6. Senja 2671
“Aku janji akan kembali dan kita akan menghabiskan senja bersama ....”
Sejak senja itu, sepertinya Banyu Biru menerima sebagai temannya. Kidung tak lagi mengintip-ngintip untuk tahu Banyu Biru karena Pak dan Bu Karmui memperbolehkan Kidung masuk dan berteman dengan Banyu Biru.
Dampak kehadiran Kidung yang bisa menjadi teman buat Banyu Biru membawa dampak positif buat putranya.
Awalnya mereka banyak bermain di dalam rumah, pelan-pelan Kidung mengajak bermain di teras, taman di depan teras, dan akhirnya bisa berkeliling kebun vanili. Banyu tak pernah lupa ketika senja pasti mengajak Kidung menatap tenggelamnya matahari.
Banyu juga mau diajak berlarian, bermain air di kali, menanam vanili walau suara yang keluar dari mulutnya hanya beberapa kata saja. Tapi membuat Pak Karmui semakin sayang terhadap Kidung yang membawa perubahan pada diri Banyu juga menyadarkan kesalahn dirinya yang malah menyembunyikan putranya yang setampan Arjuna dalam tokoh wayang tapi sangat pendiam dengan kekurangannya.
Bisa jadi Banyu memang memiliki dunia sendiri waktu lalu dan dunianya mulai pecah sejak kehadiran Kidung. Banyu tak sibuk dengan dunia sendiri tapi mau berbagi dengan Kidung. Marah-marah, ngamuk-ngamuk membenturkan kepala seiring waktu jelang dewasa Banyu dan Kidung mulai hilang. Hampir tak pernah Banyu marah-marah tanpa kontrol.
Waktu yang berputar begitu cepat Pak Karmui sadar Kidung pasti sebentar lagi akan meninggalkan Banyu karena Kidung anak yang cerdas. Bapaknya pun ingin putrinya tidak menjadi petani vanili seperti dirinya, dirinya ingin Kidung menjadi sarjana atau apalah wanita karir yang bekerja mandiri.
“Banyu kalau aku keterima dapat beasiswa di Jakarta kamu keberatan enggak?” tanya Kidung yang sudah berubah menjadi remaja berwajah manis, walau rambutnya masih saja awut-awutan rada gimbal.
Kidung tahu pasti Banyu tak akan bisa menjawab panjang lebar seperti harapannya bertahun-tahun agar Banyu lebih banyak kosa kata yang keluar dari bibirnya karena dirinya sudah mengajari setiap hari ngobrol dan berbicara. Banyu akan ngomong sepatah dua kata jika perlu saja.
Wajah Banyu semakin tampan saja dan Kidung tak bisa membohongi hatinya, dengan segala keterbatasan Banyu yang tak bisa sekolah seperti dirinya, karena bagaimana pun Pak Karmui tak mengizinkan Banyu keluar dari perkebunan untuk sekolah bersama Kidung.
Banyu dipanggilkan guru belajar privat yang datang ke rumah dan Kidung sambil dirinya belajar kembali menemani Banyu yang sepertinya tak paham sepenuhnya apa yang diajarkan guru privatnya, yang ada sebaliknya jadi Kidung yang rajin bertanya mumpung ada guru privat yang bisa menerangkan semua pelajaran yang sulit tapi tak terjawab di sekolah negerinya dengan fasilitas seadanya.
Bahkan dari guru privat Banyu dari SD sampai SMA itu yang membuat Kidung tahu informasi penerimaan kuliah jalur beasiswa. Kidung tak mau melepas kesempatan itu, dirinya mendaftar perguruan tinggi negeri yang ada di Jakarta.
Pak Karmui diam-diam membujuk pada Pak Sugi yang masih bekerja pada dirinya dan tetap rajin mengurus perkebunannya agar Kidung tetap ada di perkebunan, kalau pun mau kuliah yang dekat-dekat saja. Mereka khawatir Banyu akan kehilangan Kidung. Tapi Pak Sugi tak bisa juga menahan keinginan Kidung yang ternyata telah semakin dewasa dalam berpikir.
“Tadinya saya kira Kidung tak akan pernah bisa meninggalkan perkebunan ini, saya tahu persis kesukaan dia bermain di sini dan juga sayangnya terhadap Mas Banyu,” terang Pak Sugi pada Pak Karmui.
“Iya aku ingin Kidung di sini juga Sugi, biarlah biaya kuliahnya aku yang tanggung asalkan kuliah swasta deket-dekat sini saja. Banyak juga kampus swasta yang bagus-bagus,” terang Pak Karmui berharap Kidung tak meninggalkan putranya.
“Betul Pak Karmui, saya juga sebenarnya tak mau sendirian di rumah karena Kidung kan satu-satunya harta yang saya miliki,” terang Pak Sugiharto.
“Tapi Kidung sudah berubah dan saya tahu betul watak Kidung apabila sudah berkeinginan maka akan dia kejar,” belum Pak Sugi selesai bicara, Pak Karmui melanjutkan,”Termasuk keinginan kuliah lewat besiswa ini pasti Kidung sudah sangat mempersiapkan ya Gi?” ada nada sedih di kalimat Pak Karmui.
“Iya Pak, saya sebagai bapaknya juga tak bisa mencegah kemauannya, hanya saja perasaan saya mengatakan kalau Kidung sejauh pergi kemana pun akan kembali ke sini,” kata Pak Sugiharto menerawang.
Pak Karmui mengatupkan mulutnya erat dan dahinya berkerut, sepertinya pikiran Pak Karmui pun sudah tak berniat memaksakan kehendaknya. Kidung memang anak cerdas dan pintar, dia tidak seharusnya ada di perkebunan vanili ini dan hanya berteman dengan Banyu Biru yang autis dan tak memberikan efek bermanfaat buat Kidung.
“Ah andai saja Banyu Biru putraku normal, pasti dia tak akan mau disalip begitu saja oleh Kidung dalam hal pelajaran,” laras batin Pak Karmui.
***
Dan waktu yang dinanti Kidung memang menjadi kenyatan, dirinya diterima sebagai mahasiswa Sarjana Pertanian di Universitas Indonesia dengan jalur beasiswa.
Jelang hari-hari masuk kampus, Kidung sudah minta izin pada keluarga Karmui dan mengucapkan banyak terima kasih selama ini telah memberikan bapaknya pekerjaan dan dirinya juga menghabiskan waktu kurang lebih dua ribu enam ratus tujuh puluh delapan senja di perkebunan ini bersama Banyu Biru.
“Banyu kamu yang baik ya selama aku tak ada di sini, aku janji akau akan menyelesaikan kuliahku dengan cepat dan liburan aku pasti akan pulang. Kita akan bermain bersama dan menatap senja seperti bisa oke?” kata Kidung menatap wajah Banyu Biru.
Tiba-tiba Kidung tak tahan untuk terakhir kali di pertemuan dirinya berangkat ke Jakarta, Kidung mencium kening Banyu Biru dan memeluknya, Banyu pun membalas pelukan hangat itu tanpa ekspresi berarti lebih jauh.
Senja terakhir yang mungkin ke dua ribu enam ratus tujuh puluh satu bersama Banyu Biru saat ini ....
Other Stories
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...