Deska

Reads
7K
Votes
1
Parts
27
Vote
Report
Penulis Pale

Antara Harapan Dan Batasan

Malam itu pikiranku menghadirkan kegelisahan, meski hatiku masih terasa penuh oleh banyaknya kejadian seharian di sekolah. Rasanya seperti ada dua sisi dalam diriku yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, ada perasaan hangat yang tumbuh pelan tapi pasti setiap kali bersama dengannya. Di sisi lain, ada kesadaran yang tak bisa kuabaikan, aku tahu posisiku, aku tahu batas yang tak boleh kulewati.

Hari bersama memang membuatku merasa lebih dekat. Senyum, tatapan singkat, percakapan ringan, bahkan sekadar duduk di kursi yang sama sudah cukup untuk membuat hari-hariku berbeda. Tapi semakin dekat, semakin aku takut. Takut salah membaca tanda, takut berharap pada sesuatu yang mungkin tidak pernah ditujukan untukku.

Aku ingat jelas, setiap aku mulai larut dalam harapan, bayangan fakta itu selalu muncul, dari yang kudengar banyak yang menyukainya. Aku hanyalah orang yang kebetulan diberi kesempatan untuk berada di lingkar kehidupannya, tidak lebih.

Namun anehnya, meski sadar batas itu, hatiku tetap saja berlari ke arah yang sama ke arahnya. Seolah tidak peduli jalan itu buntu atau penuh jurang di ujungnya. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini hanya sekadar rasa kagum, hanya bentuk apresiasi atas kebaikan dan kehangatan yang dimilikinya. Tapi semakin kutepis, semakin kuat ia kembali.

Ada momen ketika aku ingin menahan waktu, membiarkan percakapan sederhana di ruang kelas berlangsung lebih lama. Ada juga saat di mana aku diam-diam berharap hujan tidak cepat reda, supaya kami bisa tetap berada dalam ruangan yang sama, berbagi keheningan yang sulit dijelaskan. Harapan-harapan kecil itu, meski sepele, justru membuatku semakin goyah.

Tapi, setiap kali aku mencoba menuliskan perasaan ini dalam hatiku, ada suara lain yang mengingatkan jangan melewati batas. Jangan sampai rasa ini melukai diriku sendiri, atau justru merusak hal-hal baik yang sudah ada.

Aku berjalan di antara harapan dan batasan. Harapan yang membuatku bersemangat untuk datang ke sekolah, menanti momen-momen kecil bersamanya. Dan batasan yang membuatku tetap sadar, bahwa ada garis yang tidak boleh kulewati, meski hanya satu langkah.

Entah sampai kapan aku mampu bertahan di persimpangan ini. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin menikmati setiap pertemuan, sekecil apapun itu, sambil belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kita rasa harus berakhir dengan memiliki.

Kadang, keindahan justru lahir dari hal-hal yang tidak pernah kita genggam.


Other Stories
Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Download Titik & Koma