20. Afiqu
Konflik tidak pergi dengan semata-mata. Dia memang pergi dan menghilang, namun bekasnya tak hilang begitu saja. Semua mahasiswa kembali belajar ke Tarim, mereka tak melihat keadaan seperti semula. Aku yang juga saat itu kembali melanjutkan kuliah ikut merasakan bekas dari konflik.
Universitas Al Ahgaff termasuk salah satu yang merasakan efek dari konflik itu. Perbendaharaan kuliah pada saat itu mengalami kemunduran. Para donatur sedang mengalami cobaan yang besar. Wakil rektor yang saat itu mendatangi fakultas sempat menangis melihat keadaan kuliah. Ia mendatangi setiap kamar yang ada di asrama. Satu per satu kipas angin dimatikan bila di bawahnya tidak ada orang. Semua bertujuan agar tidak boros dalam memakai listrik.
Malam harinya, wakil rektor mengumpulkan semua mahasiswa di auditorium. Malam itu wajah wakil rektor tak seindah seperti biasanya. Aku dan teman-teman datang satu per satu dari asrama menuju ruang auditorium. Kulihat wajah wakil rektor hanya tertunduk menghadap ke bawah. Sekali menghadap ke atas. Namun pandangan itu terlihat kacau. Sepertinya banyak yang beliau pikirkan. Dan pikiran itu terlihat mengutak-atik cakrawala akalnya. Ustaz Abdul Aziz yang duduk di samping beliau terlihat merasakan hal yang sama. Keheningan yang mereka hadirkan membuat rasa segan kami semakin bertambah. Hingga tak satupun mahasiswa menggeser kursi ke sana kemari kecuali dengan pelan dan tenang, hingga tak terdengar suara dari gesekan kursi itu.
Perlahan ruangan auditorium telah dipenuhi mahasiswa, Ustaz Abdul Aziz membuka pertemuan itu dengan muqoddimah-nya. Semua menjadi tenang. Ruangan yang ramai terasa sepi. Hati semakin dilumuri dengan kesedihan dan kekhawatiran, terlebih pada saat itu wakil rektor menyampaikan berita dan taushiyah sambil mengeluarkan air mata.
"Nak, keadaan sekarang tak seperti dulu lagi, kita harus banyak menghemat. Jangan suka buang-buang air di kamar mandi. Begitu juga dengan listrik, bila tidak ada orang di kamar, atau semuanya sedang kuliah, harap matikan lampunya. Mari kita tingkatkan rasa prihatin kita kepada Prof. Abdullah Baharun. Sekarang ini, beliau sedang menghadapi cobaan yang sangat besar," kata wakil rektor yang saat itu bicara sangat pelan, seakan sesuatu telah menyeret kata-kata beliau, sehingga lantunan kalimatnya terasa lambat.
"Awal saya datang ke rumah beliau (rektor), hidangan mewah menyambut saya. Segala buah-buahan dihidangkan di hadapan kami. Daging yang besar juga hadir di sela-sela hidangan. Di hari kedua, hidangan sedikit berbeda. Buah yang hadir hanya tinggal dua macam. Saya menganggap ada yang berbeda, tapi saya diam saja. Di hari ketiga, tidak ada lagi daging, hanya nasi kering dan ikan seperti hidangan di dapur kuliah. Minumnya juga hanya air putih. Buah pun tak terlihat. Usai makan, beliau pergi ke dapur, lalu kembali dengan membawa dua buah pisang. Saat itu air mataku tak mampu lagi untuk kubendung. Melihat aku yang menangis, beliau terdiam dan tertunduk kaku. Keesokan harinya, aku mendapat kabar dari mahasiswa yang bernama Ridho Al Attas. Beliau berkata bahwa rektor meneleponnya di malam hari dan bertanya apakah masih ada sisa roti di dapur kuliah? Wakil rektor melanjutkan ceritanya saat bertamu ke rumah Prof. Abdullah Baharun. Wajah merah bercampur air mata terlihat di wajah wakil rektor. Tak mengira kalau orang nomor satu di universitas ini meminta sisa makan mahasiswanya di dapur.
Melihat wakil rektor menangis, kami pun tak sanggup menahan air mata. Hingga hampir semua mahasiswa di ruang itu mengeluarkan air mata. Udara yang pada saat itu mencapai musim dingin menjadi terasa hangat, rasa hangat akan simpulan air mata.
