Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

11. Aku Ingin Menjaganya

"Aku ingin hafal Al Quran, kang," kata Sulaiman kepada kakak kelasnya. Cita-cita yang selama ini ia dambakan, ingin rasanya ia realisasikan. "Iya bagus itu Man, kamu bisa daftar ke Masjid Assegaf, usahakan sebelum salat asar kamu sudah berada di sana. Jadi, setelah selesai salat kamu bisa langsung menyetor hafalan," jawab Bang Syukri, teman sekamar juga kakak kelasnya sejak di pesantren.
Sejak pertanyaan itu, Sulaiman berpikir, sulit baginya untuk berjalan kaki ke Masjid Assegaf yang terletak di "Suuq". Apalagi di siang hari saat panas matahari menyengat kulit. Sulaiman memutuskan untuk membeli sepeda bekas dari orang Aab. Harapannya, sepeda itu dapat bertahan sampai ia menyelesaikan hafalan Al Quran-nya.
Dibangga-banggakan dan dipuji sudah menjadi kebiasaan mahasiswa Indonesia untuk mereka yang pintar, apalagi bagi mereka yang mendapat nilai tinggi. Kuping si pintar harus tahan dipuja dan dipuji. Ada perasaan bangga bagi sebagian mahasiswa yang mengalaminya. Namun tidak dengan Sulaiman yang memiliki sifat sederhana dan tidak ingin dipuji. Awalnya, Sulaiman merupakan salah satu mahasiswa rajin dan ulet dan memiliki nilai tinggi. Tapi, setelah pujian sering terlontar untuknya, Sulaiman mengurangi jadwal belajarnya. Di hari ujian, Sulaiman tidak menghafal pelajaran secara penuh seperti saat di semester tiga dan empat. "Yang penting lulus"… itulah pilihannya untuk menghindari nada-nada indah penyumbang lalainya hati dari lisan sang pemuji.
Di hari pertama hafalan, Sulaiman lancar-lancar saja. Tak ada gangguan, karena juz pertama sudah pernah ia hafal sebelumnya saat duduk di bangku pesantren. Begitu juga juz lima sampai juz enam, belum ada terlihat hambatan dan kesulitan yang ia hadapi. Setelah juz enam dan berikutnya, Sulaiman mulai merasa harus lebih fokus, terlebih lagi karena kerajinan dan keuletan yang ia miliki, semua teman menjadikan Sulaiman sebagai anggota tim peringkas pelajaran. Tentunya semua itu akan menyita waktu yang banyak.
Setiap hari Sabtu dan Minggu, jadwal kuliah tidak bersahabat dengan jadwal setoran Al Quran di Masjid Assegaf. Di hari itu, Sulaiman memiliki jadwal kuliah tiga puluh menit setelah salat asar. Tepatnya pukul 16.30. Jadwal itu sama dengan jadwal setoran Al Quran di Masjid Assegaf. Jika tidak hadir hafalan, kemungkinan ia akan dikeluarkan pihak Madrasah Assegaf. Kuliah juga tak kalah pentingnya, jika absen tiga kali dalam satu mata kuliah, Sulaiman tidak boleh mengikuti ujian semester. Sulaiman terpaksa merubah jadwal istirahatnya. Sulaiman yang sudah terbiasa tidur siang, kini tidak lagi. Setelah salat zuhur dan makan siang, Sulaiman tidak pergi ke kasurnya, melainkan pergi ke Masjid Assegaf. Harapannya agar waktu yang ia miliki cukup untuk menyetor hafalan dan berangkat kuliah ke kampus.
Dari ujung pintu masjid, terlihat Ustaz Hamid masuk, ustaz yang menyimak hafalan Sulaiman setiap hari. Sulaiman hanya mempersiapkan hafalannya, kiranya jika hafalan yang ia persiapkan semakin kuat, maka akan semakin cepatlah ia bisa kembali ke kampus untuk mengikuti mata kuliah ushul fiqih. Setelah masuk masjid, Ustaz Hamid pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudu. Sulaiman tetap tenang. "Dek, nanti saya duluan yang nyetor hafalan," pinta Sulaiman kepada anak kecil yang juga menghafal Al Quran dan duduk di sebelahnya.
