Bab 21 Edo Jadian Dengan Vonny
Setelah mendapatkan lampu hijau dari kedua orangtuanya membuat Vonny senang dan bahagia. Untuk itu dia mempunyai sebuah rencana untuk bisa meresmikan hubungan spesial dia dengan Edo. Dia ingin memberikan kejutan buat Edo yang tidak disangka-sangka.
Untuk itu dia menghubungi orang-orang terdekatnya termasuk melibatkan anak buahnya Bobby Setiawan dalam rencananya tersebut. Dia kemudian menghubungi Bobby Setiawan dan ingin ketemu membicarakan rencananya tersebut.
"Hallo om Bobby. Apakah om ada di kantor?"
"Ya. Ada apa,Von?"
"Boleh nggak Vonny ke situ. Ada yang ingin Vonny omongin dengan om Bobby."
"Apa sih yang nggak boleh untuk keponakan om yang cantik ini?" ujar Bobby menggoda.
"Ah.....om Bobby bisa aja! 15 menit lagi Vonny sampai di kantor om."
"Oke, om tunggu."
Setelah itu Vonny berangkat menuju kantor Bobby. Dia mengemudikan mobilnya dengan cepat untuk bisa segera sampai di kantor Bobby Setiawan. Dia menghindari jalan yang berpotensi macet.
Tak sampai 15 menit, mobil yang dikemudikan oleh Vonny sudah tiba di kantor Bobby Setiawan. Dia segera menemui Bobby Setiawan di ruangan kantornya.
"Selamat siang om."
"Eh... Vonny! Duduk dulu! Kamu mau minum apa hari ini?"
"Nggak usah om. Vonny nggak haus kok."
"Nggak apa-apa. Biar pembicaraan bisa lebih intens. Sudah mau minum apa kamu?"
"Apa aja deh om?"
"Udah ini ada soft drink buat kamu."
"Terima kasih om."
Setelah menerima minuman dari Bobby Setiawan dan meminumnya, Vonny mengutarakan maksud dan tujuan menemui Bobby Setiawan.
"Sekarang kamu lebih baik terus terang sama om. Apa maksud dan tujuan kamu datang kemari menemui om? Pasti hal penting yang ingin kamu omongin. Benar nggak tebakan om?"
"Wah.....bener banget,Om! 100 buat om Bobby."
"Ya ampun,pake kasih skor segala! Apa yang ingin kamu omongin sekarang? Apakah tentang Edo?"
"Iya om."
"Apa yang ingin kamu omongin tentang Edo?"
"Sejujurnya aja ya om aku ingin memberikan suatu kejutan yang nggak akan dia sangka seumur hidupnya."
"Kejutan apa yang ingin kamu lakukan kepada dirinya? Jangan bilang jika kamu naksir dan suka padanya!"
"Kalo iya kenapa,Om? Emang salah ya kalo Vonny suka sama dia?"
"Ya enggak sih. Hanya saja kamu belum tahu dia, kepribadiannya,latar belakang keluarga dan sebagainya."
"Kalo tentang kepribadian dia Vonny yakin dia orang baik."
"Gimana kamu yakin kalo dia orang baik?"
"Feeling Vonny bisa merasakannya."
"Kamu jangan cuma mengandalkan feeling jika suka sama seseorang. Kamu harus tahu karakter dia sesungguhnya. Itu penting agar kamu nggak salah pilih orang jadi teman hidup kamu."
"Vonny sudah tahu karakter dia om. Karena sering kali ketemu sehingga bisa menilai dia. Vonny yakin pilihan Vonny nggak akan salah."
"Oke kalo kamu sudah yakin begitu. Lalu gimana dengan latar belakang keluarganya?"
"Kalo itu Vonny belum tahu karena dia nggak pernah cerita tentang keluarganya."
"Nah....itu! Kamu harus hati-hati, jangan sampai kamu dimanfaatkan oleh dia untuk memperoleh keuntungan pribadi."
"Om nggak usah khawatir yang berlebihan tentang dia. Vonny yakin dia bukan tipe cowok matre."
"Yakin kamu?"
"Vonny yakin bukan hanya 100%,tapi 1000% om."
"Lalu gimana dengan orang tua kamu? Apakah papi dan mami kamu setuju berhubungan dengan dia?"
"Prinsipnya papi dan mami nggak melarang Vonny menjalin hubungan dengan dia. Asalkan dia baik, jujur, dan bertanggung jawab. Itu saja "
"Ya udah. Jika kamu sudah sudah mantap dengan pilihan kamu. Lalu apa yang harus om bantu?"