Di akhir pertemuan itu, Ustaz Abdul Aziz memberi jalan keluar, mahasiswa diminta kerelaannya untuk memberikan sumbangan seikhlasnya. Tak segan-segan dan tak menunggu lama semua mahasiswa memberikan barang-barang berharga miliknya. Sebagian ada yang memberikan smartphone miliknya, dari belakang terdengar seorang mahasiswa yang saat itu sudah menyelesaikan kuliahnya ingin menyumbang laptop miliknya, dan tak sedikit dari mereka yang memberikan uang dengan jumlah yang besar. Bukan hanya merasa diketuk, bahkan pintu hati kami pada saat itu merasa di dobrak dengan kerasnya. Uluran tangan tak henti-hentinya hadir di majelis itu. Aku menyangka pada saat itu semua orang yang hadir mengangkat tangannya ke atas untuk memberi sumbangan. Sumbangan yang sebenarnya adalah suatu kewajiban menurutku.
Wakil rektor memberi inisiatif untuk membentuk suatu organisasi yang bernama AFIQU, singkatan dari, Al Ahgaff Fi Qulubina, yang berarti Universitas Al Ahgaff di Hati Kita. semua mahasiswa menerima usulan bahwa setiap bulan mahasiswa diminta untuk menyumbang seribu riyal Yaman. Dana yang dikumpulkan itu nantinya akan dibuat untuk membayar uang listrik, air dan sebagian lain kebutuhan asrama.
Semakin lama ada ide yang menyantol di pikiran kami untuk mengembangkan apa yang selama ini sudah kami berikan. Rasanya, jika uang yang terkumpul hanya dialokasikan untuk bayar listrik dan keperluan asrama, maka uang akan masuk dan keluar begitu saja, mungkin ada baiknya jika uang itu diputar lagi hingga nantinya menghasilkan uang yang lebih banyak.
Ketua organisasi Indonesia saat itu menghadap ke dekan fakultas syariah untuk merealisasikan usulan ini, namun usulan itu ditolak mentah-mentah oleh dekan. "Tugas kalian di sini bukan untuk mencari duit, walaupun duit itu akan diberikan ke pihak kampus, tugas kalian hanyalah belajar dan menuntut ilmu. Saya takut nanti tugas awal kalian jadi terbengkalai hanya karena jualan," jawab dekan.
Pulang dengan rasa kecewa, ketua mahasiswa Indonesia menyampaikan kata-kata yang disampaikan oleh dekan. Banyak mahasiswa yang kecewa dengan jawaban dekan itu. "Apakah sudah kamu bilang bahwa yang akan memasak dan menjual adalah mahasiswa yang istinhaj (mengulang setahun)?" tanya temanku kepada ketua mahasiswa.
"Belum sih, tapi kelihatannya keputusan beliau itu sudah final, dan gak bisa diganggu gugat lagi," jawab ketua mahasiswa yang pada saat itu duduk seperti kesal dan meminum jus buah.
"Man kamu tau gak, kita jadikan mahasiswa yang istinhaj bekerja dan berjualan di warung yang kita buat nanti, sehingga gak ada yang terganggu atau berpotensi mengganggu kuliah, karena anak yang istinhaj tidak memiliki kegiatan. Kita bisa memanfaatkan mereka untuk menjaga warung AFIQU nantinya," jawab Samir, mahasiswa Indonesia yang aktif di keorganisasian.
"Kamu bilang juga Man ke dekan, pastinya nanti banyak manfaat dari warung AFIQU ini, kalau uangnya langsung kita bayarkan, maka uangnya akan cepat habis. Tapi kalau kita buat warung, insya Allah tidak ada lagi yang berjualan di depan pintu asrama yang menyebabkan jalan di depan pintu menjadi sempit. Sehingga jalan di asrama kita ini menjadi bersih dan lapang," sambut Ardi yang saat duduk beralaskan sandal di hadapan Rahman, Samir dan mahasiswa lainnya.
"Iya bener tuh, saya setuju," sambut Ridwan. "Lagian, kalau kita buat warung, nantinya semua mahasiswa akan berjualan di sana. Nah kalau udah gitu, nantinya gak ada lagi mahasiswa yang rugi, selama ini kan banyak yang rugi. Bakwan yang jikalau habis seharusnya menghasilkan 1800 riyal, eh malah saya lihat duit yang ada di situ hanya 1.200 riyal, kan saya jadi rugi. Tapi kalau semua diantar ke warung, insya Allah gak ada yang rugi, bener gak Mun?" lanjut Ridwan.
