Perpisahan Sekolah Memiliki Kesan
Hari itu datang juga itu perpisahan sekolah.
Sejak pagi, aula sudah dihiasi pita-pita warna-warni, balon yang menggantung di langit-langit, dan panggung kecil tempat para siswa akan menampilkan tarian, nyanyian, hingga pidato perpisahan. Suasana ramai, penuh canda, penuh tangis haru.
Aku berdiri di sudut aula, mempersiapkan diri dengan tugas menjadi pembawa acara saat itu. Entah kenapa kepala sekolah mempercayakan hal itu kepadaku, padahal aku masih baru disitu. Para siswa berlarian ke sana kemari, sibuk dengan kostum mereka, guru-guru sibuk memberi arahan. Semua tampak hidup, penuh riang. Tapi di dalam hatiku, ada sesuatu yang justru terasa hening.
Di tengah keramaian itu, mataku kembali menemukan dirinya. Ia sibuk mengatur murid-murid yang akan tampil, memberi senyum tipis, menenangkan mereka yang gugup, mengingatkan yang lupa gerakan. Wajahnya tampak begitu biasa bagi orang lain, tapi bagiku ada yang berbeda sedikit memiliki keteduhan yang menempel pada setiap geraknya.
Aku ingin menyapanya. Sekadar mengatakan “kerja bagus” atau “selamat sudah membimbing anak-anak dengan baik.”
Tapi lagi-lagi, lidahku kelu. Aku hanya menatap dari jauh, menyimpan rasa yang semakin mengakar tanpa pernah kuucapkan.
Acara demi acara bergulir. Tawa, tepuk tangan, air mata semuanya bercampur jadi satu. Hingga akhirnya, momen salam-salaman pun tiba. Para siswa satu per satu mencium tangan guru mereka, memberikan bunga, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Aku tidak tergabung di barisan, hanya menyaksikan.
Dan ketika aku menoleh, kulihat ia pun dikerumuni para murid. Tangan-tangan kecil itu menggenggam erat tangannya, memberikan bunga sederhana yang mereka bawa dari rumah. Wajahnya berseri, tapi matanya sembab mungkin ikut terbawa haru.
Pemandangan itu membekas dalam diriku. Ada sesuatu yang bergetar perasaan bahwa aku menyaksikan sosok yang bukan hanya sekadar guru, melainkan seseorang yang memberi cahaya dalam kebersahajaannya.
Ditengah perpisahan itu, aku merasa aneh. Bagi semua orang, acara ini adalahakhir. Tapi bagiku, justru terasa seperti awal-awal dari cerita yang entah akanke mana.
Sejak pagi, aula sudah dihiasi pita-pita warna-warni, balon yang menggantung di langit-langit, dan panggung kecil tempat para siswa akan menampilkan tarian, nyanyian, hingga pidato perpisahan. Suasana ramai, penuh canda, penuh tangis haru.
Aku berdiri di sudut aula, mempersiapkan diri dengan tugas menjadi pembawa acara saat itu. Entah kenapa kepala sekolah mempercayakan hal itu kepadaku, padahal aku masih baru disitu. Para siswa berlarian ke sana kemari, sibuk dengan kostum mereka, guru-guru sibuk memberi arahan. Semua tampak hidup, penuh riang. Tapi di dalam hatiku, ada sesuatu yang justru terasa hening.
Di tengah keramaian itu, mataku kembali menemukan dirinya. Ia sibuk mengatur murid-murid yang akan tampil, memberi senyum tipis, menenangkan mereka yang gugup, mengingatkan yang lupa gerakan. Wajahnya tampak begitu biasa bagi orang lain, tapi bagiku ada yang berbeda sedikit memiliki keteduhan yang menempel pada setiap geraknya.
Aku ingin menyapanya. Sekadar mengatakan “kerja bagus” atau “selamat sudah membimbing anak-anak dengan baik.”
Tapi lagi-lagi, lidahku kelu. Aku hanya menatap dari jauh, menyimpan rasa yang semakin mengakar tanpa pernah kuucapkan.
Acara demi acara bergulir. Tawa, tepuk tangan, air mata semuanya bercampur jadi satu. Hingga akhirnya, momen salam-salaman pun tiba. Para siswa satu per satu mencium tangan guru mereka, memberikan bunga, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Aku tidak tergabung di barisan, hanya menyaksikan.
Dan ketika aku menoleh, kulihat ia pun dikerumuni para murid. Tangan-tangan kecil itu menggenggam erat tangannya, memberikan bunga sederhana yang mereka bawa dari rumah. Wajahnya berseri, tapi matanya sembab mungkin ikut terbawa haru.
Pemandangan itu membekas dalam diriku. Ada sesuatu yang bergetar perasaan bahwa aku menyaksikan sosok yang bukan hanya sekadar guru, melainkan seseorang yang memberi cahaya dalam kebersahajaannya.
Ditengah perpisahan itu, aku merasa aneh. Bagi semua orang, acara ini adalahakhir. Tapi bagiku, justru terasa seperti awal-awal dari cerita yang entah akanke mana.
Other Stories
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...