9. Terkadang, Beda Warna Menuntut Beda Rasa
Terkadang, beda warna bisa menjadi dalil akan bedanya rasa. Ya, itu bisa kita rasakan saat kita banyak berjalan di muka bumi ini. Percaya atau gak percaya pokoknya harus percaya deh. Hehe.. Kita akan bertemu dengan orang dari berbagai penjuru dunia, dengan tujuan yang sama, patuh dengan aturan yang sama, namun kita memiliki rasa yang berbeda dan tanggapan yang berbeda.
Di semester akhir, yaitu langkah yang paling akhir dari perjuanganku di Univesitas Al-Ahgaff, tumbuhlah rasa ingin membuat semangat baru di semester baru. dengan harapan agar rasa yang tumbuh itu akan subur, mengakar dan menjadi kuat, hingga nanti ranting dan daunnya menjadi pertanda akan keberhasilanku, menyelesaikan studi di universitas yang sekarang telah banyak dilirik orang ini. Semester akhir itu berawal di musim dingin, di tanah Hadhramaut, disambut dengan dinginnya cuaca yang mungkin bisa menjadi alat penetralisir akan panasnya hasratku untuk menuntaskan semua kewajiban di semester akhir ini.
Satu mata kuliah yang sangat penting adalah menyetor hafalan Al Quran. hafalan Al Quran ini menjadi syarat terbesar atas semua mahasiswa untuk menuntaskannya. Jika tidak, maka seorang mahasiswa tidak bisa dinyatakan lulus dan tidak boleh pulang ke negeri masing-masing. Sejak datang kabar pengumuman itu, akupun mempersiapkan semuanya, dengan mengulangi hafalan Al Quran baris per baris, halaman per halaman, hingga ke lembar berikutya.
Usai salat asar, besar niatku untuk melangkah ke Madrasah Alaydrus, tempat di mana mahasiswa akan menyetorkan hafalannya. Tak seperti semua orang, aku ingin menyetorkan hafalan sebanyak tiga puluh juz. Agaknya baiklah jika surat izin itu kuambil lebih awal, agar nantinya tidak dianggap gagal jika di akhir smester hafalanku tidak selesai. Namun semua itu berbeda dengan harapan yang kubayangkan. setelah jauh kaki melangkah dari asrama menuju madrasah itu, aku hanya mendapatkan jawaban ''Besok aja ya ambil kertas tasmi'-nya" dalam hati berkata ''Yah gak jadi deh''. Aku pun pulang. Besoknya kucoba lagi datang ke madrasah bersama temanku, kali ini kami mendapat jawaban yang sama, dan kami pun pulang. Seminggu telah lalu, tak putus harapan, aku pun mencoba unutk datang kembali, kali ini mendapat jawaban yang sama dengan minggu yang lalu.
Ustaz : “Besok ya Nak.”
Jawabku : “Iya ustaz, jam berapa ustaz?”
Ustaz : “Datanglah setelah asar.”
Setelah kabar itu, berulang kali aku dan teman mendatangi, hingga lima kali kami mendatangi Madrasah Alydrus, namun jawaban tetap sama. Sehingga di hari ke lima itu, Anwar yang selalu menemaniku tak bisa mengeluarkan sedikit suara. Dengan mata merah dia langsung keluar dari madrasah tempat menghafal Al Quran itu. Di hari ke enam kami mendapatkan jawaban "Besok setelah magrib". Setelah mendengar jawaban itu, Anwar tidak bisa lagi menahan emosinya. Hingga akhirnya, kami tidak mendapatkan apa yang sudah direncanakan. Di semester sepuluh, aku dan Anwar harus menghafal dengan cepat agar tidak kehabisan waktu yang telah ditetapkan pihak madrasah. Semua menghabiskan waktu dan energi. Hingga tak jarang kami tidak tidur hingga larut malam, hanya karena butuh tambahan waktu untuk menyelesaikan kewajiban itu.
Tidak semua yang kita rasa atau kita pikirkan sama dengan keadaan yang sebenarnya, lihatlah bagaimana Allah memberikan pelajaran berupa pengalaman kepada hamba-Nya. Allah memberikan kita kesempatan untuk mengenal orang banyak, semua itu mengandung hikmah yang bisa kita dapatkan dengan banyak berpikir. Dikenalkannya kita dengan orang dari berbagai suku, untnk melatih diri kita. Melatih untuk apa? Melatih untuk mengendalikan diri kita ketika bergaul dan berurusan dengan orang yang beda cara pandang.