"Iya, aku setuju karo pendapat koyo koe iku, Wan," jawab Makmun.
"Setuju. Ente bayangin aja nih ya, kalau ratusan mahasiswa disini makannya ke luar kampus, makan sampai ke restoran yang jauh di Hawi sana, pasti duitnya ya masuk ke restoran itu, enggak ke pihak kampus kita. Tapi coba kalau mahasiswa yang sebanyak ini makan hanya di warung sini, pasti duitnya akan kembali ke bendahara kampus," tambah Sardiman yang baru pulang dari pengajian dan ikut kumpul.
Banyaknya pendapat dan dorongan teman-temannya membuat Rahman berpikir dan memutar-mutar memori otaknya. Duduk menghadap utara, sekejap ia putar ke barat. Berselang dua menit ia putar lagi ke arah selatan. Rahman mulai memikirkan pendapat temannya. Semua ada benarnya, namun pendapat dekan juga tidak ada salahnya.
Lukman yang sejak awal diam dan hanya menyimak, kali ini malah semakin bingung melihat ketua mahasiswa itu. Tampaknya perputaran badannya seirama dengan perputaran otaknya yang mempertimbangkan pendapat dari dua kubu itu. Namun Lukman tetap memperhatikan dengan tenang. Setelah mendapatkan ide, ide itu ia tahan. Ia menunggu, mungkin ada ide yang lebih cemerlang dari Rahman setelah bolak balik badan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Apalagi peci Rahman sempat ia buka. Mungkin kepalanya sudah terlalu panas memikirkan kedua pendapat yang berlawanan itu. Mungkin saja datang ide yang cemerlang dari kasak kusuknya itu. Berselang sepuluh menit, teman-teman yang lain masih menikmati jajan yang ada di tangan mereka, begitu juga jus buah yang disediakan Reno dari tadi. Namun Rahman terlihat masih bingung.
Akhirnya, Lukman memberi usulan dari idenya saat semuanya terdiam, "Udah Man, gak usah bingung gitu. Catat aja pendapat yang tadi dikeluarkan teman-teman kita ini, setelah itu bawa ke hadapan dekan, agar nanti kamu enggak gugup di hadapan beliau dan bisa bicara dengan tenang dan rapi. Kalau kamu terlihat percaya diri, insya Allah dekan mau menerima. Dan jangan lupa buat perbandingan ke beliau. Misalkan kalau hanya disimpan, uang hanya tercapai segini ustaz. Tapi kalau kita buat kantin kecil, insya Allah bisa sampai lima kali lipat. Dan insya Allah gak ada lagi kemacetan di jalan depan pintu asrama, seperti selama ini. Jangan lupa Man kamu bilang gitu, insya Allah beliau setuju".
Tampaknya Rahman mulai tersadar dengan saran Lukman barusan. Dengan kepala yang penuh akan pikiran, Rahman menatap wajah Lukman. Lukman hanya bisa mengangkat alis matanya, lambang dari pengukuhan sarannya. Setelah beberapa detik bertatapan, akhirnya Rahman menunjukkan senyum optimisnya ke hadapan Lukman, secara otomatis Lukman membalas dengan senyum optimis juga.
"Oke, insya Allah besok saya akan menghadap dekan lagi. Reno, tulis apa saja pendapat teman-teman tadi!" kata Rahman dengan semangatnya.
"Loh kok awakku maneh Man… Man, lah inyong wes nggawekke jus lho. Mosok di kongkon nulis maneh" jawab reno menolak suruhan rahman dengan logat Jawanya.
"Ya udah sini, biar aku aja yang nulis. Monggo, monggo… apa aja tadi yang mau disampaikan?" kata Sutrisno yang kelihatannya tak memberikan suara dari awal duduk.
Keesokan harinya, Rahman bersiap untuk menemui dekan. Sejak awal ia telah menunggu bel istirahat yang pertama untuk menyampaikan semua pendapat temannya yang kemarin. Bel pun berbunyi. Rahman mengangkat kakinya yang terlipat duduk bersila saat menunggu. Rahman langsung masuk ke ruang dekan, namun pada saat itu bapak dekan sedang sibuk dan berkata, "Ya Rahman, nanti kamu terganggu. Kamu pikirkan saja ya. Tidak ada kerjaan saja kalian banyak yang terganggu pelajarannya, apalagi kalau kalian punya kerjaan, pasti yang tidak lulus ujian nantinya lebih banyak lagi," dengan segera dekan meminta izin dan maaf kepada Rahman. Dekan tidak bisa mendengar kata-katanya yang sudah ia catat karena kesibukannya yang menyita waktu.
