Deska

Reads
7.8K
Votes
1
Parts
27
Vote
Report
Penulis Pale

Teduh Di Balik Angka

Hari-hari setelah ujian semester tidak kalah melelahkan. Jika sebelumnya sibuk mengawasi siswa yang berkutat dengan soal, kali ini guru-guru harus bergelut dengan angka-angka, catatan-catatan, dan detail penilaian yang tampak tak ada habisnya.

Aku duduk di meja ruang guru, lembar rapor bertumpuk di hadapanku. Pulpen menari pelan di atas kertas, menuliskan nilai yang sudah dirangkum dari berbagai ujian dan tugas. Meski pekerjaan ini repetitif, penuh angka, tapi ada sesuatu yang membuat hari terasa berbeda.

Dia duduk tak jauh dariku. Meja kami hanya dipisahkan sisi ke sisi meja. Sesekali, tanpa sengaja aku mendengar helaan napasnya, atau suara lirih ketika ia menghitung ulang nilai dengan jari, memastikan tidak ada kesalahan. Sungguh, keseriusannya dalam bekerja membuat suasana ruang guru itu terasa lebih hidup.

Waktu berjalan. Satu per satu guru mulai berkemas, beberapa pulang lebih cepat setelah menyelesaikan rapor mereka. Ruangan perlahan sepi. Namun aku dan dia masih bertahan. Tumpukan kertas di depan kami belum juga menipis.

Ada momen ketika kami sama-sama menghela napas panjang di waktu yang hampir bersamaan. Aku sempat melirik, ia hanya tersenyum kecil sambil menggeleng, seolah berkata tanpa kata.

Dia berkata kepada ku. “Tugas ini memang tak pernah habis, ya.”

Aku membalas dengan senyum tipis. Itu saja, cukup. Percakapan tak perlu panjang, tapi hatiku sudah sibuk menyimpannya.

Di luar, terik matahari mulai sedikit turun, sekitar jam 2 siang. Cahaya terik dari jendela menyusup masuk, jatuh di atas meja kerja, membuat wajahnya tampak lebih teduh. Aku berpura-pura masih sibuk dengan rapor, padahal pandanganku sering kali ingin menoleh. Ada semacam ketenangan aneh hanya dengan menyadari bahwa kami berdua masih di ruangan itu menyelesaikan hal yang sama, di waktu yang sama.

Ketika akhirnya ia menutup buku nilai dan menyusun rapornya dengan rapi, aku masih berkutat dengan beberapa lembar terakhir. Ia berdiri sebentar, meregangkan badan, lalu duduk kembali.Tak ada kata “ayo pulang duluan” yang keluar dari bibirnya. Ia masih menunggu yang lainnya.

Entah mengapa, aku merasa ia sengaja menunda. Bukan karena tak selesai, tapi seolah menghargai kebersamaan yang diam-diam terasa begitu langka ini.

Di luar, langkah kaki siswa dan guru sudah tak terdengar lagi. Hanya ada kami berdua merasakan jenuh di ruang guru yang hangat itu, ditemani suara kipas angin tua yang berdecit pelan.

Akhirnya aku menutup rapor terakhir, menaruh pulpen di atas meja, dan menarik napas lega.

"Selesai juga,” gumamku pelan, hampir tidak terdengar.

Ia menoleh sebentar, matanya menatap singkat.

“Capek, ya?” tanyanya dengan nada rendah. Aku hanya mengangguk.

Percakapan itu berhenti di situ. Tak lebih dari dua kata yang keluar.

Namun ketika kami melangkah keluar bersama, melewati halaman sekolah, aku merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ada rasa ringan, ada rasa hangat, meski dibungkus diam.

Hari itu, pulang lebih lama dari biasanya tidak terasa sia-sia. Justru di sisa waktu itulah, aku merasa menemukan sesuatu yaitu kebersamaan sederhana yang tak pernah kuperoleh di tempat lain.



Other Stories
Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Download Titik & Koma