Kidung Vanili

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

2. Ibu Pergi

“Dia pergi bersama senyum terindah karena dia tahu kepergiannya berharap merubah kekasihnya seperti dulu lagi.”
“Kiduuuuuung ayo bali Nduk, wis sandekala gak ilok anak wedo neng pinggir kali kebon vanili ngelamun ndak kesambet setan,” seperti biasa Ibu Marseh mengingatkan Kidung yang sudah sore tidak baik duduk di pinggir kali dekat kebun vanili melamun bisa-bisa kerasukan setan.
“Iya Ibu, aku tiap hari kan di sini juga sepertinya setan-setan juga sudah males ganggu aku. Soalnya hemmmm wangi kembang vanili terbawa angin sore membuat lelahku hilang. Coba kalau siang aku boleh masuk ke perkebunan itu ya Bu,” kata Kidung yang ingin menikmati bermain di kebun vanili yang sangat luas seperti waktu lalu.
“Enggak usah! Kamu emang gak takut? Itu loh dengerin gonggongan anjing yang punya, embuh sopo yang punya kebun itu sekarang, Ibu juga gak mau taulah! Yang jelas pemilik kebun baru itu memecat bapak kamu jadi gak kerja di situ lagi!” jawab ibu sambil menarik tangan Kidung untuk cepat menyingkir dari kebun vanili yang sudah sunyi senyap, sesekali gonggongan anjing meyalak-nyalak sepertinya pertanda akan bebas dari kandang, dilepas untuk menjaga kebun vanili tersebut dari gangguan pencuri.
“Coba bapak kerja jadi petani penggarap vanili lagi saja, hidup kita tenang karena bapak gak suka mabuk dan aku juga masih bisa dengar cerita-cerita wayang kalau mau tidur,” gerutu Kidung.
“Yo wis toh Dung, yang namanya hidup ya seperti ini kadang enak - kadang enggak, yang penting nanti kalau kamu udah dewasa kamu ingat ya nasihat Ibumu ini, hidup itu harus mandiri, kudu kerja keras jangan gampang menyerah dalam segala hal, eling sama Gusti Allah biar Gusti Allah juga kasih jalan sing mulyo. Ingat itu Dung,” berdua anak dan ibu berjalan bersisihan, Bu Marseh menuntun tangan Kidung karena sudah gelap jalanan menuju gubuk mereka.
Kidung hanya manggut-manggut dan sampai rumah langsung disuruh mandi membersihkan badan lalu salat magrib bersama ibunya dan membaca Alquran.
Buat ibunya yang paling damai saat dengar Kidung mulai mengaji dan murojah ayat-ayat Alquran. Sejenak melupakan kepenatan hidup atas perubahan perilaku suaminya yang terkadang temperamen. Senja itu dengan bacaan-bacaan ayat Allah yang syahdu dari bibir Kidung larut menjadi kedamaian.
Tapi damai itu tak lama karena jelang jam dua pagi suaminya datang dan minta dibukakan pintu. Semenjak pemukulan dirinya dan Kidung beberapa kali, Ibu Marseh memilih tak mengunci agar bisa tidur lelap hingga pagi tanpa diganggu. Tapi sore tadi dirinya lupa mengunci pintu masuk, setengah terhuyung karena rasa pusing selepas salat isya dirinya membukakan pintu untuk suaminya.
Naluri perempuan seperti biasa Ibu Marseh kembali menasihati suaminya,”Balik esuk, mabuk gak duwe aturan kamu Pak sekarang....”
Dan,”Plak! Plak! Buk! Buk!”
Terulang kali kekerasan terjadi begitu saja.
Pak Sugiarto paling tidak bisa terima dalam keadaan tak sadar dinasihati, seketika Ibu Marseh yang tengah merasa pusing dan lemas jatuh terjembab. Seketika gubuk yang redup menjadi gelap, dirinya pun jatuh pingsan.
Kidung terbangun dengan kegaduhan barusan, lalu seketika menjerit,”Ibuuuu!” susah payah Kidung menarik ibunya untuk ditidurkan di balai-balai, lalu membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya juga mengompres pipinya yang memerah karena beberapa tamparan bapaknya.
