Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

15. Geng Kapak

Di sana-sini mahasiswa sibuk dengan kegiatannya. Setiap diri merasa wajib memerangi kefakiran ilmu. Tinggal di tempat nan nyaman, jiwa merasa huru hara gerilya. Lawan datang. Indah menggiurkan bagi si lalai. Senjata lawan adalah kenyamanan. Sedang senjataku adalah kesadaran. Ini bukan tempat bermain, sapa waktu ke setiap pemilik nurani. Musafir masa. Diktator memvonis sang penggunanya. Tumpuan ikut menuntut alasan akan hadirnya diri dipundaknya. Lembaran kertas bergeser mengangkat takdir buruk yang dibenci. Bayangan kedua malaikat penolong penagih harkat dan martabat. Tak ingin kepandiran menjajah diri sendiri. semua kacau terhempas aturan tak bersahabat. Karena keinginannya bukanlah keinginan kita.
Satu per satu mulai lelah dengan caranya sendiri. Mungkinkah hiburan menjadi peminimalisir kejenuhan, atau penetralisir kemalasan. Tak pernah terasa belajar dengan paksaan seperti sekarang ini. Motivasi hanyalah tutur indah bagi setiap penyimak telinga. Namun menjadi spirit bagi penyimak hati.
Seorang pria bertahan di simpulan waktu. Berharap dengan pinta berupa usaha. "Andai aku nanti lulus dan menyelesaikan semua ini," tutur Nawa di hadapan bukunya. Rasa ingin membalas kelelahan dengan kenyamanan telah hadir di benak pria berwajah Arab berbangsa Indonesia ini. Kopi yang dari tadi nongkrong di sebelahnya hanya tinggal setengah. Nawa yang telah lelah menghafal sejak selesai isya, menatap secangkir kopi yang menemaninya sejak tadi. Kali ini bukan kopi yang jadi titik fokusnya, melainkan gelas bergambar jembatan Sungai Musi. Gelas yang mengingatkannya kepada sang ibu. Dua tahun yang lalu, sang ibu memberinya gelas keramik itu. Ingatannya kepada sang ibu menambah sedikit semangat belajarnya. Ibu adalah motivasi tanpa kata dan tanpa suara. Hanya dengan mengingatnya Nawa dapat menambah gairah belajarnya. Kiranya di akhir tahun nanti Nawa membawa hadiah berupa gelar sarjana di hadapan ibunya.
Setengah jam setelah Nawa melanjutkan hafalan, Anugerah datang dan duduk di kasurnya. Teman karib yang masyhur dengan sebutan Gaga. Dengan wajah merah dan menyandar di besi ranjang berkata, "Capek saya, Wa,"
"Emang ente aja yang capek. Ana juga," jawab Nawa.
Di hari ujian, semua mahasiswa saling mengatur waktu belajar dan waktu istirahatnya. Istirahat kedua, mahasiswa ini sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jika sudah berkumpul, keduanya akan bercerita dengan panjang, hingga waktu istirahat yang mereka butuhkan juga menjadi panjang.
Di sudut kamar, terlihat Dafa yang sangat serius memandang buku. Sedikitpun mata tidak bergeser pandang dari buku di tangannya. "Eh lihat tuh Dafa, serius amat," kata Gaga mengajak Nawa untuk melihat Dafa. Keduanya melihat Dafa dengan menggelengkan wajah ke kanan dan kiri. "Istirahat dulu Fa. Ntar kepalanya meledak lho," sapa Nawa kepada Dafa dengan canda.
Dengan sekejap Dafa menjawab, "Iya, kayaknya bentar lagi nih mau meledak. ini juga udah keluar asap dari kupingku," akhirnya ketiga pria itu tertawa dengan candaan ringan dari Dafa dan Nawa.
"Assalamu alaikum…" Herman dan Toni datang dengan membawa kopi ke hadapan teman-temannya. Peka dengan keadaan, Nawa memasak air dengan teko listrik. Dafa pun mencuci semua gelas dan segera memasukkan bubuk kopi dan gula ke setiap gelas. Panas dari kopi menambah kehangatan saat itu. Sambil mencicipi kopi khas Palembang itu, mereka bercakap-cakap hingga mereka melupakan waktu dan waktupun meninggalkan mereka. Jika perbincangan semakin seru, tertawalah salah satu dari mereka. Dan tak jarang yang lain ikut tertawa hanya karena melihat lucunya cara temannya tertawa.