"Kamu kenapa terburu-buru?" tanya anak itu heran
"Saya ini dari fakultas syari'ah, Dek. Setelah asar ini ada jadwal kuliah di kampus. Jadi, saya harus cepat pulang," jawab Sulaiman menegaskan.
"Oh ya udah, silakan," balas si kecil.
Selesai wudu, Ustaz Hamid langsung masuk ke dalam masjid. Sulaiman segera menghampirinya dan berkata. "Ustaz, saya izin hari ini ingin menyetor sebelum salat asar, apakah boleh Ustaz?" pinta Sulaiman kepada ustaz.
"Kamu terburu-buru mau ke mana Sulaiman?" tanya ustaz.
"Saya ada jadwal kuliah di kampus, ustaz," jawabnya.
Setelah diizinkan, Sulaiman mulai tancap gas. Hafalan yang sudah ia sediakan semenjak siang tadi ia bacakan di hadapan Ustaz hamid. Waktu salat asar telah tiba, namun hafalan Sulaiman belum selesai juga. Jam menunjukkan pukul 16.00. Sesekali ustaz melihat jam, dan sesekali melihat mushaf. Sejenak setoran Al Quran dihentikan, dan ustaz menuju ke depan untuk azan. Sudah menjadi adat dan kebiasaan penduduk Kota Tarim kalau salat asar akan dilaksanakan lima belas menit setelah azan. Karenanya, sulaiman merasa masih memiliki kesempatan untuk menyelesaikan setoran. Setoran dimulai lagi setelah Ustaz hamid menyelesaikan azan. Tepat di pukul 16.15 setelah Sulaiman menyelesaikan setoran, salat jamaah pun dimulai.
Tanpa menunggu doa bersama dengan imam, Sulaiman langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera pulang. Sulaiman tidak ingin ketinggalan kuliah. Apalagi, mata kuliah ushul fiqih kali ini diajarkan Ustaz Rosyid. Dosen berwajah tampan, namun menjadi seram karena jenggot dan jambang tebal yang mengelilingi wajahnya. Sosok yang terkenal tidak akan menerima mahasiswa masuk ke ruang kuliah jika terlambat. Ditambah lagi perjalanan dari masjid ke kampus tidak dekat. Sambil memegang sepeda, Sulaiman mengambil botol air minum di dalam tas. Setelah minum, dengan segera Sulaiman mendayung sepeda tua berwarna hitam yang tidak memiliki rem itu.
Pandangan mata yang tajam. Dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Segala jawaban bukan menjadi alasan. Di ruang kuliah, seluruh mata terpanah padanya. Semua itu terbayang di pikiran Sulaiman jika ia terlambat. Semakin lama, Sulaiman semakin mendayung sepeda tuanya dengan cepat. Maka, secara otomatis irama musik alami dari sepedanya juga semakin cepat dan keras. Ngeeekk… ngeeekk…ngeeekk… suara nyaring dari sepeda Sulaiman, mengiringi rasa heboh dan rasa cemas bagi Sulaiman.
Jam menunjukkan pukul 16.30, sementara Sulaiman barusan sampai di asrama. Dengan cepat Sulaiman masuk ke kamar dan mengganti bajunya dengan gamis putih. Cemas bercampur takut dan tergesa-gesa, Sulaiman keluar dari kamar menuju kampus. Berlari cepat tanpa memikirkan siapa saja yang ada di hadapannya. Dari kejauhan, terlihat beberapa teman yang juga berlari menuju kampus. Sesampainya di ruang kuliah, Sulaiman mendapati temannya masih bercerita satu sama lain. Ternyata dosen ushul fiqih belum datang.
Sulaiman memilih duduk di bangku tengah. Dengan napas terengah-engah Sulaiman meletakkan buku ushul fiqih miliknya. Mata menghadap ke atas dengan tubuh berselonjor dan memanjangkan kaki. Mulut ternganga. Degan perut kembang kempis, Sulaiman menghilangkan lelah setelah mendayung sepeda dan berlari kencang. Setelah dua menit, dosen pun datang. Sulaiman langsung berkonsentrasi. Dengan membaca bismillah, Alhamdulillah dan shalawat, sulaiman mulai membuka bukunya. Sulaiman tertawa hingga giginya yang ompong di tengah terlihat jelas. Karena ternyata, sulaiman salah bawa buku. Tergesa-gesa membuatnya sedikit hilang konsentrasi.
