Bab Delapan: Mayat Hidup Itu Mengingatnya
Angin yang berhembus dari arah Weeping Hollows menderu seperti ratapan yang sudah lama terlupakan dan cabang-cabang pohon meliuk ke arah langit seperti tangan yang memohon untuk turunnya hujan yang pepohonan itu sudah berbau yang bercampur dengan besi dan kebusukan. Tanah itu bukan sakit lagi melainkan sudah mati akan kenangan, kesedihan, dan beban dari semua yang telah mati di sana serta menolak untuk beristirahat dengan tenang.
Kelompok itu berjalan dengan susah payah ke depan yang tertutup oleh kabut di depan mereka dan kesunyian di dalamnya yang hanya suara burung gagak saja yang terdengar di sana, jalan setapak yang tadinya luas mulai menyempit saat berbelok lebih dalam yang melewati jurang di samping jalannya. Kabut tebal yang menempel di pergelangan kaki mereka seperti rantai yang mengikat mereka untuk berjalan dengan pelan dan berhati-hati.
\"Tempat ini membuatku merasa aneh dan bulu kudukku merinding.\" Gumam Kaelith yang busurnya mulai setengah ditarik dengan anak panahnya yang sudah siap di ujungnya dan matanya terus mengamati setiap pohon di samping jalannya.
Namien berjalan dengan tangan yang diselipkan di belakang punggungnya dan tatapannya sedikit terangkat ketika melihat jalan yang berada di depannya itu.
\"The Hollow tidak dikutuk melainkan dihantui oleh konsekuensi orang-orang yang sudah mati di sini.\" Katanya dengan suaranya yang penuh pertimbangan itu.
\"Apa bedanya?\" Gerutu Vael yang menanyakan hal itu pada pertanyaan Namien.
\"Kutukan yang berada di daerah ini dilakukan dengan disengaja bagi yang melewatinya dan konsekuensinya itu yang harus diterima bagi yang berjalan di daerah ini maupun penghuninya itu.\" Jawab Namien dengan pelan.
Sora yang berjalan di depan dan ia selalu menjadi langkah pertama bagi mereka dan selalu diam itu merasakan ada sesuatu di langkahnya ada yang tidak beres. Hal itu membuatnya merasa kulitnya kini lebih kencang dan langkah kakinya mulai melambat. Seolah-olah tulang-tulangnya itu menolak akan sebuah bisikan yang berasal dari tempat itu yang menyuruhnya untuk terus melangkah lebih maju dan menghampiri apa yang ada di balik kabut itu.
Dan kemudian—
Sora yang berjalan lambat, berhenti berjalan dan badannya membeku seketika. Dia berdiri dengan tegak dan melihat apa yang saat ini berada di depannya itu namun tak bergerak, seolah hal itu telah direncanakan dari kabut itu sendiri untuk membiarkan Sora mengetahuinya sendiri.
Apa yang ia lihat di depannya saat ini, empat orang yang tengah menghalangi jalan mereka dengan siluet yang terlihat dalam jubah yang berwarna abu-abu dan baju besi yang berlumuran dengan darah.
Masing-masing empat orang itu membawa lambang yang bengkok dan sebuah ukiran di pelindung dada mereka, serigala yang melolong dengan matahari hitam di dalam gambar serigalanya itu.
Kaelith yang berhenti di samping Sora yang sedang berhenti itu mulai bersiaga dengan busurnya
“Tentara bayaran? Bukan, itu hanyalah sekelompok bandit yang hanya mencari harta dan haus akan pertumpahan darah saja.” Bisiknya dengan pelan namun waspada kepada yang lainnya.
Vael mulai bergerak ke arah samping dengan sudah menarik pedangnya dari sarung pedangnya. “Itu... bukan dari Borreal. Namun, siapa—”
Vael yang belum menyelesaikan kata-katanya itu tiba-tiba, Sora melangkah maju ke depan dengan perlahan menembus kabut di depannya.
Jari-jari tangannya yang sudah menggenggam pedangnya itu mulai gemetar dan tatapan matanya terbakar oleh api balas dendam meskipun ia tak dapat berbicara, kenangan itu kembali berteriak memanggilnya kembali untuk menyelesaikan apa yang belum ia selesaikan di masa lalunya.
Intermezzo: Cerita yang Tak Pernah Diceritakan oleh Sora Dalam Memorinya
Ada asap api yang mengepul di langit yang berwarna abu-abu dan jeritan yang membekas dalam ingatannya hanyalah waktu ketika desanya dihancurkan di depan matanya sendiri dan terlebih lagi ia menyaksikan kematian orang yang paling ia pedulikan dan sayangi itu saat kepala Eyla dipenggal dan ditancapkan di atas tombak dari kelompok tentara bayaran Black Maw.
Desanya yang terbakar di bawah matahari yang berwarna merah dan seorang pria yang bersepatu baja mulai menyeret rambut wanita itu dengan kasar hingga membuatnya terseret dengan tanah yang kasar dan hancur itu.
Sebuah obor dilemparkan oleh seseorang tentara bayaran itu ketika telah mendapatkan apa yang diinginkan kelompoknya dengan tawanya yang menggelegar dan dilemparkannya ke dalam tumpukan jasad-jasad tanpa kepala di aula desa yang membuatnya terbakar dengan hebat dan menjadikan darah warga-warga desa itu sebagai bensinnya serta asap yang beraroma daging manusia yang sangat memuakkan hidung orang ketika menciumnya.
Dan kepala-kepala warga desa yang tertancap dengan tombak dengan darahnya masih mengalir di gagang tombak tentara bayaran itu, mulai mengangkat setinggi-tingginya tombak mereka dengan menunjukkan hasil apa yang telah mereka lakukan dengan candaan hingga menghina-hina kepala-kepala yang tertancap itu.
Di atas semuanya itu, bendera yang berkibar hingga lambang di baju besi mereka terdapat lambang lolongan serigala dengan matahari di dalamnya yang dicat hitam.
Kembali ke masa kini:
Sora berhenti tepat di hadapan mereka berempat itu untuk melihat wajah mereka sekarang dan keempatnya itu masih sama seperti di ingatannya yang masih membekas pada masa lalunya yang keempat orang itu salah satunya adalah yang menancapkan kepala-kepala itu dengan menghina hingga menertawainya.
Terlihat dari penampilan mereka yang lebih tua dan penuh luka di sekitar area wajah mereka tapi masih tetap menyeringai seperti serigala yang mengendus mangsanya dan haus akan darah mangsanya itu.
“Wah..wah... apa yang kita temukan hari ini? Itu sangat menyebalkan, bukan? Ketika kau bertemu dengan orang yang mengetahui masa lalu kita dengan melakukan tindakan terhadap orang tersebut.” Ujar salah satu dari mereka dengan tertawa ketika melihat Sora dan mengingatnya itu.
“Bukankah itu tikus bisu dari Mireholt yang mencoba kabur dan kita biarkan saat itu untuk lari?” Kata salah satu dari mereka dengan meludah ke tanah.
“Kupikir kita telah membakarnya hidup-hidup bersama yang lainnya pada saat itu. Ternyata, aku tak menyangka bisa bertemu dengannya untuk membakarnya hidup-hidup itu bersama kawan-kawannya saat ini.” Jawab salah satu dari mereka yang menjilat pisau belatinya dengan perlahan.
