Bab 13 Godaan Untuk Nyabu
Edo benar-benar pergi jauh meninggalkan Erika. Dia memulai petualangannya mencari jatidiri. Dia berjalan cukup jauh hingga sampai kakinya terasa bengkak karena dipaksa menempuh perjalanan yang tidak biasa dilakukan.
Merasa sudah tidak mampu untuk berjalan, Edo memilih berhenti untuk istirahat. Saat itu dia mampir di kios untuk makan. Karena perutnya seharian belum terisi.
Setelah selesai makan, dia istirahat sejenak dengan duduk di sebuah bangku kota. Dia melihat ke langit untuk melihat cuaca pada malam itu.
"Kayaknya cuacanya cerah, kagak hujan sehingga gue bisa lebih lama lagi duduk di tempat ini."
Ketika menikmati istirahat, tiba-tiba Edo dikejutkan oleh suara deru mesin kendaraan yang meraung-raung memekakkan telinga. Edo merasa jengkel dengan suara kendaraan bermotor yang meraung-raung tersebut.
"Busyet dah, gue pengin istirahat sejenak kok kagak bisa. Ada aja gangguan yang bikin gue jengkel."
Edo tidak mengetahui bahwa tak jauh dari posisinya dijadikan area balapan liar. Di area tersebut sering kali dijadikan ajang taruhan dengan mempertontonkan adu balap di antara para pembalap liar tersebut.
Mereka yang ikut atau cuma pasang taruhan bersorak sorai untuk mendukung salah satu pembalap yang akan saling beradu kecepatan di tempat tersebut.
Saat adu balap dimulai, semua yang hadir mulai pasang taruhan.
Dan adegan balapan liar tersebut dimulai. Ada 2 pembalap yang akan bertarung dalam balapan liar tersebut. Yang satu bernama Gilang, sedangkan satunya bernama Robby.
Setelah bertarung di area jalanan tersebut, terlihat bahwa Gilang bisa mengungguli Robby sehingga dia berhak membawa uang hasil taruhannya tersebut. Robby yang dipecundangi oleh Gilang merasa jengkel dan marah. Dia langsung meninggalkan tempat arena balapan liar tersebut.
Sedangkan Gilang yang menang taruhan merasa girang bukan main. Ketika sedang menikmati kemenangan, tiba-tiba ada suara mobil patroli polisi. Seketika yang ada di area tersebut membubarkan diri.
Gilang yang baru saja menang taruhan segera melarikan sepeda motor. Sial bagi dirinya ketika terdengar suara sirine mobil patroli polisi, tiba-tiba mesin motor mogok. Dinyalakan tetap tidak bisa sehingga dia langsung melarikan diri dan sepeda motor ditinggal. Ketika Gilang lari, menabrak Edo yang sedang akan beranjak dari bangku.
"Bang, hati-hati dong kalo jalan! Jangan main tabrak aja." ucap Edo emosi.
"Sorry, gue kagak sengaja."
"Kagak sengaja? Enak aja bilang kagak sengaja!"
Melihat Edo, Gilang meminta tolong kepada Edo untuk melindunginya.
"Iya gue minta maaf. Tapi bisa kagak elu tolongin gue?"
"Tolongin gimana,Bang?"
"Elu denger sendiri kan ada sirine mobil patroli polisi. Gue mau lari, ternyata gue beneran apes. Motor gue mogok, mesinnya kagak mau nyala."
"Lalu apa yang harus gue lakuin?" tanya Edo.
"Jika nantinya polisi tanya ke elu tentang gue,elu bilang kagak tahu. Jangan tunjukkin posisi gue. Gue kagak mau terciduk polisi. Sekarang gue mau sembunyi dulu." ujar Gilang yang kemudian bersembunyi di belakang kios tersebut.
Sementara itu polisi yang sedang melakukan patroli melakukan penyisiran lokasi tempat arena balapan liar tersebut. Ketika melihat keberadaan Edo, polisi tersebut menanyakan kepada Edo tentang peristiwa yang terjadi.
"Selamat malam." sapa polisi tersebut kepada Edo.
"Selamat malam." jawab Edo.
"Saya mau tanya, apakah mas tahu peristiwa yang terjadi. Kami mendapatkan laporan bahwa di tempat ini dijadikan ajang balapan liar. Setelah kami tiba di sini, ternyata sudah bubar. Apakah mas tahu kemana perginya mereka?"