Di malam hari, tepat di jam sebelas malam, Sulaiman menutup kasurnya dengan tirai terikat di besi bagian atas ranjang. Di waktu itu, Sulaiman tidak ingin ada satupun yang mengajaknya berbicara. Sulaiman mengulangi hafalan Al Qur'annya di waktu itu. Bila sudah jelas keributan di temannya, Sulaiman akan memilih tempat di luar atau di atas asrama. Di balik jemuran atau bersandar di tabung air.
Tak ada perbedaan antara hari Sabtu dengan hari Minggu bagi Sulaiman. Di hari ini, Sulaiman harus rela meninggalkan tidur siang demi mengejar hafalan Al Quran. Setelah salat asar, Sulaiman langsung tancap dengan sepeda tuanya. Saat jam 16.15 Sulaiman masih berada di tengah jalan. Ia dayung sepedanya seakan dikejar satpam perkebunan. Di tengah jalan, rantai sepedanya putus. Sementara bengkel sepeda tak satu pun buka. Sulaiman harus rela mendorong sepedanya menuju asrama. Jika ada jalan penurunan, Sulaiman mengambil kesempatan untuk menaiki sepedanya. Wajah dan baju yang basah tak ia pikirkan lagi. Seakan semua telah bersatu. bahkan tak terasa seiring dengan sengatan matahari dan panasnya badan Sulaiman. Semuanya ia rasakan setelah sampai di asrama.
Hari ini telah ia sediakan buku ushul fiqih yang akan ia bawa. Sulaiman tak ingin salah bawa buku lagi seperti kemarin. Sulaiman memulai langkahnya untuk berlari, sementara Ustaz Rosyid sudah turun dari sepeda motornya. Ustaz Rosyid tidak langsung masuk ke ruang kuliah, melainkan ke kamar mandi yang terletak di sebelah ruang kuliah. Setelah selesai, beliau langsung menuju ruangan. Sementara Sulaiman terus berlari. Hingga saat keduanya tiba di persimpangan, Sulaiman menabrak ustaz Rosyid hingga semua buku dan alat tulis yang ia bawa terjatuh. Begitu juga Ustaz Rosyid, ia terjatuh karena tabrakan keras dari Sulaiman.
"Maaf… Ustaz" kata sulaiman sambil menarik tangan ustaz Rosyid untuk berdiri.
"Iya gak papa. Kamu takut terlambat ya?" jawab ustaz sambil tersenyum
"Iya… Ustaz," jawab sulaiman menyambut senyum dari sang ustaz.
Akhirnya, ustaz mempersilakan sulaiman untuk masuk ke ruang kuliah terlebih dahulu. Seperti itulah cara Ustaz Rosyid untuk memperbolehkan masuk bagi mahasiswa yang terlambat. Sungguh berat pengorbanan Sulaiman untuk Al Quran yang ingin ia jaga di otak dan di hatinya.
Di tahun 2015, sampai kepada seluruh mahasiswa bahwa Yaman sedang mengalami konflik besar. Saat itu, pemerintah Indonesia menawarkan program evakuasi kepada mahasiswa. Sulaiman harus memilih dua pilihan, antara tetap tinggal di Yaman, atau kembali ke Indonesia dengan evakuasi gratis. Namun, jika ia pulang dengan evakuasi, pasti terputuslah hafalan Al Qurannya. Tentunya akan menunggu lama untuk kembali lagi ke Yaman. Jangankan dalam waktu lama, hanya karena absen tiga hari saja, Madrasah Assegaf bisa mengeluarkan peserta didiknya.