Sekelompok teman dengan cara hidup yang sama. Beginilah mereka adanya walau di masa ujian. Tak seperti mahasiswa lainnya. Yang jangankan tertawa, bahkan berbicara saja sangat berat, karena terlalu fokus dengan materi yang diingat. Ditakutkan materi yang telah dihafal akan lupa saat berada di ruang ujian, karena banyak bicara dan tertawa.
"Yah kopinya habis," serentak Januari dan Fendy yang baru datang.
"Iya sabar ya. Saya buatkan lagi," kata Dafa.
Suasana kamar "kali jaga" semakin ramai. Tak ada satupun yang berhak melarang canda dan tawa bahkan ocehan mereka. Karena Dafa adalah ketua kamar. Pria brengos, berwajah seram yang ditakuti kalangan adik kelas karena wajahnya seperti orang ngajak ribut. Jika sudah capek bercerita dan ketawa, mereka akan kembali ke kasurnya masing-masing. Beginilah keseharian mereka. Tiada hari tanpa berkumpul dan ngebanyol sampai malam memisahkan mereka.
Keesokan harinya, mereka berangkat ke kampus untuk mengikuti ujian. Pulang dari ujian, satu per satu kelompok ini datang ke kamar "Kali jaga", kamar tempat mereka nongkrong dan ngumpul. Mulailah salah satu menceritakan perasaan ujiannya. Jika satu orang menjelaskan jawaban nomor satu, maka yang lainnya ada yang gembira karena jawabannya sama. Sebagian lagi galau karena jawabannya berbeda. Padahal, tak jarang bila si pencerita dan penjelas jawaban tadi memiliki jawaban yang salah. Ada juga yang sejak awal masuk ke kamar itu dengan wajah peot dan kusut, galau karena ragu, apakah lulus atau tidak. Dan yang lainnya menertawakan dengan bercanda atau menakut-nakuti. Padahal, sering kali si galau itu mendapat nilai lebih tinggi dari yang menertawakannya.
Bila waktu pengumuman tiba, semua mendapat nasib yang sama. Karena niat dan tujuan juga sama. Tidak penting nilai tinggi, yang penting lulus.
Pertemanan dengan tujuan dan selera yang sama. Jika semua ujian telah selesai, kebanyakan mahasiswa akan pergi berziarah. Tapi kelompok yang satu ini tidak hanya menziarahi para ulama, melainkan pergi bermain ke Wadi Shah juga, suatu tempat yang bagi mereka sangat asyik, karena ada air sungai tempat mancing ikan dan berenang. Dengan membawa peralatan mancing dan masak, mereka berangkat ke daerah yang lumayan jauh dari Kota Tarim itu. Di sana, mereka bercerita dan bercanda tawa. Bila salah satu dari mereka curhat atau punya masalah, maka yang lainnya akan membantu dan memberikan solusi.
"Kita ini emang paling heboh ya, yang lain niatnya bersih untuk berziarah. Kalau kita, udah ziarah, pergi lagi ke Wadi Shah" ujar Reno, lelaki berbadan paling besar di kelompok itu.
"Hehehe. Itu pertanda kita lebih keren daripada yang lainnya, dengan banyak berjalan kita bisa melihat banyak cipataan Tuhan, lalu kita bertafakur, iya kan," sambut Ronald pula.
"Iya, kita ini udah satu selera dan satu rasa," kata Nawa.
"Berarti kita udah seperti geng-geng yang ada di Indonesia ya?" tanya Januari
"Iya dong, kita kan udah senasib sependeritaan," jawab Dafa.
"Lalu, apa nama geng kita ini?" tanya Januari lagi.
"Geng Kapak" jawab Januari sambil tertawa dengan pisau dan bawang merah di tangannya.
Semuanya menjawab dengan senyum dan tawa, itulah jalan terjadinya persahabatan ini yang bernama Geng Kapak. Geng yang terkenal dengan keramahan anggotanya. Saking ramahnya, di mana ada geng kapak ini, di situlah ada keributan dan kebisingan.
Saat AFIQU mencari anggota untuk menjaga kantin, ketua tim AFIQU yaitu Rahman, masuk ke setiap kamar untuk mencari mahasiswa yang mau mengabdikan diri untuk membantu kantin milik kampus buatan mahasiswa itu. Gaga berjalan masuk asrama setelah pulang dari perpustakaan, bersimpangan dengan Rahman.
"Man, kelihatannya kamu sibuk banget. Ada apa Man?" tanya Gaga kepada Rahman.
"Ini Ga, saya mencari orang yang mau bekerja di kantin AFIQU," jawab Rahman. "Kamu tau gak siapa yang punya waktu kosong dan siap membantu?" Rahman kembali bertanya.
"Oh baik, saya tanya teman dari geng saya dulu yah," jawab Rahman.