"Bisakah om melibatkan karyawan om untuk ikut terlibat dengan acara yang ingin Vonny lakukan?"
"Apa yang ingin mereka lakukan di acara kamu tersebut?"
"Karyawan om Bobby cukup menjadi tamu untuk acara tersebut. Selebihnya biar Vonny yang mengatur."
"Baik kalo gitu. Kapan acaranya?"
"3 hari lagi om. Vonny ingin mengadakan acara tersebut di Ancol dengan background nuansa laut."
"Oke. Pada hari itu om akan meliburkan semua karyawan sehingga bisa hadir di acara tersebut."
"Kalo gitu Vonny pamit dulu."
"Hati-hati."
Setelah Vonny meninggalkan kantornya Bobby Setiawan, dia menghubungi bagian dekorasi dan kostum untuk acaranya tersebut. Setelah semuanya sudah sepakat,dia segera menghubungi Edo. Dia mengarahkan mobilnya ke tempat tinggalnya Edo.
Ketika itu dia melihat Edo sedang memegang gitar sambil menyanyikan lagu di teras depan. Vonny langsung menghampirinya.
"Wah.....lagi santai nih!" ujar Vonny.
"Eh....kamu,Von! Udah lama datangnya?"
"Barusan. Itu lagu baru,Do?"
"Ini baru coba aransemen aja. Liriknya belum ketemu. Ada apa kok tiba-tiba muncul?"
"Nggak boleh nih aku datang ke sini?"
"Siapa bilang nggak boleh? Apa hak aku yang cuma numpang di sini kok melarang kamu sebagai tuan rumah untuk datang?"
"Jangan gitu dong! Aku ke sini untuk mengajak kamu datang di acara keluarga."
"Kapan itu,Von?"
"3 hari lagi."
"Berarti besok hari Minggu."
"Ya betul."
"Di mana itu,Von?"
"Di Ancol. Kamu harus memakai busana yang rapi. Aku sudah menyiapkan busana yang akan dipakai di acara tersebut. Besok bagian kostum akan datang ke sini untuk mengukur baju yang akan kamu pakai. Nanti ada yang akan menjemputmu dari sini sampai lokasi. Pokoknya kamu harus datang. Titik. Udah aku pulang dulu! Bye...!!!
"Eh.... Von...Vonny!!! Yah.... udah kabur lagi. Apa maksud dari perkataannya tersebut?"
Esoknya bagian dari kostum sudah mulai melakukan pengukuran baju disesuaikan dengan ukuran tubuh Edo. Setelah selesai, mereka segera pamit untuk kembali lagi pada hari Minggu.
Pada hari Minggu siang bagian kostum sudah merias wajah Edo dan busana untuk dipakai Edo di acara tersebut. Saat itu Edo memakai tuxedo warna hitam dengan dasi kupu di tengah baju.Edo heran dengan perlakuan mereka terhadap dirinya tersebut.
"Kenapa kok pake busana seperti ini? Lagian pake rias wajah segala. Kayak mau syuting film aja. Apa maksudnya ini?"
"Maaf,kami hanya melaksanakan keinginan non Vonny sebagai klien kami."
Edo hanya diam, tidak bicara apapun. Tak lama kemudian mobil penjemput yang mengantarkan Edo ke tempat acara sudah tiba. Setelah Edo masuk ke dalam mobil ,mobil tersebut langsung meluncur ke lokasi acara.
Di pantai Ancol sudah siap dengan dekorasi dan segala macam pernak-pernik. Dan di tempat tersebut juga tersedia kursi untuk tamu yang diundang. Dan salah satu yang hadir dalam acara tersebut adalah Rendy Pasaribu, sutradara video klip lagunya Edo.
"Lho....bang Rendy! Kok bisa ada di sini sih?"
"Saya diundang oleh pak Bobby untuk acara spesial seperti ini."
"Acara spesial? Maksudnya apa ini,Bang?"
"Nanti bang Edo akan tahu sendiri." ujar Rendy Pasaribu lalu duduk di kursi yang tersedia.
Bobby Setiawan yang ditunjuk oleh Vonny sebagai koordinator acara ini juga sudah hadir. Edo ingin menanyakan tentang acara ini.
"Pak Bobby, sebenarnya ada acara apa ini? Kok nggak biasanya seperti ini."
"Vonny nggak cerita kepada kamu?"
