Bab 4 Digrebek Polisi
Pagi menjelang siang hari suasana di dalam rumah kontrakan yang biasanya dipakai Edo dan kawan-kawan untuk latihan terlihat sepi. Tidak ada hingar bingar suara alat musik yang biasanya terdengar.
Salah satu warga sekitar yang bernama Joni sudah mencium gelagat yang mencurigakan di tempat tersebut. Suatu hari dia bersama teman sekampungnya bernama Dani mencoba melakukan pengintaian terhadap aktivitas di rumah tersebut. Dengan berbekal ponsel, mereka melakukan penyelidikan terhadap rumah tersebut.
Selama ini disinyalir bahwa tempat tersebut dicurigai sebagai tempat transaksi obat-obat terlarang. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya mobil yang sering keluar masuk silih berganti ke rumah kontrakan tersebut.
"Jon,kok kayaknya rumah tersebut sering muncul mobil yang keluar masuk silih berganti. Emang ada aktivitas apa yang ada di dalam rumah tersebut? Kok sering kali ada mobil yang parkir di depan rumah tersebut.
"Mana gue tahu,Dan? Gue kagak pernah masuk ke situ sehingga kagak tahu situasi di dalam rumah tersebut."
"Gue kok curiga bahwa di dalam rumah tersebut ada aktivitas yang kagak biasa. Gue yakin ada sesuatu yang disembunyikan di dalam rumah tersebut."
"Gue juga berpikiran sama kayak elu. Hanya saja gue kagak bisa membuktikan karena penghuni rumah tersebut cenderung tertutup."
"Gimana kalo kita berdua menyusup ke dalam untuk melakukan pengintaian? Kita rekam aktivitas di dalam rumah tersebut sebagai barang bukti." ajak Joni kepada Dani.
"Gimana kalo nanti ketahuan?"
"Diusahakan hati-hati, jangan sampai ketahuan. Tapi jika memang ketahuan, itu sebuah resiko."
"Oke. Apapun yang terjadi,kita tanggung bersama. Ini demi kampung kita agar tetap aman dan tertib."
Selanjutnya mereka berdua melakukan pengintaian terhadap aktivitas di dalam rumah tersebut. Ketika itu ada sebuah mobil berhenti di depan rumah tersebut. Ada seseorang yang datang membawa tas koper warna hitam keluar dari mobil dan menyerahkan kepada penghuni rumah tersebut.
Tidak mau kehilangan momen,Joni dan Dani segera merekam aktivitas yang mereka lakukan di dalam rumah kontrakan tersebut. Mereka melakukan pengintaian dari balik jendela yang memang sedikit terbuka sehingga memudahkan untuk merekam kejadian tersebut.
Setelah selesai semuanya, saat itu Dani yang melakukan rekaman video dari ponselnya tersebut segera menyimpan sebagai barang bukti. Setelah itu mereka segera pergi dari tempat tersebut agar jangan sampai ketahuan penghuni rumah tersebut.
"Gimana, elu sudah menyimpan rekaman tersebut,Dan?" tanya Joni.
"Udah. Setelah ini apa yang harus kita lakukan,Jon?" tanya Dani.
"Lebih baik kita laporkan kepada pak RT. Kita tunjukkan bukti yang kita peroleh untuk bisa diambil sebuah tindakan." kata Joni.
"Baiklah, kita segera menuju rumah pak RT."
Keduanya kemudian segera bergegas menuju rumah pak RT yang berada di ujung gang. Mereka segera melaporkan hasil penyelidikan dan pengintaian serta menunjukkan hasil rekaman yang ada di ponsel sebagai barang bukti.
Mereka segera menemui pak RT setempat. Kebetulan pak RT sedang persiapan untuk berangkat ke kantor. Pak RT yang sudah naik di mobil, segera turun menemui mereka berdua.
"Lho...ini Joni dan Dani?"
"Ya betul pak RT."
"Ada apa nih??? Kok pagi-pagi sudah datang kemari."
"Apakah pak RT punya waktu untuk kami berdua menghadap?"
"Kalo begitu, silahkan masuk! Kita ngobrol di dalam saja."
Pak RT segera mempersilahkan Joni dan Dani masuk ke dalam rumah pak RT. Setelah duduk, mereka dipersilahkan untuk bicara.
"Ada apa ini? Kok kayaknya penting banget kalian berdua datang kemari."
"Jelas penting pak RT. Ini menyangkut tentang keadaan kampung kita." ujar Joni.
"Maksudnya apa ini?"
"Begini pak RT. Kami berdua mencurigai bahwa rumah yang dikontrakkan depan rumah tersebut dipakai untuk kegiatan ilegal." ujar Dani.
"Maksudnya kegiatan ilegal?"
"Maksudnya Dani bahwa rumah yang dikontrakkan depan rumah kami itu dipergunakan untuk transaksi narkoba."
