Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

8. Kebanyakan Yang Selamat Adalah Mereka Yang Takut

Kebanyakan orang yang hebat adalah orang yang sama timbangan antara rasa takut dan harapannya, bukan orang yang pemberani, hingga saking beraninya semua dianggap enteng, semuanya ringan. Orang yang sedikit memiliki rasa takut akan lebih rapi mempersiapkan bekalnya sebelum ke medan perang. Orang yang tidak memliki rasa takut banyak yang terpeleset.
Bukan menjadi hal yang tabu di universitas Al Ahgaff bahwa ujian merupakan hal yang sangat berat bagi mahasiswa di universitas ini. Bahkan semua masyarakat setempat tahu tentang hal itu. Mereka berkata bahwa lulus ujian di universitas ini merupakan surga bagi yang mendapatkannya.
Keadaan tentu saja berbeda, dilahirkan dari pondok pesantren tingkat bawah, Zulfan, Arif, dan Egy memiliki kesadaran bahwa tinggal di bumi Hadhramaut adalah saat menyingsingkan lengan dengan setinggi-tingginya. Berbeda dengan Harto, Susan dan Tulus, kuliah di sini seakan pindah tempat saja. Kita hanya butuh pengayaan sedikit dan lebih mengembangkan apa yang telah kita gali dari pondok pesantren dulu. Begitulah layaknya tutur di antara hati mereka satu sama yang lain saling percaya dengan kemampuannya masing-masing.
Kuliah gak usah terlalu dipikirin. Hanya perlu dipahami. Kebanyakan kitab yang dipelajari di sini adalah kitab yang sudah sering menjadi persandingan sarapan kita di kala pagi, menjadi santapan kita di kala siang, dan menjadi gendongan kita di kala malam. Jalani saja. Yang penting kita sudah usaha. Usaha saja seberapa bisanya, selebihnya pasrahkan saja pada Allah. Belajar terlalu dipaksa juga akan berakibat buruk, seperti sakit karena kesehatan kurang terjaga. Toh juga dulu kitabnya sudah pernah dipelajari kok, kita hanya tinggal mengulang saja.
Tak terlewatkan hari tanpa bergelut dan bersendawa dengan kitab-kitab bagi Zulfan, Arif dan Egy, begitu juga dengan mahasiswa rajin lainnya. Mereka sangat menyadari kemampuan yang ada pada diri mereka, sehingga layaklah kiranya kemampuan itu menjadi alat ukur untuk mempersiapkan diri saat ujian di setiap semester. Belajar sendiri adalah cara yang menyulitkan bagi mereka. Maka di malam hari, halaman atas asrama tak pernah sepi. Ia selalu ramai diisi dengan teman-teman Zulfan, semua itu atas ajakan Arif dan Egy. Mereka tak pernah menyia-nyiakan setiap ustaz pembimbing yang lewat walau hanya karena memeriksa keamanan asrama, mereka langsung memanggil dan menanyakan pelajaran yang terasa sulit untuk dipahami.
Sering sekali kasur sepi dari penghuninya, karena Arif sering menghabiskan malam bertemankan buku-buku pelajaran hingga tidur di teras atas asrama. Satu per satu ibarot di dalam buku itu ia ganyang. Kata per kata, kalimat per kalimat hingga seakan kalimat yang ada di buku itu sudah di scan di kepalanya, hingga nantinya kapan ia ingin mengulangi materi pelajarannya dengan mudah ia mengingat dan menghadirkannya.
Bila sudah mentok, belum paham juga, Egy tidak malu-malu untuk bertanya ke Susan yang sedang nonton film. karena menurutnya, Susan dan teman-temannya dari pondok besar dan ternama di Pulau Jawa. Tak diragukan lagi setiap santri lulusan pesantren itu. Jika Susan tak ada di kamar, Egy akan pergi ke kamar yang lainnya dan bertanya ke mereka. Takkan berhenti langkahnya kecuali apa yang diinginkan ia dapati.
Sering kali dosen sampai tersenyum karena disuguhi pertanyaan yang bertubi-tubi dari Arif. Jika waktu sudah tidak mengizinkan lagi untuk bertanya, Arif akan bertanya di luar kelas, baik di saat dosen sedang berjalan ataupun di ruang dosen. Tak ada satupun dosen yang jenuh dengan kelakuannya ini. Malah jempol sering diangkat menghadap ke arahnya, sebagai tanda atas kesungguhannya. Tak ada yang dibahasnya di dapur kecuali tentang materi pelajaran, baik saat sarapan ataupun saat makan siang dan juga malam.
