereka ulur ke depan akan sampailah ke pintu antrian. Berbeda dengan orang Indonesia yang berbadan kecil. Semua itu menambah kegelisahanku. Badan terkejut saat awal sampai di sana, karena awalnya tidak pernah merasakan hal sehebat itu. Dalam hati mengira mungkin hanya diri sendiri yang merasakan kegelisahan ini. Ternyata, banyak dari teman-teman yang belajar di sana saat itu merasakan hal yang sama. Bahkan temanku bercerita bahwa pernah ada mahasiswa yang ingin pulang beralasan sakit dan berjanji jika sembuh akan balik lagi ke Yaman. Padahal semua teman sekamar tahu bahwa tak sedikitpun ia merasa sakit badan, melainkan sakit hati. Hehe..
Sedikit demi sedikit nasihat datang dari dosen, nasihat yang luar biasa, terkadang membuatku dapat menutupi semua kegalauan yang ada. Bersabarlah, kalian masih dalam perjalanan menuntut ilmu, insya Allah semuanya akan berbuah senyuman. Di Mukalla ini kalian tidak lama, hanya semester satu dan dua. Selanjutnya di semester tiga dan empat, semua mahasiswa akan pindah ke Tarim. Karena sebenarnya di sanalah letak fakultas syari'ah.
Semuanya dapat kupertahankan. Setiap pagi pergi sarapan ke dapur yang jaraknya tidak dekat dari asrama. Saat itu masih banyak temanku yang belum bisa mengobati rasa gelisahnya. Lidah mereka belum cocok dengan hidangan di dapur kampus. Banyak dari mereka yang jika ingin makan pergi ke rumah makan, bukan pergi ke dapur. Untuk mengobati sebagian rasa gelisah, terkadang mahasiswa pergi ke Kota Syirij. Kota yang berjarak dua belas kilometer dari asrama. Kota yang indah, kota yang sangat cocok dijadikan tempat bersandar tatkala hati merasa jenuh dan capek setelah kuliah. Tempat di mana semua orang Yaman pergi berbelanja dan bermain-main dengan anaknya.
Hari berganti hari hingga menjadi minggu dan bulan. Semua terlewatkan, dan hatiku kelihatannya sudah bisa menyatu dengan suasana di Mukalla. Jeritan burung gagak yang sangat serak dan berisik itu sudah terbiasa terdengar di telinga. Orang Arab pedalaman yang berwatak keras sudah dapat kukenal. Belajar pun jadi nyaman. Kala itu kujadikan teman-teman sekitar menjadi obat penawar kegelisahanku. Jika mereka bisa tetap tinggal di sini, kenapa aku tidak. Semua ini kan sudah keinginanku, semua ini adalah pilihanku.
Selesai dari semester dua, semua mahasiswa pindah ke Kota Tarim. Kota yang bersih. Kotanya para kekasih Allah. Kota mata air cinta, cinta akan kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Tak terdengar suara burung gagak di sana, melainkan suara lantunan shalawat dari setiap masjid dan radio. Sifat yang terlintas dari lisan orang akan Kota Tarim seperti "Jika beramal. beramallah seperti orang Tarim. Bukan surga yang dikejar, melainkan penduduk surga itu sendiri (Nabi Muhammad SAW).” Atau dengan kata lain "Jalan di Kota Tarim adalah guru yang tak ada guru selainnya".
Tarim merupakan kota bukti. Dari nasihat ayahku, bahwa setiap langit mendung, akan datang langit cerah setelahnya. Kata mereka Tarim adalah kota pembantaian bagi semua mahasiswa, karena banyaknya mahasiswa yang gagal ujian bahkan sampai di-DO dari fakultas syari'ah yang terletak di Kota Tarim ini, karena ketatnya peraturan dan banyaknya mata kuliah yang harus dikuasai. Bagiku, semua itu benar adanya. Namun itu bukan menjadi masalah, karena yang menjadi masalah adalah tanggung jawab masing masing.