"Iya, nanti kalau ternyata mereka mau, kabari saya ya."
"Iya, soalnya saya juga kepingin bantu-bantu di kantin, dan teman-teman saya kan semuanya pintar masak," tegas Gaga.
Di malam hari, satu per satu anggota geng ini masuk ke kamar kali jaga, kebisingan pun mulai hadir di kamar itu. Kopi dan susu menjadi hidangan hangat di malam itu. Ejekan dan candaan menjadi perbincangan hebat di antara mereka. Saat semuanya sudah merasa capek, Gaga mulai bertanya, "Eh teman-teman, kantin AFIQU butuh karyawan nih, gimana kalau kita berkhidmah di kantin itu?"
"Wah bagus tuh. Ntar kantin itu bisa jadi tempat kita nongkrong," sambut Nawa.
"Iya bener, kita juga bisa nitip alat masak milik kita di sana," sambut Fendy.
Akhirnya semua setuju. Mulai hari itu, semua anggota geng kapak bekerja di kantin milik kampus. Tanpa dibayar. Setiap hari, mereka bekerja sangat giat, seakan kantin itu milik mereka sendiri. Di malam hari, jika pembeli sudah sedikit, salah satu dari mereka memasak makanan untuk temannya yang lain. Setelah selesai masak dan mereka pun selesai makan, cerita dan canda pun dimulai lagi. Usai menjaga kantin, mereka semua kembali ke asrama dan muroja'ah (mengulangi) pelajaran di kamar masing-masing. Jika sudah capek, satu per satu datang ke markas mereka, yaitu kamar "Kali jaga" di lantai atas asrama Dakhili, perbincangan pun dimulai kembali.
"Eh teman-teman, tiga hari lagi Maulid nih, apa rencana kita?" Reno memulai pembicaraan dengan pertanyaan.
"Ketua AMI (Organisasi Mahasiswa Indonesia Univ. Al Ahgaff) tadi jumpa dengan saya. Beliau bilang, setiap acara Maulid atau haul, tidak ada yang membantu petugas dapur. Gimana kalau kita bantu Paman itu?" sambut Nawa dengan mengajukan idenya.
"Wah ide bagus tuh. Sesekali kita memasak makanan untuk dosen-dosen kita. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri kalau masakan kita dinikmati dosen yang mengajar kita di kampus ini," sambut Herman.
"Aku setuju bro, nanti kita masak sambal ya. Biasanya dalam acara seperti ini tidak ada sambal di hidangan ramah tamah. Kali ini kita buat rasa yang baru dan berbeda dari sebelumnya," Toni menambah ide.
"Kereeenn," sambut Januari dengan mengangkat jempol.
Di acara Maulid, Geng Kapak sibuk dengan alat masak mereka di dapur kampus. Walau tidak ikut acara bersama para dosen di ruang auditorium, mereka merasa telah turut menyukseskan acara Maulid itu. Petugas dapur merasa senang dengan adanya mahasiswa yang membantunya. Usai acara, tibalah saatnya acara yang merupakan rukun dan tradisi bagi mereka, yaitu foto dan selfi bersama petugas dapur.
Suatu hari, di saat bulan tua bagi mahasiswa Indonesia. Geng yang terkenal ribut dan kurang rajin belajar ini selalu merasa banyak uang. Karena bila salah satu dari mereka memiliki uang, maka yang lain akan merasakan senangnya. Tanpa diminta apalagi dipaksa. Keakraban mereka terasa bak saudara sedarah daging. Ejekan yang terlontar dari satu ke lainnya bukan menambah kebencian, melainkan menambah keakraban. Aku tahu. Karena aku adalah salah satu dari mereka.
Dari geng ini, kita belajar memberi rasa yang nyaman dalam pergaulan. Tidak memandang siapa dia dan siapa aku. Atau dia anak siapa dan aku anak siapa. Apalagi pikiran apa latar belakang dia dan latar belakangku. Semua sama, pergi dengan tujuan sama, dan sama-sama mempunyai cita-cita yang luhur. Hanya perbedaan cara yang membuat warna dan rasa berbeda antara satu dan yang lainnya.
Biar dipandang karat oleh orang, namun dipandang emas oleh Pencipta. Kita tidak usah memikirkan omongan orang, karena hanya membuat kita sibuk memikirkan orang, dan berusaha agar semua orang menyayangi kita, semua itu membuat capek. Biar orang memandang kita rendah. Yang penting tetaplah berbuat baik.
