16. Gigih
Bermula dari yang tidak tahu menjadi tahu. Rusdi menggantungkan mimpi di angan-angannya. Rusdi sempat tidak mengetahui bagaimana cara membaca kitab gundul (buku berbahasa Arab, tidak berharokat). Karenanya, Rusdi ragu, apakah ia akan berangkat dan mengambil beasiswa atau tidak, dan kuliah di Indonesia. Sebenarnya, kuliah di luar negeri adalah keinginan Rusdi sejak kecil. Keinginan yang tumbuh pada dirinya itu karena pamannya sering bercerita akan keindahan kuliah di luar negeri. Pamannya yang saat itu merupakan alumni Mesir, pernah mendapat beasiswa untuk kuliah ke sana. Semua cerita dari paman Rusdi telah membekas di hatinya.
Takut nantinya gagal di pertengahan jalan, rusdi sempat berpikir panjang. Walau ia belum pernah sebelumnya kuliah di Timur Tengah, namun ia tahu bahwa kuliah di Timur Tengah bukanlah hal yang sepele dan bisa dianggap mudah dengan begitu saja. Selama ini, Rusdi melihat alumni Timur Tengah yang berada di desa atau kecamatan tempat ia tinggal, kebanyakan dari mereka memiliki ilmu yang luar biasa. Pasti kemampuan yang luar biasa itu berawal dari skill yang luar biasa, pikirnya. Terlebih lagi cara belajar yang keras, pasti menjadi sebab akan hebatnya mereka.
"Ma, Paman Salikin sekarang di mana Ma?" tanya Rusdi kepada ibunya saat makan siang. Rusdi ingin bertemu dengan paman yang merupakan adik ibunya itu. Rusdi ingin bertanya kepada pamannya tentang tips-tips kuliah di Timur Tengah. Setelah tidur siang, Rusdi mempersiapkan dirinya untuk pergi ke rumah Paman Salikin yang terletak di Depok.
Sesampainya di rumah Paman Salikin, Rusdi tak banyak mengulur cerita lagi, Rusdi langsung bertanya kepada pamannya tentang kuliah di Timur Tengah. "Tidak ada resep yang istimewa, Di," kata Paman Salikin. "Saya kira kamu sudah paham bahwa hanya orang yang sungguh-sungguh yang dapat meraih mimpinya, walau sekarang kamu masih merasa belum pantas, tetap ambil beasiswa itu! Nah kamu pantaskan dirimu seiring dengan berjalannya kuliah. Bukankah kita belajar harus jadi pintar? Nah kalau kita memang belum pintar, pantaslah kita belajar, tapi kalau kita sudah pintar ngapain lagi kita belajar jauh ke sana? Lebih baik tinggal beasiswa itu dan berangkatlah!" jelas Paman Salikin.
Sudah empat puluh persen keyakinan memenuhi hati Rusdi. Karena belum puas dengan empat puluh persen, Rusdi berpikir lagi. Hingga selesai salat fardu di masjid, Rusdi tidak langsung pulang. Sambil duduk bersila menghadap kiblat, Rusdi memikirkan pilihannya itu. Tak lama kemudian, kesimpulan menghampirinya. "Walaupun kemampuanku membaca kitab masih kurang baik, tapi setidaknya apa yang telah kuusahakan saat seleksi telah berbuah kelulusan. Setidaknya, apa yang telah kumiliki saat ini dapat menjadi modal dasar bagiku untuk menimba ilmu yang lebih banyak lagi," jawaban itu datang menyusup pikiran Rusdi, membuatnya semakin semangat untuk belajar ke Hadhramaut. Keyakinan hatinya yang selama ini hanya empat puluh persen kini telah menjadi tujuh puluh persen, bahkan sudah menjadi seratus persen saat ayah dan ibunya memberikan nasihat.
"Ma, Rusdi minta uang, Ma" kata Rusdi terhadap ibunya.
