Teduh Di Balik Angka
Hari-hari setelah ujian semester tidak kalah melelahkan. Jika sebelumnya sibuk mengawasi siswa yang berkutat dengan soal, kali ini guru-guru harus bergelut dengan angka-angka, catatan-catatan, dan detail penilaian yang tampak tak ada habisnya.
Aku duduk di meja ruang guru, lembar rapor bertumpuk di hadapanku. Pulpen menari pelan di atas kertas, menuliskan nilai yang sudah dirangkum dari berbagai ujian dan tugas. Meski pekerjaan ini repetitif, penuh angka, tapi ada sesuatu yang membuat hari terasa berbeda.
Dia duduk tak jauh dariku. Meja kami hanya dipisahkan sisi ke sisi meja. Sesekali, tanpa sengaja aku mendengar helaan napasnya, atau suara lirih ketika ia menghitung ulang nilai dengan jari, memastikan tidak ada kesalahan. Sungguh, keseriusannya dalam bekerja membuat suasana ruang guru itu terasa lebih hidup.
Waktu berjalan. Satu per satu guru mulai berkemas, beberapa pulang lebih cepat setelah menyelesaikan rapor mereka. Ruangan perlahan sepi. Namun aku dan dia masih bertahan. Tumpukan kertas di depan kami belum juga menipis.
Ada momen ketika kami sama-sama menghela napas panjang di waktu yang hampir bersamaan. Aku sempat melirik, ia hanya tersenyum kecil sambil menggeleng, seolah berkata tanpa kata.
Dia berkata kepada ku. “Tugas ini memang tak pernah habis, ya.”
Aku membalas dengan senyum tipis. Itu saja, cukup. Percakapan tak perlu panjang, tapi hatiku sudah sibuk menyimpannya.
Di luar, terik matahari mulai sedikit turun, sekitar jam 2 siang. Cahaya terik dari jendela menyusup masuk, jatuh di atas meja kerja, membuat wajahnya tampak lebih teduh. Aku berpura-pura masih sibuk dengan rapor, padahal pandanganku sering kali ingin menoleh. Ada semacam ketenangan aneh hanya dengan menyadari bahwa kami berdua masih di ruangan itu menyelesaikan hal yang sama, di waktu yang sama.
Ketika akhirnya ia menutup buku nilai dan menyusun rapornya dengan rapi, aku masih berkutat dengan beberapa lembar terakhir. Ia berdiri sebentar, meregangkan badan, lalu duduk kembali.Tak ada kata “ayo pulang duluan” yang keluar dari bibirnya. Ia masih menunggu yang lainnya.
Entah mengapa, aku merasa ia sengaja menunda. Bukan karena tak selesai, tapi seolah menghargai kebersamaan yang diam-diam terasa begitu langka ini.
Di luar, langkah kaki siswa dan guru sudah tak terdengar lagi. Hanya ada kami berdua merasakan jenuh di ruang guru yang hangat itu, ditemani suara kipas angin tua yang berdecit pelan.
Akhirnya aku menutup rapor terakhir, menaruh pulpen di atas meja, dan menarik napas lega.
"Selesai juga,” gumamku pelan, hampir tidak terdengar.
Ia menoleh sebentar, matanya menatap singkat.
“Capek, ya?” tanyanya dengan nada rendah. Aku hanya mengangguk.
Percakapan itu berhenti di situ. Tak lebih dari dua kata yang keluar.
Namun ketika kami melangkah keluar bersama, melewati halaman sekolah, aku merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ada rasa ringan, ada rasa hangat, meski dibungkus diam.
Hari itu, pulang lebih lama dari biasanya tidak terasa sia-sia. Justru di sisa waktu itulah, aku merasa menemukan sesuatu yaitu kebersamaan sederhana yang tak pernah kuperoleh di tempat lain.
Setelah hari akhir pembagian rapor semester, libur panjang akhirnya tiba. Bagi sebagian orang, ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu bisa pulang kampung, bisa beristirahat tanpa dikejar bel, tanpa catatan administrasi, tanpa suara murid yang kadang riuh melebihi batas.
Namun bagiku, libur panjang justru menghadirkan ruang kosong. Ada hening yang terasa aneh. Seperti kehilangan sesuatu, padahal aku tak benar-benar harus merasa kehilangannya.
Bukan cinta dan aku tahu itu pasti. Rasanya tidak menggebu, tidak menuntut kepemilikan, tidak juga membuatku ingin terus mendekat. Lebih mirip pada sebuah kerinduan ringan terhadap suasana yang biasa mengisi hari-hariku.
