Gerbang Sejarah
Langkahku terasa lebih berat dari biasanya. Aku baru pindah tempat mengajar. Aku berdiri di depan gerbang sekolah dengan pakaian yang masih rapi, membawa tas berisi buku dan berkas-berkas administrasi yang harus disegerakan. Tulisan nama sekolah di atas pintu gerbang terasa asing bagiku, seakan menegaskan bahwa aku sedang memasuki dunia baru.
Dengan tarikan napas panjangku sambil mengucap dalam hati berkata “Inilah hari pertama”.
Ada rasa gugup yang tak bisa kututupi. Menjadi guru di tempat yang baru bukan perkara mudah. Rasaku aku harus segera beradaptasi, mengenal lingkungan, murid-murid, dan tentu saja para rekan kerja. Namun, bagian tersulit dari semua itu adalah bagaimana aku menempatkan diri di tengah orang-orang yang sudah lebih lama terbiasa dengan rutinitas di sekolah ini.
Suasana pagi ramai oleh suara anak-anak yang berlarian, beberapa saling bercanda, beberapa masih mengantuk sambil menggenggam bekal di tangan. Di halaman, beberapa guru berdiri mengawasi. Aku berjalan perlahan melewati kerumunan itu, berusaha tidak terlalu menarik perhatian.
Di ruang guru, aku disambut beberapa wajah ramah. Kepala sekolah satu-satunya orang pertama yang kuajak bicara. Ada yang menyalamiku, ada yang sekadar mengangguk sambil sibuk menulis. Aku hanya duduk di kursi yang ada disitu sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Mataku menyapu ruangan itu. Ada meja-meja dengan tumpukan buku, membaca huruf-huruf pada hiasan dinding dan suasana yang khas tenang tapi sibuk. Semua terlihat wajar, sebagaimana ruang kerja pada umumnya. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang membuatku berhenti lama untuk memperhatikan.
Aku menatap jam di dinding. Waktu berjalan lambat sekali. Seolah-olah hari pertama memang sengaja dibuat untuk menguji kesabaran. Aku hanya mencoba fokus pada tugasku mengenal jadwal mengajar, membaca kurikulum, dan menyiapkan diri agar tidak terlihat canggung di kelas.
Di sela kesibukan kecil itu, aku sempat melihat beberapa orang lewat di depan pintu ruang guru. Ada yang membawa buku, ada yang memanggil murid, ada pula yang hanya sekadar melintas. Wajah-wajah itu semua masih asing bagiku. Tidak ada satu pun yang benar-benar kupikirkan lebih jauh. Bagiku, hari pertama hanyalah tentang berusaha bertahan, bukan tentang siapa yang kulihat atau dengan siapa aku berinteraksi.
Awal yang biasa saja. Semua datar, semua terasa formal, tanpa sentuhan perasaan apa pun. Jika kelak ada sesuatu yang berubah dalam hidupku di sekolah ini, saat itu aku sama sekali tidak menyadarinya.
Dengan tarikan napas panjangku sambil mengucap dalam hati berkata “Inilah hari pertama”.
Ada rasa gugup yang tak bisa kututupi. Menjadi guru di tempat yang baru bukan perkara mudah. Rasaku aku harus segera beradaptasi, mengenal lingkungan, murid-murid, dan tentu saja para rekan kerja. Namun, bagian tersulit dari semua itu adalah bagaimana aku menempatkan diri di tengah orang-orang yang sudah lebih lama terbiasa dengan rutinitas di sekolah ini.
Suasana pagi ramai oleh suara anak-anak yang berlarian, beberapa saling bercanda, beberapa masih mengantuk sambil menggenggam bekal di tangan. Di halaman, beberapa guru berdiri mengawasi. Aku berjalan perlahan melewati kerumunan itu, berusaha tidak terlalu menarik perhatian.
Di ruang guru, aku disambut beberapa wajah ramah. Kepala sekolah satu-satunya orang pertama yang kuajak bicara. Ada yang menyalamiku, ada yang sekadar mengangguk sambil sibuk menulis. Aku hanya duduk di kursi yang ada disitu sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Mataku menyapu ruangan itu. Ada meja-meja dengan tumpukan buku, membaca huruf-huruf pada hiasan dinding dan suasana yang khas tenang tapi sibuk. Semua terlihat wajar, sebagaimana ruang kerja pada umumnya. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang membuatku berhenti lama untuk memperhatikan.
Aku menatap jam di dinding. Waktu berjalan lambat sekali. Seolah-olah hari pertama memang sengaja dibuat untuk menguji kesabaran. Aku hanya mencoba fokus pada tugasku mengenal jadwal mengajar, membaca kurikulum, dan menyiapkan diri agar tidak terlihat canggung di kelas.
Di sela kesibukan kecil itu, aku sempat melihat beberapa orang lewat di depan pintu ruang guru. Ada yang membawa buku, ada yang memanggil murid, ada pula yang hanya sekadar melintas. Wajah-wajah itu semua masih asing bagiku. Tidak ada satu pun yang benar-benar kupikirkan lebih jauh. Bagiku, hari pertama hanyalah tentang berusaha bertahan, bukan tentang siapa yang kulihat atau dengan siapa aku berinteraksi.
Awal yang biasa saja. Semua datar, semua terasa formal, tanpa sentuhan perasaan apa pun. Jika kelak ada sesuatu yang berubah dalam hidupku di sekolah ini, saat itu aku sama sekali tidak menyadarinya.
Other Stories
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...