"Nggak sama sekali. Dia cuma bilang acara keluarga."
"Nanti akan segera tahu. Akan ada kejutan dari Vonny buat kamu."
"Kejutan? Maksudnya?"
"Pertunjukan menarik itu selalu munculnya di belakang. Mohon bersabar ya!" ujar Bobby Setiawan lalu pergi meninggalkan Edo.
"Kok seperti teka teki sih?" Edo merasa kebingungan.
Di saat Edo dalam keadaan bingung, sang pembawa acara memulai acara. Dia kemudian mempersilahkan Edo naik ke atas panggung.
"Silahkan mas Edo naik ke atas panggung." ujar pembawa acara tersebut.
Edo semakin bertambah bingung dengan situasi seperti itu.
Tak lama kemudian Vonny muncul didampingi seorang cewek di belakang Edo. Vonny mendatangi Edo yang masih berdiri mematung.
"Gimana kamu suka dengan kejutan ini?" tutur Vonny.
Edo membalikkan badannya dan melihat Vonny sudah berdandan cantik dan memakai gaun warna pink sambil membawa sekuntum bunga.
"Apa maksud dari semuanya ini,Von?"
"Aku sengaja menciptakan kejutan ini buat kamu."
"Kejutan? Maksudnya?"
"Aku membuat kejutan yang nggak akan kamu lupakan sepanjang hidup kamu."
"Kejutan apa yang ingin kamu berikan padaku?"
"Hari ini di hadapan banyak orang,aku.... Vonny Sukowati akan menjadikan Edo Sanjaya untuk menjadi kekasihku. Dan bunga ini ku persembahkan padamu." ujar Vonny mempersembahkan bunga kepada Edo.
"Maksudnya apa, Von?"
"Sebentar,ini belum selesai,Do!"
Setelah itu Vonny juga meminta cewek tersebut menyerahkan sebuah kotak berupa sebuah cincin. Dengan berlutut Vonny membuka kotak warna merah hati berisi cincin lamaran kepada Edo.
"Dan cincin ini juga sebagai tanda cintaku yang tulus kepada kamu. Hari ini dihadiri oleh banyak orang sebagai saksi, aku melamar kamu, Edo!"
"Apa nggak kebalik,Von? Seharusnya itu aku yang melakukan."
"Apakah salah jika cewek melakukan ini duluan?"
"Ya enggak sih. Cuma nggak lazim aja."
"Udah, nggak usah kamu pikirkan. Aku ingin kamu mau menerima lamaran dariku ini.Karena aku beneran suka sama kamu. Aku ingin menjadi cewek kamu. Apakah kamu nggak menyukai aku?"
"Sebenarnya.... sebenarnya "
"Katakan sejujurnya, Edo!"
"Sebenarnya....aku juga suka sama kamu. Tapi aku ragu..."
"Kamu ragu kenapa?"
"Aku ragu jika kamu tolak cintaku."
"Sekarang kamu lihat sendiri bahwa aku melamar kamu. Itu menandakan bahwa aku tak menolak cinta kamu. Sekarang kamu terima lamaran dariku ini ya, Sayang!" ujar Vonny yang masih memegang kotak warna merah hati berisi cincin tersebut.
Semua yang hadir serentak tepuk tangan dan menyerukan kata-kata.
"Terima..... terima..... terima!"
Akhirnya Edo menyerah dan menganggukkan kepalanya.
"Selanjutnya ijinkan aku mengenakan cincin ini di jari manis kamu."
Edo menyerahkan jari manis kirinya untuk dipasang cincin.
Setelah selesai,Edo membantu Vonny untuk berdiri. Keduanya lalu berpelukan. Semua yang hadir ikut bertepuk tangan. Hartono dan Aliya segera menghampiri mereka berdua.
"Edo, perkenalkan kami berdua adalah papi dan mami Vonny. Hari ini kami dengan tulus dan ikhlas menyerahkan putri kami kepada kamu." ucap Hartono
"Iya. Kami percaya bahwa kamu jodoh terbaik buat Vonny." timpal Aliya.
"Terima kasih om dan tante untuk kepercayaannya.
"Kamu sebentar lagi akan jadi bagian dari keluarga kami. Masihkah memanggil kami om dan tante?"
"Saya harus memanggilnya apa?"
"Tentu saja papi dan mami."
*Baik om.....eh....papi....mami"
"Dasar!!!" ucap Vonny sewot sambil mencubit lengan Edo.
