Deru Suara Kagum

Reads
6.8K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
Penulis Pale

Gerbang, Ruang, Dan Hati Membentuk Sejarah

Langkahku terasa lebih berat dari biasanya. Aku baru pindah tempat mengajar. Aku berdiri di depan gerbang sekolah dengan pakaian yang masih rapi, membawa tas berisi buku dan berkas-berkas administrasi yang harus disegerakan. Tulisan nama sekolah di atas pintu gerbang terasa asing bagiku, seakan menegaskan bahwa aku sedang memasuki dunia baru.

Dengan tarikan napas panjangku sambil mengucap dalam hati berkata “Inilah hari pertama”.

Ada rasa gugup yang tak bisa kututupi. Menjadi guru di tempat yang baru bukan perkara mudah. Rasaku aku harus segera beradaptasi, mengenal lingkungan, murid-murid, dan tentu saja para rekan kerja. Namun, bagian tersulit dari semua itu adalah bagaimana aku menempatkan diri di tengah orang-orang yang sudah lebih lama terbiasa dengan rutinitas di sekolah ini.

Suasana pagi ramai oleh suara anak-anak yang berlarian, beberapa saling bercanda, beberapa masih mengantuk sambil menggenggam bekal di tangan. Di halaman, beberapa guru berdiri mengawasi. Aku berjalan perlahan melewati kerumunan itu, berusaha tidak terlalu menarik perhatian.

Di ruang guru, aku disambut beberapa wajah ramah. Kepala sekolah satu-satunya orang pertama yang kuajak bicara. Ada yang menyalamiku, ada yang sekadar mengangguk sambil sibuk menulis. Aku hanya duduk di kursi yang ada disitu sambil menunggu bel masuk berbunyi.

Mataku menyapu ruangan itu. Ada meja-meja dengan tumpukan buku, membaca huruf-huruf pada hiasan dinding dan suasana yang khas tenang tapi sibuk. Semua terlihat wajar, sebagaimana ruang kerja pada umumnya. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang membuatku berhenti lama untuk memperhatikan.

Aku menatap jam di dinding. Waktu berjalan lambat sekali. Seolah-olah hari pertama memang sengaja dibuat untuk menguji kesabaran. Aku hanya mencoba fokus pada tugasku mengenal jadwal mengajar, membaca kurikulum, dan menyiapkan diri agar tidak terlihat canggung di kelas.

Di sela kesibukan kecil itu, aku sempat melihat beberapa orang lewat di depan pintu ruang guru. Ada yang membawa buku, ada yang memanggil murid, ada pula yang hanya sekadar melintas. Wajah-wajah itu semua masih asing bagiku. Tidak ada satu pun yang benar-benar kupikirkan lebih jauh. Bagiku, hari pertama hanyalah tentang berusaha bertahan, bukan tentang siapa yang kulihat atau dengan siapa aku berinteraksi.

Awal yang biasa saja. Semua datar, semua terasa formal, tanpa sentuhan perasaan apa pun. Jika kelak ada sesuatu yang berubah dalam hidupku di sekolah ini, saat itu aku sama sekali tidak menyadarinya.

Beberapa hari di sekolah baru ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan. Pagi-pagi aku harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat, meski jarak sekolah tidak terlalu jauh dari rumah. Setiap langkah menuju kelas selalu dibarengi rasa gugup, takut salah, atau bingung menghadapi murid yang karakternya beragam.

Hari-hari itu penuh dengan suara gaduh anak-anak yang bercanda, berlarian di halaman dan depan kelas.

Mungkin anak murid yang bertanya hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Pak, kenapa awan itu melayang?” atau “Pak, kenapa kita harus belajar kalau nanti kita ga ingat pelajarannya?”

Pertanyaan-pertanyaan polos itu membuatku selalu tidak siap menjawab, sekaligus membuat kepalaku bekerja lebih keras.

Di ruang guru, aku masih merasa asing. Suara tawa rekan-rekan kerja mengisi ruangan, tapi aku hanya menjadi pendengar. Aku tahu mereka tidak bermaksud membuatku terasing, hanya saja aku masih belum terbiasa masuk ke lingkaran percakapan itu. Kadang aku hanya duduk, membuka buku, pura-pura membaca sesuatu agar terlihat sibuk.

