Deru Suara Kagum

Reads
6.8K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
Penulis Pale

Riuh Lomba, Sunyi Di Hati

Hari lomba pun tiba. Sejak pagi halaman sekolah sudah ramai. Anak-anak mengenakan kostum berwarna-warni, suara tawa bercampur dengan ketegangan, sementara guru-guru sibuk memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana.

Aku berdiri di pinggir lapangan, mengawasi murid-murid yang bersiap tampil. Mereka berlatih gerakan terakhir, wajah-wajah kecil itu tampak tegang sekaligus bersemangat. Di seberang sana, aku bisa melihat dia, berdiri di tengah barisan murid kelas V, memberikan arahan singkat. Dari jauh pun aku bisa melihat sorot matanya yang begitu serius, seolah sedang menyalurkan keyakinan pada murid-muridnya.

Acara dimulai. Lomba demi lomba berjalan meriah, nyanyi, tari, baca puisi, hingga drama sederhana. Para guru mendampingi, menenangkan murid yang gugup, bahkan ikut tertawa saat ada yang lupa lirik. Aku ikut larut saat itu.

Ada satu momen yang tak akan kulupa. Saat kelas V tampil menyanyi, dia berdiri tepat di samping panggung, mengangkat tangannya untuk memberi aba-aba. Anak-anak bernyanyi lantang, dan aku bisa melihat senyum tipis di wajahnya ketika mereka berhasil menyelesaikan lagu dengan baik. Senyum sederhana namun anehnya, terasa seperti sebuah kemenangan kecil bagiku yang hanya menjadi penonton dari jauh.

Saat tengah hari matahari yang tak enggan pergi dari pandangan, lomba pun usai. Semua guru berkumpul untuk rekap hasil penilaian. Ruang guru penuh suara diskusi, beberapa saling bercanda melepas lelah. Aku duduk di kursi ujung, membuka berkas nilai. Tak lama, dia masuk membawa berkas kelas V dan duduk di bangku seberangku. Kami saling menatap sekilas, lalu sama-sama kembali menunduk pada kertas masing-masing. Tidak ada percakapan Panjang.

Hanya satu kalimat darinya, “Anak-anak ternyata lebih berani dari yang saya kira.”

Aku menjawab pelan, “Iya, mereka belajar percaya diri.”

Hanya itu. Sederhana. Tapi di balik riuhnya lomba, percakapan singkat itu terasa seperti ruang sunyi yang hanya kami tahu.

Ketika sore benar-benar datang, aku pulang dengan langkah lelah. Namun anehnya, di dalam hati justru ada sesuatu yang terus berdenyut seperti gema dari riuh lomba yang masih tersisa. Bedanya, gema itu bukan berasal dari tepuk tangan murid-murid, melainkan dari momen kecil bersamanya yang tak sengaja tertanam.

Aku tahu, aku hanyalah bagian dari keramaian yang ialewati. Tapi di dalam sunyi, aku menyimpan rasa yang semakin sulit kuredam.


Other Stories
Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma