Bisikan Perpisahan
Akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berbeda. Suasana sekolah masih sama ramai oleh tawa anak-anak, hiruk pikuk guru, dan rutinitas yang berulang. Namun, entah mengapa, di sela-sela kesibukan itu aku mulai menangkap bisikan yang halus, samar, tapi nyata bisikan tentang perpisahan.
Mungkin aku terlalu peka, atau mungkin memang ada tanda-tanda yang muncul tanpa disadari. Kalimat-kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya, guratan lelah di wajahnya, atau cerita kecil tentang keluarganya yang semakin sering pindah-pindah, semua itu seakan membentuk satu pola. Dan pola itu menuju pada satu kenyataan kebersamaan ini tidak akan selamanya.
Justru karena itulah, kenangan sederhana yang terlewati mulai terasa istimewa. Aku masih ingat bagaimana ia tersenyum tipis saat hujan deras membuat kami terjebak di ruang guru. Senyum itu sederhana, tapi cukup untuk membuat ruangan dingin terasa hangat. Aku juga ingat bagaimana kami berjalan beriringan menuju lapangan, tidak banyak bicara, hanya sesekali bertukar pandang yang cepat hilang.
Kenangan-kenangan itu mungkin kecil, bahkan tidak berarti baginya. Tapi bagiku, setiap detailnya adalah harta yang tak ternilai. Dari caranya menunduk sambil mencatat, hingga suaranya yang pelan ketika menjawab pertanyaan siswa semua terekam jelas dalam memoriku.
Dan kini, ketika bisikan perpisahan mulai terdengar, kenangan-kenangan itu semakin sering berputar di kepalaku. Aku merasa seperti sedang memeluk bayangan, mencoba menguatkan diri dengan hal-hal yang barangkali sebentar lagi hanya tinggal cerita.
Ada sesak yang tak bisa kuungkapkan. Bukan karena aku akan kehilangan sesuatu yang nyata, tapi karena aku tahu, aku akan kehilangan kesempatan untuk berada di dekatnya yang padahal hanya sekadar menyaksikan kehadirannya, meski tanpa pernah benar-benar memiliki.
Malam-malam terasa lebih sunyi sejak firasat itu muncul. Aku menenangkan diri dengan menulis, berharap kata-kata mampu menampung apa yang tidak sanggup aku ucapkan. Namun semakin banyak kutulis, semakin aku sadar bahwa tak ada tulisan yang mampu menggantikan kenyataan akan ada waktu di mana jarak benar-benar memisahkan.
Dan aku hanya bisa berdoa dalam diam semoga kenangan sederhana ini tidak hilang begitu saja. Semoga, meski perpisahan itu datang, ada bagian kecil dari semua ini yang tetap tinggal, setidaknya dalam hatiku.
Karena akhirnya, mungkin memang takdirku hanya untukmenyimpan, bukan menggenggam. Menjadi saksi dari sesuatu yang indah, tanpapernah menamai hubungan itu apa-apa.
Mungkin aku terlalu peka, atau mungkin memang ada tanda-tanda yang muncul tanpa disadari. Kalimat-kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya, guratan lelah di wajahnya, atau cerita kecil tentang keluarganya yang semakin sering pindah-pindah, semua itu seakan membentuk satu pola. Dan pola itu menuju pada satu kenyataan kebersamaan ini tidak akan selamanya.
Justru karena itulah, kenangan sederhana yang terlewati mulai terasa istimewa. Aku masih ingat bagaimana ia tersenyum tipis saat hujan deras membuat kami terjebak di ruang guru. Senyum itu sederhana, tapi cukup untuk membuat ruangan dingin terasa hangat. Aku juga ingat bagaimana kami berjalan beriringan menuju lapangan, tidak banyak bicara, hanya sesekali bertukar pandang yang cepat hilang.
Kenangan-kenangan itu mungkin kecil, bahkan tidak berarti baginya. Tapi bagiku, setiap detailnya adalah harta yang tak ternilai. Dari caranya menunduk sambil mencatat, hingga suaranya yang pelan ketika menjawab pertanyaan siswa semua terekam jelas dalam memoriku.
Dan kini, ketika bisikan perpisahan mulai terdengar, kenangan-kenangan itu semakin sering berputar di kepalaku. Aku merasa seperti sedang memeluk bayangan, mencoba menguatkan diri dengan hal-hal yang barangkali sebentar lagi hanya tinggal cerita.
Ada sesak yang tak bisa kuungkapkan. Bukan karena aku akan kehilangan sesuatu yang nyata, tapi karena aku tahu, aku akan kehilangan kesempatan untuk berada di dekatnya yang padahal hanya sekadar menyaksikan kehadirannya, meski tanpa pernah benar-benar memiliki.
Malam-malam terasa lebih sunyi sejak firasat itu muncul. Aku menenangkan diri dengan menulis, berharap kata-kata mampu menampung apa yang tidak sanggup aku ucapkan. Namun semakin banyak kutulis, semakin aku sadar bahwa tak ada tulisan yang mampu menggantikan kenyataan akan ada waktu di mana jarak benar-benar memisahkan.
Dan aku hanya bisa berdoa dalam diam semoga kenangan sederhana ini tidak hilang begitu saja. Semoga, meski perpisahan itu datang, ada bagian kecil dari semua ini yang tetap tinggal, setidaknya dalam hatiku.
Karena akhirnya, mungkin memang takdirku hanya untukmenyimpan, bukan menggenggam. Menjadi saksi dari sesuatu yang indah, tanpapernah menamai hubungan itu apa-apa.
Other Stories
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Camara Derie
Zola mendapat informasi mengenai sanak saudara yang masih hidup. Ia memutuskan untuk menem ...
Aru Dan Memoar Yang Hilang
Manusia bisa lebih berbahaya dari makhluk apa pun di alam ini. Bertahun-tahun lalu, manusi ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...