Dua tahun lamanya, sejak Arif masih duduk di bangku SMA, ia sering kali membayangkan bumi Hadhramaut. Kerap kali ia meminta agar didoakan kakak kelasnya yang dapat beasiswa ke Hadhramaut. "Alangkah bahagianya orang yang bisa belajar di sana dengan beasiswa," sentak kalimat dalam hati arif. Mengenyam pendidikan di pondok pesantren sudah menjadi hal yang biasa baginya. Selama ini, belajar di pondok pesantren ia anggap sebagai jembatan studi menuju Hadhramaut. Kebetulan, metode mendidik orang tua arif yang selalu menjadi contoh di depan dan pendukung di belakang mempersilakan arif untuk memilah dan memilih ke mana ia akan melanjutkan studinya.
Berbeda dengan Arif, Zulfan berangkat ke Hadhramaut atas arahan dari Kiyai Ahmad yang mengasuhnya di pondok pesantren selama enam tahun. "Le, nanti kalau kamu udah tamat dari sini, lanjut kuliah ke Yaman aja ya Le. Di sana itu tempatnya bagus, sangat mendukung untuk dijadikan tempat belajar. Di sana kamu akan jumpa banyak ulama dan ahlu bait (cucu-cucu nabi). Dari mereka, kamu bisa mengonsumsi hidangan rohani. Hingga nantinya kamu tidak hanya belajar di kuliah, melainkan juga belajar ruhaniyah, saya mendukung kamu. Kalau kamu mau ke sana, bilang dulu ke saya ya, saya sangat berharap kamu datang dulu ke rumah sebelum berangkat ke sana," arahan yang diberikan Kiyai Ahmad kepada Zulfan tiap kali Zulfan bertamu ke rumah Kiyai Ahmad, dia selalu mengingat kata-kata kiyainya itu, hingga akhirnya Zulfan mencari banyak informasi tentang pendaftaran dan seleksi beasiswa ke Hadhramaut, Yaman.
Dilatarbelakangi orang tuanya yang menjadi guru dan pengasuh pondok pesantren, Egy didorong untuk melanjutkan studi di bumi panas berbentuk lembah ini. Awalnya ia menolak, namun setelah membandingkan stud di Hadhramaut dengan yang lainnya, keinginan Egy mengarah untuk belajar di Hadhramaut. Bahkan, setelah keputusannya itu, pernah dua orang ustaznya datang ke rumah untuk menawarkan beasiswa ke Timur Tengah. Saat itu, tidak ada jawaban dari Egy kecuali hanya mengatakan, "Maaf Ustaz, saya sudah bertekad ingin belajar ke Hadhramaut".
Mimpi menjemput takdirnya. Mimpi yang selalu menjadi jembatan orang sukses selalu menjalin talinya dari tiang harapan menuju tiang kenyataan. Pelan namun pasti, ia membuktikan langkahnya yang tak mustahil bagi hati, cerminan dari harapan yang bersanding dengan kesungguhan. Satu per satu tanda ia tunjukkan kepada Arif, Egy dan Zulfan. Mereka hanya tinggal menerima alamat itu sedikit demi sedikit. Mimpi kuliah di Yaman membuat mereka harus menunjukkan tanggung jawab dan konsekuen. Bagaimana tidak, mimpi yang selama ini mereka genggam harus mereka lanjutkan sampai nantinya mereka harus diwisuda di universitas Al Ahgaff.
Ibarat pesan berupa perintah yang terkirim melalui whatsapp, agaknya seperti itulah status mereka saat ini. Menjadi mahasiswa yang dituntut harus bersungguh-sungguh. Tidak menyia-nyiakan waktu. Tiap malamnya, masjid Ba’ Alawy yang terletak di tengah KotaTarim selalu terbuka sampai jam sepuluh malam, Karena banyak orang ber-i'tikaf setelah salat isya di sana. Momen ini dimanfaatkan Egy untuk mengulangi dan menghafal pelajaran di sana. Banyak yang bilang bahwa masjid yang dibangun Sayyid "Ali Kholi' Qosam" ini sangat nyaman digunakan untuk tempat belajar, karena di dalamnya tak satupun ada yang boleh berbicara, hanya boleh beramal. Bila waktu menunjukkan hampir jam sepuluh, Egy pun pulang ke asrama.
Tidak meninggalkan pelajaran sepenuhnya. Memang Tulus dan Susan juga belajar, namun tak segiat Zulfan dan dua temannya. Susan hanya aktif belajar di ruang kuliah sambil menunggu dosen datang. Begitupun Harto, semua materi layaknya file yang dapat disimpan di flashdisk menurutnya, jika datang waktu di mana ia membutuhkannya ia pun segera membukanya. Sebagian pelajaran hanya tinggal mengulang, seperti ilmu nahwu, tidak susah payah lagi, karena sejak kelas satu tsanawiyah, ilmu nahwu sudah menjadi santapan bahasa baginya. Kini hanya tinggal mengingat kaidahnya saja.
Tampaknya, jika hanya anggapan saja tak mampu untuk menyadarkan ketiga pemuda itu, butuh pembuktian. Saat ujian datang, Harto beserta temannya bersiap kuat, menyediakan segala keperluan ujian. Saat masa-masa ujian, Tulus adalah orang yang sensitif. Yang biasanya dia banyak bicara dan tertawa ke sana kemari, kini keadaan telah berbeda, bahkan terkadang di persimpangan jalan ia tak mau menegur temannya, jika ditegur ia tak mau menjawab. Bilapun ia menjawab, maka jawaban yang simple keluar dari bibirnya. Agaknya, ia takut semua materi yang telah dihafal bisa hilang jika fokusnya berbalik ke sana dan kemari.
