Bab 19 Benih Cinta Edo Dan Vonny
Sepulang dari rekaman di studio milik omnya, Vonny mengajak Edo untuk makan siang. Dia merasa perutnya sudah keroncongan minta diisi.
"Do, kita makan siang dulu ya! Perutku laper nih!"
"Oke."
"Kamu yang bawa mobilku ya! Kamu bisa nyetir mobil kan?"
"Ya bisa dong!"
"Kalo gitu kamu yang nyetir." ujar Vonny lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Edo.
Edo kemudian mengemudikan mobilnya Vonny untuk makan siang. Saat itu mereka makan siang di restoran Jepang yang berada di kawasan Atrium Senen Jakarta Pusat. Setelah sampai di lokasi, Edo segera memarkirkan mobil di lantai dasar.
Setelah selesai memarkirkan mobil,Edo dan Vonny menuju lantai dua untuk makan siang. Mereka kemudian menempati bangku yang dekat tangga masuk restoran tersebut.
Setelah duduk mereka memesan makanan dan minuman yang ada di restoran tersebut. Setelah membaca katalog menu dari restoran tersebut, mereka segera memesannya.
Ketika Edo sedang membaca pesan masuk di ponselnya, diam-diam Vonny mencuri pandang ke wajah Edo. Dia selalu tersenyum setiap kali melihat wajah Edo.
Sadar jika Vonny selalu memperhatikan dirinya, Edo kemudian menanyakannya.
"Kenapa kamu,Von? Kok dari tadi senyum-senyum terus. Kamu naksir ya sama aku?"
Mendapatkan respon tak terduga dari Edo, Vonny terkejut dan salah tingkah dan berusaha membantah ucapan Edo.
"Siapa yang lihatin kamu? Pede banget sih kamu! Aku cuma lihat orang-orang yang lalu lalang lewat sini." ujar Vonny mengelak.
"Kurang kerjaan aja! Orang lewat dilihatin."
"Ya terserah aku dong! Yang punya mata itu aku."
"Kamu nggak usah ngeles. Kamu itu nggak pandai berbohong."
"Siapa yang berbohong? Sok tahu kamu wkwkwk."
"Terserah kamu deh!"
Tak selang lama pesanan mereka sudah datang. Setelah sudah lengkap, mereka segera menyantapnya. Mereka benar-benar menikmati makanan ala Jepang tersebut.
Setelah selesai dan membayar pesanan, mereka meninggalkan restoran tersebut untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Edo mengarahkan mobil ke arah villa yang menjadi tempat tinggalnya.
Setelah sampai di villa, Edo segera turun dari mobilnya Vonny.
"Udah sampai nih,Von!"
"Oh.... udah sampai ya? Sorry,aku tadi ketiduran."
"Gimana, kamu mau masuk dulu?"
"Enggak deh,lain kali aja."
Edo kemudian menyerahkan kunci mobil kepada Vonny. Saat Edo membuka pintu pagar villa tersebut, Vonny memanggilnya.
"Edo."
"Ya. Ada apa,Von?"
"Aku ingin ngomong sesuatu kepada kamu. Boleh nggak?"
"Yang melarang siapa,Von? Kamu mau ngomong apa?"
"Aku mau ngomong......"
"Kenapa kok nggak jadi,Von?"
"Entahlah, aku jadi lupa mau ngomong apa ya?"
"Wah....payah! Sudah pelupa."
"Sebenarnya aku....aku...."
"Kamu kenapa,Von? Ngomong yang jelas."
"Nggak jadi deh! Lain kali aja. Lebih baik kamu istirahat aja. Sampai jumpa lagi di lain waktu." ujar Vonny langsung masuk mobilnya. Edo hanya memandang perginya Vonny dari jauh.
Perjalanan Vonny naik mobil sudah sampai rumah. Dia segera masuk kamar dan langsung tidur. Saat memejamkan mata, ternyata dia terbayang-bayang wajah Edo. Ketika dia tidur miring ke kanan, dia merasa mengalami halusinasi. Ketika itu dia merasa bahwa Edo sedang berada di sampingnya. Demikian pula saat miring ke kiri, bayangan Edo muncul mengganggu pikirannya.
"Kenapa aku selalu kepikiran Edo terus sih? Setiap kali mau memejamkan mata, bayangan Edo selalu muncul di hadapannya. Kenapa bayangan tersebut nggak mau pergi? Justru malah muncul terus mengganggu pikiranku. Apakah aku mulai jatuh cinta kepada Edo? Mungkinkah aku sekarang sedang terkena panah asmara dari Edo?"
Vonny benar-benar gelisah, tidak bisa tidur selalu terbayang-bayang wajah Edo.
Di lain pihak Edo juga mengalami hal yang sama. Dia selalu terbayang-bayang wajah cantik Vonny. Dia tidak bisa melupakannya meskipun berusaha keras untuk menepisnya. Tetap saja dia selalu terbayang-bayang wajah Vonny.
"Von,gue harus jujur bahwa gue sekarang udah mulai suka ama elu. Sejak pertama kali gue lihat elu, gue udah langsung jatuh cinta kepada elu. Bisa pacaran ama elu bisa membuat gue bisa move on dari Erika. Tapi gue ragu apakah elu juga cinta kepada gue? Untuk sementara waktu biarlah gue simpan perasaan gue kepada elu untuk saat ini. Gue bakal mengungkapkan perasaan gue di saat waktu yang tepat."
