Chapter 8, Berdamai Dengan Masa Lalu
Beberapa bulan berlalu. Setiap hari adalah pertempuran, namun kini kami tidak lagi berjuang sendiri-sendiri. Dika mulai rutin menemui psikolog, membongkar lapisan-lapisan trauma yang telah lama ia kubur. Ia belajar untuk memaafkan dirinya sendiri atas kecelakaan itu, dan secara perlahan, ia mulai berdamai dengan masa lalunya.
“Aku tidak menyangka akan seberat ini, Alya,” bisiknya suatu malam, kepalanya bersandar di pundakku, “Terkadang, suara itu masih ada. Tapi kini, dia tidak lagi mengendalikan diriku.”
Hubungan kami berubah. Kami tidak lagi hanya sepasang kekasih, kami adalah tim. Kami saling mendukung, menguatkan, dan belajar. Dika belajar untuk jujur, tidak hanya padaku, tapi juga pada dirinya sendiri. Aku belajar untuk menjadi lebih sabar dan pengertian.
Suatu hari, Dika menemuiku dengan wajah cerah yang sudah lama tidak kulihat. Ia membawa buket bunga mawar dan memelukku erat. “Aku sudah memutuskan untuk menemui Beno,” ucapnya, “Aku harus berdamai dengan dia, agar aku bisa benar-benar sembuh.”
Aku memeluknya balik. Aku tahu, ini adalah langkah besar. Beno adalah bagian dari masa lalu yang menyakitkan, dan Dika harus menghadapinya untuk bisa benar-benar bebas.
Pertemuan itu terjadi di tempat yang sama saat aku menemui Beno. Kali ini, Dika dan Beno duduk berhadapan, dan aku duduk di samping Dika. Suasana canggung menyelimuti kami, namun Dika memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“Aku minta maaf,” ucap Dika, menatap Beno, “Aku tahu sudah melukai hati kamu. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengendalikan amarah dan rasa bersalahku.”
Beno menunduk, air matanya jatuh, “Seharusnya aku yang minta maaf, Dika. Aku yang menyebabkan semuanya. Seandainya aku tidak mabuk dan mengejar mobilmu, semua ini tidak akan pernah terjadi.”
Dika mengulurkan tangannya, dan Beno meraihnya. Mereka berpelukan, dan saat itu, aku bisa merasakan beban berat di pundak Dika terangkat.
Dika dan aku kembali ke apartemen. Di depan pintu, ia berhenti dan menatapku. Ia tidak lagi memiliki mata yang kosong, atau senyum yang dingin. Ia adalah Dika-ku yang penuh cinta dan kehangatan.
“Aku mencintaimu, Alya,” bisiknya, “Aku mencintai kamu, dan aku akan selamanya berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkanku.”
Aku memeluknya. Aku tidak hanya menyelamatkan Dika dari kegelapan, tapi aku juga menemukan cinta sejati.
Cinta yang tidak hanya menerima kebahagiaan, tapi juga ketakutan, kesedihan, dan trauma. Cinta yang menolong kami untuk bisa menghadapi segalanya.
Other Stories
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...