"Jon,kamu yakin bahwa tempat tersebut dipakai untuk transaksi narkoba?"
"Yakin pak. Saya sempat melihat ada orang asing yang selama ini belum pernah saya melihatnya. Saya curiga bahwa orang tersebut sebagai pengedar narkoba. Untuk itu saya mengkhawatirkan keadaan kampung kita jika dibiarkan seperti itu."
"Betul kata Joni,Pak! Jika dibiarkan,maka citra kampung kita menjadi buruk dan akan menjadi buah bibir di masyarakat. Agar hal itu tidak terjadi, sebaiknya segera ditangani." kata Dani menimpali.
"Nanti dulu!! Kalian berdua jangan sembarangan bicara. Apakah kalian punya bukti? Jika nggak punya bukti bisa menjadi fitnah."
"Kebetulan kami memiliki bukti yang bisa menjadi dipertanggungjawabkan."
"Bukti apa yang kalian miliki?"
"Ini buktinya,Pak RT!" ujar Dani menunjukkan rekaman video dari ponselnya tentang aktivitas yang ada di dalam rumah kontrakan tersebut.
Setelah pak RT melihat rekaman video tersebut, akhirnya pak RT meminta mereka berdua untuk melaporkan ke pihak berwajib yakni kepolisian untuk ditindaklanjuti.
"Karena kalian sudah punya bukti, segera laporkan ke pihak kepolisian untuk segera ditindaklanjuti. Tapi saya tidak bisa ikut mendampingi kalian karena hari ini ada urusan kantor yang harus segera saya tangani."
"Nggak apa-apa pak RT. Yang terpenting bapak sudah mengetahui. Sekarang kami berdua akan segera berangkat untuk melaporkan hasil temuan kami ini."
Akhirnya Joni dan Dani segera berangkat ke kantor kepolisian untuk melaporkan hasil penyelidikan berbekal bukti rekaman yang ada di ponsel. Setelah mendengar laporan Joni dan Dani, pihak kepolisian segera menerjunkan anggotanya untuk segera melakukan penyisiran lokasi tersebut sebelum melakukan penggrebebekan.
Sementara itu Edo,Boy dan 3 orang lainnya sedang asyik-asyiknya menghisap narkoba jenis sabu-sabu di rumah kontrakan tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa mereka sudah diintai oleh pihak kepolisian untuk segera melakukan penggrebekan
Setelah tiba di lokasi, para anggota kepolisian saling berpencar untuk mengepung tempat tersebut. Dirasa sudah aman, maka 2 orang anggota kepolisian tersebut segera mendobrak pintu dengan paksa.
"Angkat tangan!!! Kalian jangan bergerak!!! Tempat ini sudah dikepung!!!" teriak salah satu anggota kepolisian.
Penggrebekan tempat tersebut tentu saja mengejutkan Edo dan kawan-kawan. Mereka tidak sempat menghindar dan melarikan diri karena sangat mendadak.
Saat itu juga Edo dan kawan-kawan sedang mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.
"Boy,kenapa bisa seperti ini?" tanya Edo kepada Boy.
"Gue sendiri juga kagak tahu,Do!"
"Kalian semua enggak usah banyak bicara!! Segera ikut kami ke kantor kepolisian untuk menjalani pemeriksaan!!" bentak anggota kepolisian tersebut.
Edo dan kawan-kawan benar-benar tidak berkutik dan langsung digelandang masuk mobil polisi. Para warga sekitar banyak yang melihat kejadian tersebut. Dan pihak kepolisian segera memasang garis polisi warna kuning.
Edo dan kawan-kawan setelah tertangkap polisi segera menjalani pemeriksaan. Pihak kepolisian segera melakukan pemeriksaan intensif untuk menggali informasi.
"Sebaiknya kamu mengaku darimana bisa mendapatkan barang haram tersebut!" tegas anggota kepolisian yang sedang menginterogasi Edo dan kawan-kawan.
"Kami sendiri tidak tahu asal mula barang tersebut. Kami mendapatkan barang tersebut juga dari orang yang baru saja kami kenal." jawab Edo.
"Kamu jangan membohongi saya ya!" bentak anggota kepolisian tersebut.
"Beneran pak. Saya tidak bohong."
"Baiklah. Sementara kamu ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Edo dan kawan-kawan harus menjalani menjadi tahanan kepolisian.
Setelah melalui proses maraton, akhirnya Edo,Boy, dan 3 orang tersebut dinyatakan bersalah karena telah menyalahgunakan narkoba jenis sabu-sabu. Karena Edo hanya sebagai pemakai, bukan pengedar sehingga hanya menjalani hukuman dengan dimasukkan ke dalam rehabilitasi ketergantungan narkoba selama 6 bulan. Sedangkan Boy dan 3 orang tersebut dijatuhi hukuman lebih berat karena mereka sebagai pemasok barang terlarang tersebut.