Lelah itu semakin terasa ketika siang datang. Tenagaku seolah terkuras habis, bukan hanya karena mengajar, tapi juga karena harus berusaha tampil percaya diri di depan murid dan guru lain. Aku sering pulang dengan kepala penuh pikiran, lalu merebahkan diri tanpa sempat menyentuh catatan pelajaran yang sudah kususun. Kemudian aku harus melanjutkan kuliahku pada sore hari.

Namun, di tengah rutinitas yang melelahkan itu, ada satu hal yang mulai berbeda. Aku mulai sadar bahwa ada satu sosok yang entah mengapa kerap muncul di sela-sela hariku. Awalnya hanya sekilas melihatnya membeli jajan di kantin ketika aku sedang terburu-buru ke kelas. Lalu suatu kali, aku melihatnya tersenyum pada murid yang berlari menyapanya. Senyum itu, anehnya, seperti memberi jeda kecil di tengah kepenatanku.

Aku tidak tahu namanya. Aku bahkan tidak berani menegur. Tapi keberadaannya seolah menandai titik-titik tertentu dalam hariku yang monoton. Saat aku lelah mengajar, tiba-tiba aku melihatnya di halaman sekolah. Saat aku bingung dengan penyampaian materi, ia tanpa sadar melintas dengan langkah cepat. Dan entah mengapa, meski tidak ada interaksi, momen singkat itu membuatku merasa sedikit lebih ringan.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, kenapa akumemperhatikan hal-hal sepele itu? Bukankah seharusnya aku sibuk dengan tugaskusendiri? Namun, rasa lelah yang menumpuk justru membuat detail kecil sepertiitu sedikit berarti. Seperti secercah cahaya yang menembus celah-celah di hari-hari yang melelahkan.

Hari itu sama seperti biasanya. Suara bel, hiruk-pikuk anak-anak, tumpukan kertas di meja guru membuat semuanya berjalan sesuai rutinitas. Aku duduk di ruang guru, berusaha menuntaskan catatan nilai yang rasanya tak kunjung selesai. Mataku lelah, jariku terasa kaku. Aku sempat berpikir betapa beratnya dunia seorang guru, padahal hal-hal seperti ini sudah sering ku lakukan.

Tiba-tiba, dari arah pintu, aku melihatnya masuk. Ia hanya sekadar lewat, meletakkan tas ke dalam lemari dan beberapa buku di meja. Tidak ada yang istimewa bagi orang lain, tapi entah kenapa, bagiku ada sesuatu yang berbeda pada saat itu.

Aku langsung menangkap ekspresi wajahnya ketika ia menunduk, merapikan buku-buku yang hampir jatuh. Ada ketenangan yang aneh, seolah semua hal di sekitarnya berjalan lebih pelan. Padahal, aku tahu itu hanya pikiranku sendiri yang memperhatikan terlalu jauh. Tapi momen itu menempel begitu saja, tak mau pergi.

Hari-hari berikutnya, setiap kali aku merasa letih, ingatan itu kembali.Sekilas senyum, sekilas gerak sederhana, sekilas tatapan kosong yang bahkanbukan ditujukan padaku sehingga semua itu menjadi pengingat bahwa ada hal kecilyang bisa membuat hidup ini tidak hanya kaku dalam rutinitas. Tapi jelas, adasesuatu yang membekas. Dan dari situlah, tanpa kusadari, aku mulai menunggu yangterjadi selanjutnya.

Ada sesuatu yang paling melelahkan dari rasa yang tak terucap, benar itu adalah menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pernah dijanjikan, menunggu seseorang yang tak pernah tau bahwa dirinya sedang ditunggu.

Hari-hari di sekolah baru ini terasa berjalan lambat. Bukan karena pekerjaan menumpuk, tetapi karena setiap detik diwarnai oleh harapan yang entah kemana jelas arahnya. Setiap pagi, ada dorongan samar untuk segera tiba, hanya agar bisa melihatnya. Setiap pagi, ada penantian tak kasat mata apakah ia akan lewat, apakah aku akan menemukan sosoknya sekilas? Dan setiap siang, ada kecewa kecil yang tak pernah sempat diakui, ketika hari berlalu tanpa ada satu pun interaksi.

Aku tidak tahu sejak kapan hal ini mulai terasa. Yang jelas, ada ruang kosong yang diam-diam kubiarkan dipenuhi oleh kehadirannya. Padahal, ia tak pernah menawarkan apa-apa. Ia hanya hadir, tanpa sengaja, tanpa maksud. Sedangkan aku, yang terlalu banyak berdiam, malah sibuk menafsirkan setiap gerak yang bahkan mungkin tidak ditujukannya padaku.