"Auw....sakit,Von!"
"Biarin....."
Semuanya yang hadir ikut tertawa dan acara diakhiri dengan ramah tamah dan makan minum bersama.
Untuk itu dia menghubungi orang-orang terdekatnya termasuk melibatkan anak buahnya Bobby Setiawan dalam rencananya tersebut. Dia kemudian menghubungi Bobby Setiawan dan ingin ketemu membicarakan rencananya tersebut.
"Hallo om Bobby. Apakah om ada di kantor?"
"Ya. Ada apa,Von?"
"Boleh nggak Vonny ke situ. Ada yang ingin Vonny omongin dengan om Bobby."
"Apa sih yang nggak boleh untuk keponakan om yang cantik ini?" ujar Bobby menggoda.
"Ah.....om Bobby bisa aja! 15 menit lagi Vonny sampai di kantor om."
"Oke, om tunggu."
Setelah itu Vonny berangkat menuju kantor Bobby. Dia mengemudikan mobilnya dengan cepat untuk bisa segera sampai di kantor Bobby Setiawan. Dia menghindari jalan yang berpotensi macet.
Tak sampai 15 menit, mobil yang dikemudikan oleh Vonny sudah tiba di kantor Bobby Setiawan. Dia segera menemui Bobby Setiawan di ruangan kantornya.
"Selamat siang om."
"Eh... Vonny! Duduk dulu! Kamu mau minum apa hari ini?"
"Nggak usah om. Vonny nggak haus kok."
"Nggak apa-apa. Biar pembicaraan bisa lebih intens. Sudah mau minum apa kamu?"
"Apa aja deh om?"
"Udah ini ada soft drink buat kamu."
"Terima kasih om."
Setelah menerima minuman dari Bobby Setiawan dan meminumnya, Vonny mengutarakan maksud dan tujuan menemui Bobby Setiawan.
"Sekarang kamu lebih baik terus terang sama om. Apa maksud dan tujuan kamu datang kemari menemui om? Pasti hal penting yang ingin kamu omongin. Benar nggak tebakan om?"
"Wah.....bener banget,Om! 100 buat om Bobby."
"Ya ampun,pake kasih skor segala! Apa yang ingin kamu omongin sekarang? Apakah tentang Edo?"
"Iya om."
"Apa yang ingin kamu omongin tentang Edo?"
"Sejujurnya aja ya om aku ingin memberikan suatu kejutan yang nggak akan dia sangka seumur hidupnya."
"Kejutan apa yang ingin kamu lakukan kepada dirinya? Jangan bilang jika kamu naksir dan suka padanya!"
"Kalo iya kenapa,Om? Emang salah ya kalo Vonny suka sama dia?"
"Ya enggak sih. Hanya saja kamu belum tahu dia, kepribadiannya,latar belakang keluarga dan sebagainya."
"Kalo tentang kepribadian dia Vonny yakin dia orang baik."
"Gimana kamu yakin kalo dia orang baik?"
"Feeling Vonny bisa merasakannya."
"Kamu jangan cuma mengandalkan feeling jika suka sama seseorang. Kamu harus tahu karakter dia sesungguhnya. Itu penting agar kamu nggak salah pilih orang jadi teman hidup kamu."
"Vonny sudah tahu karakter dia om. Karena sering kali ketemu sehingga bisa menilai dia. Vonny yakin pilihan Vonny nggak akan salah."
"Oke kalo kamu sudah yakin begitu. Lalu gimana dengan latar belakang keluarganya?"
"Kalo itu Vonny belum tahu karena dia nggak pernah cerita tentang keluarganya."
"Nah....itu! Kamu harus hati-hati, jangan sampai kamu dimanfaatkan oleh dia untuk memperoleh keuntungan pribadi."
"Om nggak usah khawatir yang berlebihan tentang dia. Vonny yakin dia bukan tipe cowok matre."
"Yakin kamu?"
"Vonny yakin bukan hanya 100%,tapi 1000% om."
"Lalu gimana dengan orang tua kamu? Apakah papi dan mami kamu setuju berhubungan dengan dia?"
"Prinsipnya papi dan mami nggak melarang Vonny menjalin hubungan dengan dia. Asalkan dia baik, jujur, dan bertanggung jawab. Itu saja "
"Ya udah. Jika kamu sudah sudah mantap dengan pilihan kamu. Lalu apa yang harus om bantu?"
"Bisakah om melibatkan karyawan om untuk ikut terlibat dengan acara yang ingin Vonny lakukan?"