Salah satu warga sekitar yang bernama Joni sudah mencium gelagat yang mencurigakan di tempat tersebut. Suatu hari dia bersama teman sekampungnya bernama Dani mencoba melakukan pengintaian terhadap aktivitas di rumah tersebut. Dengan berbekal ponsel, mereka melakukan penyelidikan terhadap rumah tersebut.
Selama ini disinyalir bahwa tempat tersebut dicurigai sebagai tempat transaksi obat-obat terlarang. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya mobil yang sering keluar masuk silih berganti ke rumah kontrakan tersebut.
"Jon,kok kayaknya rumah tersebut sering muncul mobil yang keluar masuk silih berganti. Emang ada aktivitas apa yang ada di dalam rumah tersebut? Kok sering kali ada mobil yang parkir di depan rumah tersebut.
"Mana gue tahu,Dan? Gue kagak pernah masuk ke situ sehingga kagak tahu situasi di dalam rumah tersebut."
"Gue kok curiga bahwa di dalam rumah tersebut ada aktivitas yang kagak biasa. Gue yakin ada sesuatu yang disembunyikan di dalam rumah tersebut."
"Gue juga berpikiran sama kayak elu. Hanya saja gue kagak bisa membuktikan karena penghuni rumah tersebut cenderung tertutup."
"Gimana kalo kita berdua menyusup ke dalam untuk melakukan pengintaian? Kita rekam aktivitas di dalam rumah tersebut sebagai barang bukti." ajak Joni kepada Dani.
"Gimana kalo nanti ketahuan?"
"Diusahakan hati-hati, jangan sampai ketahuan. Tapi jika memang ketahuan, itu sebuah resiko."
"Oke. Apapun yang terjadi,kita tanggung bersama. Ini demi kampung kita agar tetap aman dan tertib."
Selanjutnya mereka berdua melakukan pengintaian terhadap aktivitas di dalam rumah tersebut. Ketika itu ada sebuah mobil berhenti di depan rumah tersebut. Ada seseorang yang datang membawa tas koper warna hitam keluar dari mobil dan menyerahkan kepada penghuni rumah tersebut.
Tidak mau kehilangan momen,Joni dan Dani segera merekam aktivitas yang mereka lakukan di dalam rumah kontrakan tersebut. Mereka melakukan pengintaian dari balik jendela yang memang sedikit terbuka sehingga memudahkan untuk merekam kejadian tersebut.
Setelah selesai semuanya, saat itu Dani yang melakukan rekaman video dari ponselnya tersebut segera menyimpan sebagai barang bukti. Setelah itu mereka segera pergi dari tempat tersebut agar jangan sampai ketahuan penghuni rumah tersebut.
"Gimana, elu sudah menyimpan rekaman tersebut,Dan?" tanya Joni.
"Udah. Setelah ini apa yang harus kita lakukan,Jon?" tanya Dani.
"Lebih baik kita laporkan kepada pak RT. Kita tunjukkan bukti yang kita peroleh untuk bisa diambil sebuah tindakan." kata Joni.
"Baiklah, kita segera menuju rumah pak RT."
Keduanya kemudian segera bergegas menuju rumah pak RT yang berada di ujung gang. Mereka segera melaporkan hasil penyelidikan dan pengintaian serta menunjukkan hasil rekaman yang ada di ponsel sebagai barang bukti.
Mereka segera menemui pak RT setempat. Kebetulan pak RT sedang persiapan untuk berangkat ke kantor. Pak RT yang sudah naik di mobil, segera turun menemui mereka berdua.
"Lho...ini Joni dan Dani?"
"Ya betul pak RT."
"Ada apa nih??? Kok pagi-pagi sudah datang kemari."
"Apakah pak RT punya waktu untuk kami berdua menghadap?"
"Kalo begitu, silahkan masuk! Kita ngobrol di dalam saja."
Pak RT segera mempersilahkan Joni dan Dani masuk ke dalam rumah pak RT. Setelah duduk, mereka dipersilahkan untuk bicara.
"Ada apa ini? Kok kayaknya penting banget kalian berdua datang kemari."
"Jelas penting pak RT. Ini menyangkut tentang keadaan kampung kita." ujar Joni.
"Maksudnya apa ini?"
"Begini pak RT. Kami berdua mencurigai bahwa rumah yang dikontrakkan depan rumah tersebut dipakai untuk kegiatan ilegal." ujar Dani.
"Maksudnya kegiatan ilegal?"
"Maksudnya Dani bahwa rumah yang dikontrakkan depan rumah kami itu dipergunakan untuk transaksi narkoba."
"Jon,kamu yakin bahwa tempat tersebut dipakai untuk transaksi narkoba?"
