Bab 14 Edo Terlibat Keributan Dengan Pengamen Lama
Setelah ada ide untuk mencari penghasilan melalui mengamen, Edo kemudian berinisiatif untuk membeli gitar sebagai sarana penunjang untuk mengamen tersebut. Dia berketetapan hati untuk menekuni profesi sebagai pengamen sebagai jalan untuk memperoleh penghasilan.
Untuk itu dia menuju ke toko yang menjual perlengkapan musik untuk membeli gitar. Dia kemudian memilih gitar yang akan dipakai untuk sarana mengamen tersebut.
"Berapa harganya yang ini, Mbak?" tanya Edo kepada penjual alat musik tersebut.
"Harganya 1,5 kt mas."
"Oke deh. Saya beli yang ini." ujar Edo yang memilih gitar warna coklat tua.
Setelah itu dia mencari tempat tinggal untuk berteduh dari hujan dan panas. Dia melihat ada gudang tua yang sudah tidak terawat.
Dia kemudian masuk ke dalam gudang tua tersebut yang sangat kumuh dan kotor,penuh sarang laba-laba. Dengan uang pemberian dari mamanya tersebut dia kemudian pergi keluar untuk membeli peralatan untuk membersihkan gudang tua tersebut.
Setelah membeli peralatan tersebut, dia segera membersihkan gudang tua tersebut supaya layak dipakai untuk tempat tinggal. Selesai membersihkan, dia kemudian menggelar tikar yang dipakai alas untuk tidur.
Esok harinya dia akan memulai untuk menekuni profesi sebagai pengamen jalanan. Dengan membawa gitar, dia mulai beraksi di halte perhentian bus saat bus tersebut berhenti.
Hari pertama dia menjalani profesi sebagai pengamen jalanan berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Saat itu dia banyak memperoleh penghasilan hasil dari dia menghibur penumpang lewat lantunan suara. Banyak penumpang yang merasa terhibur dengan alunan suara Edo dalam menyanyikan lagu.
Ketika turun dari bus,Edo menghitung penghasilan yang diterima. Saat itu ada petugas yang biasa mencatat keluar masuk bus menyapanya.
"Wah.... dapat uang banyak hari ini,Bro!" sapanya.
"Alhamdulillah bang. Lumayan bisa untuk makan hari ini."
"Oh ya, gue belum tahu nama elu siapa?"
"Nama gue Edo. Abang namanya siapa ya?"
"Nama gue Norman."
Ketika mereka sedang mengobrol, ada bus yang datang dan berhenti di halte tersebut.
"Tuh...ada yang datang lagi! Segera jemput rejeki elu sebelum dipatuk ayam."
"Siap bang."
Hari pertama sudah dijalani Edo dengan lancar tanpa hambatan. Dia bersyukur atas penghasilan yang diterima. Bahkan penampilan Edo dalam menghibur penumpang benar-benar sangat dinantikan.
Akibatnya, pengamen jalanan banyak yang iri dan syirik. Dan itu terjadi ketika beberapa hari kemudian setelah menjalani menjadi pengamen jalanan. Ketika itu ada pengamen yang sedang menghibur penumpang di bus, justru disuruh turun bahkan disoraki sehingga merasa jengkel. Sebaliknya, saat Edo beraksi justru disukai banyak penumpang sehingga dia mendapatkan penghasilan.
Melihat kenyataan tersebut, ada pengamen bernama Jaja merasa sakit hati dan menganggap Edo akan merebut lahan penghasilannya. Untuk itu dia mempunyai rencana untuk membuat perhitungan dengan Edo.
Ketika Edo yang baru saja turun dari bus, pengamen jalanan yang sakit hati karena merasa tersaingi, langsung tanpa pikir panjang langsung memberikan bogem mentah kepada Edo. Edo sangat terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Apa salah gue,Bang? Tiba-tiba gue dipukul abang."
"Elu kagak tahu siapa gue? Gue Jaja,orang lama di sini. Tahu kesalahan elu apa?"
"Emang salah gue apa,Bang?"
"Gara-gara elu yang ngamen di sini, sekarang gue kagak dapat apa-apa. Gue belum nyanyi udah diolok-olok penumpang, malah disuruh turun. Elu orang baru jangan belagu deh!"
"Kenapa kok gue yang disalahin? Bukankah rejeki itu udah ada yang ngatur,Bang?"
"Jawab aja elu! Sekarang mana duit elu?"
"Buat apa,Bang?"
"Serahkan kepada gue jika elu pengin selamat hidup elu!"
"Kagak bisa begitu,Bang! Ini rejeki gue,Bang!"
"Ah...gue kagak peduli! Mana duit elu? Serahkan gue sekarang!"
Melihat situasi yang memanas seperti itu, Norman yang baru saja datang segera melerai pertikaian tersebut.
"Ini ada apa kok kalian pada ribut?"
"Ini bang Norman,masak gue disuruh nyerahin duit hasil gua ngamen. Padahal itu hasil jerih payah gue dalam ngamen di sini."