Rindu pada rutinitas, pada lingkungan sekolah yang ramai, pada papan tulis dengan sisa coretan, bahkan pada ruang guru yang kadang terlalu sesak oleh tumpukan buku.
Dan tentu saja, tanpa bisa kuingkari, rindu pada sosok yang biasanya hadir di tengah-tengah itu semua. Ia tak melakukan apa-apa yang istimewa, hanya lewat di depan pintu atau duduk di seberang meja. Tapi ketidakhadirannya kini membuat ruang menjadi terasa lebih sepi.
Setiap pagi di libur panjang ini, aku bangun tanpa arah yang jelas. Tak ada persiapan pelajaran, tak ada murid yang harus dikendalikan, tak ada alasan untuk menata kemeja rapi-rapi. Ada waktu luang berlimpah, tapi terasa seperti ruang kosong yang membesar setiap hari.
Kadang aku berpikir, mungkinkah aku hanya rindu pada ritme itu? Pada kehidupan sekolah yang memberi alasan bagiku untuk terus bergerak. Karena saat sosok itu tidak hadir, barulah kusadari bahwa ternyata aku terbiasa mengaitkan banyak hal dengan kehadirannya.
Di malam hari, saat suara jangkrik mengisi kesunyian, aku sering mengulang potongan-potongan kecil yang terjadi beberapa waktu terakhir tawa kecilnya di ruang guru, cara ia membawa buku-buku tebal di tangannya, atau sekadar langkahnya di halaman sekolah yang cepat namun tenang.
Semua itu hanya potongan, serpihan kecil, bukan cerita utuh. Tapi entah mengapa, justru serpihan itulah yang kini sering kutemukan kembali di kepalaku.
Aku tahu ini bukan cinta. Tidak ada hasrat untuk memiliki, tidak ada perasaan untuk mengucap janji atau menuntut balas. Yang ada hanyalah rasa rindu yang samar, ringan, dan diam-diam. Rindu yang sekadar mengingatkan bahwa ternyata hidupku tak lagi benar-benar netral sejak aku mengenalnya.
Libur panjang ini menjadi cermin sebagai bentuk betapa sebuah kehadiran sederhana bisameninggalkan kekosongan saat absen, betapa rindu bisa tumbuh tanpa harusbernama cinta.
Aku duduk di meja ruang guru, lembar rapor bertumpuk di hadapanku. Pulpen menari pelan di atas kertas, menuliskan nilai yang sudah dirangkum dari berbagai ujian dan tugas. Meski pekerjaan ini repetitif, penuh angka, tapi ada sesuatu yang membuat hari terasa berbeda.
Dia duduk tak jauh dariku. Meja kami hanya dipisahkan sisi ke sisi meja. Sesekali, tanpa sengaja aku mendengar helaan napasnya, atau suara lirih ketika ia menghitung ulang nilai dengan jari, memastikan tidak ada kesalahan. Sungguh, keseriusannya dalam bekerja membuat suasana ruang guru itu terasa lebih hidup.
Waktu berjalan. Satu per satu guru mulai berkemas, beberapa pulang lebih cepat setelah menyelesaikan rapor mereka. Ruangan perlahan sepi. Namun aku dan dia masih bertahan. Tumpukan kertas di depan kami belum juga menipis.
Ada momen ketika kami sama-sama menghela napas panjang di waktu yang hampir bersamaan. Aku sempat melirik, ia hanya tersenyum kecil sambil menggeleng, seolah berkata tanpa kata.
Dia berkata kepada ku. “Tugas ini memang tak pernah habis, ya.”
Aku membalas dengan senyum tipis. Itu saja, cukup. Percakapan tak perlu panjang, tapi hatiku sudah sibuk menyimpannya.
Di luar, terik matahari mulai sedikit turun, sekitar jam 2 siang. Cahaya terik dari jendela menyusup masuk, jatuh di atas meja kerja, membuat wajahnya tampak lebih teduh. Aku berpura-pura masih sibuk dengan rapor, padahal pandanganku sering kali ingin menoleh. Ada semacam ketenangan aneh hanya dengan menyadari bahwa kami berdua masih di ruangan itu menyelesaikan hal yang sama, di waktu yang sama.
Ketika akhirnya ia menutup buku nilai dan menyusun rapornya dengan rapi, aku masih berkutat dengan beberapa lembar terakhir. Ia berdiri sebentar, meregangkan badan, lalu duduk kembali.Tak ada kata “ayo pulang duluan” yang keluar dari bibirnya. Ia masih menunggu yang lainnya.