Mungkin, selama ini kita menganggap airlah yang dapat memadamkan api, lalu bagaimana jika keadaan menuntut kita untuk memadamkan api dengan kayu? Otomatis caranya berbeda. Atau kita beranggapan bahwa embun tak bermanfaat di kala pagi tertutup kabut. Tidak demikian adanya, kita hanya bisa memikirkan semua yang selama ini dirasakan oleh indra kita, atau dapat dikhayalkan oleh pikiran kita. Padahal, di luar itu masih banyak yang harus dirasakan oleh manusia, tentunya untuk membangun diri dan pribadi yang lebih baik. Lalu, apakah bisa memadamkam api dengan kayu? Yang bilang gak bisa siapa? Hehe… dan apa guna dari embun yang terbalut oleh kabut? Embun takkan berubah dari hakikatnya, hanya kita yang menganggapnya berubah karena indra kita telah tertutup dan terbalut oleh kabut, hingga hilanglah rasa natural dari indra penglihatan dan penciuman kita.
Saat kita dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda, itulah pertanda bahwa pelajaran yang kita alami bukanlah pelajaran hidup yang biasa-biasa saja, melainkan hal yang luar biasa. Juga pertanda akan naiknya derajat dan tingkatan berpikir kita dalam menghadapi masalah. Tentunya jika masalah yang kita hadapi gitu-gitu aja, maka hasilnya ya gitu-gitu aja, alias tidak ada kemajuan. Tapi, bila masalah yang akan kita hadapi semakin besar dan semakin berat, walau bagaimanapun hasilnya, minimal kemampuan kita telah dilatih dengan pengalaman hidup yang lebih hebat lagi. Jadi, jangan takut sama masalah. Dan jangan lupa bahwa kita hanya tinggal merenungkan dan meresapi, lalu ambil pelajaran dari segala peristiwa yang sudah dialami.
Begitulah adanya dengan kehidupan ini, semesta menuntut kita untuk menggali semua yang ada di muka bumi ini dari segi pengalaman dan cara berpikir kita. Kita berpikir bahwa semua sama cara berpikirnya, padahal tidak. Beda warna akan menuntut beda rasa.
Renungkan ayat Allah ini yang artinya:
Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.
Perbedaan suku dan bangsa merupakan cara Allah agar kita saling mengenal. Maka dari itu kenalilah manusia, ambil hikmah darinya, kaji diri kita dan simpan kebaikan darinya. Kalaupun ada perbedaan yang mungkin dapat berpengaruh dengan impian kita, cukuplah digarisbawahi. Namun, jangan digarisbawahi dengan tinta merah, cukuplah garis bawahi dengan tinta biru. Karena garis yang kita buat bukan untuk memvonis atau membalas akibat dari perbedaan kita, melainkan hanya untuk memberi gambaran. Kiranya nanti kalau kita berurusan lagi dengan si dia, kita dapat memijak pedal rem dikendali perjalanan cita-cita kita.
Terkadang, kehidupan ini seperti permainan ular tangga. Dengan sekejap dan mudahnya bisa cepat naik ke atas. Namun terkadang, jika sudah sampai di atas, dengan mudahnya kita turun lagi ke bawah, hanya karena menduduki tempat ular. Begitulah dengan kehidupan ini. Suatu waktu dengan cepatnya kita bisa naik dengan uluran tangan mereka yang dekat dengan kita. Dalam keadaan yang berbeda dapat membuat kita cepat tergelincir turun ke bawah hingga tak seorangpun memandang kita. Semua itu merupakan pelajaran untuk kita.
Siapapun yang datang dalam kehidupan kita, pastilah dia telah membawa pesan tersirat dari Sang Pencipta, baik mereka yang datang laksana tangga hingga dapat menaikkan derajat kita, atau seperti ular yang licin hingga kita tak menemui simpulan untuk bertahan agar tidak jatuh ke bawah. Baik pesan yang terasa manis hingga mudah bagi kita untuk menerimanya, atau terasa pahit hingga sukar bagi kita untuk menerimanya. Karena, kerap kali kepahitan memberi manfaat yang luar biasa dan tahan lama.
Other Stories
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Sudut Pandang
Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...
Ngidam
Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...