1. Kidung Senja
“Duduk di pinggir hamparan perkebunan vanili, menghirup aroma wangi vanili mata menatap surya tenggelam. Berharap damai menjemput sang surya pagi kembali.”
Senja selalu dinantikan oleh gadis kecil berambut gimbal panjang berwarna merah, kulit hitam, dengan sorot mata yang bening.
Gadis kecil yang sesiangan di bawah terik matahari dan angin kering giat membantu ibunya merawat kebun yang tak seberapa di sebelah gubuk kayu milik mereka.
Setelah pulang sekolah Kidung tak kenal lelah mengerjakan apa saja bersama ibunya. Gadis kecil yang bersekolah di SD Negeri yang gedungnya sudah sangat tak layak disebut sebagai sekolahan, dengan guru-guru yang memakai batik lusuh tapi tampak tetap semangat mengajar anak-anak di desa di lereng Gunung Muria.
Sementara bapaknya jika pulang tepat waktu saat senja sudah menggelincir tergantikan kegelapan bersamaan munculnya suara jangkrik dan kunang-kunang yang tampak suram cahayanya.
Sampai sekarang pun Kidung tidak tahu apa yang dikerjakan bapaknya di luaran sana, hanya saja beberapa kali jika bapaknya pulang terlalu larut malam suka gak jelas bicaranya dan mulutnya mengeluarkan aroma yang tak sedap. Apalagi kalau sampai muntah di kamar mandi, sungguh membuat Kidung mual.
Mungkin ibu juga merasakan yang sama bau yang disebut dengan alkohol, tapi ibu lebih memilih diam karena pernah beberapa kali ibunya menasihati,”Bapak ini mbok wis nyambut gawe yang jelas aja! Nyambut gawe kok pulang tekan jam loro esuk terus karo acara mabuk!” Belum selesai ibunya menasihati, dengan terpaksa harus berhenti ngomong karena Bapak sudah main tampar ke pipi ibu berkali-kali seperti tidak sadar saja yang ditampar itu istri yang sudah sembilan tahun menemani dengan sabar dalam hidup yang serba kesusahan.
Kidung tidak tinggal diam, berusaha melindungi ibunya walau yang ada juga kena bogem mentah dan membuat tubuh kecilnya tersungkur, membuat ibunya mendadak panik. Tanpa memedulikan pipinya yang perih segera memeluk Kidung, putri kesayangannya.
Sejak saat itu ibunya tidak mau lagi ribut saat bapak pulang mabuk, ibu dan Kidung memilih untuk diam dalam kegelapan pura-pura tidur dan membiarkan bapak meracau sendiri hingga tertidur. Dan mereka selamat, walau Kidung tahu hati ibunya sangat ingin mengomel pada suaminya.
Kidung pernah mencoba mengulangi apa yang ibunya bilang ke bapaknya kalau bapak itu bekerja yang jelas, apa pekerjaannya kok selalu pulang jam dua pagi dan mabuk. Tentu saja Kidung berani menasihatinya karena bapaknya kalau kondisi sadar tidak berani mengasari dirinya dan ibu. Malah sebaliknya memilih tak berani menatap balik putri semata wayangnya. Dalam lubuk hatinya dirinya menyesal beberapa kali mabuk melukai istri dan anaknya, tapi apa dayanya dia memang sedang tak sadar.
Istri dan putrinya tak tau kalau dirinya bekerja sebagai tukang tagih di kota, jika dia tak bisa menagih maka dia juga akan dimarahi bos besarnya yang berprofesi sebagai rentenir. Istri dan anaknya sebenarnya tak pernah meminta macam-macam tapi ada rasa egois sebagai seorang bapak adalah memberikan nafkah pada mereka walau serba kekurangan tetap saja menjadi makanan sehari-hari.
Bos rentenirnya sangat pelit dan hanya akan menggajinya jika dia bisa memaksa orang bayar dengan tepat waktu dan bunga yang tinggi. Mau tak mau Pak Sugiarto bapaknya Kidung juga menjadi kasar terhadap orang yang berhutang agar mau membayar. Dan ini sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya sendiri, tapi apa daya hanya pekerjaan ini yang bisa dia kerjakan.
Jika lagi berbaik hati bos besarnya Juragan Dirgo kemauannya mengajak Pak Sugiarto mabuk-mabukan dan tidak boleh menolak, karena menolak akan membuat dia marah juga.
***
Kidung kadang merindukan bapaknya yang perangkainya tidak berubah separah ini. Baru dua tahun ini bapaknya bekerja tak jelas, sebelumnya bapak jadi petani penggarap di kebun vanili milik tuan tanah yang Kidung tahu sangat baik, kerap Kidung habiskan hari-harinya bermain di kebun vanili yang terhampar hijau tidak jauh dari rumahnya.
Bapaknya dulu sosok lembut, suka bercerita tentang pewayangan. Ada beberapa tokoh yang Kidung ingat dari cerita bapaknya. Dan yang paling Kidung ingat cerita tentang tokoh wayang bernama Dewi Sri karena tokoh wayang ini melekat dengan keseharian dirinya, bapak, dan ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai petani penggarap kebun vanili. Hanya saja Dewi Sri ini adalah Dewi Padi bukan Dewi Vanili, yang sangat dihormati para petani khususnya Jawa, bahkan mereka mempunyai panggilan khas pada Dewi Sri menjadi Mbok Sri. Ada juga cerita tentang Arjuna yang ahli memanah, tokoh-tokoh Punakawan, dan masih banyak tokoh wayang yang sekarang Kidung rindukan cerita-cerita meluncur dari bapaknya.
