5. Banyu Biru
“Penerimaan yang ikhlas, kasih sayang yang tulus yang bisa menyempurnakan kebahagiaan yang tak sepenuhnya sempurna.”
Kidung setiap hari tidak hanya membantu bapaknya, tapi dia berkali-kali mendekati rumah tingkat kayu penasaran dengan sosok laki-laki sebaya yang mencuri hatinya.
Kidung malu mengakui kalau sejak melihat anak lelaki itu jadi teringat terus menjelang tidurnya dan tentu saja dirinya tak akan mau bercerita pada bapaknya. Malu!
Hampir setiap hari anak laki-laki itu mengamuk dan berteriak-teriak, tapi ketika senja dia akan berdiri di pinggir jendela melihat matahari tenggelam seperti yang Kidung lakukan juga.
Kidung mencoba untuk melambaikan tangannya, tapi anak lelaki itu hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Kidung tak bosan setiap sore dia melambaikan tangannya saat anak laki-laki itu dipinggir jendela, berharap sekedar tersenyum atau membalas lambaiannya tapi sepertinya anak lak-laki itu diam saja.
Sudah hampir dua minggu Kidung menjadi pengintip dan selalu melambaikan tangannya bila senja anak laki-laki yang ternyata kata pak sopirnya bernama Banyu Biru.
Mang Dawi cukup ramah walau juga tak banyak bicara, tapi saat Kidung iseng membawa kopi di termos selain untuk bapaknya, dia juga berikan pada Mang Dawi yang tiba-tiba mengecek pekerjaan petani lalu nimbrung makan siang rantangan Kidung.
Kesempatan baik ini tak di sia-siakan Kidung untuk bertanya siapa nama putra Tuan Karmui yang tidak pernah keluar rumah.
Awal memang Mang dawi sempat kaget dengan pertanyaan Kidung, tapi menatap bocah berambut agak gimbal karena sepertinya malas menyisir dan tatapan matanya yang bening Mang Dawi sedikit bercerita memberikan bocoran yang mungkin rahasia keluarga Pak Karmui.
“Namanya Banyu Biru Nduk, putra satu-satunya Pak Karmui tapi kata dokter yang di kota nih, Mas Banyu itu menderita sakit autis. Bapak juga kurang tahu hanya saja ya itu Mas Banyu dari kecil gak mau bertatapan mata orang, kalau ngomong teriak-teriak gak jelas, selalu marah-marah membenturkan kepalanya sendiri ke dinding bahkan waktu lalu sempat tidak mau memakai baju jadi ya sudah dikurung saja sama Pak Karmui,” jelas Mang Dawi.
“Kasihan Mang ....” Kata Kidung lagi-lagi terbayang wajah Banyu yang begitu menikmati saat matahari tenggelam, apa yanga ada dalam benak Banyu membuat Kidung ingin tahu jauh akan Banyu.
***
Lagi-lagi Kidung mengintip dari balik jendela depan karena terdengar suara gaduh, dan kali ini ternyata tampak Banyu yang tengah mengamuk, sementara mobil Jeep tak ada sepertinya Pak Karmui tengah pergi dengan disopiri Mang Dawi.
Banyu menjambak ibunya sementara ada bibi yang tengah mencoba melerai pun kesulitan, spontan entah dorongan apa yang membuat Kidung masuk dan berteriak memanggil,”Banyu jangaaan!” Saat itu Banyu akan memukul ibunya saat satu tangannya menjambak dan satu tangan mendapatkan piala yang akan dipukulkan.”
Ketika Kidung berteriak ternyata piala dijatuhkan dan Banyu berhenti dari aksi marahnya, sekejap memandang Kidung lalu mendekati Kidung menatapnya dalam. Tangannya memegang wajah Kidung dan mengusapnya. Kidung awal agak takut juga, tapi coba ditahan perasaan takut, sepertinya kalau dia menunjukkan rasa takut atau kaget yang ada akan membuat Banyu marah lagi. Maka Kidung memilih diam dan menunggu reaksi Banyu selanjutnya.
Banyu menarik paksa tangan Kidung dan mengajak ke kamarnya di atas, Ibu Karmui sudah takut saja Kidung akan dilukai oleh putranya segera mengikuti dari belakang ke kamar Banyu. Ternyata Banyu hanya menunjukkan pada Kidung ke pinggir jendela saat matahari yang tengah tenggelam.
“Hai kamu tahu ternyata aku dua minggu ini setiap sore menyapa kamu dari bawah ya, Banyu aku juga suka melihat senja, saat matahari tenggelam dan tiba-tiba gelap hadir menggantikan siang. Kita sama penyuka senja ya ....” kata Kidung mengangguk-anggukan kepala dan Banyu tak terlalu menghiraukan Kidung, tatapannya tak mau lepas dari senja sambil menggengam tangan Kidung kencang. Ada degup di hati Kidung saat Banyu menggengam erat tangannya.
Bu Karmui tertegun, selama ini Banyu tak pernah menunjukkan sisi kelembutan tapi sebaliknya amarah yang tak terkontrol, ternyata putranya yang dianggap tak peduli memiliki perhatian juga, bahkan dirinya tak pernah tahu sejak kapan Banyu mengenal Kidung? Hanya karena senjakah mereka menjadi kenal satu sama lain.
Bu Karmui meneteskan air mata yang tak bisa dideskripsikan apakah bahagia ataukah sedih? Yang jelas selama ini dirinya dan suaminya sengaja menyembuknyikan putra mereka karena merasa malu bahkan dirinya sebagai ibu belum sepenuhnya bisa menerima kalau putra satu-satunya adalah penderita sakit yang dianggap penyakit kutukan keluarga dan tak ada obatnya.
Banyu Biru sebelas sepuluh tahun lalu saat berumur dua tahu didiagnosa dokter sebagai anak autis dan semenjak itu dunia tak lagi indah.
Karmui memutuskan membeli aset Baskoro sahabatnya yang ingin menjual perkebunan vanilinya karena dirinya pindah ke Suriname.
Demi menyembunyikan Banyu Biru dari dunia luar, mencari kedamaian dari pandangan tetangga, teman-teman sejawat, dan keluarga di Jakarta di sinilah mereka sekarang, kampung Bageng Pati.
Other Stories
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...