"Gue kagak terima diperlakukan seperti ini. Gara-gara dia gue kagak laku ngamennya di sini. Gue ingin diperlakukan adil."
"Trus mau elu apa?"
"Gue minta duit dia hasil ngamen."
"Elu kagak bisa begitu,Ja! Dia cari duit juga usahanya sendiri."
"Ah....gue kagak peduli!! Mana duit hasil ngamen elu?"
"Do, elu yang masih berpikiran waras, mending ngalah. Serahin duit elu supaya persoalan ini selesai."
Ketika Edo merogoh uang dari saku bajunya, pengamen tersebut langsung menyerobot semua untuk yang dipegang Edo.
"Jangan diambil semua,Bang!"
"Ah.... jangan bawel!"
"Udah,Do! Kagak usah diladeni. Sekarang elu udah dapet duit,mau minta apa lagi?"
"Gue mau pulang." ujar pengamen jalanan tersebut sambil bersiul karena merasa kegirangan.
Edo jelas merasa tidak terima hasil dia mengamen, diserobot oleh pengamen tersebut. Norman segera menasehati Edo untuk menerima dengan lapang dada.
"Sudah,elu yang sabar. Itu ujian hidup bagi elu. Karena kagak semua suka jika elu dapat duit banyak dari ngamen di sini. Sebab yang menjadi ngamen di sini bukan cuma elu doang."
"Kok bisa begitu,Bang? Memang pernah ada kejadian seperti itu,Bang?"
"Sering. Namanya juga iri dan syirik, pasti kagak suka elu bisa dapat duit lebih banyak. Mereka beranggapan bahwa elu bakal merebut lahannya. Mereka akan banyak jalan untuk menjegal elu.""
"Sekarang gue harus gimana,Bang? Gue kagak punya duit untuk makan hari ini."
Norman segera merogoh uang dari saku celananya untuk diserahkan kepada Edo.
"Ini ada sedikit uang. Mungkin cukup untuk makan hari ini."
"Terima kasih bang Norman. Gue janji jika gue udah sukses bakal membalas kebaikan bang Norman."
"Udah,elu kagak usah mikirin! Sekarang elu pulang untuk nenangin hati dan pikiran elu. Kalo elu mau denger omongan gue, mending elu kagak usah berurusan dengan dia. Mending elu cari tempat yang benar-benar bisa menerima elu. Kalo elu masih di sini, selamanya kagak bisa tenang dan nyaman."
"Begitu ya,Bang!"
"Tapi itu terserah elu. Gue cuma ingin supaya elu bisa hidup tenang dan damai."
"Baik bang Norman. Terima kasih untuk nasehat dari abang."
Edo kemudian memilih pulang ke tempat tinggalnya untuk saat ini yakni gudang tua.
Untuk itu dia menuju ke toko yang menjual perlengkapan musik untuk membeli gitar. Dia kemudian memilih gitar yang akan dipakai untuk sarana mengamen tersebut.
"Berapa harganya yang ini, Mbak?" tanya Edo kepada penjual alat musik tersebut.
"Harganya 1,5 kt mas."
"Oke deh. Saya beli yang ini." ujar Edo yang memilih gitar warna coklat tua.
Setelah itu dia mencari tempat tinggal untuk berteduh dari hujan dan panas. Dia melihat ada gudang tua yang sudah tidak terawat.
Dia kemudian masuk ke dalam gudang tua tersebut yang sangat kumuh dan kotor,penuh sarang laba-laba. Dengan uang pemberian dari mamanya tersebut dia kemudian pergi keluar untuk membeli peralatan untuk membersihkan gudang tua tersebut.
Setelah membeli peralatan tersebut, dia segera membersihkan gudang tua tersebut supaya layak dipakai untuk tempat tinggal. Selesai membersihkan, dia kemudian menggelar tikar yang dipakai alas untuk tidur.
Esok harinya dia akan memulai untuk menekuni profesi sebagai pengamen jalanan. Dengan membawa gitar, dia mulai beraksi di halte perhentian bus saat bus tersebut berhenti.
Hari pertama dia menjalani profesi sebagai pengamen jalanan berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Saat itu dia banyak memperoleh penghasilan hasil dari dia menghibur penumpang lewat lantunan suara. Banyak penumpang yang merasa terhibur dengan alunan suara Edo dalam menyanyikan lagu.
Ketika turun dari bus,Edo menghitung penghasilan yang diterima. Saat itu ada petugas yang biasa mencatat keluar masuk bus menyapanya.
"Wah.... dapat uang banyak hari ini,Bro!" sapanya.
"Alhamdulillah bang. Lumayan bisa untuk makan hari ini."
"Oh ya, gue belum tahu nama elu siapa?"
"Nama gue Edo. Abang namanya siapa ya?"
"Nama gue Norman."
Ketika mereka sedang mengobrol, ada bus yang datang dan berhenti di halte tersebut.
"Tuh...ada yang datang lagi! Segera jemput rejeki elu sebelum dipatuk ayam."
"Siap bang."