“Seharusnya kita memastikannya pada saat itu apakah ia benar-benar mati oleh gerombolan hewan yang menyerangnya ketika lari ke dalam hutan saat itu?” Ujar orang yang tengah berdiri dan bersandar dengan pohon di belakangnya itu.
Merasa frustasi, Sora makin mencengkeram erat genggaman pedangnya itu namun Namien mendekat ke arah Sora yang sedang mencoba mengontrol emosinya dan berkata di sampingnya dengan suaranya yang mulai serius dengan nada bicara yang berat.
“Apakah semua ini adalah hantumu, Nak?” Tentara bayaran yang keempat mulai angkat bicara dengan suaranya serak dan disertai dengan nada yang mengancam Sora itu.
“Kau tidak pantas berada di dunia ini dan kami tidak ingin membuat masalah dengan kalian selain anak itu saja. Karena, dia masih mempunyai hutang yang belum ia bayarkan kepada kami dan telah ditandai oleh kami akan... oh, apakah aku harus mengatakan bahwa tubuh wanita itu dan suaranya masih membekas dalam benakku yang meminta dirinya untuk diberi pengampunan yang masih merawat anak yang bisu itu sebelum kami memenggal kepalanya itu?”
Mendengar hal itu, Kaelith langsung mengangkat busurnya dan mengarahkannya ke salah satu dari mereka. “Kau tidak akan mendapatkan apa pun kecuali anak panah dariku bila kalian terus menerus mengatakan hal itu kepada salah satu dari kami.”
Tangan Sora masih menggenggam pedangnya dengan erat dan tidak ada lagi yang namanya lari dari ketakutannya untuk saat ini serta tidak ada lagi keheningan untuk melawan yang tidak seharusnya berada di tempatnya.
Sebuah bisikan yang terdengar samar-samar hanya Sora saja yang bisa mendengarnya itu berkata,
‘Mengapa kau membiarkan bajingan-bajingan itu mulai menghinamu? Lepaskan saja seluruh amarahmu itu untuk membungkam mulut mereka yang telah menghina dirimu itu.’
Sora yang sudah termakan oleh bisikan dari dalam lubuk hatinya yang terdalam itu, mulai bergerak dengan cepat dan maju ke hadapan mereka berempat itu dan rencana penyergapan dari empat orang itu juga dimulai dengan banyaknya anak buah mereka yang melompat dari pepohonan samping jalan itu dengan selusin sosok berjubah yang berwarna sama.
Tawa mereka yang meledak akan mangsanya mulai terpancing dengan emosinya, dan senjata mereka berbunyi nyaring ketika dihunuskan itu dengan kebrutalannya.
“Berpencar, cepat!” teriak Vael kepada yang lainnya ke arah Kaelith dan Namien itu dengan menangkis serangan dari anak buah keempat orang itu.
Kaelith dengan cepat melepaskan anak panahnya dan mengenai leher di antara penyerang yang hendak menyergapnya dari samping. Namien hanya mengembuskan nafasnya... dengan perlahan akan kelelahan itu karena hal itu sangat melelahkan baginya yang melihat kejadian itu setelah mengingatkan Sora tadinya.
Kemudian Namien mengangkat tangan kanannya untuk pertama kalinya dan tanah di sekitarnya itu berubah menjadi lumpur yang bercampur dengan oli dan di tangan kirinya terlihat bola api yang sangat kecil dilemparkan ke arah tanah itu yang membakar 5 orang yang hendak menyerangnya itu hingga terbakar habis menjadi abu dengan cepat.
Gelombang kejut api merah yang oli dijadikannya sebagai bahan bakarnya itu meledak seketika dan membuat sisa-sisa dari tentara bayaran itu ketakutan akan sihir yang dibuat oleh Namien tadi di tengah-tengah serangan kejutannya untuk mereka.
\"Apa yang baru saja—\" Kaelith menoleh kepadanya seolah ia tertegun dengan kemampuannya dalam bertarung itu.
Mata Namien bersinar dan sebuah tanda sihir tua menyala di pergelangan tangannya yang menandakan ia adalah penyihir yang lebih dari berpengalaman.
\"Dulu aku adalah seorang penyihir perang, sebelum keserakahan menghancurkan diriku dan kesombongan yang telah membakar namaku kini.\" Gumamnya dengan penuh kelelahan akan pertarungan yang terasa sudah lama ia tak melakukannya.
\"Kau... seorang penyihir?\" Nada bicara Vael dengan setengah tidak percaya dan setengah kagum.
\"Dulunya saja. Sekarang aku hanya menjual botol ramuan dan beberapa peta usang yang berkeliling.\" Namien menjawab pertanyaannya dengan mengepalkan tangannya itu.
\"Tapi aku tidak pernah lupa cara menggunakan mantraku.\" Tambahnya lagi dengan kembali melihat apa yang Sora lakukan ketika mereka bertiga sudah menyelesaikan tugasnya itu.
Pertempuran itu meledak menjadi kekacauan layaknya bak api yang tengah membara dengan perasaan balas dendam itu di sekitar area itu.
Sora menghadapi keempat pria itu sendirian dan pedangnya mulai berdenting dengan senjata mereka dan melawannya, setiap serangan semakin ganas dan semakin putus asa akan kemarahan seorang anak yang melihat dunianya hancur yang sekarang diredam oleh keheningan dan membuatnya selamat pada saat itu.
Salah satu tentara bayaran mulai menerjangnya dengan keganasannya yang melihat mangsanya itu dan Sora yang melihat serangan yang dilancarkan oleh orang itu, terlihat terlalu lambat baginya sehingga ia mengambil langkah ke samping dan menebaskan pedangnya tepat di area lengan pria itu hingga terputus dari badannya dan terlihat semburan darah yang menyembur seperti tinta merah di atas kertas kabut itu bagai mata air yang tak berhenti menyemburkan darahnya.
Salah satu dari mereka mulai terkejut dan merasakan kekhawatiran terhadap Sora itu hingga salah satunya berkata, \"Kau... kau bertarung seperti dia, anak itu. Seperti... seperti pemimpin kita sebelumnya. Lari! Selamatkan diri kalian!\"
Salah satu dari mereka mulai ketakutan hingga tersentak mundur ke belakangnya dan perlahan mundur dengan tergesa-gesa yang membuat kaki mereka gemetaran hingga terjatuh dan bangkit kembali di atas tanah.
Sora yang melihat hal itu, berhenti sejenak dan matanya memerhatikan mereka yang hendak ingin kabur dari pandangannya itu dari sisa-sisa mereka yang sudah putus asa melihat kengerian dan kebrutalan oleh anak bisu yang dihinakan oleh mereka sebelumnya.
Sora menusukkan pedangnya ke perut pria yang tangannya terputus itu, dan membiarkan pedangnya tertancap di area badannya lalu mengangkatnya dari tanah, orang itu hanya bisa melihat tatapan terakhir kalinya di hadapan tatapan Sora yang mencari balas dendam atas masa lalunya itu dan orang itu menyerah atas kehidupannya yang telah direngut oleh Sora membuat mayatnya hanya digeletakkan dengan tak acuh di atas tanah yang sudah berlumuran dengan darahnya.
Tiga orang tersisa, Satu orang dari ketiga itu mencoba berbalik untuk melarikan diri dari Sora setelah melihat temannya dieksekusi dengan brutal itu, ia berlari dengan kencang dan terbirit-birit sebelum Sora menyadarinya yang hendak ingin kabur itu.