Menunggu yang tidak pasti itu seperti berjalan di padang luas tanpa tanda arah. Kau tahu kau sedang bergerak, tetapi entah menuju ke mana. Kau merasa sedang melangkah, tapi tak tahu kapan akan tiba. Setiap langkah hanyalah repetisi dari harapan yang sama, semoga ada sesuatu yang terjadi.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa menunggu? Namun, seperti kebanyakan hati yang keras kepala, aku selalu menemukan alasan baru untuk bertahan.“Mungkin besok atau mungkin nanti kalau ada kesempatan.”

Dan begitulah, aku terus bertahan, meski dalam diam aku sadar tidak ada yang benar-benar pasti. Namun, bukankah hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian? Barangkali menunggu bukan soal kepastian, melainkan soal kesediaan hati. Kesediaan untuk berharap, meski tahu harapan itu bisa saja patah kapan saja. Kesediaan untuk diam, meski tahu mungkin selamanya tidak ada jawaban.

Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah aku seseorangyang menunggu, bukan karena janji, bukan karena kepastian, melainkan hanyakarena perasaan yang tak sanggup padam.

Hari itu datang juga itu perpisahan sekolah.

Sejak pagi, aula sudah dihiasi pita-pita warna-warni, balon yang menggantung di langit-langit, dan panggung kecil tempat para siswa akan menampilkan tarian, nyanyian, hingga pidato perpisahan. Suasana ramai, penuh canda, penuh tangis haru.

Aku berdiri di sudut aula, mempersiapkan diri dengan tugas menjadi pembawa acara saat itu. Entah kenapa kepala sekolah mempercayakan hal itu kepadaku, padahal aku masih baru disitu. Para siswa berlarian ke sana kemari, sibuk dengan kostum mereka, guru-guru sibuk memberi arahan. Semua tampak hidup, penuh riang. Tapi di dalam hatiku, ada sesuatu yang justru terasa hening.

Di tengah keramaian itu, mataku kembali menemukan dirinya. Ia sibuk mengatur murid-murid yang akan tampil, memberi senyum tipis, menenangkan mereka yang gugup, mengingatkan yang lupa gerakan. Wajahnya tampak begitu biasa bagi orang lain, tapi bagiku ada yang berbeda sedikit memiliki keteduhan yang menempel pada setiap geraknya.

Aku ingin menyapanya. Sekadar mengatakan “kerja bagus” atau “selamat sudah membimbing anak-anak dengan baik.”

Tapi lagi-lagi, lidahku kelu. Aku hanya menatap dari jauh, menyimpan rasa yang semakin mengakar tanpa pernah kuucapkan.

Acara demi acara bergulir. Tawa, tepuk tangan, air mata semuanya bercampur jadi satu. Hingga akhirnya, momen salam-salaman pun tiba. Para siswa satu per satu mencium tangan guru mereka, memberikan bunga, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Aku tidak tergabung di barisan, hanya menyaksikan.

Dan ketika aku menoleh, kulihat ia pun dikerumuni para murid. Tangan-tangan kecil itu menggenggam erat tangannya, memberikan bunga sederhana yang mereka bawa dari rumah. Wajahnya berseri, tapi matanya sembab mungkin ikut terbawa haru.

Pemandangan itu membekas dalam diriku. Ada sesuatu yang bergetar perasaan bahwa aku menyaksikan sosok yang bukan hanya sekadar guru, melainkan seseorang yang memberi cahaya dalam kebersahajaannya.

Ditengah perpisahan itu, aku merasa aneh. Bagi semua orang, acara ini adalahakhir. Tapi bagiku, justru terasa seperti awal-awal dari cerita yang entah akanke mana.

Hari itu udara terasa lebih berat dari biasanya. Sejak pagi, halaman sekolah dipenuhi wajah-wajah tegang para siswa kelas I sampai V yang bersiap menghadapi ujian semester. Mereka membawa setumpuk buku catatan, berbisik lirih sambil mencoba mengulang rumus atau definisi yang mungkin saja akan keluar di soal.

Aku masuk ke ruang ujian dengan langkah tenang, membawa daftar hadir dan lembar pengawas. Namun ketenangan itu mendadak goyah ketika aku menyadari siapa yang akan mengawas bersamaku. Itu dia, Sosok yang entah sejak kapan selalu mengisi ruang pikiranku.

Kelas itu seakan berubah atmosfernya. Suasana yang semestinya penuh ketegangan siswa malah jadi ruang ujian batin bagiku diriku sendiri.

