Sekilas Yang Membekas
Hari itu sama seperti biasanya. Suara bel, hiruk-pikuk anak-anak, tumpukan kertas di meja guru membuat semuanya berjalan sesuai rutinitas. Aku duduk di ruang guru, berusaha menuntaskan catatan nilai yang rasanya tak kunjung selesai. Mataku lelah, jariku terasa kaku. Aku sempat berpikir betapa beratnya dunia seorang guru, padahal hal-hal seperti ini sudah sering ku lakukan.
Tiba-tiba, dari arah pintu, aku melihatnya masuk. Ia hanya sekadar lewat, meletakkan tas ke dalam lemari dan beberapa buku di meja. Tidak ada yang istimewa bagi orang lain, tapi entah kenapa, bagiku ada sesuatu yang berbeda pada saat itu.
Aku langsung menangkap ekspresi wajahnya ketika ia menunduk, merapikan buku-buku yang hampir jatuh. Ada ketenangan yang aneh, seolah semua hal di sekitarnya berjalan lebih pelan. Padahal, aku tahu itu hanya pikiranku sendiri yang memperhatikan terlalu jauh. Tapi momen itu menempel begitu saja, tak mau pergi.
Hari-hari berikutnya, setiap kali aku merasa letih, ingatan itu kembali.Sekilas senyum, sekilas gerak sederhana, sekilas tatapan kosong yang bahkanbukan ditujukan padaku sehingga semua itu menjadi pengingat bahwa ada hal kecilyang bisa membuat hidup ini tidak hanya kaku dalam rutinitas. Tapi jelas, adasesuatu yang membekas. Dan dari situlah, tanpa kusadari, aku mulai menunggu yangterjadi selanjutnya.
Tiba-tiba, dari arah pintu, aku melihatnya masuk. Ia hanya sekadar lewat, meletakkan tas ke dalam lemari dan beberapa buku di meja. Tidak ada yang istimewa bagi orang lain, tapi entah kenapa, bagiku ada sesuatu yang berbeda pada saat itu.
Aku langsung menangkap ekspresi wajahnya ketika ia menunduk, merapikan buku-buku yang hampir jatuh. Ada ketenangan yang aneh, seolah semua hal di sekitarnya berjalan lebih pelan. Padahal, aku tahu itu hanya pikiranku sendiri yang memperhatikan terlalu jauh. Tapi momen itu menempel begitu saja, tak mau pergi.
Hari-hari berikutnya, setiap kali aku merasa letih, ingatan itu kembali.Sekilas senyum, sekilas gerak sederhana, sekilas tatapan kosong yang bahkanbukan ditujukan padaku sehingga semua itu menjadi pengingat bahwa ada hal kecilyang bisa membuat hidup ini tidak hanya kaku dalam rutinitas. Tapi jelas, adasesuatu yang membekas. Dan dari situlah, tanpa kusadari, aku mulai menunggu yangterjadi selanjutnya.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan
Kadang, cerita liburan tak selalu berakhir indah. Musim panas tahun lalu di Malang, Tama m ...
Rest Area
Hidup bukan tentang menemukan tempat tanpa luka, tetapi bagaimana tetap hidup untuk esok d ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...