"Yakin pak. Saya sempat melihat ada orang asing yang selama ini belum pernah saya melihatnya. Saya curiga bahwa orang tersebut sebagai pengedar narkoba. Untuk itu saya mengkhawatirkan keadaan kampung kita jika dibiarkan seperti itu."
"Betul kata Joni,Pak! Jika dibiarkan,maka citra kampung kita menjadi buruk dan akan menjadi buah bibir di masyarakat. Agar hal itu tidak terjadi, sebaiknya segera ditangani." kata Dani menimpali.
"Nanti dulu!! Kalian berdua jangan sembarangan bicara. Apakah kalian punya bukti? Jika nggak punya bukti bisa menjadi fitnah."
"Kebetulan kami memiliki bukti yang bisa menjadi dipertanggungjawabkan."
"Bukti apa yang kalian miliki?"
"Ini buktinya,Pak RT!" ujar Dani menunjukkan rekaman video dari ponselnya tentang aktivitas yang ada di dalam rumah kontrakan tersebut.
Setelah pak RT melihat rekaman video tersebut, akhirnya pak RT meminta mereka berdua untuk melaporkan ke pihak berwajib yakni kepolisian untuk ditindaklanjuti.
"Karena kalian sudah punya bukti, segera laporkan ke pihak kepolisian untuk segera ditindaklanjuti. Tapi saya tidak bisa ikut mendampingi kalian karena hari ini ada urusan kantor yang harus segera saya tangani."
"Nggak apa-apa pak RT. Yang terpenting bapak sudah mengetahui. Sekarang kami berdua akan segera berangkat untuk melaporkan hasil temuan kami ini."
Akhirnya Joni dan Dani segera berangkat ke kantor kepolisian untuk melaporkan hasil penyelidikan berbekal bukti rekaman yang ada di ponsel. Setelah mendengar laporan Joni dan Dani, pihak kepolisian segera menerjunkan anggotanya untuk segera melakukan penyisiran lokasi tersebut sebelum melakukan penggrebebekan.
Sementara itu Edo,Boy dan 3 orang lainnya sedang asyik-asyiknya menghisap narkoba jenis sabu-sabu di rumah kontrakan tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa mereka sudah diintai oleh pihak kepolisian untuk segera melakukan penggrebekan
Setelah tiba di lokasi, para anggota kepolisian saling berpencar untuk mengepung tempat tersebut. Dirasa sudah aman, maka 2 orang anggota kepolisian tersebut segera mendobrak pintu dengan paksa.
"Angkat tangan!!! Kalian jangan bergerak!!! Tempat ini sudah dikepung!!!" teriak salah satu anggota kepolisian.
Penggrebekan tempat tersebut tentu saja mengejutkan Edo dan kawan-kawan. Mereka tidak sempat menghindar dan melarikan diri karena sangat mendadak.
Saat itu juga Edo dan kawan-kawan sedang mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.
"Boy,kenapa bisa seperti ini?" tanya Edo kepada Boy.
"Gue sendiri juga kagak tahu,Do!"
"Kalian semua enggak usah banyak bicara!! Segera ikut kami ke kantor kepolisian untuk menjalani pemeriksaan!!" bentak anggota kepolisian tersebut.
Edo dan kawan-kawan benar-benar tidak berkutik dan langsung digelandang masuk mobil polisi. Para warga sekitar banyak yang melihat kejadian tersebut. Dan pihak kepolisian segera memasang garis polisi warna kuning.
Edo dan kawan-kawan setelah tertangkap polisi segera menjalani pemeriksaan. Pihak kepolisian segera melakukan pemeriksaan intensif untuk menggali informasi.
"Sebaiknya kamu mengaku darimana bisa mendapatkan barang haram tersebut!" tegas anggota kepolisian yang sedang menginterogasi Edo dan kawan-kawan.
"Kami sendiri tidak tahu asal mula barang tersebut. Kami mendapatkan barang tersebut juga dari orang yang baru saja kami kenal." jawab Edo.
"Kamu jangan membohongi saya ya!" bentak anggota kepolisian tersebut.
"Beneran pak. Saya tidak bohong."
"Baiklah. Sementara kamu ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Edo dan kawan-kawan harus menjalani menjadi tahanan kepolisian.
Setelah melalui proses maraton, akhirnya Edo,Boy, dan 3 orang tersebut dinyatakan bersalah karena telah menyalahgunakan narkoba jenis sabu-sabu. Karena Edo hanya sebagai pemakai, bukan pengedar sehingga hanya menjalani hukuman dengan dimasukkan ke dalam rehabilitasi ketergantungan narkoba selama 6 bulan. Sedangkan Boy dan 3 orang tersebut dijatuhi hukuman lebih berat karena mereka sebagai pemasok barang terlarang tersebut.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Kk
jjj ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...