Kidung sekarang benar-benar benci dengan bapaknya yang meracau gak jelas dan memilih tak peduli, dirinya fokus merawat ibunya. Kidung bersumpah kalau ada apa-apa dengan ibunya tak akan pernah memaafkan bapaknya!
Kidung coba membaui hidung ibunya dengan biji vanili yang waktu lalu diam-diam dengan cara mengendap-endap Kidung curi beberapa ruas yang sudah sangat kering. Kidung mengeluarkan biji-biji vanili dari kulit kering yang menutupinya.
Beberapa hari lalu Kidung ingin berada di perkebunan vanili yang dua tahun biasa tempat dia bermain, dirinya mengendap-endap lalu mengambil berapa tangkai yang sedang dikeringkan.
“Dunggg, kamu pasti mencuri ya ambil biji-biji vanili dari perkebunan?” tanya Ibu Marseh yang tersadar dari pingsannya.
“Iya Ib ... Ibu, maaf ... aku rindu bermain di perkebunan vanili itu, dua hari lalu sebelum anjing penjaga dikeluarkan aku mengendap-endap dan hanya ambil 3 ruas saja, lalu aku keluarkan bijinya. Aku suka baunya, bau ini mengingatkan masa saat bapak yang masih lembut, sayang dan suka bercerita kisah wayang. Lihat bapak sekarang, berubah perangkainya. Dulu Kidung tidak takut kalau bapak pulang pagi karena keasikan nonton wayang kulit keliling sampai pagi, karena bapak janji sorenya akan menceritakan kisah wayang yang ditontonnya. Tapi sekarang kalau Bapak pulang pagi yang ada kita jadi ketakutan. Bapak berubah jahat kaya Rahwana!”
“Uhuk ... uhuk ....” Ibu Marseh terbatuk-batuk dan ada darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Kidung panik, membangunkan bapaknya yang masih mabuk hanya akan membawa masalah baru.
“Ibu, Ibu kenapa? Badan Ibu panas sekali!” Kidung menjadi panik.
“Enggak apa-apa Dung, kamu ambilkan Ibu air putih dan buatkan teh manis panas ya Dung,” Ibu Marseh tahu anaknya panik dan dia tak mau membuat Kidung panik. Ditahannya rasa sakit di dadanya dan rasa pusing di kepalanya dengan mengalihkan Kidung untuk membuat teh.
Sebenarnya sudah beberapa kali mengeluarkan batuk darah dan rasa pusing tapi ditahannya.
Sepertinya hari ini dia hanya butuh istirahat dan membiarkan Kidung yang mengurus kebun kecil mereka. Bu Marseh ingin sekali ini tidur sampai siang kalau perlu sore hari membiarkan Kidung menikmati senja tanpa diganggu dirinya yang selalu menjemput untuk pulang karena kalau sandekala tak baik anak cewek masih di luar.
Bu Marseh tersenyum kata-kata Kidung senja kemarin kalau setan gak lagi berani ganggu dirinya yang tiap hari senja duduk menyaksikan matahari tenggelam di pinggir kali kebun vanili. Bu Marseh tahu Kidung anak yang kuat dan berani, dan ini meyakinkan suatu keikhlasan jika hal besar terjadi pada dirinya. Dan satu lagi sebuah harapan akan terjadi perubahan pada suaminya, Bu Marseh yakin sekali suaminya akan berubah kalau dirinya pergi, entah pergi kemana? Setidaknya kembali seperti lelakinya dua tahun lalu.
***
Jam sepuluh siang bapaknya baru bangun dan tak banyak bicara mandi lalu pergi lagi. Hanya menatap sebentar istrinya yang tengah tertidur, sementara Kidung tengah sekolah. Pak Sugiharto tak tahu kalau istrinya sedang deman tinggi. Dia ingat hari ini ada janji menagih orang yang harus bayar hutang sekaligus bunganya yang sudah semakin tinggi bahkan jumlahnya sudah melebihi hutang yang sebenarnya pada Juragan Dirgo.
Kalau dia berhasil menagih maka akan dapat bayaran lebih banyak, dirinya berniat membelikan baju untuk Kidung dan Marseh. Sudah lama sekali tepatnya dua tahun ini dirinya sangat berubah, rasa kesal dipecat begitu saja dari pekerjaan yang disukai sebagai petani vanili tanpa alasan membuat dirinya merasa terpuruk.
