21. Husnudz-dzon
Ramadhan menjadi bulan yang sepi bagi mahasiswa, karena di bulan itu semua mahasiswa libur. Untuk mengisi kekosongan, sebagian mahasiswa ikut mengaji ke sebagian ulama yang ada di Kota Tarim. Saat itu, aku ikut pengajian dengan kakak kelas yang sudah menyelesaikan kuliahnya. Walau menjadi pelajar termuda, aku tak malu dan tidak segan-segan untuk ikut.
Bila waktu salat asar telah dekat, semua mahasiswa pergi ke Masjid Muhdhor, masjid yang kubahnya menjadi lambang Kota Tarim ini menjadi tempat bertemu antara mahasiswa dengan Habib Abu Bakar bin Smith. Di masjid ini semua mahasiswa salat asar berjamaah dan diimami oleh Habib Abu Bakar bin Smith. Setelah salat asar, semua mahasiswa mendekat ke hadapan Habib Abu Bakar, pengajian pun dimulai.
Pengajian fiqih itu terus berlanjut. Awalnya, pengajian hanya seputar pembahasan hukum fiqih, namun kali ini pembahasan jadi melebar ke pembahasan tasawuf.
"Ya Habib, saya pernah dengar bahwa hanya seorang wali lah yang dapat mengenal ke walian seseorang (kemampuan melihat kewalian seseorang hanya didapat pada orang yang mempunyai kewalian juga. Dan kemampuan itu diberikan Allah kepada hamba-Nya yang dekat kepada-Nya), apakah benar itu Bib?" tanya seorang pelajar kepada habib.
"Iya itu benar," jawab habib.
"Lalu bagi kami yang bukan wali ini bagaimana cara kami untuk mengenal kewalian seseorang, Bib?" pelajar itu bertanya lagi.
"Kalian bisa mengetahuinya dengan husnudz-dzon" jawab habib.
Husnudz-dzon berawal dari anggapan kita. Anggapan apakah manfaat husnu-dzon kembali ke si penyangka atau kembali ke seseorang yang disangka baik. Jika kita anggap manfaatnya kembali ke orang lain maka agak sulit bagi kita untuk menumbuhkan husnudz-dzon. Tapi, bila kita menganggap manfaatnya kembali ke si penyangka, maka mudahlah bagi kita untuk menumbuhkan pikiran husnudz-dzon itu.
Lalu bagaimana sebenarnya, apakah husnudz dzon kembali ke orangnya atau kembali ke orang lain yang dianggap baik? Sebenarnya, husnudz-dzon atau yang sering kita sebut positive thinking, semua manfaatnya kembali ke kita yang berpikir baik. Pikiran yang baik akan kembali baik kepada diri sendiri, walaupun seseorang yang kita anggap baik mendapatkan anggapan baik, tapi sebenarnya kitalah yang mendapatkan manfaat paling besar. Orang yang berpikiran baik dan selalu berprasangka baik akan mendapat balasan yang baik. Karena semua yang kita pikirkan itulah yang akan diberikan Allah kepada kita. Kita berprasangka baik kepada Allah, Allah akan memberikan kebaikan bagi kita. kita berprasangka buruk, begitu juga Allah akan memberikan apa yang kita pikirkan.
Saya teringat dengan seorang ulama di tanah Hadhramaut saat saya dan teman berziarah ke rumah beliau, saat itu salah satu teman saya meminta wasiat. Kemudian dengan segera beliau menjawab, “Aku berwasiat kepada kalian untuk berprasangka baik terhadap Allah, juga terhadap hamba Allah”. Di lain waktu saat libur, saya kembali bertamu ke rumah ulama yang ada di Kota Tarim. Saat itu, salah satu nasihat yang beliau berikan kepada kami adalah selalu jaga diri dan selalu memperbaiki prasangka terhadap Allah dan juga hamba Allah. sering sekali nasihat tentang berprasangka baik itu disuguhkan kepada kami. Lama kelamaan, alur kehidupan dan cara berpikir mereka mengajarkanku bahwa husnudz-dzon adalah warisan turun temurun penduduk Hadhramaut dari nenek moyang mereka dahulu.
Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman:
أًنا عند ظن عبدي به (رواه أحمد في مسنده، حديث رقم
8163)
Artinya : Aku menjadi seperti apa yang disangka hamba-Ku (hadits diriwayatkan Imam Ahmad dalam kitab musnadnya, Hadits nomor 8136)
Allah akan tetap berada di sisi kita. Allah dekat dengan kita. Jika pemberian yang datang kita anggap baik, maka Allah akan menjadikannya baik untuk kita. Jika pemberian Allah kita anggap buruk, maka buruklah yang akan kita rasakan. semuanya akan kembali kepada kita. Sebenarnya, kehendak Allah semuanya baik. Tidak ada yang tidak baik. Jadi, buatlah pikiran kita seirama dengan kehendak Allah agar kita mendapatkan kebaikan yang kita inginkan, dan mendapatkan kebaikan yang bukan keinginan kita tapi keinginan Allah.
