Kuraih Mimpiku

Reads
2K
Votes
3
Parts
24
Vote
Report
Penulis Agung Budi Prasetya

Bab 10 Semangat Untuk Bangkit

Setelah menerima panggilan telepon dari mamanya tersebut, Edo memilih untuk tidak memenuhi keinginan mamanya tersebut. Karena dia sudah tidak merasa nyaman tinggal di rumah orangtuanya. Sebaliknya,dia sekarang merasakan ketentraman dan kedamaian tinggal di rumah Erika. Meskipun cuma rumah sederhana, tapi dia merasa tenang dalam menjalani hidup ini.
Pukul 6 pagi dia sudah bangun dan beraktivitas seperti biasanya yakni menimba air dari sumur kemudian dimasukkan ke dalam bak mandi. Sedangkan Erika juga sedang memasak di dapur. Saat itu Erika sedang memasak nasi dengan kayu bakar yang sudah dibelah dalam beberapa bagian.
Edo yang sudah selesai mandi segera menghampiri Erika yang masih memasak di dapur.
"Rik, kenapa kok kamu nggak beli kompor untuk memasak nasi?"
"Memangnya kenapa, Do?"
"Kalo memasak pake kompor bisa lebih cepat matang dan nggak terlalu ribet dalam menyalakan apinya."
"Justru ini menjadi tantangan tersendiri bisa menyalakan api di dalam tungku yang memakai kayu bakar. Ini untuk pelajaran hidup jika ingin memperoleh sesuatu harus usaha, jangan cuma cari yang praktis saja."
Edo terdiam dan tidak memberikan tanggapan atas ucapannya Erika tersebut.
"Do, nanti tolong nasinya dibawa ke dalam ya!"
"Baik."
Setelah selesai masaknya, Erika mengajak Edo untuk sarapan. Ketika menikmati masakan yang disuguhkan oleh Erika tersebut, tiba-tiba dia terdiam sejenak. Erika mengerutkan alisnya melihat Edo diam, tidak makan masakannya tersebut.
"Kenapa,Do? Masakanku nggak enak ya? Maklum, masakan kampung nggak seenak di rumah kamu." ucap Erika.
"Kamu jangan berkata seperti itu,Rik! Bukannya masakan kamu itu nggak enak. Justru sebaliknya, masakan kamu sangat khas dan citarasa sangat menggoda. Baru kali ini aku merasakan masakan selezat ini. Seharusnya kamu itu jadi Master Chef aja,Rik!"
"Uh.... gombal!!!"
"Ini beneran,Rik! Aku nggak bohong sama kamu."
"Sudahlah, cepat segera dihabiskan!" perintah Erika kepada Edo.
Sudah beberapa hari lamanya Edo tinggal di rumah Erika. Pelan-pelan dia sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Dia sudah bisa melakukan beberapa pekerjaan yang selama ini belum pernah dilakukan. Hal ini meringankan bagi Erika karena ada yang membantunya untuk melakukan pekerjaan rumah.
Ketika sedang mengerjakan pekerjaan rumah di halaman belakang, ponselnya Edo yang tergeletak di meja berdering. Erika yang melihat ponselnya Edo berdering, segera mengambilnya dan menyerahkan kepada Edo.
"Do, telepon kamu berdering. Ini angkat dulu! Mungkin ada berita penting."
"Dari siapa,Rik?"
"Nggak tahu. Aku nggak membacanya."
Edo kemudian mengangkat panggilan masuk tersebut. Dan panggilan itu dari mamanya yang mengajak ketemuan di suatu tempat.
"Hallo ma. Ada perlu apa mama telepon Edo?"
"Kamu sedang ngapain, Sayang?" tanya Vita kepada putranya.
"Edo sedang bersih-bersih rumah. Ada apa?"
"Bisa nggak kamu menyempatkan waktu untuk ketemu mama?"
"Sekarang,Ma?"
"Ya....iya, sekarang!"
"Kayaknya Edo nggak bisa deh kalo sekarang. Lain waktu aja,Ma!"
"Waduhhhh....ini mumpung mama bisa keluar!!
"Tapi ma?"
"Nggak ada tapi-tapian! Kamu harus menemui mama hari ini!" ucap Vita sambil menutup teleponnya.
"Yah... malah dimatiin lagi teleponnya!!"
Edo jengkel karena mamanya memaksakan diri untuk mengajak ketemu.
"Kenapa mama kok maksa banget pengin ngajak ketemu sama Edo?" tutur Edo.
"Berangkatlah,Edo!" kata Erika yang membuat Edo terkejut.
"Eh....kamu,Rik? Bikin kaget aku aja."
"Tadi yang menelepon mama kamu kan?"
"Iya. Mama ngajak ketemuan hari ini."
"Kenapa kamu nggak berangkat sekarang?"
"Rik, kamu tahu kan kalo aku harus bantuin kamu beresin rumah?"
"Sudah tinggal aja. Aku bisa melakukan sendiri. Sebaiknya kamu temui mama kamu yang ingin ngajak ketemu. Jangan sampai kamu membuatnya kecewa."
"Nggak apa-apa nih aku tinggal?"
"Nggak apa-apa. Tinggal aja."
Edo segera masuk kamar untuk ganti baju. Selanjutnya dia naik ojek menemui mamanya di restoran elit Jakarta.