Awalnya, penulis tidak ingin bercampur dan berbaur dengan mereka. Tapi, lama kelamaan, saya merasa ada satu poin yang menyatukan saya dengan mereka. Yaitu, selalu beramal apa adanya, dan tidak memperlihatkan kebaikan berkepala dua seperti yang disifatkan nabi pada orang-orang munafiq.
Apabila sudah tiada keinginan untuk berbuat kebaikan. Cukuplah itu sebagai musibah dan bala yang menimpa kepada dirimu.( Al-Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad)
Dari sekian banyak orang, ada yang berbuat kebaikan di tempat yang baik bersama orang-orang baik. Ini bagus. Dari mereka, ada yang mampu berbuat kebaikan walau bukan di tempat yang baik seperti di bawah pohon, atau bersama orang yang tidak terlihat kebaikannya. Ini lebih bagus.
Sebagian orang, ada yang memilih hanya untuk fokus belajar, belajar dan belajar. Sebagian lain memilih untuk mengenal daerah yang ia datangi. Mengenal berbagai suku. Menambah wawasan. Semua sama-sama bagus. Sama-sama memiliki kelebihan.
Bagaimana dengan berkhidmah? Ini lebih baik. Khidmah sebagai alat penetralisir ketawadhu'an kita. biasanya, seseorang akan merasa hebat karena telah banyak membaca buku, atau karena telah menyelesaikan studi di perguruan tinggi yang terkenal, atau karena keturunan bangsawan atau ilmuan. Nah, khidmah sebagai obatnya. Jadi, belajar sambil berkhidmah menghilangkan sifat sombong dan tinggi hati, menambah ketawadhu'an dan sifat rendah hati.
Orang yang hanya belajar dari buku akan banyak memahami bahasa kitab, namun sedikit memahami bahasa adab. Maka rasa tinggi menjadi penghujung ilmunya. Berharap orang tunduk saat hadirnya. Hidangan akan dihadirkan di hadapannya. Tidak menghidangkan, karena itu bukan tugasnya. Tugasnya adalah di depan mimbar atau podium. Di atas pentas atau di hadapan audiens. Bila sedikit kerja, berharap semua mata terbelalak menghadapnya. Berharap semua lisan akan menutur pujian akan amalnya.
Berkhidmah memang tidak membuat kita terpandang di hadapan petinggi atau orang yang berkedudukan. Tapi menambahkan derajat kita di hadapan Tuhan, dekat dengan orang bawah dan tidak mudah dilindas orang yang di atas. Karena orang yang berilmu lalu berkhidmah, wujudnya seakan benteng besi. Ia kuat dan berisi. Karena ilmu dari kitab dan pelajaran hidup telah terisi di batinnya. Dengan berkhidmah, kita banyak mengenal orang bawah. Nah, hal ini sangat bermanfaat bagi kita. Karena orang bawah banyak memberi pelajaran pahit, asam dan manisnya kehidupan. Sehingga orang berkhidmah tak henti-hentinya untuk mengambil pelajaran ke bawah, sebagai komposisi rohani, agar tidak mudah jatuh saat di atas.
Kisah Geng Kapak mengajarkan kita betapa pentingnya pengabdian di balik layar. Tidak ada yang mengenal mereka di acara keagamaan, atau dalam kegiatan lainnya. Namun, ada satu yang perlu diperhitungkan. Bahwa semua rencana tak akan terealisasi tanpa mereka. Orang di balik layar tak berbeda dengan sutradara dan produser dalam sebuah film. Dalam sebuah film, hanya aktor yang mendapat nama. Aktor yang menjadi terkenal. Tapi ada yang lebih berharga dan mulia dari itu semua, yaitu peran sutradara, produser dan pembuat naskah cerita. Karena tanpa mereka semua, seorang aktor tak akan terkenal atau dikenal.
Terkadang, orang memandang rendah kepada si pengkhidmah. Tak masalah, bukankah khidmah sebagai bukti keikhlasan kita (karena hakikat khidmah tak sedikitpun mengharapkan imbalan)? Bukankah khidmah juga sebagai dalil bahwa kita tidak mengharapkan pujian dari siapapun? So, seperti yang saya katakan tadi. Khidmah hanya menambah kekuatan bagi diri kita.
Orang yang suka berkhidmah, ilmu yang ia miliki layaknya daun yang rimbun. Ia tinggi namun tak pernah lupa menjadi peneduh bagi akarnya yang rendah. Orang yang berilmu namun tidak berkhidmah layaknya bendera. Ia tinggi namun hanya menggantungkan ketinggiannya kepada tiang. Ia berada di atas, hingga semua hormat kepadanya. Namun ia kurang sadar siapa pondasinya.  

Other Stories
Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Download Titik & Koma