Deru Suara Kagum

Reads
6.8K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
Penulis Pale

Bisikan Perpisahan

Akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berbeda. Suasana sekolah masih sama ramai oleh tawa anak-anak, hiruk pikuk guru, dan rutinitas yang berulang. Namun, entah mengapa, di sela-sela kesibukan itu aku mulai menangkap bisikan yang halus, samar, tapi nyata bisikan tentang perpisahan.

Mungkin aku terlalu peka, atau mungkin memang ada tanda-tanda yang muncul tanpa disadari. Kalimat-kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya, guratan lelah di wajahnya, atau cerita kecil tentang keluarganya yang semakin sering pindah-pindah, semua itu seakan membentuk satu pola. Dan pola itu menuju pada satu kenyataan kebersamaan ini tidak akan selamanya.

Justru karena itulah, kenangan sederhana yang terlewati mulai terasa istimewa. Aku masih ingat bagaimana ia tersenyum tipis saat hujan deras membuat kami terjebak di ruang guru. Senyum itu sederhana, tapi cukup untuk membuat ruangan dingin terasa hangat. Aku juga ingat bagaimana kami berjalan beriringan menuju lapangan, tidak banyak bicara, hanya sesekali bertukar pandang yang cepat hilang.

Kenangan-kenangan itu mungkin kecil, bahkan tidak berarti baginya. Tapi bagiku, setiap detailnya adalah harta yang tak ternilai. Dari caranya menunduk sambil mencatat, hingga suaranya yang pelan ketika menjawab pertanyaan siswa semua terekam jelas dalam memoriku.

Dan kini, ketika bisikan perpisahan mulai terdengar, kenangan-kenangan itu semakin sering berputar di kepalaku. Aku merasa seperti sedang memeluk bayangan, mencoba menguatkan diri dengan hal-hal yang barangkali sebentar lagi hanya tinggal cerita.

Ada sesak yang tak bisa kuungkapkan. Bukan karena aku akan kehilangan sesuatu yang nyata, tapi karena aku tahu, aku akan kehilangan kesempatan untuk berada di dekatnya yang padahal hanya sekadar menyaksikan kehadirannya, meski tanpa pernah benar-benar memiliki.

Malam-malam terasa lebih sunyi sejak firasat itu muncul. Aku menenangkan diri dengan menulis, berharap kata-kata mampu menampung apa yang tidak sanggup aku ucapkan. Namun semakin banyak kutulis, semakin aku sadar bahwa tak ada tulisan yang mampu menggantikan kenyataan akan ada waktu di mana jarak benar-benar memisahkan.

Dan aku hanya bisa berdoa dalam diam semoga kenangan sederhana ini tidak hilang begitu saja. Semoga, meski perpisahan itu datang, ada bagian kecil dari semua ini yang tetap tinggal, setidaknya dalam hatiku.

Karena akhirnya, mungkin memang takdirku hanya untukmenyimpan, bukan menggenggam. Menjadi saksi dari sesuatu yang indah, tanpapernah menamai hubungan itu apa-apa.


Other Stories
Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Kumpulan Tulisan

Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...

Download Titik & Koma