Tiba-tiba, anak panah dari Kaelith yang sudah disiapkannya itu dan sudah membidik targetnya dilesatkan begitu saja hingga menembus bagian belakang kepalanya dan membuat orang itu terjatuh ke tanah dengan anak panah yang masih tertancap di kepalanya itu.
Dua orang terakhir, mereka berdua sudah mulai terdiam ketika melihat Sora perlahan mendekati mereka dengan pedangnya itu dan salah satu dari mereka hanya bisa meneriakkan sesuatu yang tidak jelas dan mulai menyergap dengan menggila itu membuat kematiannya sangat dekat dan hanya butuh beberapa hitungan detik saja.
Sora yang melihat hal ini, hanya menghindar dengan santai dan mulai menebaskan pedangnya lagi yang mengarah ke lehernya hingga membuat kepalanya terputus.
Yang terakhir, hanya bisa melihat semua kejadian itu mulai menjatuhkan senjatanya dan berlutut dengan meminta permohonan kepada Sora yang mulai mendekatinya dengan perlahan-lahan. Air matanya mulai menetes dan celananya mulai basah karena air seninya keluar begitu saja ketika kebrutalan yang ia lihat itu sudah melampaui batas akal sehat itu.
\"Tolong, aku mempunyai anak dan istri yang harus kunafkahi dan itu hanyalah sebuah pekerjaan yang terpaksa aku lakukan ketika ia memerintahkannya kepadaku dan mengambil keuntungannya untuk keluargaku. Jadi, aku mohon kepadamu! Ampunilah nyaw—\"
Belum selesai orang itu menyelesaikan permohonannya, Sora melangkah maju dan tanpa ragu untuk mengangkat pedangnya dan menebasnya di area lehernya yang membuat semburan darah keluar dengan deras dari lehernya hingga mengenai bagian bawah Sora itu.
Setelah kejadian itu, suara-suara yang berasal dari hutan ataupun para bandit yang mantan dari kelompok tentara bayaran Black Maw itu berhenti seketika yang membuat keheningan itu terasa sebagai akhir yang sangat brutal.
Sora yang sudah menyelesaikan tugasnya itu, melepaskan pedangnya itu hingga terjatuh di atas tanah dan berlutut seketika yang membuatnya tak mempercayai apa yang telah ia lakukan sebelumnya itu.
Tentara bayaran Black Maw beserta anak buahnya yang direkrut itu telah menemui nafas terakhir mereka di tangan kelompok itu dan Sora yang mengeksekusi mereka di akhir saja sebagai penyelesaian konfrontasi dari gema masa lalunya itu.
Namien yang menyaksikan keseluruhan pertarungan yang Sora lakukan tadi itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya walau dengan bisikannya itu tak bisa mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya itu dan tanah yang telah rusak itu, menyeret para tentara bayarannya ke dalam akar-akar pohon yang sudah mati dari sihir Namien lantunkan itu untuk memberikan penguburan jasad mereka setidaknya dengan layak di bawah tanah itu.
Keheningan setelah pertempuran itu sendiri merupakan sebuah jeritan akan balas dendam seseorang yang tak bisa mengucapkan sepatah katapun terasa berat untuk dirasakan maupun diteriakkan dalam hatinya sekalipun.
Sora yang masih berlutut itu, mulai terengah-engah nafasnya dan matanya hanya terpaku pada jasad-jasad keempat orang itu dan melihat kedua tangannya yang berlumuran darah mereka itu.
Ia mencoba menangis tapi tidak bisa ia keluarkan karena kebenciannya telah memenuhi perasaan emosinya saat ini yang di dalam hatinya itu sekarang berteriak
‘Akhirnya kau bisa membalaskan atas perbuatan mereka kepadamu. Selamat atas rasa penyesalan yang telah kau perbuat itu, hahahaha...’
Kaelith mendekati Sora yang masih berlutut itu, menepuk bahunya dengan lembut dan berlutut di sampingnya sembari berkata. \"Itu bukan salahmu, Tidak ada yang salah darimu untuk membalaskan perbuatan keji mereka di masa lalumu itu.\"
Ucapan Kaelith itu bermaksud untuk menghibur dirinya namun tetap saja hal itu tidak mempengaruhi Sora sama sekali yang tak menyangka telah membunuh mereka atas kebencian dan balas dendamnya atas penderitaannya yang telah mereka perbuat salah satunya.
Namien berdiri agak jauh dan menatap tangannya yang dipenuhi oleh bekas kobaran bola api oleh sihirnya yang digunakan tadi itu, telah memudar sekarang.
“Tempat ini... Weeping Hollow, tempat ini memanglah tempat yang mengingat akan rasa sakit dari penderitaan, kebencian, balas dendam, hingga ketakutan seseorang di masa lalunya bila mereka melewati tempat ini.” Katanya kepada dirinya sendiri dengan nada penyesalan dan pelan itu.
Vael yang tak tahu harus berbicara apa mulai menyeka darah dari pedangnya dengan berkata. “Kalau begitu, kita tidak akan berlama-lama di sini sebelum kejadian yang sama akan menimpa kita di sini terutama Sora.”
Namien melihat ke arah Vael di belakangnya dan mengangguk setuju dan berkata kepada Kaelith dan Sora di depannya.
“Ayo, kita pergi ke Lembah Lentera saat ini juga sebelum hal-hal ini terulang kembali lagi.” Sora yang mendengar hal itu, mencoba berdiri walau rasa ketakutan hingga kakinya mulai gemetar itu perlahan mulai menggoyahkan apa yang seharusnya ia tak lakukan saat itu.
Sora menoleh ke belakang sekali lagi sebelum meninggalkan tempat itu dengan memerhatikan betul-betul jasad-jasad mereka berempat terutamanya itu dengan membisikkan dalam hatinya hanya satu sumpah serapah baginya:
“Tidak akan pernah lagi. Aku tak ingin menjadi pembunuh seperti mereka yang harapkan itu.”
Kabut mulai menipis saat mereka menjauh dari jalan yang berlumuran darah, pepohonan tumbuh tak lagi bengkok, dan tanah tak lagi tersedak oleh kenangan pahit namun tak seorang pun dari mereka mencoba untuk berbicara beberapa saat setelah keheningan itu hanyalah sebuah obat untuk menutupi luka mereka sementara ini dan kesedihan yang masih melekat di senjata mereka dan terutama Sora.
Mereka berjalan tanpa terlalu lama memikirkan kejadian itu dan bila mereka terus memikirkan hal itu, itu hanya menghambat perjalanan mereka saja untuk menuju ke Elarion. Selama berjam-jam di bawah cahaya redup dan kelabu, mereka keluar dari daerah Weeping Hollows itu pada akhirnya yang melonggarkan cengkeraman kabutnya dan angin berhembus dengan sewajarnya.
Vael melirik kembali ke arah Namien yang penuh dengan keheranan dari kejadian sebelumnya.
\"Kau tahu... kami tak pernah menanyakan nama aslimu siapakah itu? Namun, aku telah berjuang di sampingmu sekarang dan berdarah di sampingmu. Aku lebih suka aku tahu dengan siapa aku berbagi di medan perang.\" Gumam ksatria tua Borreal itu yang ingin menanyakan nama asli dari Namien itu yang dikenalnya hanya sebutan pedagang bagi mereka selain Sora yang telah mengetahui namanya di benteng Lastlight sebelumnya.
