19. Jurus Ampuh
Menghafal Al Quran sudah menjadi kebutuhan bagi mahasiswa fakultas syariah. Karena di fakultas ini, hafalan Al Quran sebagai syarat untuk lulus di semester lima. Semua mahasiswa harus mau menghafal Al Quran, minimal sepuluh juz. Al Quran juga syarat untuk lulus dan wisuda di fakultas syariah.
Rudi juga tak ingin tinggal lama-lama di Yaman. Alias jadi mahasiswa abadi. Tentunya, dia harus menghafal Al Quran. Setelah memutuskan untuk menghafal Al Quran, Rudi mendaftar dirinya untuk menghafal Al Quran di suatu madrasah bernama Ibnu Muroyyam. Di sana Rudi menghafal Al Quran dengan santri-santri yang berasal dari beberapa desa di Hadhramaut. Rudi semakin semangat dengan hafalannya. Karena dalam sehari Rudi dapat menghafal satu halaman Al Quran. Baginya, itu sangat luar biasa, karena mengatur waktu untuk kuliah dan menghafal Al Quran bukanlah hal yang mudah menurut mahasiswa fakultas syariah. Padatnya jadwal dan panjangnya waktu kuliah membuat semuanya jadi sulit.
Suatu hari, Rudi pergi ke kubah "Ibnu Muroyyam" untuk menyetorkan hafalannya. Selesai menyetor, Rudi duduk sejenak bersandar di dinding. Karena masih belum capek. Sejenak Rudi melihat kepada anak-anak yang sedang menyetorkan hafalan. Awalnya, Rudi tidak mendengar ayat yang mereka hafal. Namun, lama kelamaan Rudi mendengar hafalan dari salah satu anak Tarim, suaranya keras dan nyaring, hingga semua yang ada di ruangan itu dapat mendengar suara anak kecil itu. Rudi terkejut ketika mendengar anak kecil itu menyetorkan surat "Al-Hadid" di hadapan gurunya. Karena heran, Rudi pindah dari tempat duduknya di belakang ke depan, hanya untuk melihat wajah anak kecil itu. Keheranan Rudi terputus sebentar karena prasangkanya. Rudi menyangka anak itu kebetulan menghafal surat Al Hadid, atau mungkin anak itu menghafal Al Quran dari belakang.
Selesai anak kecil itu, datang yang lainnya. Walau suaranya tak keras seperti yang pertama tadi, namun suara bocah yang satu ini dapat didengar jelas oleh Rudi. Rudi terheran untuk kedua kalinya setelah mendengar anak ini melantunkan surat Al Mujadilah. Ternyata yang setelahnya juga datang dan ternyata kebanyakan dari mereka telah menghafal Al Quran lebih dari dua puluh lima juz. Rudi merasa kagum dengan anak-anak itu. Walaupun masih kecil, hafalan mereka telah melewati hafalan yang dimiliki Rudi.
Keesokan harinya, Rudi mendatangi salah satu dari anak-anak itu. Rudi ingin bertanya kepada mereka tips mengafal Al Quran. Rudi mendekati mereka yang sedang membuat halaqah Al Quran untuk memulai hizib (mengulangi hafalan secara bergantian dan berurutan). Rudi mencoba untuk ikut hizib-an dengan mereka. Saat hizib-an, Rudi terkagum-kagum karena hafalan anak-anak yang masih kecil itu sangat kuat sekali. Bahkan terkadang hafalan Rudi ditegur oleh mereka karena kurang satu huruf, dan terkadang karena salah harokat. Setelah hizib-an selesai, Rudi mencoba untuk bercakap-cakap dengan mereka dan bertanya nama. Tak lama, Rudi juga di tanya dan akhirnya mereka saling tanya jawab dan menjadi akrab. Karena sudah terlihat akrab, Rudi mencoba untuk memasukkan visi dan misinya.
"Wahai Sayyid (sebutan untuk keturunan nabi di Hadhramaut), saya boleh bertanya gak?" tanya Rudi dengan santai dan ramah.
"Boleh Rudi, kamu mau bertanya tentang apa?" jawab mereka mempersilakan.
"Sayyid ini semua sudah menghafal berapa juz?"