"Rusdi, mau ke mana kamu Nak?" tanya ibunya dengan spontan.
"Mau ke pasar, Ma. Mau belanja pakaian, sarung dan gamis, untuk persiapan ke Yaman," jawab Rusdi.
Mendengar kata-kata Rusdi barusan, ibunya tak berpikir panjang untuk memberikan uang belanja. Uang yang selama ini disimpan ibunya diberikan ke Rusdi, karena sejak selesai pengumuman itu, ayah Rusdi telah menyiapkan uang, untuk jaga-jaga kalau nanti anaknya memutuskan untuk berangkat belajar ke Yaman.
"Ini Nak, pergilah! Beli apa yang kamu butuhkan, tapi jangan boros ya!" tutur ibu Rusdi sambil memberikan uang.
Semua kebutuhan telah ia beli. Semuanya sudah lengkap.
Setibanya di Yaman, Rusdi menambah semangatnya untuk belajar. Ia berantusias dan meyakini kalau ia bisa melewati semua pelajaran dengan baik.
Saat belajar, tak jarang Rusdi kurang memahami materi yang disampaikan dosen. Jika tidak paham, Rusdi membuka kamus bahasa Arab di smartphone miliknya, maka pahamlah ia. Terkadang, kamus yang ada di smartphone tak cukup untuk memberikan kebutuhannya akan pemahaman kitab Arab gundul, maka Rusdi menemui temannya yang ia anggap memiliki basic dan pemahaman yang bagus. Bila sudah paham, Rusdi kembali ke kamarnya. Semakin lama kerajinan Rusdi semakin memperlihatkan buahnya.
Teman Rusdi yang lainnya sudah tidak menganggap ilmu nahwu ( ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab) harus dibaca lagi di Yaman. Karena ilmu nahwu sudah lama dipelajari di pesantren. Kini hanya tinggal mempraktikkan saja dengan banyak membaca literatur kitab Arab dan banyak berbicara dengan mahasiswa dari Arab. Tidak dengan Rusdi yang masih membaca kitab-kitab nahwu klasik, besar harapnya agar ilmu nahwu itu menjadi ilmu alat yang memberikan banyak kegunaan untuk Rusdi.
Di malam hari, semua mahasiswa harus mudzakaroh (belajar bersama) di atas asrama, kewajiban yang ditetapkan wakil dekan itu menjadi kesempatan emas bagi Rusdi untuk mempertajam pemahamannya terhadap kitab Arab gundul. Tak jarang Rusdi bertanya "Ini kenapa", "Kalau begini hasilnya bagaimana", "Kalau seperti ini hukumnya apa", "Kalimat yang ini maksudnya apa" semua masalah yang ada di pikirannya akan ia keluarkan di halaqoh itu, dengan harapan kiranya semua orang dapat menjawab pertanyaan yang ia suguhkan. Bila waktu mudzakaroh sudah selesai, sementara ia masih memiliki pertanyaan, Rusdi akan menarik salah satu temannya untuk duduk sebentar dan tidak berdiri, agar Rusdi dapat bertanya kepadanya. Terkadang keduanya duduk mengulangi pelajaran sampai larut malam. Bahkan terkadang Rusdi sampai tidak tidur di kasurnya, melainkan tidur beralaskan tikar di atas asrama.
"Langkah awal telah berhasil," katanya saat semester dua telah selesai. Hasil kerja kerasnya membuat ia bahagia, apalagi nilai yang ia dapat lumayan bagus. Sejak pengumuman keluar, Rusdi mulai menyelesaikan hafalan Al Qurannya. begitu juga dengan kaidah bahasa Arab yang selama ini ia latih. Semua semakin membaik dan menunjukkan hasil yang memuaskan.