Kaelith yang berjalan beberapa langkah di belakang Sora hanya mengangguk setuju dari pernyataan Vael ketika mendengarnya dan berkata.
\"Kau bukan sekadar pedagang pengembara bagiku, bukan?\"
Namien untuk di kondisi saat ini saja tidak melontarkan lelucon atau mengalihkan topik pembicaraannya dan ia berjalan di samping Sora yang terdiam cukup lama sebelum ia menjawab pertanyaan Kaelith dan Vael itu dengan lembut seolah ia menyerahkan sesuatu yang paling berharga telah lama ia simpan dan tak ingin ia ungkapkan itu.
\"Namien Solis.\"
Kaelith mendengar nama asli Namien Solis itu cukup terkejut yang membuat dirinya memperlambat langkahnya.
“Tunggu… Solis? Maksudnya—”
Namien langsung mengetahui maksud Kaelith dan menjelaskan kepadanya sebelum Kaelith menyelesaikan pembicaraannya itu.
“Marga Solis dari Azure College? Ya, yang dulunya dipuja sebagai anak ajaib. Pengikat Api Kedua dari pewaris sembilan benang sihir. Semua itu sangat menyanjung namun sekarang itu, semuanya itu hanya tidak berguna dan sebuah aib bagiku sendiri untuk kukubur di bawah tanah yang terdalam sebisa mungkin.” Jawab Namien dengan suaranya yang datar dan berat untuk memberitahu tentang dirinya itu kepada mereka.
Vael mengangkat sebelah alisnya dan bertanya lagi kepadanya. “Kau dulu berada di Azure College, bukan? Kupikir tempat itu sudah musnah dua dekade lalu?”
Namien menjawab pertanyaan Vael dengan nada yang datar lagi. “Memang, dan itu karena aku sebagai penyebab kemusnahan dari tempat atau sekolahku dulu.”
Sora yang mendengarkan pembicaraannya mulai menoleh sedikit ke arah Namien dengan tersenyum pahit dan lelah seolah-olah tanggungan Namien saat ini jauh lebih berat dari dirinya mungkin.
“Aku dulu dipanggil si brilian yang congkak dan tipe jenius yang berpikir jika dunia mempunyai aturan, maka aku adalah pengecualiannya.” Ujar Namien yang mulai mengangkat kedua tangannya saat setelah mengatakan hal itu dan melihat percikan warna merah berkedip di antara jari-jarinya yang samar dan dingin.
“Aku mencoba mengikat sesuatu yang kuno yang bukan mayat hidup, bukan iblis, namun sesuatu... yang lebih tua dari hal itu. Dan hal itu, masa lalu yang penuh kesalahan dan hampir seluruh Sekolah itu runtuh terbakar oleh perbuatanku dan ratusan pikiran dari orang-orang terhebat dulunya yang sudah dibukukan itu hancur terbakar oleh api yang kubuat dan namaku dicoret dari arsip sekolah semenjak itu.” Ujar Namien yang menyesali perbuatannya akan dosanya yang lampau dengan nada yang lirih.
“Jadi, kau kabur setelah semua itu telah terjadi?” Kata Kaelith dengan nadanya tidak menuduh hanya ingin tahu dari semua ceritanya itu yang mencoba tidak memojokkan Namien atau membuatnya tersindir oleh perkataannya itu.
Tatapan Namien beralih ke langit sembari menjawab pertanyaan Kaelith tadi. “Tidak, aku justru melakukan perjalanan yang mencari suatu tempat di mana namaku tidak penting dan di mana kegagalanku tidak menunjukkan harga diriku lagi yang terikat oleh masa laluku itu.”
Namien hanya bisa menundukkan kepalanya yang berhenti berjalan untuk sesaat saja dan mengangkat kepalanya dengan melihat ke arah Sora yang berhenti juga dan melihat ke arahnya saat ini dengan mengatakan.
“Hanya dia saja yang kuberitahu akan namaku dan aku tidak yakin mengapa aku melakukan hal terbodoh untuk memberitahunya itu. Mungkin, karena... dia tidak bisa mengulangi kesalahan yang pernah kuperbuat dulu untuk dirinya di waktu yang akan datang mungkin.”
Sora tidak menjawab setelah mendengar perkataannya itu tetapi ada sesuatu di matanya yang hangat untuk memahaminya atas penyesalan yang pernah ia lakukan dulunya.
“Jadi, kau bersembunyi di balik jubah seorang pedagang sekarang? Tapi, kau masih menggunakan kekuatanmu yang kau katakan kekuatanmu itu telah menghancurkan Azure College itu?” Kata Vael dengan bertanya kepada Namien.
“Hanya saat dibutuhkan dalam keadaan terdesak saja dan bahkan saat melakukan itupun, itu sangat menggangguku yang membuat seluruh kenangan dan memori yang kusaksikan mulai datang menghantuiku.” Jawab Namien yang tak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada Vael dengan kejujuran yang ia miliki saat ini.
Kaelith menyilangkan lengannya dan kini melanjutkan jalannya dengan langkah yang perlahan itu sembari berkata.
“Kau telah menyelamatkan kami di sana. Apa pun yang kau sesali di masa lalumu itu... tidak ada kaitannya sama sekali dengan apa yang kau perbuat saat ini dan terlebih lagi, kau telah menyelamatkan kita di sana sehingga aku bisa mengatakan bahwa kau mendapatkan tempatmu di sini di dalam kelompok ini.”
Namien mulai menghembuskan nafasnya yang berat dan terkekeh pelan saja sembari menjawab hal itu.
“Ksatria Borreal yang membawa sumpah yang telah lama mati, Pemanah yang sinis dan menyembunyikan perasaannya, Si Pendiam yang terlihat keren namun kagok, dan Cendikiawan yang dipermalukan oleh masa lalunya dan banyak omong kosong? Sebuah kisah yang seperti sirkus keliling, ya?”
Kaelith menyeringai mendengar hal itu dengan membalas perkataannya. “Atau bisa lebih buruk lagi, jika kau ingin menjadi seorang penyair dengan sarkasme dan humor yang kau selipkan di syairmu itu jika dirimu mau?”
Mereka semua tertawa pelan bahkan Vael yang tertawa kecilnya itu terdengar kasar atas pernyataan Kaelith itu kecuali Sora yang melihat ke jalan di depannya sekali lagi yang terlihat bukit-bukit kini berubah menjadi emas dan dari kejauhan terlihat sesuatu tengah berkedip-kedip samar dalam kabut yang memudar itu…
Itu adalah lusinan lentera dari jarak yang cukup jauh telah terlihat yang tengah menggantung di udara seperti lampu pijar dan terbang dengan perlahan melintasi cakrawala senja itu dan lembah itu kini berada di dekat mereka namun jauh di hadapan mereka melalui mata mereka yang memandang itu.
Namun di belakang mereka, Weeping Hollow masih bernapas dan di dalam semak-semaknya ada sesuatu yang mengawasi mereka di baliknya. Tak bergerak hingga menunjukkan taringnya di saat yang tepat dan dengan sabar menunggu mereka di waktu yang tepat untuk menerkam.
Lentera-lentera itu terlihat berkilauan di langit seperti bintang yang tergantung di tengah-tengah penurunan atau ribuan di antaranya yang tengah melayang di atas lembah yang lebar dan bergerigi dan terbuka seperti luka di antara dua tebing yang menjulang tinggi itu. Setiap lentera berdenyut lembut dan memancarkan cahaya spektral di atas jalan berbatu yang berfungsi sebagai pintu masuknya ke dalam lembah itu.
