Kuraih Mimpiku

Reads
2K
Votes
3
Parts
24
Vote
Report
Penulis Agung Budi Prasetya

Bab 2 Kesempatan Manggung Di Cafe

Pada hari Selasa malam mereka tetap rutin latihan sambil menunggu respon dari pengelola cafe untuk menghubungi mereka.Ketika mereka sedang asyik-asyiknya latihan, tiba-tiba saja ponsel Edo berdering. Edo dan kawan-kawan segera menghentikan latihan untuk segera menerima panggilan masuk. Dan ternyata panggilan masuk tersebut dari sebuah pemilik cafe bernama Ramon. Edo segera menjawab panggilan masuk tersebut.
"Hallo." kata Edo menjawab panggilan.
"Apakah ini saya bicara dengan mas Edo Sanjaya?"
"Ya, saya sendiri. Ini siapa ya?"
"Perkenalkan nama saya Ramon Lukito, pemilik Cafe Elok di wilayah Kemang."
"Ada yang bisa saya bantu,Pak Ramon?"
"Saya sudah dengar dan lihat hasil demo musik yang dikirim ke kami. Saya secara pribadi sangat tertarik dengan warna suara dan musik dari grup band milik mas Edo. Untuk itu saya ingin menawarkan kerjasama dengan mas Edo. Apakah anda bersedia?" tanya Ramon.
"Maksudnya kerjasama yang gimana ya? Saya tidak paham maksud dari perkataan pak Ramon." tanya Edo.
"Maksud saya adalah bahwa saya tertarik dengan warna musik serta kualitas suara mas Edo. Untuk itu saya menawarkan kerjasama dengan mas Edo dan kawan-kawan untuk tampil sebagai pengisi acara di cafe saya."
"Kapan itu pak Ramon?"
"Malam Minggu besok. Apakah sudah ada jadwal pentas untuk hari tersebut? Jika belum ada,saya undang grup band anda tampil. Saya tunggu kedatangannya besok malam Minggu.""
"Saya belum melihat jadwalnya, sehingga belum bisa kasih jawaban. Selain itu saya juga harus mendiskusikan hal ini kepada teman-teman"
"Baiklah,kalau begitu. Saya tunggu kabarnya beritanya."
"Baiklah, saya akan memberikan kabar secepatnya."
"Oke, saya tunggu!" ujar Ramon menutup teleponnya.
Edo kemudian menutup ponselnya. Denny, Ringgo, Sonny, Dito penasaran dengan seseorang yang berkomunikasi dengan Edo lewat ponselnya tersebut.
"Siapa yang telepon lu,Do?" tanya Sonny.
"Namanya pak Ramon, pemilik Cafe Elok
"Mau apa dia menghubungi elu,Do? Kok kayaknya penting dan serius banget."
"Dia tertarik dengan demo musik yang kita tawarkan tempo hari. Dia berminat untuk menawarkan kerjasama dengan kita.
"Maksudnya kerjasama yang gimana,Do? Kok gue kagak paham maksudnya." ujar Sonny.
"Sebaiknya dengerin dulu cerita Edo supaya jelas agar bisa memperoleh informasi secara utuh bukan sepotong-sepotong." ucap Denny.
"Oke,kita dengerin cerita Edo. Setelah itu barulah kasih tanggapan." kata Ringgo.
"Begini ya, gue mau cerita dan elu dengerin sampai selesai cerita gue."
"Iya Do."
"Tadi barusan pak Ramon menelepon gue untuk kerjasama. Dia tertarik dengan warna musik yang kita tawarkan lewat kiriman vlog kita tempo hari. Untuk itu dia berminat untuk mengundang kita tampil di cafenya."
"Kapan itu,Do?" tanya Denny penasaran.
"Besok malam Minggu. Apakah ada jadwal untuk hari itu?" ujar Edo.
"Kok kayaknya kagak ada." jawab Sonny
"Gimana,mau diambil kagak?"
"Ya... diambil!! Kesempatan emas buat band kita untuk promosi. Ingat, kesempatan kagak datang dua kali!!!" ujar Ringo bersemangat.
"Lainnya gimana? Son...Dit, pendapat elu gimana?"
"Kalo gue sih oke-oke aja." jawab Dito.
"Elu,Son?"
"Gue sih ngikut aja."
"Oke, berarti sepakat ya! Gue mau menghubungi pak Ramon."
Selanjutnya Edo menghubungi Ramon untuk menyatakan kesediaannya tampil di cafe milik Ramon yang berlokasi di daerah Kemang Jakarta Selatan. Hari Sabtu tersebut Edo bersama Denny, Ringo, Sonny, Dito mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dan serius agar penampilannya tidak mengecewakan. Mereka juga sudah mempersiapkan segalanya agar bisa maksimal.
Setelah dirasa sudah cukup, mereka segera bergegas menuju ke cafe yang mengundangnya tersebut. Dengan mengendarai mobil milik Edo, mereka menuju lokasi pentas.
"Do,lu yakin bahwa kita beneran diundang untuk menyanyi di cafe tersebut?" tanya Denny,sang gitaris band tersebut.
"Iya. Pemilik cafe tersebut yang kemarin telepon gue. Elu juga denger kan?" ujar Edo.
"Iya sih. Kemarin gue juga denger komunikasi elu dengan pemilik cafe via telepon." kata Denny.
"Kira-kira responnya nanti gimana ya? Bisa kagak kita bisa tampil memikat?" tanya Dito ragu.
"Kita kagak usah mikirin respon dari pengunjung cafe. Yang penting kita fokus pada penampilan kita saja. Apapun hasilnya kita lihat saja nanti." sahut Denny.
Setelah perjalanan selama satu jam, akhirnya Edo dan kawan-kawan telah tiba di lokasi. Mereka segera mencari lokasi parkir mobil. Setelah menemukan lokasi parkir yang ideal, mereka kemudian keluar dari mobilnya.
Selanjutnya Edo menghubungi Ramon, pemilik cafe yang mengundang mereka untuk tampil. Saat itu Ramon segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Hallo." sahut Ramon menjawab panggilan telepon dari Edo.
"Pak Ramon,saya dan kawan-kawan sudah sampai di cafe. Di mana saya harus ketemu dengan bapak?"
"Silahkan masuk ke ruang kantor saya di sisi barat cafe." ujar Ramon.
Edo dan kawan-kawan segera menuju ke bangunan sebelah barat cafe yang terpisah dengan cafe. Edo kemudian mengetuk pintu kantor Ramon.
"Tok...tok...tok!!!" Edo mengetuk pintu.
"Masuk!" perintah Ramon.
Edo dan kawan-kawan segera masuk ke ruang kantor Ramon yang ber-AC tersebut.
"Selamat malam pak Ramon."
"Selamat malam. Mas Edo ya?"
"Iya betul."
"Silahkan duduk!" perintah Ramon mempersilahkan Edo dan kawan-kawan untuk duduk di kursi yang tersedia.
"Terima kasih."
"Kalau boleh tahu,mereka ini siapa ya?" tanya Ramon kepada Edo.
"Mereka adalah teman-teman saya yang akan mengiringi pementasan malam ini."
"Oh ya? Bagus kalau begitu!!!" ucap Ramon penuh antusias.
"Ini namanya Denny yang memegang gitar, kemudian Ringo pegang alat musik bass,Dito pada keyboard dan Sonny pada drum." ujar Edo memperkenalkan musisi pengiringnya.
"Kalo begitu, silahkan mempersiapkan diri. Nanti pukul 21.00 adalah pentas anda dan kawan-kawan."
Edo dan kawan-kawan segera mempersiapkan diri. Mereka segera mengganti baju pentas sebelum naik di atas panggung.