Awal semester tiga telah dimulai. Kali ini semua mahasiswa pindah ke Kota Tarim, kota di mana fakultas syariah berada. Kata mereka yang tinggal di Tarim "Andai belajar di semester awal dengan kerajinan tujuh puluh persen bisa lulus, maka di Tarim harus mencapai sembilan puluh sembilan persen agar bisa lulus". kata yang memang terlihat lebay, namun sebenarnya kalimat ini menunjukkan betapa harusnya belajar dengan tekun di Kota Tarim. Karena banyak yang terlena ikut-ikutan teman yang tidak belajar hingga tidak lulus ujian, bahkan banyak yang menjadi korban D.O karena dua tahun tak mampu lulus walau hanya satu mata kuliah.
Mudzakaroh di malam hari lebih sering dilakukan Rusdi saat di Tarim. Rusdi telah mempersiapkan tikar dan memilih tempat sebelum mudzakaroh dimulai. Begitulah gigih dan sungguh-sunggguhnya ia untuk mendapatkan ilmu. Ia meminta salah satu temannya yang pintar untuk memimpin mudzakaroh, yaitu Hamdan. Mudzakaroh yang mereka lakukan memberi banyak manfaat bagi Rusdi, hingga tak satupun kalimat, atau paragraf yang tidak ia pahami, semua menjadi lebih jernih baginya. Selesai mudzakaroh, Rusdi tidak langsung tidur ke kasur, melainkan mengulangi materi yang dipelajari.
Kemampuan Rusdi semakin bertambah. Tampaknya hasil ujiannya di semester dua itu semakin memotivasi belajar Rusdi. Kunci dari keberhasilan telah ia dapati. Di pengumuman ujian semester tiga, Rusdi merupakan mahasiswa dengan IPK tertinggi saat itu. Semua tak menyangka kalau ternyata kerajinan dapat mengalahkan kepintaran. Semua yang dianggap orang pintar harus rela tunduk di bawah Rusdi dalam urusan nilai. Semua takjub. Ternyata pria yang sangat rajin itu menemui hasil dari kesungguhannya. Hamdan mengangkat jempol ke arah Rusdi saat itu dan berkata, "Masya Allah, kamu memang top… Rusdi, tetap semangat ya!" Hamdan merasa bangga pada Rusdi yang saat itu mewakili orang Indonesia mendapat nilai tertinggi. Siapa yang tak bangga melihat teman yang kita ajari menjadi lebih baik dari kita.
Semakin lama Rusdi semakin memperbaiki cara belajarnya dan mulai menguji dan melatih kemampuannya. Amal dan ibadahnya semakin ia perbaiki. Di hari Senin dan Kamis, Rusdi tak pernah terlihat di dapur kuliah, semua mahasiswa telah memaklumi dan mengetahui kalau Rusdi selalu puasa di hari Senin dan hari Kamis. Bila datang waktu magrib di hari Senin, Rusdi secepat mungkin pergi ke dapur setelah salat, karena waktu antara magrib dan jadwal kuliah sangat singkat. Dengan mengangkat bagian bawah dari gamisnya, Rusdi lari secepat mungkin menuju dapur kuliah untuk mengambil menu buka puasa. Setelah makan, Rusdi kembali lagi ke asrama untuk mengambil bukunya. Tak jarang juga Rusdi langsung membawa buku kuliahnya langsung ke dapur, karena waktu yang sangat sempit menuntutnya untuk bergerak dengan cepat.
Di semester lima, Rusdi tak lagi meminta temannya untuk memulai mudzakaroh. Rusdi merasa telah mampu memahami kitab Arab gundul dengan basic ilmu nahwu yang ia miliki. Ia tak perlu lagi memanggil teman dari kamar ke kamar untuk memulai mudzakaroh, semua sudah bisa ia pahami sendiri. Keadaan semakin membaik saat Rusdi mampu memahami semua makna dari kitab dengan sendirinya, tanpa bertanya lagi dengan orang lain. Ia akan ber-mudzakaroh dengan mahasiswa lainnya hanya bila ada perintah atau suruhan. Dengan tidak adanya mudzakaroh, Rusdi dapat membaca buku yang lain sebagai tambahan ilmu untuknya. Begitulah hingga akhirnya di semester sepuluh, Rusdi tidak lagi meminta temannya untuk memulai mudzakaroh, ia sudah mampu sendiri memahami isi kitab.