Esoknya lagi, Rahman datang menjumpai dekan. Kali ini dekan sedang tidak sibuk, sehingga dengan leluasa dan serapi mungkin Rahman mengungkapkan semua pendapat temannya di hadapan dekan.
"Saya dengar, sebagian mahasiswa yang istinhaj mengulangi pelajaran. Apakah tidak mengganggu?" tanya dekan kepada Rahman.
"Tidak Ustaz, karena yang tidak lulus hanya satu mata kuliah atau dua, insya Allah gak akan mengganggu Ustaz. Yang menjaga di siang hari bisa muroja'ah (mengulangi pelajaran) di malam hari, dan yang menjaga di malam hari sebaliknya Ustaz," jawab Rahman dengan wajah tersenyum.
"Kamu yakin kalau bisa laris dan menuai untung yang banyak?" tanya dekan lagi dengan penasaran.
"Kenapa enggak Ustaz? Bahkan selama ini teman-teman yang berjualan laris terus, bahkan sering habis. Insya Allah laris, Ustaz. Karena semua mahasiswa akan datang ke kantin jika lapar. Apalagi kebanyakan menunya adalah masakan Indonesia," jawab Rahman meyakinkan.
"Lalu, kalian mau buat tempatnya di mana?" tanya dekan lagi.
"Di bawah tabung air itu kan kosong, Ustaz, selama ini hanya digunakan untuk menyimpan kayu-kayu bekas kasur. Nah kami akan buat kantinnya di situ, Dan kayu yang ada akan kami pindahkan ke tempat yang lain," kelihatannya Rahman tak goyah dengan banyaknya pertanyaan yang diutarakan dekan fakultas syariah itu.
"Baiklah. Bismillah. Tapi dengan perjanjian, jika sudah terlihat bahwa kalian terganggu dengan aktivitas kantin ini, saya akan perintahkan penjaga asrama untuk menghentikannya ya."
"Iya Ustaz, saya janji."
Teman-teman Rahman yang dari tadi menunggu di luar tak sabar menunggu jawabannya, "Gimana, gimana?" senyuman Rahman sudah cukup untuk menjawab pertanyaan mereka.
Akhirnya, kantin yang selama ini mereka impikan untuk membantu pihak kampus terwujud juga.
Walau tak mampu menutupi semua kebutuhan kampus, tapi setidaknya hasil dari kantin AFIQU dapat menutupi sebagian kebutuhan kampus seperti listrik, perbaikan pipa air dan segala kebutuhan asrama. Apalagi semakin lama keadaan kampus semakin membaik sehingga hasil dari kantin bisa disimpan, dan akan digunakan untuk keperluan yang akan datang.
Bukan masalah besar atau kecil yang kita usahakan. Biar kecil yang penting langsung action. Memang semua orang ingin melakukan hal yang besar. Namun, jangan lupa untuk memulainya dari sesuatu yang kecil. Walaupun awalnya tidak terlalu terlihat pengaruh yang ditimbulkannya, tapi setidaknya telah memberi bekas dan bermanfaat. Sesuatu yang kecil tidak bisa dipandang sebelah mata. Yang kecil semakin lama akan membesar dan memberi manfaat yang luar biasa. Hal yang kecil akan memberi semangat dalam usaha kita. Hasil dari hal yang kecil akan memberi kebanggaan di diri kita, apalagi untuk membantu orang. Bila hasilnya sudah terlihat, kita langsung bilang "Inilah hasil kerja kita", selanjutnya, hasil yang sedikit itu dapat memotivasi kita untuk menghasilkan kebaikan berikutnya.
Awalnya sih ingin belajar di bangku kuliah. Tak mengapa jika bangku kehidupan mengajarkan kita untuk belajar dari pengalaman dan semua kejadian. Satu sama lain dari pelajaran itu akan melengkapi yang lainnya. Hingga kita tak hanya dapat ilmu teori, melainkan ilmu yang berupa praktik juga melengkapi diri kita. Terkadang bukan hanya ilmu teori yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan dan kesuksesan hidup, melainkan ilmu yang didapat dari pengalaman. Apalagi kalau pengalaman pahit yang mengajari, seperti cerita di atas. Pasti lebih baik.