Sementara itu Vita Sanjaya sudah lebih dulu tiba di restoran tersebut. Dia memilih tempat dekat pintu masuk agar Edo bisa melihatnya.
Saat itu pelayan restoran menanyakan pesanannya.
"Selamat siang nyonya. Nyonya ingin pesan menu apa di restoran ini?"
"Tunggu sebentar ya,Mbak! Saya sedang menunggu anak saya yang sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Baiklah, nyonya. Jika nantinya pesan sesuatu bisa memanggil saya."
Vita Sanjaya hanya menganggukan kepala.
Tak lama kemudian Edo telah tiba di tempat tersebut. Vita segera melambaikan tangan agar terlihat oleh Edo.
Edo segera menuju tempat duduk mamanya.
"Apa kabar anak mama yang paling bandel?" sapa Vita kepada putranya.
"Sudah lama mama menunggu Edo?" tanya Edo kepada mamanya.
"Sudah 10 menitan. Kamu mau pesan apa, Sayang?"
Edo dan Vita membaca katalog daftar menu restoran tersebut. Setelah menjatuhkan pilihan untuk menu yang dipesan, Vita segera memanggil pelayan restoran tersebut.
"Saya pesan ini ya,Mbak!" ujar Vita sambil menunjuk menu yang ada di katalog.
"Saya pesan yang ini." ujar Edo.
Selanjutnya pelayan restoran tersebut membawa pesanan yang diminta Edo dan mamanya ke dapur restoran untuk segera dibuat.
"Ada apa kok mama ngotot ngajak ketemu Edo hari ini?"
"Mama sengaja ngajak ketemu hari ini karena mumpung ada kesempatan."
"Maksudnya gimana,Ma?"
"Edo, hari ini papa kamu sedang pergi keluar kota selama 1 hari. Selagi papa kamu nggak di rumah,maka mama mengajak ketemu dengan kamu. Sebab jika papa di rumah, mama nggak bakal diijinkan untuk ketemu sama kamu."
"O....gitu!"
"Iya sayang."
"Lalu sekarang apa yang ingin mama bicarakan dengan Edo?"
"Edo, selama ini mama selalu kepikiran kamu terus. Mama pengin tanya kepada kamu. Tolong, jawab dengan jujur!"
"Mama mau tanya apa?"
"Selama ini kamu tinggal di mana? Apakah kehidupan kamu terjamin setelah keluar dari rumah?"
"Mama, beberapa waktu lalu Edo sudah bilang bahwa Edo baik-baik saja."
"Lalu kamu tinggal dimana? Kasih tahu mama supaya mama bisa lega dan nggak kepikiran kamu terus!"
"Selama ini Edo tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana."
"Rumah siapa itu? Mama pengin tahu orangnya."
"Rumahnya Erika."
"Siapa itu Erika?"
"Seorang wanita cantik sederhana yang tinggal seorang diri. Dia orang yang baik hati,penuh perasaan dan perhatian. Dia juga yang mengajarkan banyak hal kepada Edo tentang kehidupan. Dari situ Edo memetik pelajaran berharga darinya. Dia pula yang pernah menyelamatkan Edo dari kematian."
"Kematian? Apa maksudmu, Edo?"
"Mama, saat Edo terusir dari rumah, Edo merasa kesepian, depresi dan frustrasi. Saat itu Edo sudah nggak kuat lagi dan ada keinginan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri."
"Astaghfirullah hal adzim. Lalu?"
"Untung, Erika muncul di waktu yang tepat. Dia menyadarkan Edo dari kekeliruan tersebut."
"Syukurlah, kalo gitu. "
Selanjutnya Vita Sanjaya segera membuka tasnya dan menyerahkan sejumlah uang dalam bentuk amplop kepada Edo.
"Edo, mama benar-benar mengkhawatirkan keadaan kamu. Untuk sementara waktu kamu memakai kartu ATM milik mama ingin untuk jaga-jaga apabila suatu saat nanti kamu membutuhkan. Sedangkan yang ini,kamu serahkan kepada Erika. Sampaikan salam mama kepadanya."
"Baik mama. Nanti akan Edo sampaikan ke Erika."
Setelah menyelesaikan makan siang, Vita Sanjaya dan Edo meninggalkan restoran tersebut untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Mereka kemudian berpisah sambil berpelukan.
Edo pulang kembali ke rumah Erika.