Di tanggal 20 April 2017, saat itu angkatan ke delapan belas mengikuti acara wisuda, hari itu menjadi saksi akan bukti keberhasilan putra dari Jakarta ini meraih prestasinya. Rusdi mendapat derajat syarof 'ula (cumlaude) di pengumuman wisuda itu. Tepuk tangan keras atas takjub dan bangga dari para tamu undangan tercurah untuknya. Senyum di wajahnya tercermin dari rasa bahagia.
من جد وجد)) kata pepatah orang Arab. Bukan sembarang kata untuk memperindah bahasa, juga bukan sekedar mengobati hati yang sedang jatuh atau sakit karena sesuatu yang diinginkan tak dapat digenggam. Mari kita pahami maknanya. Jelasnya sesuatu yang didapati dalam kalimat ini adalah sesuatu yang masih keinginan. Bukan seperti mainan yang diberikan sang ayah kepada anaknya. Juga bukan seperti makanan yang disuapkan ke mulut ketika lapar. Apalagi napas segar yang tinggal dihirup ketika sesak. Melainkan sesuatu yang kita impikan, impian yang tak semua orang dapat meraihnya. Impian yang tak semudah memejamkan mata untuk mendapatkannya. Maka dari itu dibutuhkan keteguhan dan kesungguhan untuk mendapatkannya. Begitu juga niat yang tulus dan ikhlas untuk meraihnya.
Mulai dari sekarang, biasakan jangan manja dan bermalas-malasan. Tidak ada yang mustahil bila usaha kita gantungkan dengan doa kepada Allah. Karena segala yang dikehendaki Allah pastinya akan terjadi. Jika Allah tidak berkehendak maka tidak terjadi. Keyakinan juga harus kuat. Ingat ya, ke-ya-ki-nan, bukan kepercayaan. Banyak orang mengartikan keyakinan dengan kepercayaan. Padahal arti keduanya beda. Kita beri dua sendok gula ke dalam segelas the, pasti rasanya manis. Nah jika kita yakin kalau teh tersebut terasa manis walau tidak diberi gula, inilah yang disebut keyakinan. Nah Allah akan bersama mereka yang yakin, bukan bersama mereka yang hanya percaya dengan yang pasti. Kenapa demikian? Kita ambil contoh, orang yang percaya bahwa teh yang terkena gula pasti rasanya manis, sebenarnya yang ia percayai hanyalah gula yang memberi rasa manis, bukan Allah. Tapi coba kalau tehnya belum diberi gula, si pemilik keyakinan akan menyandarkan keyakinannya kepada dzat yang tiada mustahil bagi kehendak-Nya.
Kiranya seperti itulah kehidupan ini, ia akan manis adanya bila kita menganggap semua pemberian Allah adalah manis, hanya saja kemanisan menurut definisi kita adalah segala yang dapat dirasakan indra, sementara manis yang dikehendaki Allah adalah manis yang berupa perasaan dari kalbu, bukan dari lidah atau indra yang lainnya, sehingga kita selalu beda pendapat dengan kenyataan yang diberikan Allah. Dengan kerja dan usaha yang minim, berharap hasil yang maxim. Kerjanya tinggal duduk dan tenang-tenang. Hasil yang melimpah datang. Ini baru kehidupan yang manis menurut mereka yang keliru.