Di Tarim ini aku banyak belajar tentang adab. Dari para kekasih Allah yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW, ajaran itulah yang membuatku betah dan bertahan di sana hingga sampai akhirnya aku menyelesaikan kuliah. Bahkan tumbuh cita-cita dalam diriku, jika nantinya Allah memudahkan rezeki untukku, akan kubawa keluargaku berziarah ke negeri para wali ini.
Semua orang pasti pernah merasa kepahitan, kekecewaan dan kegelisahan. Bener gak? Iya itu benar adanya. Hanya saja si bijaksana menganggapnya sebagai hadiah dari Allah yang berisi keteguhan hati. Bukan hadiah instan yang dapat langsung dirasakan. Juga bukan seperti hadiah pemberian si doi yang baru aja gajian. Melainkan hadiah yang tak pernah lekang dimakan waktu. Tak terlihat oleh mata kepala. Hanya mata batin yang dapat menyaksikannya. Karena hadiah ini tidak hanya digenggam oleh tangan. Melainkan langsung menyatu menjadi darah daging dalam tubuh kita. Manfaatnya juga tak sementara, melainkan selamanya. Hadiah yang hanya bisa dirasakan bagi orang yang banyak merenungkan ciptaan Tuhannya. Hadiah yang berawal dengan tangisan dan cobaan, namun berujung dengan senyuman. Kalau sudah begini, coba pikir deh, adakah yang lebih baik dari hadiah Allah?
Ingatlah tujuan awal. Hanya dengan cara ini kita mampu bertahan. Jangan batalkan niat hanya karena unsur penyempurnaan yang kita anggap tidak pantas dengan selera. Banyak orang mengatur langkah dengan menentukan jalan yang ia sukai. Ia sangka jalannya mulus sesuai dengan keinginan. Padahal, semakin tinggi mimpi, semakin sulitlah jalan dan risikonya.
Bagi si penakut, kado itu ia anggap suatu yang tidak berguna, atau dalam kata lain sebagai nasib yang buruk. Karena yang baik dan yang buruk adalah semua yang sesuai dengan kehendak hatinya. Baik dan buruk bertolak ukur pada defenisi yang ada di pikirannya, sehingga jika kehendak Allah berbeda dengan kehendaknya maka yang benar adalah kehendaknya, bukan kehendak Allah. Hayo, jika kita sama seperti tipe yang satu ini, cepat-cepat sadar ya! Mumpung masih muda lho. Jalan hidup kita masih panjang tuh. Hidup cuma sekali. Kalau isinya hanya kemauan kita, maka akan sia-sia.
Kenapa harus menganggap bahwa apa yang dikehendaki Allah harus diutamakan dan dianggap lebih penting? Sementara kita juga merupakan ciptaan-Nya, kita juga merupakan salah satu dari takdir dan rencana-Nya, apalagi kita tahu bahwa tidak ada ciptaan Allah yang tidak baik atau tidak ada hikmah dari penciptaan itu, lalu bagaimana tuh?
Iya. Memang kita adalah salah satu dari rencana terbaik Allah. Semua yang kita kehendaki berlandaskan aplikasi akal yang dititipkan Allah ke kita. Tapi, ada tapinya nih. Di dalam jiwa manusia terdapat unsur yang dapat membuat keruh segala yang dipikirkannya. Unsur itu bernama nafsu. Akal kita jernih. Akan tetapi, tak jarang manusia berpikir diikuti dengan nafsunya secara umum. Hingga semua yang enak dan mewah. itulah yang terbaik menurutnya. Segala yang berbau kesulitan itulah yang buruk menurutnya. Padahal, yang buruk itu akan berbuah kebaikan yang kekal. Dan sebaliknya, yang mereka anggap bagus kerap kali berakhir dengan kekecewaan dan penyesalan.
Other Stories
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Lust
Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...