Salah apa dirinya? Dibuang begitu saja dari perkebunan yang bertahun-tahun menjadi tempat sandaran hidup keluarganya juga pekerjaan yang menyenangkan. Orang-orang sesama penagih hutang pasti akan menertawakan kalau dirinya yang bersikap kasar sebagai dept collector sebenarnya pencinta tanaman, terutama ya vanili karena saat merawat vanili-vanili itu membuat ketenangan dan keasikan tersendiri. Dirinya merasa dekat dengan Allah-nya.
Sebenarnya pekerjaan jadi tukang tagih juga membuat hatinya tak tenang, hatinya ingin kembali menjadi petani penggarap kebun vanili seperti dulu lagi. Tapi entah bagaimana caranya? sejak dirinya dipecat begitu saja dari petani vanili menjadi benci hal-hal yang berbau vanili, bagi Pak Sugiharto ini menjadi kenangan pahit.
Pak Sugiharto mengetuk sebuah rumah yang dibilang cukup bagus untuk menagih hutang.
Sepertinya bukan sambutan baik yang akan dirinya terima karena yang keluar bukannya Pak dan Bu Margono melainkan dua tukang pukul yang badannya besar-besar. Pak Sugiharto sudah biasa sebenarnya juga menghadapi tukang pukul, hanya saja kali ini dia datang sendiri tanpa teman. Sepertinya yang terjadi adalah bukan segepok uang yang didapat tapi beberapa bogem mentah dari dua tukang pukul yang sepertinya disewa Pak dan Bu Margono yang ingkar janji untuk membayar hutang plus bunganya pada Juragan Dirgo.
Tak mau jadi bual-bualan dua tukang pukul begitu saja, Pak Sugiharto juga melakukan perlawanan. Walau tak seimbang tapi bapaknya Kidung juga bisa melukai dua tukang pukul sewaan yang tak menyangka kekuatan nyali lawannya.
Sayang sebelum semuanya selesai siapa yang menang dan kalah, bertiga digelandang oleh polisi dan dimasukan ke bui bersama-sama. Pada akhirnya bertiga memilih diam karena masing-masing merasakan sakit atas luka-luka yang diderita akibat ulah perkelahian mereka sendiri.
***
Di sekolah entah kenapa Kidung merasa tak tenang, tadi pagi sebenarnya dia tak ingin masuk sekolah karena melihat kondisi ibunya. Tapi Bu Marseh malah memarahinya,”Sekolah kamu, jangan sampai kamu tidak sekolah nanti-nanti! Ibu mau kamu jadi orang yang berpendidikan apa pun yang terjadi jangan pernah berhenti belajar. Sinau terus Nduk, ora ana putuse!”
Kidung kalau sudah ibunya menasihati panjang lebar pertanda tak bisa dibantah, dan akibatnya selama pelajaran dirinya tak tenang. Beberapa kali ditegur Bu Guru Mirna karena melamun.
“Kidung, kamu sebaiknya cuci muka dulu sana!” kali ini Pak Guru Yono yang mengajari matematika agak kesal karena Kidung yang biasanya paham dengan cepat segala pelajaran mendadak linglung.
“Ibuuuuu,” Kidung sengaja teriak-teriak dari luar rumah saat pulang, hatinya tak merasa tenang, jantung berdegup kencang, firasatnya mengatakan ada yang terjadi dengan ibunya.
Dan,”Ibu! Ibu! Bangun.” Kidung panik, tubuh ibunya masih hangat tapi tak ada detak nadi dan jantung juga hembusan udara yang keluar dari hidungnya.
Kidung ingat Pak Kuat guru olah raganya saat mengecek Siti yang pingsan dipegang detak nadi tangannya, cek detak jantungnya, dan juga napas hidungnya. Waktu itu Siti masih terasa semua, tapi ibunya tanda-tanda itu semua sudah tak ada! Dan Kidung tahu ibunya telah pergi selama-lamanya.
“Ibuuuuuuuuuuu ....” jeritan panjang Kidung mendatangkan beberapa tetangga yang cukup berjarak beberapa meter dari gubuknya.

Other Stories
Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Download Titik & Koma