Sesampainya di rumah, Edo menyampaikan amanat mamanya untuk menyerahkan sejumlah uang untuk diberikan kepada Erika.
"Sudah pulang kamu,Do?"
"Sudah. Mama titip salam kepada kamu."
"Oh ya! Salam balik juga buat mama kamu ya!"
"Oh ya,Rik! Ini ada titipan juga dari mama buat kamu."
"Apa ini? Astaga, ini uang sebanyak ini buat siapa?"
"Ya.... buat kamu dong! Masak buat aku sih!"
"Ini kebanyakan. Aku nggak bisa menerima semua ini."
"Tolong, jangan ditolak! Ini amanah dari mama."
"Udah,aku separo saja. Sisanya buat kamu jika suatu saat kamu membutuhkan."
"Kamu enggak mau semuanya,Rik?"
"Ini sudah cukup,Do. Terima kasih untuk perhatian mama kamu ke aku."
"Kalo mama bener-bener perhatian sama aku. Beda banget dengan papa aku."
"Lho....kok bisa begitu?"
"Nyatanya papa tega mengusir aku dari rumah."
"Pasti ada alasannya sehingga papa kamu berbuat seperti itu."
"Papa malu melihat kelakuanku waktu itu."
"Malu kenapa,Do? Memang kamu pernah berbuat kesalahan sehingga membuat papa kamu malu?"
"Pernah sih. Tapi rasanya nggak pantas aku ceritakan. Karena itu suatu aib."
"Ya udah, kalo itu itu sebuah rahasia. Aku tak akan memaksa. Sekarang kamu istirahat aja. Aku mau beresin dapur dulu." ujar Erika yang membalikkan badannya menuju ke dapur.
Edo ada suatu kebimbangan antara cerita atau tidak tentang masa lalunya. Akhirnya, setelah dipikir-pikir dengan matang, dia memilih untuk cerita.
"Tunggu,Rik!"
Erika menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Edo.
"Ada apa,Do?"
"Aku akan ceritakan pengalaman masa lalu aku. Tapi kamu simpan saja, jangan cerita ke orang lain."
"Baiklah."
Erika duduk lagi di kursi untuk mendengarkan cerita Edo. Edo kemudian menceritakan masa lalunya ketika masih menjadi anak band. Karena tergiur oleh kesuksesan sehingga lupa diri. Akibatnya, dia bersentuhan dengan narkoba jenis sabu-sabu sehingga dia masuk rehabilitasi ketergantungan narkoba. Setelah keluar, teman-teman bandnya mulai meninggalkan dia dan papanya mengusir dari rumah. Edo menceritakan semuanya lengkap dari A sampai Z.
"Itu masa lalu aku,Rik! Puncaknya, ketika aku mau bunuh diri tapi bisa kamu cegah."
"Aku bisa memahami dan mengerti yang kamu rasakan,Do."
"Sekarang ini aku nggak tahu harus berbuat apa untuk membuktikan diri bahwa aku bisa berguna untuk orang lain. Selama ini banyak yang menganggap aku tak mampu."
"Kalo aku jadi kamu, aku justru termotivasi."
"Maksud kamu?"
"Saat aku disepelekan, direndahkan, diremehkan bahkan dipandang sebelah mata, aku justru nggak merasa tertekan. Sebaliknya, aku justru merasa tertantang dan termotivasi untuk membuktikan. Bahkan ini bisa ku jadikan peluang untuk membalikkan keadaan."
"Apakah bisa,Rik?"
"Kenapa enggak? Kamu harus semangat untuk bangkit dan membuktikan bahwa kamu mampu."
"Begitu ya,Rik?"
"Iya. Kamu itu lelaki. Kamu harus tangguh dalam menghadapi tantangan. Jangan putus asa, jangan menyerah oleh keadaan, tetap semangat. Dan yang lebih penting lagi, kamu jangan bersentuhan lagi dengan barang haram tersebut yang justru bisa membawa kesengsaraan hidup kamu. Karena barang tersebut nikmat membawa sengsara. Paham dengan ucapan aku tadi?"
"Paham,Rik! Thank you untuk masukannya tersebut."
"Sama-sama. Sekarang kamu mandi. Habis itu kita makan malam bersama."
Edo kemudian mandi dan makan malam bersama Erika di rumah. Setelah itu dia kemudian masuk ke kamar untuk tidur.







Other Stories
Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Download Titik & Koma