"Waduh.... mohon maaf pak polisi! Dari tadi saya berada di sini. Tapi nggak melihat ada arena balapan liar di sini."
"Apakah anda yakin bahwa di sini nggak ada ajang seperti itu?"
"Yakin pak. Percaya sama saya bahwa nggak ada ajang seperti itu di sini. Laporan tadi sangat menyesatkan."
Ketika polisi yang sudah mulai percaya dengan keterangan Edo, tiba-tiba melihat ada sepeda motor berada di lokasi tersebut dan kunci masih menempel di motor tersebut. Polisi tersebut menanyakan kepada Edo tentang pemilik sepeda motor tersebut.
"Itu motor siapa,Mas? Kok masih ada di situ."
"O....itu?"
"Iya. Motor siapa? Apakah motor salah satu pembalap liar tersebut?"
"Bukan pak polisi. Motor itu milik saya."
"Kenapa masih ada di situ? Kenapa nggak anda bawa pergi?"
"Tadinya saya mau pulang. Ketika mau menyalakan motor tersebut, mendadak mogok. Dan saya sedang menunggu kedatangan teknisi untuk memperbaiki mesin motor yang sedang bermasalah tersebut. Ini sedang dalam perjalanan kemari."
"Baiklah, sementara saya percaya. Jika mas..."
"Edo. Nama saya Edo."
"Iya. Jika mas Edo menemukan hal yang mencurigakan, segera hubungi kami!"
"Baik pak."
Selanjutnya polisi tersebut segera meninggalkan lokasi tersebut. Edo bernafas lega karena bisa memberikan keterangan yang membuat polisi percaya tanpa rasa curiga sama sekali.
Gilang yang mendengar pembicaraan Edo dan polisi juga ikut senang. Dia kemudian keluar menemui Edo.
"Thank you bro. Berkat elu gue selamat, kagak diciduk polisi."
"Tapi gue juga keringetan,Bang! Takut polisi tahu jika gue bohong. Untung tadi gue bisa ngeles sehingga polisi tersebut percaya."
"Ya udah, kagak usah elu pikir. Sekarang elu ikut gue!" ajak Gilang kepada Edo.
"Kemana,Bang?"
"Ikut aja ama gue. Oh ya, nama elu siapa?"
"Edo."
"Nama gue Gilang. Ayo... sekarang elu ikut gue bersenang-senang!"
Edo diajak naik motornya Gilang untuk kumpul dengan teman-teman Gilang. Begitu sampai, mereka sudah bersenang-senang bahkan ada yang menenggak minuman keras.
Edo yang melihat situasi seperti itu menjadi tidak nyaman. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa melihat kondisi dan situasi seperti itu.
"Gimana, barangnya sudah ada belum?" tanya Gilang kepada teman-temannya.
"Sudah bang. Barang sudah siap tinggal pakai."
"Mantab! Ayo...Do! Hari ini kita party bareng dan bersenang-senang."
"Siapa dia,Bang?" tanya salah satu dari teman Gilang tersebut.
"Teman baru. Namanya Edo. Dia yang menolong gue dari kejaran polisi. Kalo kagak ada dia,tamat riwayat gue terciduk polisi." jelas Gilang.
"Hebat dong!" teriak mereka.
"Do, sekarang elu harus ikut party untuk merayakan. Sekarang elu coba ini! Kalo elu sudah mencoba pasti ketagihan."
Gilang menunjukkan barang yang ada di dalam tas warna coklat. Begitu dikeluarkan dari tas, Edo terkejut dan sangat mengenali barang tersebut. Barang tersebut adalah sebuah sabu-sabu yang dulu pernah membuat dirinya harus masuk rehabilitasi.
"Enggak bang. Gue nggak akan coba." ujar Edo menolak.
"Sedikit aja, kagak usah banyak-banyak." rayu Gilang.
"Iya,elu harus coba dan nikmati sensasinya." teriak mereka.
Karena didesak terus, akhirnya Edo menyerah dan akan menikmati barang maksiat tersebut. Ketika sudah menyentuh barang tersebut, mendadak dia teringat akan pesan dan nasehat Erika untuk tidak bersentuhan dengan barang terkutuk tersebut.