Selanjutnya Edo menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, dia pergi tidur.
"Do, kita makan siang dulu ya! Perutku laper nih!"
"Oke."
"Kamu yang bawa mobilku ya! Kamu bisa nyetir mobil kan?"
"Ya bisa dong!"
"Kalo gitu kamu yang nyetir." ujar Vonny lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Edo.
Edo kemudian mengemudikan mobilnya Vonny untuk makan siang. Saat itu mereka makan siang di restoran Jepang yang berada di kawasan Atrium Senen Jakarta Pusat. Setelah sampai di lokasi, Edo segera memarkirkan mobil di lantai dasar.
Setelah selesai memarkirkan mobil,Edo dan Vonny menuju lantai dua untuk makan siang. Mereka kemudian menempati bangku yang dekat tangga masuk restoran tersebut.
Setelah duduk mereka memesan makanan dan minuman yang ada di restoran tersebut. Setelah membaca katalog menu dari restoran tersebut, mereka segera memesannya.
Ketika Edo sedang membaca pesan masuk di ponselnya, diam-diam Vonny mencuri pandang ke wajah Edo. Dia selalu tersenyum setiap kali melihat wajah Edo.
Sadar jika Vonny selalu memperhatikan dirinya, Edo kemudian menanyakannya.
"Kenapa kamu,Von? Kok dari tadi senyum-senyum terus. Kamu naksir ya sama aku?"
Mendapatkan respon tak terduga dari Edo, Vonny terkejut dan salah tingkah dan berusaha membantah ucapan Edo.
"Siapa yang lihatin kamu? Pede banget sih kamu! Aku cuma lihat orang-orang yang lalu lalang lewat sini." ujar Vonny mengelak.
"Kurang kerjaan aja! Orang lewat dilihatin."
"Ya terserah aku dong! Yang punya mata itu aku."
"Kamu nggak usah ngeles. Kamu itu nggak pandai berbohong."
"Siapa yang berbohong? Sok tahu kamu wkwkwk."
"Terserah kamu deh!"
Tak selang lama pesanan mereka sudah datang. Setelah sudah lengkap, mereka segera menyantapnya. Mereka benar-benar menikmati makanan ala Jepang tersebut.
Setelah selesai dan membayar pesanan, mereka meninggalkan restoran tersebut untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Edo mengarahkan mobil ke arah villa yang menjadi tempat tinggalnya.
Setelah sampai di villa, Edo segera turun dari mobilnya Vonny.
"Udah sampai nih,Von!"
"Oh.... udah sampai ya? Sorry,aku tadi ketiduran."
"Gimana, kamu mau masuk dulu?"
"Enggak deh,lain kali aja."
Edo kemudian menyerahkan kunci mobil kepada Vonny. Saat Edo membuka pintu pagar villa tersebut, Vonny memanggilnya.
"Edo."
"Ya. Ada apa,Von?"
"Aku ingin ngomong sesuatu kepada kamu. Boleh nggak?"
"Yang melarang siapa,Von? Kamu mau ngomong apa?"
"Aku mau ngomong......"
"Kenapa kok nggak jadi,Von?"
"Entahlah, aku jadi lupa mau ngomong apa ya?"
"Wah....payah! Sudah pelupa."
"Sebenarnya aku....aku...."
"Kamu kenapa,Von? Ngomong yang jelas."
"Nggak jadi deh! Lain kali aja. Lebih baik kamu istirahat aja. Sampai jumpa lagi di lain waktu." ujar Vonny langsung masuk mobilnya. Edo hanya memandang perginya Vonny dari jauh.
Perjalanan Vonny naik mobil sudah sampai rumah. Dia segera masuk kamar dan langsung tidur. Saat memejamkan mata, ternyata dia terbayang-bayang wajah Edo. Ketika dia tidur miring ke kanan, dia merasa mengalami halusinasi. Ketika itu dia merasa bahwa Edo sedang berada di sampingnya. Demikian pula saat miring ke kiri, bayangan Edo muncul mengganggu pikirannya.
"Kenapa aku selalu kepikiran Edo terus sih? Setiap kali mau memejamkan mata, bayangan Edo selalu muncul di hadapannya. Kenapa bayangan tersebut nggak mau pergi? Justru malah muncul terus mengganggu pikiranku. Apakah aku mulai jatuh cinta kepada Edo? Mungkinkah aku sekarang sedang terkena panah asmara dari Edo?"
Vonny benar-benar gelisah, tidak bisa tidur selalu terbayang-bayang wajah Edo.
Di lain pihak Edo juga mengalami hal yang sama. Dia selalu terbayang-bayang wajah cantik Vonny. Dia tidak bisa melupakannya meskipun berusaha keras untuk menepisnya. Tetap saja dia selalu terbayang-bayang wajah Vonny.
"Von,gue harus jujur bahwa gue sekarang udah mulai suka ama elu. Sejak pertama kali gue lihat elu, gue udah langsung jatuh cinta kepada elu. Bisa pacaran ama elu bisa membuat gue bisa move on dari Erika. Tapi gue ragu apakah elu juga cinta kepada gue? Untuk sementara waktu biarlah gue simpan perasaan gue kepada elu untuk saat ini. Gue bakal mengungkapkan perasaan gue di saat waktu yang tepat."
Selanjutnya Edo menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, dia pergi tidur.
Other Stories
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...