Tak jarang juga Harto dan Susan marah jika tiba-tiba datang tamu ke kamarnya sambil ketawa karena mendengar candaan dari teman. Bisa dibilang mungkin sensitif mereka sampai ke stage one kali ini. Tak boleh ada yang ribut di kamar itu saat ujian. Bahkan, bila kedua mahasiswa ini sudah merasa tak didengar lagi cakapnya, mereka menempelkan tulisan "Jangan ribut, lagi ujian nih" di depan dan di dalam kamar. Padahal, saat sebelum ujian, mereka berdua terkenal orang yang suka bercanda dan membuat canda tawa, baik di kamar sendiri maupun di kamar temannya. Kali ini keadaan berubah delapan puluh derajat.
Pengajaran yang mereka tunggu-tunggu telah datang. Setelah ujian semester, pengumuman pun datang. Di sinilah terlihat di mana susah payah menjadi senyuman, dan senyuman akan menjadi susah payah. Ya, menjadi susah payah. Kenapa? Karena bagi mereka yang tidak lulus ujian di daur pertama, harus mengulang di ujian daur kedua. Nah, ujian daur kedua seakan menjadi ujian langganan bagi Harto, Tulus dan Susan. Di masa-masa ini terbuktilah senyum akan berbuah susah payah. Karena senyum diletakkan bukan di tempat yang pantas.
Di tiap semester, tak jarang ujian daur kedua menjadi teka teki bagi ketiga mahasiswa ini "Daur kedua lagi gak ya? Daur kedua lagi gak ya?". Sayangnya, jawaban dari teka teki itu hanyalah "Iya". Hingga akhirnya, datanglah saat yang tidak bisa mereka elakkan lagi. Mereka harus mengulang satu tahun karena tidak lulus ujian di mata kuliah ushul fiqih. Tahun berikutnya tidak berbeda dengan sebelumnya. Susan dan kedua temannya tetap menganggap enteng satu mata kuliah yang bernama ushul fiqih itu. Hingga akhirnya, kelalaian memberi mereka tiket gratis. Tiket yang membawa mereka pulang ke negara masing-masing. Bukan berstatus sarjana, melainkan status DO.
Berbeda dengan Zulfan, Arif dan Egy yang susah payahnya kini menjadi senyuman. Hingga di hari libur smester, mereka bisa liburan dan jalan-jalan. Bahkan mereka tidak hanya jalan-jalan, terkadang mereka menziarahi para ulama yang ada di Kota Tarim.
Kehebatan bukanlah hasil, maka jangan lihat kehebatan dari hasil, tapi pandanglah kehebatan dari bagaimana seseorang mencapai suatu hasil itu. Banyak juga orang mendapat impian yang luar biasa tapi dengan jalan biasa-biasa aja. Dan di sana. Coba deh lihat, banyak orang yang impiannya tidak terlalu besar, namun cara ia mendapatkannya luar biasa, bahkan sampai membuat kita takjub.
Begitu juga kehebatan tidak ditentukan dari mana kita sekolah atau dari mana kita lulus, melainkan ditentukan dengan apa yang kita hasilkan dari sekolah itu.
Tak sedikit orang yang terlihat lemah bisa meraih impiannya, dan tak sedikit juga orang yang memiliki basic luar biasa bisa gagal dan menangis di ujung kompetisi. Jangan lupa yaa, bahwa semakin tinggi kaki berpijak, maka akan semakin kecil tempat tumpuan.
Bukan suatu ukuran siapa gurumu dan siapa guruku, yang menjadi ukuran adalah kesungguhanmu. Emangnya guru yang nentuin atau ngebuktiin kemampuan kita? Enggak kan? Hendaknya bukan seperti itu cara berpikir kita. Tapi pikirkanlah apakah dengan kesungguhanmu seperti saat ini bisa menghantarmu ke gerbang impianmu?
Rasa takut yang diiringi dengan harapan tidak akan menghentikan langkah kita disebabkan takut itu. Justru takut akan menambah kehati-hatian kita dalam melangkah. Orang yang tahu bahwa ia berjalan di tanah yang banyak beling akan selamat dibanding orang yang tidak tahu bahwa dia berjalan di tanah berbeling. Karena orang yang tahu lebih berhati-hati dibandingkan dengan orang yang tidak tahu. Ya, itu pasti. Orang yang tahu, pasti akan berhati-hati. Tidak dengan orang yang sok tahu, walaupun kemampuannya hebat dan besar, tetap saja kehati-hatiannya kurang.

Other Stories
Chromatic Goodbye

"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...

Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Melupakan

Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Download Titik & Koma