Meskipun indah, udara di sekitarnya terasa dingin seperti keheningan yang menyesakkan. Mereka berdiri di sana tengah menikmati pemandangan yang terlihat dari kejauhan mengarah Lembah Lentera itu untuk sesaat saja yang udaranya terasa tenang namun, Geraman rendah menggelegar di angin seperti guntur yang merangkak dengan keempat kakinya merusak yang mereka nikmati itu dengan kesiagaan yang penuh dengan kewaspadaan juga.
Seketika, mereka semua mulai mempersiapkan senjata mereka untuk menghadapi bahaya yang akan datang ke arah mereka saat ini.
Telinga Kaelith berkedut-kedut seperti mendengar sesuatu di belakang mereka terlebih dahulu, Vael berbalik perlahan dengan tangannya yang sudah menghunuskan serta memegang dengan erat pedangnya itu, dan senyum Namien langsung menghilang dan digantikan oleh ekspresi wajahnya yang tiba-tiba tidak terbaca.
Sedangkan Sora, dia membeku seketika dan ada sesuatu yang menariknya seperti seutas ingatannya dan sesuatu yang terkubur di dalam darah dan malam yang dingin.
Dari balik jalan setapak yang berkabut dan semak-semak itu… terlihat sosok yang sangat besar melangkah maju dengan perlahan yang merupakan seekor serigala yang berwarna hitam dan dengan otot serta bekas lukanya yang bulunya pucat dengan garis-garis perak, taring yang cukup panjang untuk menembus zirah besi manapun, dan matanya yang berwarna coklat muda hampir bersinar tetapi keganasan dan kebuasannya terlihat dan terpancar dalam mata hewan itu.
Dan tergenggam erat di rahangnya yang berlumuran air liurnya dengan pedang yang berukuran sangat besar dan terkelupas oleh sesuatu yang kuno masih berdengung dengan sisa-sisa sihir dari perang yang terlupakan oleh waktu.
Serigala itu berhenti sepuluh langkah di depan mereka saat ini dengan Air liur yang mulai menetes ke tanah dan batu di sekitarnya yang membuat tak seorang pun dari mereka bergerak dengan kepastian untuk bertarung dengannya itu dan memastikan lebih lanjut apakah serigala itu mengincar mereka atau hal lainnya?
Kemudian ia menjatuhkan ujung pedang yang sangat besar itu dengan bunyi gemerincing yang melepaskan raungan mengguncang area di sekitarnya dan mulai untuk menerjang mereka itu dan pertempuran untuk kedua kalinya dimulai dengan kebuasan dan keganasan dari serigala berukuran raksasa dengan pedang besarnya yang berada di mulutnya itu mulai menebaskan ke arah mereka dengan tebasan yang sangat luas dalam jangkauannya.
Vael melompat lebih dulu dan menangkis serangan awalnya dengan bilah pedangnya yang datar tetapi pedangnya terlempar jauh seperti boneka kain ke sisi tebing.
Busur Kaelith bersiul dua kali dengan melesatkan anak panahnya yang mengenai sisi tubuh serigala itu tapi nyaris tidak terhuyung oleh serangannya. Serigala itu menukik ke arah samping untuk mengincar Kaelith yang telah menyerangnya dan Kaelith dengan cepat berguling ke arah berlawanannya yang nyaris mengenai kaki serigala itu yang menghancurkan pijakan tanah di tempat ia berdiri tadi.
Namien mulai meramalkan mantra sihirnya itu dengan mengangkat kedua tangannya dan menggumamkan mantra yang membuat simbol-simbol itu menyala di tangannya warna ungu yang melingkar dan sebuah bola api di tangannya terbentuk dan dilemparkan ke arah serigala itu yang melesat maju dan membakar bulu dan tubuh serigala itu hingga serigala itu mengaum kesakitan tetapi alih-alih mundur dari rasa sakit yang hebat dari mantra Namien itu, serigala itu malah menghilang dari hadapan Namien dengan cepat serta menghilangkan api di sekujur tubuhnya dengan gerakan yang sangat cepat.
Dalam sekejap mata, Sora melesat ke arah serigala itu dengan kondisi yang sudah terlambat baginya, serigala itu muncul kembali di belakang Namien dan mengangkat cakarnya dan mencakar punggung Namien yang membuat punggungnya memiliki bekas luka cakaran serigala raksasa itu.
Namien jatuh terduduk dengan batuk darah yang mulai keluar dari mulutnya dengan bahunya yang robek akan sayatan cakar serigala tadi.
Kaelith meneriakkan namanya tapi Sora sudah bergerak menuju Namien walau sudah terlambat itu dan Sora mulai menyerang serigala itu dengan pedangnya yang menukik rendah untuk memberikan tebasan dari bawahnya dan matanya fokus terhadap pergerakan serigala itu bila bergerak secara tiba-tiba.
Serigala itu mulai berbalik ke arah Sora dan Sora yang melihat hal itu untuk serigala yang ingin melancarkan serangan balik, melompat jauh dari area sana dan lompatannya itu tidak seperti manusia pada umumnya tapi seperti nalurinya yang sedang mengalir begitu saja dalam pertarungan yang sedang berlangsung.
Baja beradu dengan taring serigala itu yang membuat pedang yang digigit oleh serigala itu terlepas dari rahangnya dan sekarang Sora bertarung seperti seorang kesatria yang menari dengan serigala itu sebagai targetnya dalam kekacauan yang brutal dan anggun di waktu yang sama. Serang, menghindar, berdarah, dan tangkis.
Udara di sekitar tampak bergema dengan baja dan geraman yang terasa akan penderitaan yang tak memiliki ujungnya.
Kemudian, bertepatan saat Sora hendak mendaratkan serangan di titik lukanya di tubuh serigala itu.
Namien bangkit dari luka parahnya itu yang pendarahan yang hebat mengalir di belakangnya dan wajahnya mulai pucat. Namun, masih tersenyum bukan karena geli, tetapi karena hal ini membuatnya semakin jengkel akan sesuatu yang menimpanya.
Ia mengangkat satu tangannya dan sebuah mantra yang tak terucap mulai menyebar seperti embun beku di pembuluh darahnya dengan berteriak.
\"Cukup!\"
Dan dari bawah serigala itu, sulur api ungu mulai melonjak ke atas dan mengikat anggota tubuhnya yang terbuat seperti tali api yang mengekang hewan buas dan liar itu.
Serigala itu meraung hebat akan rasa terbakarnya api itu hingga gigi tajamnya itu mulai mencabik satu persatu tali api itu walau mulutnya ikut terbakar dan terbebas dari hal itu mulai menerjang Sora lagi.
Namun Sora melakukan hal yang tak diduga yang membuat semua orang di sana berpikir dirinya melakukan sesuatu yang gila dan tak mungkin ia melakukan hal itu. Sora menjatuhkan pedangnya dan mulai melangkah maju ke hadapan serigala hitam raksasa itu yang sudah dipenuhi dengan luka bakar dan sayatan pedang darinya itu.
Tiba-tiba Sora mengulurkan tangannya ke arah serigala itu seperti menunjukkan tanda Sora ingin mengelus bagian hidungnya yang terdapat bekas luka itu.