Sebelum mereka tampil, pembawa acara di cafe tersebut memperkenalkan penampil malam ini. Selanjutnya segera memanggil Edo dan kawan-kawan untuk naik ke panggung.
Edo juga melakukan tes mikrofon yang akan dipakai untuk menyanyi. Sedangkan yang lainnya melakukan stem peralatan musik yang akan dipakai. Setelah selesai semuanya, mereka segera unjuk kebolehannya dalam menyanyi.
Penampilan pertama dibuka dengan menyanyikan lagu dari band ternama tanah air. Setelah 3 lagu, mereka kemudian menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.
Dan ternyata sambutan pengunjung cafe benar-benar luar biasa. Para pengunjung cafe sangat terpesona dengan performa Edo dan kawan-kawan dalam menyanyikan lagu serta memainkan alat musik. Ketika akan menyelesaikan lagu terakhir mereka, tiba-tiba ada pengunjung yang meneriakkan untuk tampil lagi.
"Lagi...lagi...lagi!!!" Suara para pengunjung dalam meneriakkan permintaan agar Edo dan kawan-kawan tampil lagi.
Akhirnya Edo memenuhi permintaan tersebut dengan menyanyikan 2 lagu tambahan. Setelah itu mereka berlima segera turun panggung.
Tepat pukul 23.30 mereka menyelesaikan lagu dan beranjak pamit untuk pulang ke rumah. Saat akan pulang,Ramon menemui Edo dan kawan-kawan dan mengatakan sesuatu kepada mereka.
"Mas Edo dan kawan-kawan semua. Atas nama manajemen Cafe Elok, saya mengucapkan terima kasih untuk penampilan mas Edo dan kawan-kawan dalam menghipnotis pengunjung sehingga tidak beranjak dari tempat duduk.
Untuk itu hari ini saya menawarkan kerjasama untuk pementasan rutin di cafe ini. Dan saya ingin mas Edo bersedia menerima tawaran kerjasama ini. Untuk itu mas Edo berkenan untuk menandatangani MoU ini bahwa kita sepakat untuk kerjasama." ujar Ramon sambil menyodorkan secarik kertas berisi kontrak kerjasama."
"Baiklah, saya tak keberatan."
"Hanya saja ada klausul kontrak yang harus disepakati bersama."
"Apa itu,Pak Ramon?"
"Dalam klausul kontrak ini menyebutkan bahwa jangan sampai mas Edo dan kawan-kawan terlibat kasus pidana. Karena cafe ini menjunjung tinggi citra dan kredibilitas. Tidak ada yang terlibat dalam kasus pidana. Jika nantinya mas Edo dan kawan-kawan melanggar , maka otomatis kontrak kerjasama ini bisa dibatalkan secara sepihak. Apakah sepakat?"
"Ok sepakat."
"Kalo begitu, silahkan tanda tangan."
Setelah Edo menandatangani bersama Ramon dan sudah dilengkapi stempel. Edo dan Ramon kemudian saling salaman.
"Karena sudah sepakat,maka ini adalah adalah honor awal untuk pementasan." kata Ramon menyerahkan amplop warna coklat berisi lembaran uang.
Edo menerima amplop tersebut..
"Baiklah, saya terima."
Selanjutnya Edo dan kawan-kawan segera pamit pulang. Dan tepat pukul 00.20 mereka telah sampai di rumah yang mereka sewa untuk latihan. Setelah itu mereka segera pulang ke rumah masing-masing.








Other Stories
Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Download Titik & Koma