"Apa yang ingin mereka lakukan di acara kamu tersebut?"
"Karyawan om Bobby cukup menjadi tamu untuk acara tersebut. Selebihnya biar Vonny yang mengatur."
"Baik kalo gitu. Kapan acaranya?"
"3 hari lagi om. Vonny ingin mengadakan acara tersebut di Ancol dengan background nuansa laut."
"Oke. Pada hari itu om akan meliburkan semua karyawan sehingga bisa hadir di acara tersebut."
"Kalo gitu Vonny pamit dulu."
"Hati-hati."
Setelah Vonny meninggalkan kantornya Bobby Setiawan, dia menghubungi bagian dekorasi dan kostum untuk acaranya tersebut. Setelah semuanya sudah sepakat,dia segera menghubungi Edo. Dia mengarahkan mobilnya ke tempat tinggalnya Edo.
Ketika itu dia melihat Edo sedang memegang gitar sambil menyanyikan lagu di teras depan. Vonny langsung menghampirinya.
"Wah.....lagi santai nih!" ujar Vonny.
"Eh....kamu,Von! Udah lama datangnya?"
"Barusan. Itu lagu baru,Do?"
"Ini baru coba aransemen aja. Liriknya belum ketemu. Ada apa kok tiba-tiba muncul?"
"Nggak boleh nih aku datang ke sini?"
"Siapa bilang nggak boleh? Apa hak aku yang cuma numpang di sini kok melarang kamu sebagai tuan rumah untuk datang?"
"Jangan gitu dong! Aku ke sini untuk mengajak kamu datang di acara keluarga."
"Kapan itu,Von?"
"3 hari lagi."
"Berarti besok hari Minggu."
"Ya betul."
"Di mana itu,Von?"
"Di Ancol. Kamu harus memakai busana yang rapi. Aku sudah menyiapkan busana yang akan dipakai di acara tersebut. Besok bagian kostum akan datang ke sini untuk mengukur baju yang akan kamu pakai. Nanti ada yang akan menjemputmu dari sini sampai lokasi. Pokoknya kamu harus datang. Titik. Udah aku pulang dulu! Bye...!!!
"Eh.... Von...Vonny!!! Yah.... udah kabur lagi. Apa maksud dari perkataannya tersebut?"
Esoknya bagian dari kostum sudah mulai melakukan pengukuran baju disesuaikan dengan ukuran tubuh Edo. Setelah selesai, mereka segera pamit untuk kembali lagi pada hari Minggu.
Pada hari Minggu siang bagian kostum sudah merias wajah Edo dan busana untuk dipakai Edo di acara tersebut. Saat itu Edo memakai tuxedo warna hitam dengan dasi kupu di tengah baju.Edo heran dengan perlakuan mereka terhadap dirinya tersebut.
"Kenapa kok pake busana seperti ini? Lagian pake rias wajah segala. Kayak mau syuting film aja. Apa maksudnya ini?"
"Maaf,kami hanya melaksanakan keinginan non Vonny sebagai klien kami."
Edo hanya diam, tidak bicara apapun. Tak lama kemudian mobil penjemput yang mengantarkan Edo ke tempat acara sudah tiba. Setelah Edo masuk ke dalam mobil ,mobil tersebut langsung meluncur ke lokasi acara.
Di pantai Ancol sudah siap dengan dekorasi dan segala macam pernak-pernik. Dan di tempat tersebut juga tersedia kursi untuk tamu yang diundang. Dan salah satu yang hadir dalam acara tersebut adalah Rendy Pasaribu, sutradara video klip lagunya Edo.
"Lho....bang Rendy! Kok bisa ada di sini sih?"
"Saya diundang oleh pak Bobby untuk acara spesial seperti ini."
"Acara spesial? Maksudnya apa ini,Bang?"
"Nanti bang Edo akan tahu sendiri." ujar Rendy Pasaribu lalu duduk di kursi yang tersedia.
Bobby Setiawan yang ditunjuk oleh Vonny sebagai koordinator acara ini juga sudah hadir. Edo ingin menanyakan tentang acara ini.
"Pak Bobby, sebenarnya ada acara apa ini? Kok nggak biasanya seperti ini."
"Vonny nggak cerita kepada kamu?"
"Nggak sama sekali. Dia cuma bilang acara keluarga."
"Nanti akan segera tahu. Akan ada kejutan dari Vonny buat kamu."