Hari pertama sudah dijalani Edo dengan lancar tanpa hambatan. Dia bersyukur atas penghasilan yang diterima. Bahkan penampilan Edo dalam menghibur penumpang benar-benar sangat dinantikan.
Akibatnya, pengamen jalanan banyak yang iri dan syirik. Dan itu terjadi ketika beberapa hari kemudian setelah menjalani menjadi pengamen jalanan. Ketika itu ada pengamen yang sedang menghibur penumpang di bus, justru disuruh turun bahkan disoraki sehingga merasa jengkel. Sebaliknya, saat Edo beraksi justru disukai banyak penumpang sehingga dia mendapatkan penghasilan.
Melihat kenyataan tersebut, ada pengamen bernama Jaja merasa sakit hati dan menganggap Edo akan merebut lahan penghasilannya. Untuk itu dia mempunyai rencana untuk membuat perhitungan dengan Edo.
Ketika Edo yang baru saja turun dari bus, pengamen jalanan yang sakit hati karena merasa tersaingi, langsung tanpa pikir panjang langsung memberikan bogem mentah kepada Edo. Edo sangat terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Apa salah gue,Bang? Tiba-tiba gue dipukul abang."
"Elu kagak tahu siapa gue? Gue Jaja,orang lama di sini. Tahu kesalahan elu apa?"
"Emang salah gue apa,Bang?"
"Gara-gara elu yang ngamen di sini, sekarang gue kagak dapat apa-apa. Gue belum nyanyi udah diolok-olok penumpang, malah disuruh turun. Elu orang baru jangan belagu deh!"
"Kenapa kok gue yang disalahin? Bukankah rejeki itu udah ada yang ngatur,Bang?"
"Jawab aja elu! Sekarang mana duit elu?"
"Buat apa,Bang?"
"Serahkan kepada gue jika elu pengin selamat hidup elu!"
"Kagak bisa begitu,Bang! Ini rejeki gue,Bang!"
"Ah...gue kagak peduli! Mana duit elu? Serahkan gue sekarang!"
Melihat situasi yang memanas seperti itu, Norman yang baru saja datang segera melerai pertikaian tersebut.
"Ini ada apa kok kalian pada ribut?"
"Ini bang Norman,masak gue disuruh nyerahin duit hasil gua ngamen. Padahal itu hasil jerih payah gue dalam ngamen di sini."
"Gue kagak terima diperlakukan seperti ini. Gara-gara dia gue kagak laku ngamennya di sini. Gue ingin diperlakukan adil."
"Trus mau elu apa?"
"Gue minta duit dia hasil ngamen."
"Elu kagak bisa begitu,Ja! Dia cari duit juga usahanya sendiri."
"Ah....gue kagak peduli!! Mana duit hasil ngamen elu?"
"Do, elu yang masih berpikiran waras, mending ngalah. Serahin duit elu supaya persoalan ini selesai."
Ketika Edo merogoh uang dari saku bajunya, pengamen tersebut langsung menyerobot semua untuk yang dipegang Edo.
"Jangan diambil semua,Bang!"
"Ah.... jangan bawel!"
"Udah,Do! Kagak usah diladeni. Sekarang elu udah dapet duit,mau minta apa lagi?"
"Gue mau pulang." ujar pengamen jalanan tersebut sambil bersiul karena merasa kegirangan.
Edo jelas merasa tidak terima hasil dia mengamen, diserobot oleh pengamen tersebut. Norman segera menasehati Edo untuk menerima dengan lapang dada.
"Sudah,elu yang sabar. Itu ujian hidup bagi elu. Karena kagak semua suka jika elu dapat duit banyak dari ngamen di sini. Sebab yang menjadi ngamen di sini bukan cuma elu doang."
"Kok bisa begitu,Bang? Memang pernah ada kejadian seperti itu,Bang?"
"Sering. Namanya juga iri dan syirik, pasti kagak suka elu bisa dapat duit lebih banyak. Mereka beranggapan bahwa elu bakal merebut lahannya. Mereka akan banyak jalan untuk menjegal elu.""
"Sekarang gue harus gimana,Bang? Gue kagak punya duit untuk makan hari ini."
Norman segera merogoh uang dari saku celananya untuk diserahkan kepada Edo.
"Ini ada sedikit uang. Mungkin cukup untuk makan hari ini."
"Terima kasih bang Norman. Gue janji jika gue udah sukses bakal membalas kebaikan bang Norman."
"Udah,elu kagak usah mikirin! Sekarang elu pulang untuk nenangin hati dan pikiran elu. Kalo elu mau denger omongan gue, mending elu kagak usah berurusan dengan dia. Mending elu cari tempat yang benar-benar bisa menerima elu. Kalo elu masih di sini, selamanya kagak bisa tenang dan nyaman."
"Begitu ya,Bang!"
"Tapi itu terserah elu. Gue cuma ingin supaya elu bisa hidup tenang dan damai."
"Baik bang Norman. Terima kasih untuk nasehat dari abang."
Edo kemudian memilih pulang ke tempat tinggalnya untuk saat ini yakni gudang tua.
Other Stories
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...