"Kamu itu lelaki. Kamu harus tangguh dalam menghadapi tantangan. Jangan putus asa, jangan menyerah oleh keadaan, tetap semangat. Dan yang lebih penting lagi, kamu jangan bersentuhan lagi dengan barang haram tersebut yang justru bisa membawa kesengsaraan hidup kamu. Karena barang tersebut nikmat membawa sengsara. Paham dengan ucapan aku tadi?"
Seketika Edo langsung ingat pesan dari Erika tersebut. Sambil tersenyum dia tidak jadi mengonsumsi barang tersebut dan meletakkannya di meja
"Kenapa nggak jadi mencoba?"
"Nggak bang,lain kali aja nyobanya." ujar Edo.
"Wah....payah!! Kagak jantan elu,Do! Elu bukan lelaki jika kagak mau nyoba ini."
Edo hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Gilang.
"Celaka! Jika gue masih di sini,gue bisa berabe. Gue harus cari kesempatan supaya keluar dari sini."
Akhirnya kesempatan Edo untuk keluar sangat terbuka lebar ketika Gilang dan kawan-kawan sudah mulai tertidur pulas setelah mengonsumsi sabu-sabu. Saat itu juga Edo jalan pelan-pelan dan penuh waspada untuk bisa keluar dari tempat tersebut. Dan dia segera membuka pintu rumah tersebut untuk segera kabur dan tidak berhubungan dengan orang-orang tersebut.
"Aduh....lega rasanya bisa keluar dari tempat terkutuk itu! Jantung gue mau copot ketika kabur dan rumah tersebut. Gue takut jika gue sampai ketahuan mereka."
Edo kemudian pergi sejauh mungkin dari tempat tersebut dan tidak akan berhubungan dengan orang-orang tersebut agar tidak mengalami peristiwa pahit masa lalu.
Setelah benar-benar jauh dari tempat tersebut, Edo kemudian berpikir untuk bisa memperoleh uang untuk bisa bertahan hidup.
"Sekarang gue harus ngapain untuk bisa bertahan? Duit dari nyokap juga mulai menipis. Gue kagak bisa terus-terusan kayak gini. Gue harus berubah mulai sekarang!" tegas Edo.
Ketika Edo sedang berjalan melewati perempatan jalan, dia melihat ada pengamen yang sedang menyanyi lagu dengan membawa gitar dan speaker untuk menunjang penampilannya. Edo terobsesi untuk mengikutinya agar bisa memperoleh penghasilan sendiri.
Merasa sudah tidak mampu untuk berjalan, Edo memilih berhenti untuk istirahat. Saat itu dia mampir di kios untuk makan. Karena perutnya seharian belum terisi.
Setelah selesai makan, dia istirahat sejenak dengan duduk di sebuah bangku kota. Dia melihat ke langit untuk melihat cuaca pada malam itu.
"Kayaknya cuacanya cerah, kagak hujan sehingga gue bisa lebih lama lagi duduk di tempat ini."
Ketika menikmati istirahat, tiba-tiba Edo dikejutkan oleh suara deru mesin kendaraan yang meraung-raung memekakkan telinga. Edo merasa jengkel dengan suara kendaraan bermotor yang meraung-raung tersebut.
"Busyet dah, gue pengin istirahat sejenak kok kagak bisa. Ada aja gangguan yang bikin gue jengkel."
Edo tidak mengetahui bahwa tak jauh dari posisinya dijadikan area balapan liar. Di area tersebut sering kali dijadikan ajang taruhan dengan mempertontonkan adu balap di antara para pembalap liar tersebut.
Mereka yang ikut atau cuma pasang taruhan bersorak sorai untuk mendukung salah satu pembalap yang akan saling beradu kecepatan di tempat tersebut.
Saat adu balap dimulai, semua yang hadir mulai pasang taruhan.
Dan adegan balapan liar tersebut dimulai. Ada 2 pembalap yang akan bertarung dalam balapan liar tersebut. Yang satu bernama Gilang, sedangkan satunya bernama Robby.
Setelah bertarung di area jalanan tersebut, terlihat bahwa Gilang bisa mengungguli Robby sehingga dia berhak membawa uang hasil taruhannya tersebut. Robby yang dipecundangi oleh Gilang merasa jengkel dan marah. Dia langsung meninggalkan tempat arena balapan liar tersebut.
Sedangkan Gilang yang menang taruhan merasa girang bukan main. Ketika sedang menikmati kemenangan, tiba-tiba ada suara mobil patroli polisi. Seketika yang ada di area tersebut membubarkan diri.