Sulaiman memilih untuk tinggal di Yaman. Godaan evakuasi gratis itu tak terlalu menggiurkan menurutnya. Hingga saat mahasiswa lain sibuk mempersiapkan baju dan kopernya, Sulaiman sibuk mempersiapkan hafalan dan sepeda bututnya. Di bawah terik matahari, di musim panas, Sulaiman mendayung sepeda miliknya. Belum berjalan jauh, ban bagian depan sepedanya kempes hingga Sulaiman memompanya dengan pompa bola kaki yang tersimpan di dalam tas miliknya. Setelah itu, Sulaiman lanjut mendayung sepedanya menuju Masjid Assegaf. Belum sampai setengah perjalanan, ban sepedanya kempes lagi. Pompa lagi. Hingga berkali-kali ban sepeda miliknya kempes, dan berkali-kali pula ia memompa ban sepeda. Begitu juga saat jalan pulang menuju asrama. Sering ia memompa ban sepedanya yang kempes.
Di tahun 2016, Sulaiman sudah menyelesaikan hafalan Al Quran. Telah tercapai cita-cita mulianya itu. Cita-cita yang merupakan cinta kepada Allah dengan cara menghafal kalam-Nya yang mulia. Dengan fokus dan bersungguh-sungguh, Sulaiman dapat menyempurnakan hafalannya 30 juz selama satu tahun. Niat baiknya itu tak terhenti hanya sampai di situ. Setelah menyempurnakan hafalan, Sulaiman membantu adik kelas yang ingin menghafal Al Quran. Dengan tujuan agar mereka tidak gagal ujian Al Quran di semester tujuh. Setiap selesai salat asar, Sulaiman akan pergi ke Masjid Ubadah yang terletak dekat dengan asrama. Di sana, ia menemui adik kelas yang akan menyetor hafalan Al Quran. Menurutnya, pergi ke Masjid Assegaf terlalu jauh bagi mahasiswa. Terlebih bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan. Kiranya dengan menyetor di Masjid Ubadah dapat membantu teman dan adik kelas yang ingin menghafal Al Quran. Program itu ia sempurnakan hingga ia lulus dari Universitas Al Ahgaff.
Menjaga benda konkret sangatlah mudah, berbeda dengan menjaga benda yang abstrak. Menjaga benda abstrak menuntut si penjaga mengeluarkan semua kesungguhan dan kemampuannya. Bahkan doa terus bersarang di lidah dan di hati saat memulai menjaga dan menyimpannya. Tampak perbedaan dari keduanya bagi kita yang menyimpan mushaf Al Quran di dalam lemari, dengan kita yang menyimpannya di memori dan di hati kita.
Manfaat dari mudah dan sulitnya benda yang kita simpan terdapat pada keamanannya. Benda konkrit yang disimpan dan dijaga mudah dicuri orang. Tidak dengan benda abstrak, karena benda abstrak tersimpan di tempat yang tidak bisa dibongkar atau dilihat oleh siapapun.
Al Quran adalah perbendaharaan yang sangat mahal. Harta yang tak pernah lekang dimakan usia. Menyimpannya di memori membuat ketenangan di jiwa. Tidak seperti menyimpan harta yang selalu membuat gelisah. Mungkin ada orang yang ingin mengambilnya. Menyimpannya seperti menjadikan suatu guide dalam perjalanan hidup. Kita tidak akan tersesat dari tujuan karenanya.
Prof. Dr. Abdullah Baharun pernah berkata, “Jika semakin sulit jalan cinta untuk menemukan sang kekasih, itu pertanda bahwa dialah kekasih yang hakiki”. Inilah kekasih yang hakiki. Cinta kepada-Nya membuat pencinta rela meninggalkan segala kenikmatan dan kenyamanan. Kekasih yang akan membawa sang pecinta-Nya pulang menuju kampung nan indah, yaitu surga yang kekal.
Jika jalan untuk mendapatkan si doi sang pujaan hati sangat sulit, apalagi Al Quran, kalam allah, sebagai mukjizat kekasih kita, Nabi Muhammad SAW. Pasti lebih sulit dong. Bener gak? Bayangin aja manfaatnya. Cinta kita kepada si doi yang katanya sampai mati, eh ternyata hanya sampai di kehidupan dunia. Tapi cinta kita kepada Al Quran takkan habis. Bahkan sampai kita sudah tiada, kekasih kita yang berupa Al Quran tetap menjaga kita dalam kehidupan selanjutnya.

Other Stories
Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Download Titik & Koma