Kita, manusia, sangat lemah dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Jadi kalau kita hanya mau melangkah jika tujuan sudah pasti di depan mata, pasti hasilnya hanya sekedar yang kita lihat. Yaitu hasil yang sedikit dan kecil, karena kita makhluk yang kecil dan lemah, maka hasilnya pun hanya sebatas yang kita pandang. Berbeda dengan pandangan Allah yang Maha Besar dan Maha Agung. Maka jika Allah menghendaki langkah kita dalam suatu yang sulit, apalagi tujuannya belum terlihat mata, sebenarnya itulah tujuan luar biasa Allah yang dikehendaki untuk kita. Maka jangan kita menganggapnya sebagai suatu kemustahilan.
Sebagaimana Allah tidak membebani kita kecuali dalam hal yang sanggup kita emban, Allah juga tidak akan memberikan nikmatnya kepada kita kecuali nikmat itu sesuai dengan usaha kita. Kalau usahanya tujuh puluh persen maka hasilnya juga tujuh puluh persen. Kalau usahanya sembilan puluh persen maka hasilnya sembilan puluh persen juga. Usaha tidak pernah membohongi hasil.
Lalu apa bukti bahwa Allah menghendaki hasil yang besar itu untuk kita? Buktinya Allah memberikan kesempatan bagi kita. Seperti teman saya "Rusdi" dalam kisah di atas. Kelulusan saat seleksi merupakan kesempatan yang diberikan Allah untuknya. Pilihan untuknya hanyalah lanjutkan langkah atau berhenti. Coba bayangkan jika Rusdi tak melanjutkan langkahnya, pasti pilihannya adalah kuliah yang berkurikulum buku berbahasa Indonesia, pastinya ia tak memiliki kemampuan besar untuk menguasai kitab Arab gundul. Tapi, lihatlah, ketika Rusdi memilih untuk melanjutkan langkahnya, semua yang mengaku mahir membaca kitab mampu ia lewati.
Maka, jalan terbaiknya adalah satukan prasangka kita dengan kehendak Allah. Dan ingat bahwa tak satupun kehendak Allah buruk. Semuanya baik dan bagus. Maka perbaikilah prasangka kita, agar kedua kehendak positif ini terwujud di hadapan dan di kehidupan kita, lalu bekerja keras, gigih dan sungguh-sungguh.
Banyak orang yang ingin tidur ketika dalam keadaan sadar, dan ingin terbangun saat ia sudah tidur. Semua karena kurangnya kesadaran saat ia terjaga. Setelah lewat semua kesempatan itu, tiba datang waktu penyesalan. Ya, penyesalan bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan emas yang sudah dihidangkan Allah di hadapannya. Mereka tidur saat allah menghidangkan kesempatan itu. Maka akan mereka buang kesempatan emas yang telah dihidangkan hanya karena rasa manisnya tidak instan. Padahal, rasa manis yang tidak instan lebih baik daripada yang instan. Karena semua yang instan hanya akan menambah kelemahan pada diri kita. Mengapa demikian? Jelas saja, sesuatu yang didapat dengan susah payah pasti hasilnya lebih baik dan lebih berharga daripada hasil pemberian, karena si penerima instan tidak merasakan sulitnya menggapai impian sehingga apa yang ia genggam sekarang dengan mudahnya bisa ia lemparkan dan ia habiskan dengan sekejap.
Gini aja deh, kita ambil misal, saya pernah membeli sepatu bola dengan hasil kerja saya sendiri. bukan dengan pemberian orang tua. Lalu, sepatu bola saya pakai untuk bermain sepak bola di lapangan. Setelah sekian lama, sepatu milik saya semakin jelek, dan hingga akhirnya koyak. Karena saya rasa masih bisa dipakai, saya jahitkan ke tukang jahit sepatu. Saya pakai lagi hingga akhirnya rusak dan tidak layak pakai. Apakah langsung saya buang? Tidak. Karena masih tersimpan kisah luar biasa untuk mendapatkan sepatu bola itu.
Other Stories
Plan B
Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Haruskah Bertemu?
Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...