Kaelith berteriak kepadanya untuk mundur namun Sora tak menghiraukannya sama sekali dan Vael menggerutu dengan tak mempercayai apa yang ia lihat dengan kondisi masih terluka itu.
Serigala itu pada awalnya menunjukkan taring-taringnya yang berbau busuk dan tajam itu berjalan perlahan ke arah Sora dengan niat mengancam dan ketika sampai di hadapan Sora, mulutnya terbuka yang dekat sekali dengan jarak Sora beberapa inci saja dari Sora. Serigala itu bernapas dengan perlahan dan menyadari apa yang dilakukan Sora itu membuatnya mulai menutup mulutnya yang beringas itu.
Serigala itu mulai mengendus-endus bagian tubuh Sora yang sangat berbeda dengan yang lainnya sehingga serigala itu mulai menundukkan kepalanya seperti anjing peliharaan itu dan pada saat itu, pertarungan dengan kebuasan dan keganasan telah berakhir dengan elusan di kepala serigala itu oleh tangan Sora yang penuh luka dan tidak lembut itu.
Sora menyentuh moncong hidungnya dan tatapan matanya mengatakan segalanya yang melebihi dari sesuatu yang kuno dan sesuatu yang hanya bisa dibagikan yaitu rasa atas kepedulian.
Namien kembali jatuh berlutut dan tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu dengan berkata.
\"Dia tidak pernah berhenti mengejutkan kita...\"
Kaelith yang hanya bisa menatap Sora bisa melakukan seperti itu mulai ragu dan tercengang dengan peristiwa ini sembari berkata kepada dirinya sendiri dengan pelan. \"Siapa sebenarnya dia?\"
Vael dengan mata yang menatap juga ke arah Sora, tidak menduga apa yang ia lihat dan hanya bergumam: \"Dia lebih dari yang kita duga.\"
Serigala besar itu berbalik kembali, mengambil pedang besarnya dengan mulutnya itu hingga menyeret pedangnya, dan menghilang ke dalam kabut meninggalkan darah dan keheningan kembali di temoat itu untuk sekali lagi.
Sora berbalik arah dengan tangannya yang masih sedikit gemetar dan mengambil pedangnya yang ia jatuhkan sebelumnya. Lentera lembah berdenyut sekali lagi dan sekarang, mereka memasuki ke daerah itu dengan luka dari serigala buas itu sebelumnya.
Namien yang memaksakan dirinya untuk berjalan dan mengatakan kepada yang lainnya telah menawarkan pertolongan untuknya tidak apa-apa, tidak berbicara sedikitpun dan hanya menahan lukanya itu setelah pertarungan tadi.
Nafasnya perlahan-lahan menjadi pendek dan tajam di setiap langkah yang diambilnya.
Kaelith yang berjalan di belakangnya, mulai memperhatikannya dari luka yang diterima Namien di punggungnya itu berwarna merah tua masih mengalir di punggungnya dan membasahi seluruh bagian belakang jubahnya itu.
Bekas luka dari serigala itu tidak hanya dalam tetapi juga sangat parah yang terlihat oleh Kaelith itu, Pembuluh darah hitam muncul setelah darah Namien yang mengalir seperti berdenyut keluar dari luka itu dan seperti akar dari beberapa jenis bau busuk yang menjalar ke sekitarnya.
“Namien—” Kaelith bergerak ke arahnya dengan mencoba membantu langkahnya tetapi semua itu terlambat dengan kaki Namien akhirnya lemas, matanya berputar ke belakang, dan dia terjatuh di atas tanah dengan suara yang cukup keras terdengarnya.
“Sora, tolong aku!” Teriak Kaelith yang panik melihat kondisi Namien itu saat ini tak sadarkan diri.
Sora menoleh ke arah belakangnya dan bergerak dengan cepat untuk membantu Kaelith yang menggotong Namien itu sebelum kepalanya membentur tebing batu di sampingnya.
Vael melemparkan ranselnya dan merobek kain yang ia punya tetapi tidak ada yang mereka bisa lakukan untuk memperlambat pendarahannya yang sangat banyak saat ini. Luka itu mendesis seolah menolak akan bantuan mereka.
“Dia terkena racun dari cakar serigala tadi. Luka dari serigala itu membawa kematian di cakarnya. Kita harus bertindak cepat sebelum nyawanya yang hilang!” Gumam Vael dengan muram dan menyuruh yang lainnya bergegas sebelum Namien menghilang.
Pandangan Sora beralih ke jalan di depannya dengan cepat ke arah Lembah Lentera yang melengkung ke dalam dan menuruni ke arah yang tampak seperti pemukiman terbengkalai terletak di cekungan batu di kejauhan sana.
Jembatan batu yang hancur melintasi sungai kering dan lentera melayang dalam keheningan yang mencekam di atas atap-atap dan gang-gang sempit dari pemukiman itu namun, satu lampu terlihat tidak seperti rumah pemukiman yang lainnya menyala kuning terang.
Tidak ajaib atau nyata dari apa yang dilihat Sora itu tapi ada asap yang keluar dari salah satu pondok pemukiman itu.
Sebuah rumah yang masih ditinggali oleh penduduk di sekitar sana mungkin pikir Sora. Tanpa membuang banyak waktu, Sora mengangkat Namien di punggungnya yang tadi menggotongnya bersama Kaelith dan berlari dengan cepat ke arah pondok itu.
Melihat hal itu, Kaelith dan Vael mengikuti Sora dari belakangnya dengan cepat.
Desa itu tidak kosong hanya terasa terlupakan oleh waktu ke waktu dengan keadaan yang sunyi dan tua namun, satu pondok itu masih memancarkan kehadiran di antara banyaknya pemukiman yang ada.
Saat mereka mendekat ke arah pondok itu, pintu pondok itu mulai berderit terbuka dan sosok manuisa melangkah keluar dari pondok itu yang tampaknya seperti siluet dalam cahaya perapian yang ia buat di dalam pondok itu hingga asapnya terlihat dari kejauhan melalui cerobong asapnya.
Seorang pria muda dengan jubah bertanda lambang yang sudah robek dan usang akan api yang membakarnya di sekitar area bahunya itu dan sebuah tongkat bersandar di dekat pintu pondok itu.
Ketika pria itu melihat ada tanda seseorang yang mendatangi tempatnya itu, ia memerhatikannya dan melihat kondisi mereka sangat tergesa-gesa dan memerhatikan lagi seseorang yang sedang mengangkut seseorang di punggungnya itu membuat matanya yang memerhatikannya mulai terbelalak.
Kenalannya yang sudah berlalu di antara dirinya dan pria yang sekarat berada di punggung Sora saat ini.
“Namien…?” Ujar pria muda itu yang bergumam pada dirinya sendiri.
Sora yang sampai di depan pintu pondok itu melihat pria muda itu mulai menatap matanya dengan memohon kepadanya agar membantu temannya yang sedang terluka itu di punggungnya saat ini.
Pria itu melangkah maju menuju ke arah Namien di sampingnya yang sudah tak sadarkan diri itu. Tangannya melayang dengan ragu-ragu di atas luka yang diterima dari pertarungannya tadi itu melawan serigala berukuran raksasa.
“Kupikir kau sudah mati setelah Azure College itu jatuh… tidak seorang pun—” Bisiknya kepada dirinya sendiri dan terpotong oleh Kaelith dan Vael yang datang menyusul setelah Sora datang itu dengan mengatakan dalam keadaan panik juga.
