Chapter 2, Lari, Alya
Dinding-dinding kamar itu terasa semakin sempit, mengimpitku bersama bayangan mengerikan di depan mataku. Aku mundur, tubuhku gemetar. Dika, atau entah siapa di dalam tubuhnya itu, terus mendekat. Senyum dinginnya tak pernah luntur.
“Kamu harus pergi, Alya. Tempat ini bukan untukmu lagi,” ucapnya, suaranya kini terdengar asing, dalam dan berat.
Napas yang kutahan sedari tadi akhirnya lepas, “Kamu bukan Dika! Siapa kamu?” teriakku.
Wajahnya tetap datar, tapi matanya berkedip aneh, seolah ada percikan cahaya di dalamnya. Sebuah percikan yang mengingatkanku pada Dika-ku yang asli.
“Aku di sini, Alya!” Tiba-tiba, suaranya melengking dari dalam, tumpang tindih dengan suara berat itu. Aku terkesiap. Dika-ku masih ada di sana, terperangkap di dalam tubuhnya sendiri.
Bayangan di depanku tersentak, ekspresi tenangnya pecah. Wajahnya mengernyit kesakitan, seolah ada dua kekuatan yang beradu di dalam dirinya.
“Jangan dengarkan dia!” Suara berat itu kembali mendominasi. “Dia hanya ingin menguasai kembali. Aku di sini untuk melindungimu. Dia berbahaya!"
“Bohong!” teriakku, air mata mengalir deras, “Dika tidak mungkin menyakitiku!”
Aku tak peduli lagi dengan teror yang kurasakan. Hanya ada satu hal yang penting, yaitu Dika-ku masih ada. Aku harus membantunya. Aku melompat maju, menembus jarak yang ada di antara kami. Tanganku terulur mencoba menyentuh wajah yang kukenal itu.
“Dika, sadarlah! Ini aku, Alya!”
Saat tanganku menyentuh pipinya, tubuh Dika menegang. Sensasi dingin yang tadi kurasakan berganti menjadi sensasi hangat yang familiar. Bayangan mengerikan di cermin bergetar. Lalu senyumnya meluruh, matanya kembali menunjukkan kilatan yang penuh dengan kerinduan.
“Alya …” bisiknya, suaranya kembali menjadi Dika-ku yang kukenal, “Lari!"
Namun, hanya itu yang ia sempat katakan. Kekuatan lain kembali menguasai. Senyum dingin itu kembali muncul, dan matanya kembali kosong. Dika-ku menghilang.
Ia mencengkeram tanganku kuat, dan tatapannya penuh amarah. “Jangan pernah coba-coba lagi,” ancamnya, “Atau aku akan menyakitinya. Dan kau akan melihatnya, kau akan melihat Dika-mu menderita di hadapanmu.”
Ketakutan mencekikku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dika-ku menjadi sandera. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, "Bagaimana cara melepaskan Dika?"
“Kamu harus pergi, Alya. Tempat ini bukan untukmu lagi,” ucapnya, suaranya kini terdengar asing, dalam dan berat.
Napas yang kutahan sedari tadi akhirnya lepas, “Kamu bukan Dika! Siapa kamu?” teriakku.
Wajahnya tetap datar, tapi matanya berkedip aneh, seolah ada percikan cahaya di dalamnya. Sebuah percikan yang mengingatkanku pada Dika-ku yang asli.
“Aku di sini, Alya!” Tiba-tiba, suaranya melengking dari dalam, tumpang tindih dengan suara berat itu. Aku terkesiap. Dika-ku masih ada di sana, terperangkap di dalam tubuhnya sendiri.
Bayangan di depanku tersentak, ekspresi tenangnya pecah. Wajahnya mengernyit kesakitan, seolah ada dua kekuatan yang beradu di dalam dirinya.
“Jangan dengarkan dia!” Suara berat itu kembali mendominasi. “Dia hanya ingin menguasai kembali. Aku di sini untuk melindungimu. Dia berbahaya!"
“Bohong!” teriakku, air mata mengalir deras, “Dika tidak mungkin menyakitiku!”
Aku tak peduli lagi dengan teror yang kurasakan. Hanya ada satu hal yang penting, yaitu Dika-ku masih ada. Aku harus membantunya. Aku melompat maju, menembus jarak yang ada di antara kami. Tanganku terulur mencoba menyentuh wajah yang kukenal itu.
“Dika, sadarlah! Ini aku, Alya!”
Saat tanganku menyentuh pipinya, tubuh Dika menegang. Sensasi dingin yang tadi kurasakan berganti menjadi sensasi hangat yang familiar. Bayangan mengerikan di cermin bergetar. Lalu senyumnya meluruh, matanya kembali menunjukkan kilatan yang penuh dengan kerinduan.
“Alya …” bisiknya, suaranya kembali menjadi Dika-ku yang kukenal, “Lari!"
Namun, hanya itu yang ia sempat katakan. Kekuatan lain kembali menguasai. Senyum dingin itu kembali muncul, dan matanya kembali kosong. Dika-ku menghilang.
Ia mencengkeram tanganku kuat, dan tatapannya penuh amarah. “Jangan pernah coba-coba lagi,” ancamnya, “Atau aku akan menyakitinya. Dan kau akan melihatnya, kau akan melihat Dika-mu menderita di hadapanmu.”
Ketakutan mencekikku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dika-ku menjadi sandera. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, "Bagaimana cara melepaskan Dika?"
Other Stories
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...