"Kejutan? Maksudnya?"
"Pertunjukan menarik itu selalu munculnya di belakang. Mohon bersabar ya!" ujar Bobby Setiawan lalu pergi meninggalkan Edo.
"Kok seperti teka teki sih?" Edo merasa kebingungan.
Di saat Edo dalam keadaan bingung, sang pembawa acara memulai acara. Dia kemudian mempersilahkan Edo naik ke atas panggung.
"Silahkan mas Edo naik ke atas panggung." ujar pembawa acara tersebut.
Edo semakin bertambah bingung dengan situasi seperti itu.
Tak lama kemudian Vonny muncul didampingi seorang cewek di belakang Edo. Vonny mendatangi Edo yang masih berdiri mematung.
"Gimana kamu suka dengan kejutan ini?" tutur Vonny.
Edo membalikkan badannya dan melihat Vonny sudah berdandan cantik dan memakai gaun warna pink sambil membawa sekuntum bunga.
"Apa maksud dari semuanya ini,Von?"
"Aku sengaja menciptakan kejutan ini buat kamu."
"Kejutan? Maksudnya?"
"Aku membuat kejutan yang nggak akan kamu lupakan sepanjang hidup kamu."
"Kejutan apa yang ingin kamu berikan padaku?"
"Hari ini di hadapan banyak orang,aku.... Vonny Sukowati akan menjadikan Edo Sanjaya untuk menjadi kekasihku. Dan bunga ini ku persembahkan padamu." ujar Vonny mempersembahkan bunga kepada Edo.
"Maksudnya apa, Von?"
"Sebentar,ini belum selesai,Do!"
Setelah itu Vonny juga meminta cewek tersebut menyerahkan sebuah kotak berupa sebuah cincin. Dengan berlutut Vonny membuka kotak warna merah hati berisi cincin lamaran kepada Edo.
"Dan cincin ini juga sebagai tanda cintaku yang tulus kepada kamu. Hari ini dihadiri oleh banyak orang sebagai saksi, aku melamar kamu, Edo!"
"Apa nggak kebalik,Von? Seharusnya itu aku yang melakukan."
"Apakah salah jika cewek melakukan ini duluan?"
"Ya enggak sih. Cuma nggak lazim aja."
"Udah, nggak usah kamu pikirkan. Aku ingin kamu mau menerima lamaran dariku ini.Karena aku beneran suka sama kamu. Aku ingin menjadi cewek kamu. Apakah kamu nggak menyukai aku?"
"Sebenarnya.... sebenarnya "
"Katakan sejujurnya, Edo!"
"Sebenarnya....aku juga suka sama kamu. Tapi aku ragu..."
"Kamu ragu kenapa?"
"Aku ragu jika kamu tolak cintaku."
"Sekarang kamu lihat sendiri bahwa aku melamar kamu. Itu menandakan bahwa aku tak menolak cinta kamu. Sekarang kamu terima lamaran dariku ini ya, Sayang!" ujar Vonny yang masih memegang kotak warna merah hati berisi cincin tersebut.
Semua yang hadir serentak tepuk tangan dan menyerukan kata-kata.
"Terima..... terima..... terima!"
Akhirnya Edo menyerah dan menganggukkan kepalanya.
"Selanjutnya ijinkan aku mengenakan cincin ini di jari manis kamu."
Edo menyerahkan jari manis kirinya untuk dipasang cincin.
Setelah selesai,Edo membantu Vonny untuk berdiri. Keduanya lalu berpelukan. Semua yang hadir ikut bertepuk tangan. Hartono dan Aliya segera menghampiri mereka berdua.
"Edo, perkenalkan kami berdua adalah papi dan mami Vonny. Hari ini kami dengan tulus dan ikhlas menyerahkan putri kami kepada kamu." ucap Hartono
"Iya. Kami percaya bahwa kamu jodoh terbaik buat Vonny." timpal Aliya.
"Terima kasih om dan tante untuk kepercayaannya.
"Kamu sebentar lagi akan jadi bagian dari keluarga kami. Masihkah memanggil kami om dan tante?"
"Saya harus memanggilnya apa?"
"Tentu saja papi dan mami."
*Baik om.....eh....papi....mami"
"Dasar!!!" ucap Vonny sewot sambil mencubit lengan Edo.
"Auw....sakit,Von!"
"Biarin....."
Semuanya yang hadir ikut tertawa dan acara diakhiri dengan ramah tamah dan makan minum bersama.
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...