“Dia sekarat saat ini, bisakah kau menolongnya?” Pria muda itu mendongak ke arah Kaelith yang mendengar permohonannya itu dan sesuatu yang tak terbaca dalam ekspresinya mulai mengatakan kepada Kaelith.
“Kau tidak tahu apa yang telah dilakukannya di masa lalu.”
Kaelith mendengar hal itu langsung meluapkan emosinya dengan berkata kepadanya. “Kami tidak peduli apa yang telah dilakukannya di masa lalunya itu, kau mau mengatakan dirinya ini telah membakar sekolah dulunya itu adalah dosanya saat itu namun hal itu tak ada kaitannya dengan saat ini, bukan? Jangan bahas hal ini saat ini juga, tidak sekarang sebelum ia mendapatkan perawatan terlebih dahulu sebelum nyawanya melayang.”
Kaelith yang emosinya sudah mencapai batasnya itu membuat keheningan terjadi pada saat itu yang membuat pria muda itu menunduk lagi akan teringat rasa sakit, pengkhianatan, dan kenangan pahit yang telah terekam di matanya dan ingatannya.
Dia mulai menekan tangannya ke dada Namien dan membisikkan sesuatu dengan pelan dan ujung jarinya bersinar dengan cahaya biru lembut yang membuat udara di sekitarnya tampak berkilauan.
Garis-garis hitam yang berdenyut di kulit Namien sedang berkedut dan itu adalah racun yang mematikan telah terlihat hampir menjalar ke seluruh tubuhnya saat ini.
Pria muda itu berkata kembali kepada mereka yang tengah berkumpul itu. “Dia akan hidup, tetapi… ada harga yang harus dibayar olehnya nantinya. Luka itu tidak akan hilang dan mungkin… akan mengubahnya dirinya.”
“Siapa namamu?” Tanya Kaelith suaranya kini lebih pelan dari sebelumnya yang ia sudah mengontrol emosinya itu. Pria itu mendongak dengan rahangnya terkatup rapat menjawab.
“…Sered.”
Kaelith hanya mengangguk dan berkata kepada Sered.
“Sered, aku Kaelith. Yang itu Vael. Dan yang pendiam itu Sora.”
Tatapan Sered langsung tertuju kepada Sora yang masih menggendong Namien di punggungnya itu, sejenak lebih lama dari yang lainnya.
Sesuatu yang tak terucapkan terjadi di antara mereka hingga Sered menunjuk ke dalam pondok ketika memperbolehkan mereka masuk ke dalamnya.
“Bawa dia masuk. Ia perlu istirahat terlebih dahulu dn saat ia bangun…” Suaranya terputus-putus dan melanjutkan kembali perkataannya dengan tegas.
“Kita semua perlu berbicara mengenai Namien nantinya.”
Di malam hari itu, Namien berbaring diam di tempat tidur di dalam kamar tidur dengan kulitnya yang pucat dan napasnya lemah tetapi stabil setelah pengobatan yang dilakukan oleh Sered sebelumnya.
Sora tidak tidur, ia duduk di dekat jendela sambil menatap ke luar ke jendela yang lentera di luar itu berkedip-kedip seperti bintang-bintang di langit malam, Kaelith yang duduk di dekat perapian, tidak mengucapkan sepatah kata pun hanya kehadirannya saja yang ada di sana disertai diamnya itu, Vael yang hanya duduk di salah satu kursi sambil memandangi perapian di depannya itu mulai memikirkan kekurangan dirinya yang tak bisa melindungi kelompoknya akan kekuatannya yang tidak cukup baginya, dan Sered keluar dari tempat Namien berbaring, berjalan ke arah di mana mereka beristirahat itu, duduk di seberang api unggun dengan melihat mereka semuanya sambil membisikkan sesuatu yang lama dan mungkin itu sebuah doa atau permohonannya?
Di luar pondok itu, terdengar lolongan serigala besar yang bergema samar-samar di kedalaman Weeping Hollow dan bintang-bintang yang tadinya bersinar terang perlahan mulai menghilang satu persatu di balik awan tebal yang bergulir menuju cakrawala.
Sesuatu yang lain akan datang dengan membuka sebuah misteri serta ketegangan ke depannya akan terungkap dengan perlahan dan kisah seorang Namien akan kebenarannya segera muncul bersamanya dalam pembicaraan mereka di sana nantinya.
Api di perapian berderak dengan pelan dan lentera di luar bergoyang dengan pelan dan lembut tertiup oleh angin malam yang seperti bintang tengah bernapas.
Di dalam pondok, kehangatan menyelimuti mereka tetapi udaranya terasa berat seperti menunggu guntur setelah kilat yang akan datang menghampiri mereka dalam pembicaraan yang berat. Sered duduk membungkuk di kursi dengan menggenggam lututnya dengan kedua tangannya dan menatap tang lainnya.
Yang lainnya seperti Sora, Kaelith, dan Vael yang tengah duduk di ruangan itu, saling menghadap ke api unggun di perapiannya itu.
Tak seorang pun dari mereka berbicara kecuali keheningan itu berbobot untuk menunggu suara Sered yang memulai pembicaraan mereka.
Dan akhirnya, Sered berbicara dengan pelan. “Azure College lebih dari sekedar sekolah. Itu adalah kota pemikiran yang dibangun di tulang punggung dunia ini yang tempatnya langit bertemu dengan tanah di bawahnya. Setiap mantra direkam, setiap pertanyaan dieksplorasi, bahkan mimpipun mempunyai sebuah perpustakaannya sendiri.”
Jari-jarinya mengencang di sekitar lengan kursi dan melanjutkan kembali ceritanya.
“Kami berasal dari anak yatim piatu, pengembara, cendekiawan, atau mereka yang memiliki terlalu banyak mana sihir dalam darah mereka serta tidak mempunyai tempat untuk tinggal. Aku salah satu dari mereka dan begitu juga pula dengan Namien.”
Dia memejamkan matanya sejenak untuk mengingat kenangan yang ia punyai di Azure College itu dan membukakan matanya kembali setelah itu dan melanjutkan.
“Namien itu... brilian dan ceroboh. Dia selalu melihat lebih jauh atau visioner daripada kita semua. Selalu membuat lubang pada aturan yang membentuk dirinya kembali dan dia hendak ingin menulis ulang arsitektur sihir itu sendiri sebagai mimpnya dulu sebagai pelajar dari Azure College pada saat itu.”
Senyum pahit keluar dari ekspresi wajah Sered.
“Dan suatu hari, dia melakukannya.”
Api unggun berderak lebih keras ketika perkataannya terhenti di sana dan memulai cerita mengenai tragedi yang sebenarnya.
“Ada brankas di bawah sekolah yang disebut area terlarang untuk mantra sihir yang dibuat oleh raja dan dewa gila sekalipun disegel di sana untuk alasan tertentu. Tapi, Namien menemukan cara masuk ke dalamnya dan dia menggunakan salah satu gulungan mantra yang ia dapatkan dari sana dan sebuah ritual ia lakukan dari gulungan yang ia temui itu tidak hanya menulis ulang sihir namun itu mengurai keseluruhannya.”
Kaelith yang mendengarkan cerita Sered itu mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan alisnya mulai berkerut untuk mendengarkan kisahnya lebih lanjut namun terhenti di sana sehingga Kaelith bertanya kepadanya.
“Apa yang terjadi setelah Namien menemukan gulungan itu dan mengurainya?”