Bel berbunyi. Para siswa duduk rapi, menunduk, siap menghadapi soal yang dibagikan. Aku berdiri di depan, sementara dia bergerak pelan dari bangku ke bangku, membagikan lembar soal dengan penuh ketelitian. Sesekali terdengar kata demi kata kecil siswa yang meminta penghapus atau pensil, dan ia menjawab dengan nada sabar, lembut, tanpa nada marah.

Aku memperhatikannya dari jauh dengan cara yang berusaha kusamarkan. Seolah-olah mataku hanya sekadar mengawasi siswa, padahal diam-diam aku sedang mengawasi dirinya.

Ada satu momen kecil ketika seorang siswa tampak panik karena kehilangan kartu ujian.

Ia mendekatinya, menenangkan dengan kata-kata sederhana.“Tenang, coba cari pelan-pelan, jangan gugup dulu.”

Suaranya lembut, tak tinggi, namun cukup untuk menenangkan anak itu. Aku yang mendengarnya dari sisi lain ruangan bahkan ikut merasakan ketenangan itu. Seakan bukan hanya murid yang ditenangkan, tapi juga hatiku yang diam-diam bergejolak.

Waktu berjalan sangat lambat. Jarum jam seakan enggan beranjak melewati detik waktu. Keheningan ruang ujian terasa memekakkan telinga. Suara gesekan pensil di atas kertas terdengar begitu jelas, juga bunyi kursi yang bergeser pelan. Sesekali aku berjalan di antara barisan meja, berpura-pura fokus pada pekerjaan mengawas, padahal pikiranku jauh lebih sibuk menata perasaan yang kian berlapis.

Sesaat, pandangan kami berpapasan. Hanya sebentar, sekilas. Namun cukup membuatku buru-buru menunduk, pura-pura memeriksa lembar jawaban siswa. Aku tahu, itu mungkin hanya tatapan biasa baginya hanya tatapan kolega yang sama-sama sedang menjalankan tugas. Tetapi bagiku, momen singkat itu seakan menyisakan getaran yang lama hilang.

Menjelang akhir waktu, beberapa siswa mulai gelisah. Ada yang menggigit ujung pensil, ada yang menunduk terlalu lama, bahkan ada yang menatap kosong pada lembar soal.

Dia berjalan mendekati salah seorang siswa, menunduk, dan dengan sabar berbisik.“Coba baca pelan-pelan, jangan terburu-buru. Waktu masih ada.”

Aku hanya berdiri tak jauh dari situ, pura-pura tidak memperhatikan. Tapi di dalam hati, aku merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang sangat berharga, sifatnya yang penuh ketenangan, yang membuat ruangan itu terasa teduh meski di luar sana matahari terik menyengat.

Bel tanda ujian berakhir akhirnya berbunyi. Para siswa menyerahkan lembar jawaban dengan wajah lega, beberapa bahkan langsung menghela napas yang sangat panjang. Aku dan dia mulai mengumpulkan kertas, menghitung jumlahnya, memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Lengkap?” tanyanya singkat, matanya menatap lembar-lembar jawaban di tanganku.

"Ya, sudah semua,” jawabku, terdengar biasa.Hanya itu percakapan kami. Ringkas, formal, tak ada yang istimewa.

Tapi entah kenapa, bagi diriku, suara itu akan terus terputar ulang dalam ingatan.

Kami keluar dari kelas bersamaan. Tidak ada banyak kata, hanya langkah yang seirama menyusuri koridor. Sesekali siswa-siswa yang lewat memberi salam, dan ia membalas dengan senyum ringan. Aku pun ikut tersenyum, tapi lebih karena melihat caranya tersenyum.

Hari itu berakhir begitu saja, tanpa kejadian besar, tanpa cerita panjang. Namun justru di balik kesederhanaan itulah aku merasa semakin sulit mengabaikan sesuatu dengan berprasangka bahwa kebersamaan sekilas, bahkan dalam diam, mampu meninggalkan bekas yang lebih dalam dari yang pernah kubayangkan.

Bagi banyak orang, ujian semester hanyalah rutinitas tahunan. Tapi bagiku, ujiansemester kali ini adalah lembar ujian hati yang tak pernah kutuliskanjawabannya.


Other Stories
After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Rei Kazama

Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Dia Bukan Aksara

Kiara masih mengalami nestapa semenjak kehilangan adiknya, Aksara saat liburan tahun lalu. ...

...

Download Titik & Koma