Kuraih Mimpiku

Reads
2K
Votes
3
Parts
24
Vote
Report
Penulis Agung Budi Prasetya

Bab 15 Awal Pertemuan Dengan Vonny

Setelah terusir dari tempat tersebut, Edo ingin pulang ke tempat tinggalnya saat ini. Setelah dinasehati oleh Norman,dia menyingkir daripada muncul masalah di kemudian hari. Selama perjalanan dia bersungut-sungut melihat peristiwa yang dialaminya.
"Kenapa masih ada orang yang iri dan syirik ama gue. Padahal gue cari rejeki dengan cara yang halal dan kagak merugikan orang lain. Gue juga kagak merasa bersaing dengan dia. Kenapa justru dia merasa tersaingi dan kagak terima? Bukankah rejeki setiap orang udah ada yang mengatur? Pusing gue jika memikirkan hal ini."
Ketika itu Edo sedang dalam perjalanan pulang menyusuri jalan aspal yang berlubang dan tidak rata. Bahkan di pinggir jalan banyak genangan air hujan yang belum mengering.
Saat jalan tersebut, tiba-tiba ada mobil yang lewat di sampingnya. Tanpa sengaja ban mobil tersebut menginjak genangan air yang ada di pinggir jalan tersebut sehingga muncrat mengenai baju Edo.
Sontak Edo emosi dan mengumpat mobil yang baru saja lewat tersebut.
"Hey....kalo kalo jalan pake mata dong? Mentang-mentang orang kaya punya mobil jalannya seenak sendiri." umpat Edo kepada pengemudi mobil tersebut.
Pengemudi mobil tersebut menghentikan mobil 10 meter dari lokasi tersebut. Dia melepaskan kacamata hitam dan turun dari mobilnya untuk mendatangi Edo yang masih memegang bajunya basah kuyup tersiram air yang menggenang di jalan tersebut.
"Sorry mas,aku nggak sengaja membuat baju mas jadi basah."
"Nggak sengaja gimana? Baju gue cuma satu ini malah elu siram pake air kotor. Elu harus....." Seketika Edo terkejut dan diam membisu karena di hadapannya ada wanita cantik. Dia bengong beberapa saat sehingga gitar yang dipegang lepas dari tangannya.
"Aku harus gimana,Mas? Bilang aja apa maunya mas! Kalo minta ganti rugi, berapa aku harus ganti rugi?"
Edo masih bengong terpesona melihat kecantikan wanita yang ada di hadapannya.
Wanita tersebut segera memanggilnya sambil melambaikan tangan. Seketika Edo sadar dengan lamunannya.
"Diajak ngomong kok bengong sih,Mas?"
"Tadi mbak tanya apa? Saya nggak dengar tadi yang diomongkan mbak...."
"Oh ya, perkenalkan nama saya Vonny Sukowati. Nama mas siapa?"
"Edo....Edo Sanjaya."
"Sekarang mas Edo minta ganti rugi berapa setelah aku membuat baju mas Edo basah kuyup?"
"Nggak... nggak jadi!!"
"Lho....kok nggak jadi sih! Gimana mas Edo ini?"
"Nggak apa-apa kok." ujar Edo sambil mengambil gitarnya yang jatuh.
"Mas Edo seorang musisi ya?"
"Lho kok tahu?"
"Lha itu bawa gitar. Berarti mas Edo pasti seorang musisi."
"Iya musisi....tapi musisi jalanan alias pengamen."
"Nggak apa-apa. Itu juga pekerjaan yang halal dan banyak pahalanya hehehe." ujar Vonny sambil tertawa.
"Lho kok bisa?"
"Karena pekerjaannya menghibur banyak orang."
"O... begitu ya!"
"Begini aja, sekarang mas Edo ikut aku aja. Anggap aja sebagai permintaan maaf."
"Kemana?"
"Udah, ikut aja!"
Edo masuk ke mobilnya Vonny dan gitarnya ditaruh di jok belakang. Mobil Vonny melaju menyusuri jalan menuju kompleks pertokoan. Di kompleks pertokoan tersebut, Vonny mengajak Edo masuk ke toko baju.
"Silahkan mas Edo memilih baju yang disukai, nanti aku yang membayar!" ucap Vonny.
Edo segera memilih baju dan menunjukkan kepada Vonny.