Kidung sedih perangkai bapaknya berubah sejak entah kenapa dua tahun lalu tuan tanah tersebut menjual semua asetnya dan bapak juga beberapa petani tak lagi dipekerjakan. Padahal setiap hari perkebunan vanili itu masih ada yang bekerja bahkan semakin banyak saja vanila yang ditanam.
Kidung suka memperhatikan diam-diam para petani vanili yang masih dipekerjakan di kebun vanili seluas empat hektar-an. Kadang ingat tuan pemilik tanah ini, membawa banyak stek vanili dari kota, yang ditanam bukan dari biji karena harus memastikan biji yang bagus dalam pemilihan dan cukup memakan waktu juga memakan waktu lebih lama.
Terkadang juga tidak membeli stek pohon vanili dari kota, tapi dicoba para petani menstek dari pohon vanili yang sudah berkualitas bagus diambilnya dari batang yang tua dengan ukuran induk pohon yang sudah mencapai ketinggian kurang lebih dua hingga tiga meter bahkan lebih.
Vanili cara hidupnya melekat pada pohon yang lebih tinggi atau disiapkan tongkat-tongkat untuk media merambat, di kebun vanili tempat bapaknya menggarap ada beberapa vanili yang merambat di pohon, tapi kebanyakan merambat pada tongkat-tongkat yang sengaja dipasang.
Perawatan tidak terlalu sulit, para petani rajin menyiram dan memupuk dengan pupuk kandang. Penyiraman harus pas, dilihat jika kondisi tanahnya kering maka perlu banyak air agar tanah menjadi lembab dan sebaliknya jika sudah lembab dalam penyiraman jangan terlalu banyak. Makanya jika musim hujan kadang tidak dilakukan penyiraman atau hanya sekali saja, tapi jika musim kemarau maka minimal dua kali penyiraman sehari.
Kidung masih ingat dua tahun lalu bapaknya menjelaskan sambil memupuk yang dilakukan dua minggu sekali, dirinya membantu memupuk pohon-pohon vanili yang menjadi tanggung jawab bapaknya.
Butuh waktu dua tahun vanili baru bisa dipanen dari masa tanam. Bunga vanili akan menjadi buah setelah sembilan bulan dari terjadinya penyerbukan. Penyerbukan juga menjadi salah satu hal yang butuh ketelatenan para petani vanili, karena bagian daun bunga vanili berukuran lebih besar daripada mahkota bunganya. Ada pun bagian petalnya yang menggulung sehingga menyulitkan terjadinya penyerbukan dengan bantuan hewan. Dengan demikian perlu bantuan tangan petani menyatukan supaya penyerbukan dapat terjadi.
Awal panen pertama belum terlalu banyak dan akan bertambah di panen-panen berikutnya. Biasanya di panen ke-enam paling banyak hasilnya, tapi setelah itu akan menurun sehingga di panen ke-tujuh pohon vanili harus dibongkar dan ditanam ulang.
Panen dilakukan sekali dalam setahun dengan masa panen dua – tiga bulan. Masa panen yang panjang karena kemasakan buah vanili dalam satu kebun tidaklah berbarengan. Penen dilakukan dengan memungut buahnya yang tidak terlalu tua dan muda.
Dua tahun lalu Kidung bisa tahu detail proses penanaman hingga pengeringan vanili siap dijual ke pengepul saat bapaknya bekerja di perkebunan yang berjarak satu kilo dari gubuknya.
***
Sekarang bapaknya akan marah kalau tahu Kidung suka sembunyi-sembunyi bermain di pinggiran kebun vanili.
Rumah di dekat kebun vanili sangat bagus, bertingkat dan terbuat dari kayu jati sepertinya. Di depannya ada taman dan kolam ikan, ada mobil bak terbuka dan satu mobil Jeep tua.
Kidung sesekali melihat seorang tuan dan nyonya yang sepertinya pemilik perkebunan baru ini. Tak ada penghuni lain selain tuan dan nyonya juga seorang bibi dan bapak seumuran tuannya.
Tuan dan nyonya itu juga tampaknya seumuran bapak dan ibunya juga, tapi entahlah apakah mereka punya anak? Kidung tak pernah melihatnya.
Aroma vanili sungguh sudah menjadi bau sehari-hari dirinya walau sejak dua tahun ini bapaknya tak lagi sibuk di kebun yang terhampar luas, sejuk, dan menguar aroma wangi bunga vanili yang membuat Kidung merasa damai saat duduk-duduk di pinggir kali berseberangan dengan kebun vanili tersebut.
Kidung jatuh cinta dengan aroma vanili yang mengalirkan ketenangan dan senja yang menenggelamkan lelah seharian membantu ibunya berkebun di tanah petak mereka.
Seiring penghabisan tenggelamnya sang surya Kidung berharap akan bisa tidur damai, tak ada bapaknya yang pulang jelang pagi mabuk-mabukan dan membuat gaduh gubuk reyot mereka.
Other Stories
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...