Entah mengapa, aku merasa ia sengaja menunda. Bukan karena tak selesai, tapi seolah menghargai kebersamaan yang diam-diam terasa begitu langka ini.
Di luar, langkah kaki siswa dan guru sudah tak terdengar lagi. Hanya ada kami berdua merasakan jenuh di ruang guru yang hangat itu, ditemani suara kipas angin tua yang berdecit pelan.
Akhirnya aku menutup rapor terakhir, menaruh pulpen di atas meja, dan menarik napas lega.
"Selesai juga,” gumamku pelan, hampir tidak terdengar.
Ia menoleh sebentar, matanya menatap singkat.
“Capek, ya?” tanyanya dengan nada rendah. Aku hanya mengangguk.
Percakapan itu berhenti di situ. Tak lebih dari dua kata yang keluar.
Namun ketika kami melangkah keluar bersama, melewati halaman sekolah, aku merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ada rasa ringan, ada rasa hangat, meski dibungkus diam.
Hari itu, pulang lebih lama dari biasanya tidak terasa sia-sia. Justru di sisa waktu itulah, aku merasa menemukan sesuatu yaitu kebersamaan sederhana yang tak pernah kuperoleh di tempat lain.
Setelah hari akhir pembagian rapor semester, libur panjang akhirnya tiba. Bagi sebagian orang, ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu bisa pulang kampung, bisa beristirahat tanpa dikejar bel, tanpa catatan administrasi, tanpa suara murid yang kadang riuh melebihi batas.
Namun bagiku, libur panjang justru menghadirkan ruang kosong. Ada hening yang terasa aneh. Seperti kehilangan sesuatu, padahal aku tak benar-benar harus merasa kehilangannya.
Bukan cinta dan aku tahu itu pasti. Rasanya tidak menggebu, tidak menuntut kepemilikan, tidak juga membuatku ingin terus mendekat. Lebih mirip pada sebuah kerinduan ringan terhadap suasana yang biasa mengisi hari-hariku.
Rindu pada rutinitas, pada lingkungan sekolah yang ramai, pada papan tulis dengan sisa coretan, bahkan pada ruang guru yang kadang terlalu sesak oleh tumpukan buku.
Dan tentu saja, tanpa bisa kuingkari, rindu pada sosok yang biasanya hadir di tengah-tengah itu semua. Ia tak melakukan apa-apa yang istimewa, hanya lewat di depan pintu atau duduk di seberang meja. Tapi ketidakhadirannya kini membuat ruang menjadi terasa lebih sepi.
Setiap pagi di libur panjang ini, aku bangun tanpa arah yang jelas. Tak ada persiapan pelajaran, tak ada murid yang harus dikendalikan, tak ada alasan untuk menata kemeja rapi-rapi. Ada waktu luang berlimpah, tapi terasa seperti ruang kosong yang membesar setiap hari.
Kadang aku berpikir, mungkinkah aku hanya rindu pada ritme itu? Pada kehidupan sekolah yang memberi alasan bagiku untuk terus bergerak. Karena saat sosok itu tidak hadir, barulah kusadari bahwa ternyata aku terbiasa mengaitkan banyak hal dengan kehadirannya.
Di malam hari, saat suara jangkrik mengisi kesunyian, aku sering mengulang potongan-potongan kecil yang terjadi beberapa waktu terakhir tawa kecilnya di ruang guru, cara ia membawa buku-buku tebal di tangannya, atau sekadar langkahnya di halaman sekolah yang cepat namun tenang.
Semua itu hanya potongan, serpihan kecil, bukan cerita utuh. Tapi entah mengapa, justru serpihan itulah yang kini sering kutemukan kembali di kepalaku.
Aku tahu ini bukan cinta. Tidak ada hasrat untuk memiliki, tidak ada perasaan untuk mengucap janji atau menuntut balas. Yang ada hanyalah rasa rindu yang samar, ringan, dan diam-diam. Rindu yang sekadar mengingatkan bahwa ternyata hidupku tak lagi benar-benar netral sejak aku mengenalnya.
Libur panjang ini menjadi cermin sebagai bentuk betapa sebuah kehadiran sederhana bisameninggalkan kekosongan saat absen, betapa rindu bisa tumbuh tanpa harusbernama cinta.
Other Stories
Hantu Dan Hati
Zaki yang baru saja pindah kesebuah rumah yang ditinggalkan, menemukan fakta bahwa terdapa ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Desa Seribu Sesajen
"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...