"Alhamdulillah kami telah menyelesaikan hafalan Al Quran tiga puluh juz," jawab mereka dengan jelas, santai dan tenang. Lambang akan kebijaksanaan.
Mendengar jawaban terakhir itu, hilanglah semua sangkaan Rudi selama ini. Ternyata, sangkaannya selama ini yang mengira hafalan mereka masih sedikit adalah sangkaan yang salah.
"Masya Allah…" kalimat yang spontan keluar dari lisan Rudi. "Kalau boleh tahu, apa tips dan trik yang Sayyid lakukan sehingga di umur yang masih dini ini sudah dapat menyelesaikan hafalan Al Quran?" Rudi lanjut bertanya.
"Sejak kecil, kami telah diajarkan untuk tidak dengki dan mengurusi urusan orang lain yang bukan urusan kami," jawaban satu orang dari mereka, dan yang lainnya menganggukkan kepala. Sebagian lagi mengatakan "Iya". Rudi mendapatkan pelajaran besar hari ini.
Esoknya Rudi tak segan-segan untuk mendatangi bocah kecil setingkat SD itu dan meminta mereka untuk menyimak hafalan Rudi. Bagi Rudi, ia sadar bahwa dirinya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan bocah-bocah yang hafal Al Quran itu.
Kedengkian hanya akan menambah kelemahan kita. Orang yang dengki pasti lambat dalam beraksi. Yap, lambat dalam beraksi. Jelas saja, karena si pendengki disibukkan dengan sifat dengkinya saja. Hanya fokus dengan kelemahan orang sehingga kelemahan dirinya tak ia sadari. Nah kedengkian itu bukan hanya bikin dosa, melainkan membuat capek juga. Capek badan juga capek otaknya. Capek yang dirasakan pendengki membuat geraknya lambat. Lambat beramal baik, lambat beribadah, lambat membantu sesama. Akhirnya, si pendengki selalu tertinggal dalam berbuat baik. Bahkan tertinggal dalam meraih ridho Tuhannya. Terlebih lagi lambat dalam berprestasi.
Dengki juga dapat menghapus dan menggelapkan cahaya yang terang di hati kita, akibatnya sulitlah si dengki menerima kebenaran, dan semakin sulitlah ia menerima pelajaran, baik pelajaran kuliah ataupun pelajaran hidup. Bagai langkah kaki di malam yang gelap, tak ada cahaya. Kegelapan itu membuat kaki tak mampu melangkah, jika melangkah pasti sesatlah akhirnya, karena ia tak tahu ke mana arah kakinya melangkah. Dan berhenti lebih baik baginya daripada melangkah ke arah yang salah. Karena melangkah ke arah yang salah hanya akan membuatnya celaka, mungkin ke jurang, atau memijak duri. Kiranya begitulah si pendengki, selangkah ia berbuat dengki, maka akan semakin kacaulah pola pikirnya.
Begitu juga bagi yang suka mengurusi urusan orang lain yang bukan kewajibannya. Saking sibuknya ia mengurusi urusan orang, sedikitpun ia tak memberi manfaat bagi orang lain. Kemampuan tetangga yang sebesar gunung membuatnya gelisah, selalu mencari cara bagaimana agar kemampuan yang sebesar gunung itu ia kecilkan layaknya sekecil semut. Tak boleh ada yang terlihat lebih hebat darinya. Jika ada, maka kegelisahan akan berlumut di keningnya. Padahal, andaikan ia beramal dengan ikhlas, pastilah ia mendapati potensi dirinya sebesar gunung itu pula, bahkan bisa lebih. Namun hanya karena melihat kemampuan orang saja, akhirnya ia lupa dengan kemampuannya sendiri. Akhirnya, tetangga telah mendapatkan apa yang ia raih, sedangkan yang sibuk tidak mendapatkan apa-apa.
Coba kita lihat bocah kecil dengan kemampuan emasnya, sebenarnya kemampuan hebat seperti bocah itu juga ada di diri kita, hanya saja terkadang sebagian orang fokus dengan urusan orang lain sehingga lupa dengan urusannya sendiri.
Other Stories
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...
Setelah Perayaan Itu Usai.
Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...