Allah tidak hanya memberikan kebaikan kepada kita secara langsung. Terkadang, Allah menitipkan kebaikan dan hikmahnya melalui orang lain. Nah ini yang lebih sulit lagi nih. Kenapa lebih sulit? Karena kita dituntut memperbaiki sangkaan kita terhadap ciptaan Allah yang juga memiliki kekurangan. Terlebih yang suka berbuat onar atau perangainya kurang baik. Lalu bagaimana caranya? Mulailah dengan kesadaran dan bersikap apa adanya. Karena orang yang menyakiti hati kita, sering berkata apa adanya juga. “Kamu gini, kamu gitu, eh kamu kok lambat banget sih, eh jadi orang tu jangan suka ngomongin orang". Segala macam kalimat yang tidak enak ia utarakan ke kita. Sadar gak kalau dia berkata jujur? Iya, dia sedang berkata jujur. Kita hanya tinggal mengambil hikmah dari kalimat yang ia lontarkan ke kita. "Oh berarti, apa yang ia katakan tentang sifat saya, itulah yang harus saya perbaiki dari diri saya", begitulah seharusnya.
Allah mempertemukan kita dengan orang yang baik perangainya. Terkadang, Allah juga mempertemukan kita dengan seseorang yang perangainya kurang baik. Apakah keduanya beda? Tentu saja tidak. Semuanya sama-sama rancangan terbaik dari yang Maha Kuasa. Orang yang baik hadir sebagai contoh untuk kita. Orang yang kurang baik hadir memberi peluang bagi kita untuk saling menasihati. Dia menasihati kita untuk menyadarkan kita akan kekurangan yang ada di diri kita, walaupun dengan cara yang kurang menyenangkan. Sedangkan kita menasihati ia dengan cara mengajak untuk berbuat baik. Intinya, semua orang sudah memiliki waktu dan tempat untuk menjadi obat dan penasihat di kehidupan kita.
Jadi, perbaikilah mindset kita. jangan terlalu cepat memandang buruk perbuatan yang tidak sesuai dengan keinginan. Kita mulai dari pikiran kita sendiri. Namanya juga dzon. Dzon itu kan perkara yang belum pasti, masih sangkaan. Makanya jangan langsung menilai orang lain hanya dari luarnya saja, karena sering sekali isi berbeda dengan kulit.
Yuk kita simak ayat Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kaum lelaki merendahkan kaum yang lainnya. Mungkin yang dianggap rendah itu bisa jadi lebih baik dari mereka. Dan jangan kaum wanita merendahkan kaum wanita lainnya. Mungkin yang dianggap rendah itu bisa jadi lebih baik dari mereka.
Inilah jurus ampuh dari Allah untuk menyelamatkan kita agar tidak mudah keliru dalam berpikir dan menyangka. Pikiran kita terbatas hanya pada segala yang kita lihat, sedangkan yang tidak kita lihat lebih banyak lagi. Dari itu, Dr. Abdullah Alydrus pernah berkata, “Perumpamaan cara pandang orang yang saleh pada zaman dahulu adalah, apabila aku melihat seseorang berbuat dzolim di hadapanku, aku tetap menganggap dia sebagai kekasih Allah. Karena, aku melihatnya berbuat dzolim hanya lima menit dalam pandangan mata. Sedangkan Allah SWT melihatnya selama dua puluh empat jam. Jadi, belum pantas aku menganggapnya sebagai orang fasiq.” Jadi, jangan menganggap apa yang kita lihat itu sudah final”
Orang yang memperbaiki sangkaannya tidak akan berdosa. Walaupun sebenarnya sangkaan yang belum ia ketahui adalah suatu kejahatan. Berbeda dengan orang yang berprasangka buruk, apalagi kalau ia ceritakan. Walau bagaimanapun kejadiannya, ia tetap mendapat dosa, karena jika sangkaannya adalah memang benar kejahatan, ia terkena dosa ghibah. Jika tidak, maka setidaknya ia terkena dosa fitnah.
Husnudz-dzon menambah semangat dalam hidup kita, karena tabiat kita selalu senang dengan semua hal yang baik. Segala yang baik pasti memiliki manfaat, dan manfaat itulah yang mengundang semangat dalam diri kita.
Husnudz-dzon juga membuat kita kuat. Yap, bener kuat, bukan lemah. Karena orang yang selalu ber-husnudz dzon selalu menganggap ada hikmah di balik semua kejadian.
Orang yang berprasangka baik menganggap orang di sekitarnya berbuat baik, sehingga perbuatan baiklah yang akan diberikannya, menjadi banyaklah temannya. Orang yang berprasangka buruk menganggap orang lain seperti dirinya, maka semakin buruklah cara bergaulnya, hingga sedikitlah temannya.
Bagi orang yang selalu berpikir baik, tak ada waktu terlewatkan kecuali kebaikan juga akan berlalu bersamanya. Kalau sudah begini, kaki akan melangkah ke tempat yang baik. Lisan pun akan menuturkan kalimat yang baik. Pandangan juga tertuju kepada yang baik-baik. Kuping pun mendengar yang baik. Maka tempat kembalinya pun di tempat yang baik (surga).
Semua yang saya jelaskan ini ada pengecualiannya, seperti menjadi saksi di hadapan hakim. Atau memberikan bukti atas tindak kriminal dll. Karena konteksnya beda dalam masalah ini.
Other Stories
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...