"Lho....kok cuma ngambil satu bajunya. Ambil 3-4 baju! Sekalian celana juga nggak apa-apa. Nanti aku yang membayar semuanya."
"Nggak apa-apa nih aku nambah lagi?"
"Nggak apa-apa. Tenang aja."
Akhirnya Edo mengambil 3 stel baju dan celana dan langsung diserahkan kepada Vonny.
"Sudah, cuma itu! Nggak nambah lagi?" tawar Vonny.
"Nggak udah cukup."
"Oke, kita ke kasir."
Vonny dan Edo segera menuju ke kasir untuk membayar pesanan barang yang diambilnya. Vonny menyodorkan kartu kredit untuk membayarnya. Lalu dia berkata pada Edo.
"Baju yang dipakai mas Edo sudah basah. Mending ganti dengan baju baru yang barusan dibeli."
"Oke."
Edo segera menuju ke kamar ganti untuk mengganti bajunya yang basah kuyup tersiram air yang menggenang di jalan. Sedangkan bajunya yang kotor dimasukkan ke dalam tas belanja dari toko tersebut.
Setelah selesai, Edo menemui Vonny lagi. Setelah itu mereka meninggalkan toko baju tersebut.
"Mas Edo, kita makan dulu ya! Aku lapar nih!Setelah itu aku akan mengantar mas Edo pulang ke rumah."
"Oke,aku ngikut aja."
Edo dan Vonny segera menuju ke food court untuk makan. Mereka segera memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang, mereka menyempatkan diri untuk ngobrol.
"Gimana kalo mulai sekarang dan seterusnya kita memanggil langsung nama nggak perlu pake embel-embel. Aku memanggilmu Edo dan kamu memanggilku Vonny? Agar supaya bisa lebih akrab."
"Setuju mbak....eh Vonny!!"
"Tuh...kan! Kebiasaan deh!!" ujar Vonny sambil tersenyum.
Tak lama kemudian pesanan mereka sudah datang. Tanpa tunggu waktu lama mereka segera menyantapnya. Setelah selesai, Vonny meminta Bill kepada pelayan restoran cepat saji tersebut. Setelah membaca totalnya, Vonny menyodorkan kartu di nampan ke pelayan tersebut. Setelah lunas, pelayan tersebut menyerahkan kembali kepada Vonny.
Mereka berdua meninggalkan restoran tersebut untuk menuju tempat tinggalnya Edo saat itu. Ketika tiba di lokasi tempat tinggalnya Edo, Vonny terkejut melihat tempat tinggalnya Edo.
"Jadi, selama ini kamu tinggal di sini,Do?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Emang kamu betah tinggal di sini?"
"Yah.... gimana lagi? Aku nggak punya tempat tinggal. Yang penting nggak kepanasan dan kehujanan bagiku udah cukup."
"Udah berapa lama kamu tinggal di sini?"
"Kurang lebih udah seminggu."
Kemudian mereka masuk ke dalam gudang tersebut. Saat masuk, Vonny mencium aroma udara pengap dan bau yang menyengat hidung.
"Kamu benar-benar betah tinggal dalam kondisi seperti ini. Kalo aku udah nggak tahan."
"Betah nggak betah, adanya cuma ini. Yah...harus diterima apa adanya."
"Gimana untuk saat ini kamu tinggal di tempat aku? Kamu bisa tinggal di tempat yang lebih layak ketimbang di sini yang udaranya pengap dan aromanya yang menyengat."
"Nggak usah repot-repot,Von! Aku jadi nggak enak ngrepotin kamu terus."
"Nggak kok, nggak repot. Aku malah senang tempat tinggal aku ada yang menempati. Ketimbang kosong nggak ada yang menempati. Sekarang kamu beresin barang kamu yang akan dibawa. Aku tunggu di mobil."
Edo segera membereskan barang-barangnya yang ada di dalam gudang tua tersebut. Setelah selesai, semua barang dimasukkan ke bagasi mobil Vonny. Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat tersebut. Mobil Vonny menuju ke arah villa miliknya yang berada di Serpong.






Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Download Titik & Koma