Gilang yang baru saja menang taruhan segera melarikan sepeda motor. Sial bagi dirinya ketika terdengar suara sirine mobil patroli polisi, tiba-tiba mesin motor mogok. Dinyalakan tetap tidak bisa sehingga dia langsung melarikan diri dan sepeda motor ditinggal. Ketika Gilang lari, menabrak Edo yang sedang akan beranjak dari bangku.
"Bang, hati-hati dong kalo jalan! Jangan main tabrak aja." ucap Edo emosi.
"Sorry, gue kagak sengaja."
"Kagak sengaja? Enak aja bilang kagak sengaja!"
Melihat Edo, Gilang meminta tolong kepada Edo untuk melindunginya.
"Iya gue minta maaf. Tapi bisa kagak elu tolongin gue?"
"Tolongin gimana,Bang?"
"Elu denger sendiri kan ada sirine mobil patroli polisi. Gue mau lari, ternyata gue beneran apes. Motor gue mogok, mesinnya kagak mau nyala."
"Lalu apa yang harus gue lakuin?" tanya Edo.
"Jika nantinya polisi tanya ke elu tentang gue,elu bilang kagak tahu. Jangan tunjukkin posisi gue. Gue kagak mau terciduk polisi. Sekarang gue mau sembunyi dulu." ujar Gilang yang kemudian bersembunyi di belakang kios tersebut.
Sementara itu polisi yang sedang melakukan patroli melakukan penyisiran lokasi tempat arena balapan liar tersebut. Ketika melihat keberadaan Edo, polisi tersebut menanyakan kepada Edo tentang peristiwa yang terjadi.
"Selamat malam." sapa polisi tersebut kepada Edo.
"Selamat malam." jawab Edo.
"Saya mau tanya, apakah mas tahu peristiwa yang terjadi. Kami mendapatkan laporan bahwa di tempat ini dijadikan ajang balapan liar. Setelah kami tiba di sini, ternyata sudah bubar. Apakah mas tahu kemana perginya mereka?"
"Waduh.... mohon maaf pak polisi! Dari tadi saya berada di sini. Tapi nggak melihat ada arena balapan liar di sini."
"Apakah anda yakin bahwa di sini nggak ada ajang seperti itu?"
"Yakin pak. Percaya sama saya bahwa nggak ada ajang seperti itu di sini. Laporan tadi sangat menyesatkan."
Ketika polisi yang sudah mulai percaya dengan keterangan Edo, tiba-tiba melihat ada sepeda motor berada di lokasi tersebut dan kunci masih menempel di motor tersebut. Polisi tersebut menanyakan kepada Edo tentang pemilik sepeda motor tersebut.
"Itu motor siapa,Mas? Kok masih ada di situ."
"O....itu?"
"Iya. Motor siapa? Apakah motor salah satu pembalap liar tersebut?"
"Bukan pak polisi. Motor itu milik saya."
"Kenapa masih ada di situ? Kenapa nggak anda bawa pergi?"
"Tadinya saya mau pulang. Ketika mau menyalakan motor tersebut, mendadak mogok. Dan saya sedang menunggu kedatangan teknisi untuk memperbaiki mesin motor yang sedang bermasalah tersebut. Ini sedang dalam perjalanan kemari."
"Baiklah, sementara saya percaya. Jika mas..."
"Edo. Nama saya Edo."
"Iya. Jika mas Edo menemukan hal yang mencurigakan, segera hubungi kami!"
"Baik pak."
Selanjutnya polisi tersebut segera meninggalkan lokasi tersebut. Edo bernafas lega karena bisa memberikan keterangan yang membuat polisi percaya tanpa rasa curiga sama sekali.
Gilang yang mendengar pembicaraan Edo dan polisi juga ikut senang. Dia kemudian keluar menemui Edo.
"Thank you bro. Berkat elu gue selamat, kagak diciduk polisi."
"Tapi gue juga keringetan,Bang! Takut polisi tahu jika gue bohong. Untung tadi gue bisa ngeles sehingga polisi tersebut percaya."
"Ya udah, kagak usah elu pikir. Sekarang elu ikut gue!" ajak Gilang kepada Edo.
"Kemana,Bang?"
"Ikut aja ama gue. Oh ya, nama elu siapa?"
"Edo."
"Nama gue Gilang. Ayo... sekarang elu ikut gue bersenang-senang!"