Pelajaran dari kehidupan akan menguatkan mental kita. memperbaiki karakter kita, juga memperbaiki budi pekerti kita. Pelajaran yang berupa teori hanya dapat menembus memori kita, namun ilmu dari kehidupan mampu menembus hingga sampai ke dasar hati sanubari kita. Maka tak jarang bila si susah lebih hebat dan lebih kuat dibandingkan si kaya. Si susah akan kuat dan teguh menerima cobaan, karena awalnya si susah telah sering merasakan hal yang sama. Berbeda dengan dia, si kaya dan manja yang apabila berkehendak, keinginan langsung hadir di hadapannya. Bila ditimpa musibah, mengerutlah wajahnya. Semakin besarlah kelu kesahnya, dan semakin besarlah prasangkanya bahwa itu sesuatu yang sial. Maka lebih rendahlah nilai hidupnya dibandingkan dengan dia si susah yang tetap tegar menerima apapun pemberian Tuhannya.
Sistem perkuliahan bisa saja kita anggap sebagai hal yang pasti akan berjalan mulus tanpa kendala. Mahasiswa bisa saja menyangka bahwa cobaan terbesar di kuliah terletak pada dirinya. Nah sekarang, bagaimana kalau cobaan itu berada pada pihak kampus yang menjalankan sistem itu. Saya pernah bermimpi kalau beasiswa yang didapat saat kuliah di Timur Tengah akan semudah dan semulus beasiswa yang didapat mahasiswa dari Eropa, apalagi seperti cerita dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa. Sungguh luar biasa menurut saya. Belakangan, saya berpikir bahwa setiap orang akan mendapatkan menu dan porsinya masing-masing dalam hidangan hidup yang berupa pelajaran ini. Karena penghidangnya lebih tahu kita akan dijadikan pribadi yang bagaimana. Di masa yang akan datang kita akan dijadikan apa. dan jalan hidup seperti apa yang akan kita jalani nantinya. Maka kita tak bisa memilih menu dan porsi yang kita inginkan. Maka persiapkan diri kita, ambil porsi kita masing-masing. Ambil pelajaran dan hikmah yang ada dari setiap kejadian. Dan ingat, jangan ambil porsi orang lain ya! ntar dia marah. hehe
Cinta terhadap sesuatu dapat membuat kita ikhlas berbuat dan berusaha untuk membantunya, agar kiranya sesuatu yang kita sukai itu dapat terus bertahan dan tetap ada. Alangkah indahnya jika usaha kita, pelajaran hidup kita, pengalaman kita terpatri bukan hanya demi kemashlahatan hidup sendiri, melainkan untuk orang yang berada di sekitar kita. Insya Allah, di masa yang akan datang, kita akan terbiasa membantu orang. Atau setidaknya apa yang kita perbuat tidak merugikan orang lain, malah menambah manfaat untuk orang lain. Dengan cara menyatukan pikiran dengan orang lain, kita dapat menimba ilmu darinya. "Oh ternyata yang baik itu begini ya. Oh ternyata dalam masalah ini caranya harus begini". Kita dapat mencontoh pola pikir yang baik dari teman-teman kita. Dan begitu juga, mungkin mereka akan mengambil suatu titik temu antara cara berpikir kita dan cara berpikir mereka. Nah di sinilah kita dapat menambah wawasan. Baik dari pengalaman teman, juga dari keahlian masing-masing teman kita.
Ada yang harus kita ingat. Semua orang memiliki kelebihan. Maka jangan hanya pandang kekurangannya. Tapi pandang kelebihannya, dan buat kelebihan yang ia miliki menjadi besar, dan kekurangannya menjadi kecil, hingga yang terlihat di mata kita hanyalah kelebihannya. Jika terlihat kekurangannya ya tinggal dimaafkan saja. Gitu aja kok repot. Yang penting, pandang kebaikan dari orang lain agar orang lain juga memandang kebaikan kita. Jadikan kebaikan dan kelebihannya sebagai contoh agar kita dapat mengambil manfaat darinya. Dan cobalah memberi manfaat agar orang lain juga dapat menjadikan kita contoh. Karena sebaik-baik orang adalah yang memberikan manfaat untuk yang lainnya.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...