Edo diajak naik motornya Gilang untuk kumpul dengan teman-teman Gilang. Begitu sampai, mereka sudah bersenang-senang bahkan ada yang menenggak minuman keras.
Edo yang melihat situasi seperti itu menjadi tidak nyaman. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa melihat kondisi dan situasi seperti itu.
"Gimana, barangnya sudah ada belum?" tanya Gilang kepada teman-temannya.
"Sudah bang. Barang sudah siap tinggal pakai."
"Mantab! Ayo...Do! Hari ini kita party bareng dan bersenang-senang."
"Siapa dia,Bang?" tanya salah satu dari teman Gilang tersebut.
"Teman baru. Namanya Edo. Dia yang menolong gue dari kejaran polisi. Kalo kagak ada dia,tamat riwayat gue terciduk polisi." jelas Gilang.
"Hebat dong!" teriak mereka.
"Do, sekarang elu harus ikut party untuk merayakan. Sekarang elu coba ini! Kalo elu sudah mencoba pasti ketagihan."
Gilang menunjukkan barang yang ada di dalam tas warna coklat. Begitu dikeluarkan dari tas, Edo terkejut dan sangat mengenali barang tersebut. Barang tersebut adalah sebuah sabu-sabu yang dulu pernah membuat dirinya harus masuk rehabilitasi.
"Enggak bang. Gue nggak akan coba." ujar Edo menolak.
"Sedikit aja, kagak usah banyak-banyak." rayu Gilang.
"Iya,elu harus coba dan nikmati sensasinya." teriak mereka.
Karena didesak terus, akhirnya Edo menyerah dan akan menikmati barang maksiat tersebut. Ketika sudah menyentuh barang tersebut, mendadak dia teringat akan pesan dan nasehat Erika untuk tidak bersentuhan dengan barang terkutuk tersebut.
"Kamu itu lelaki. Kamu harus tangguh dalam menghadapi tantangan. Jangan putus asa, jangan menyerah oleh keadaan, tetap semangat. Dan yang lebih penting lagi, kamu jangan bersentuhan lagi dengan barang haram tersebut yang justru bisa membawa kesengsaraan hidup kamu. Karena barang tersebut nikmat membawa sengsara. Paham dengan ucapan aku tadi?"
Seketika Edo langsung ingat pesan dari Erika tersebut. Sambil tersenyum dia tidak jadi mengonsumsi barang tersebut dan meletakkannya di meja
"Kenapa nggak jadi mencoba?"
"Nggak bang,lain kali aja nyobanya." ujar Edo.
"Wah....payah!! Kagak jantan elu,Do! Elu bukan lelaki jika kagak mau nyoba ini."
Edo hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Gilang.
"Celaka! Jika gue masih di sini,gue bisa berabe. Gue harus cari kesempatan supaya keluar dari sini."
Akhirnya kesempatan Edo untuk keluar sangat terbuka lebar ketika Gilang dan kawan-kawan sudah mulai tertidur pulas setelah mengonsumsi sabu-sabu. Saat itu juga Edo jalan pelan-pelan dan penuh waspada untuk bisa keluar dari tempat tersebut. Dan dia segera membuka pintu rumah tersebut untuk segera kabur dan tidak berhubungan dengan orang-orang tersebut.
"Aduh....lega rasanya bisa keluar dari tempat terkutuk itu! Jantung gue mau copot ketika kabur dan rumah tersebut. Gue takut jika gue sampai ketahuan mereka."
Edo kemudian pergi sejauh mungkin dari tempat tersebut dan tidak akan berhubungan dengan orang-orang tersebut agar tidak mengalami peristiwa pahit masa lalu.
Setelah benar-benar jauh dari tempat tersebut, Edo kemudian berpikir untuk bisa memperoleh uang untuk bisa bertahan hidup.
"Sekarang gue harus ngapain untuk bisa bertahan? Duit dari nyokap juga mulai menipis. Gue kagak bisa terus-terusan kayak gini. Gue harus berubah mulai sekarang!" tegas Edo.
Ketika Edo sedang berjalan melewati perempatan jalan, dia melihat ada pengamen yang sedang menyanyi lagu dengan membawa gitar dan speaker untuk menunjang penampilannya. Edo terobsesi untuk mengikutinya agar bisa memperoleh penghasilan sendiri.
Other Stories
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...