Sered melanjutkan kembali kisahnya. “Tabir itu mulai terkoyak dan alam dunia ini seakan-akan berdarah dalam satu tindakan yang seharusnya tak boleh dilakukan itu. Separuh dari Azure College tenggelam ke dalam lubang yang bukan bagian dari dunia ini lagi. Separuh lainnya, terbakar oleh lolongan api yang terdengar menjerit Atau mungkin berubah menjadi abu untuk selamanya.”
Suaranya menegang ketika mulai melanjutkan kisahnya lagi. “Aku sendiri tengah berada di observatorium saat kejadian itu yang letaknya cukup jauh dari tempat utama. Aku melihat langit retak di sekitarnya dan dengan mataku sendiri, aku melihat siswa yang kukenal tercabik-cabik oleh cahaya api yang tidak mengikuti hukum dari mantra sihir itu sendiri. Dan Namien semenjak kejadian itu… menghilang tanpa ada jejak pada saat itu.”
Dia melihat ke arah pintu kecil yang mengarah ke tempat tidur yang di mana tempat Namien masih terbaring tak sadarkan diri.
“Selama bertahun-tahun, aku pikir dia meninggal bersama yang lainnya.”
Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Sora tidak melihat siapa pun yang dalam pandangannya mulai tenggelam dalam nyala api unggun yang redup seolah-olah mencoba menangkap pantulan dari bara apinya.
Vael akhirnya berbicara. “Dia bukan pria seperti itu lagi.”
Suara Sered mengeras ketika mendengar hal itu dari Vael. “Itu tidak menghapus dosa-dosanya.”
Dan saat itu juga… Pintu dari arah tempat Namien mulai berderit terbuka dan Namien berdiri di sana dengan bersandar di dinding yang matanya cekung tetapi melihat kejadian itu semuanya dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan juga.
Namien mulai melangkah dengan perlahan ke tempat di mana mereka melakukan pembicaraan itu dengan berkata.
“Aku telah mendengar keseluruhannya.” Katanya dengan pelan dan lirih.
Semua yang berada di ruangan itu terkejut melihat Namien telah sadar tetapi Sered tidak bergerak dari tempatnya dan mencoba untuk menahan rasa emosinya kepada Namien secara pribadi.
Tangan Namien terkulai lemas di samping bahunya dan ia tidak menunjukkan seringai licik seperti biasanya. Tidak ada lagi kepintaran yang tersisa dalam dirinya melainkan hanya rasa malu yang dipendamnya dan penyesalan yang tak bisa ia hilangkan begitu saja yang selalu menghantuinya setiap malamnya.
“Kau benar, Sered. Semua yang kau katakan itu benar, aku tahu saat itu dan aku masih ingat hingga saat ini. Aku menghancurkan apa yang telah dibangun dan aku mengambil pengetahuan yang dilarang itu dan mengubahnya menjadi api yang menghancurkannya, kupikir aku menyelamatkan kita dari keterbatasan namun, yang kulakukan hanyalah menulis ulang kematian untuk ratusan orang tak bersalah di dalamnya.” Ujarnya dengan nada yang penuh penyesalan dan pengungkapan akan rasa bersalahnya di masa lalunya itu.
Namien menundukkan kepalanya dan melanjutkan kembali perkataannya itu, “Aku tidak menginginkan pengampunan dan aku merasa tidak pantas untuk menerimanya. Namun, aku ingin kau tahu... Aku hidup dengan itu di setiap malamnya dan setiap kali aku merapal mantra, aku merasakan hantu masa laluku itulah yang menghantuiku hingga saat ini.”
Sered masih belum menoleh ke arahnya dan api perapian itu menyala di antara mereka seperti luka yang tak pernah mengering.
Tangan Kaelith menyentuh Sora karena ketegangan di ruangan itu akan mencapai puncaknya dan tak ada yang bisa bertindak sesuatu kepada mereka saat ini, Vael tidak mengatakan apa pun selain menundukkan kepalanya akan perkataan Sered tadi itu juga ada benarnya dan juga tak bisa dipungkiri faktanya bila Namien juga mengakui sepenuhnya.
Dan Sora... melakukan tindakan sebelum hal itu berubah menjadi kekacauan nantinya dengan berdiri dari tempat duduknya dan melangkah di antara mereka untuk menengahinya.
Sora menatap Sered lalu menatap Namien setelahnya dan dia menuliskan sesuatu dengan kertas yang ia ambil di sakunya itu dengan penanya juga kepada mereka satu persatu.
Kedua pria itu tersentak ketika membaca tulisan Sora di kertas itu. Bukan karena sebuah pembelaan di antara mereka tetapi karena beratnya beban perasaan mereka pikul hingga saat ini. Tulisan Sora kepada Sered berbunyi seperti,
“Kau kehilangan rumah dan sebuah mimpi hingga orang-orang yang kau cintai. Kau punya hak untuk berduka dan membenci perbuatannya yang dulu itu. Tapi pria itu… memilih untuk berjalan melewati abu daripada bersembunyi di bawahnya untuk memutarbalikkan kesalahannya tanpa permohonan maaf melainkan menanggungnya seorang diri selama ia masih hidup itu.”
Lalu Sora memberikan isyarat kepada Namien untuk membaca tulisannya itu.
“Dan kau, kau bisa menanggung dosamu, tetapi jangan berharap orang lain mengangkatnya untukmu. Teruslah berjalan dan dapatkan kesunyian mereka jika bukan sebagai pengampunan dari mereka yang menghantuimu saat ini.”
Sora seolah-olah sedang berbicara tetapi tidak berbicara melalui mulutnya itu kecuali dari secarik kertas dengan tulisan darinya untuk memberi isyarat kepada mereka sebagai bahasanya.
Lalu Sora menoleh ke arah Namien dengan serius dan mata Namien terlihat gumpalan air matanya mulai mengumpul di ujung matanya, tetapi Namien tidak berbicara lebih lanjut karena paham maksud darinya dan Namien dalam hatinya kali ini merasa tersentuh akan tulisan Sora itu cukup mengetarkan hatinya paling dalam itu.
Sered yang menatap Sora untuk waktu yang lama hingga api unggun di perapian itu mulai menyusut padam. Lalu, Sered berbisik kepada dirinya sendiri yang cukup terdengar oleh Sora karean satu nama yang diucapkan membuat dirinya menoleh ke arah Sered itu
“Kau… kau terdengar seperti Eyla.”
Sora membeku untuk beberapa saat setelah mendengar nama Eyla kembali diucapkan dari mulut seseorang kali ini yang mengenalnya. Sered melanjutkan kembali yang dikatankannya.
“Dia pernah bercerita tentangmu kalau tidak salah. Anak laki-laki tanpa nama dan terlalu banyak kesedihan di dalam matanya untuk dijelaskan.”
Sora akhirnya duduk perlahan di kursi di belakangnya itu dan Namien juga duduk, tetapi menagmbil jarak yang lebih jauh namun masih di dalam lingkaran cahaya api unggun yang sama.
Tidak seorang pun berbicara selama beberapa saat setelah itu tapi, tidak seorang pun pergi juga untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Sered yang mengetahui Eyla Varn itu.
Dan di suatu tempat di luar pondok itu, lentera-lentera di atas Lembah berkilauan lembut seolah-olah mendengarkan pembicaraan mereka di dalam pondok itu.
Perjalanan mereka tentunya belum berakhir di sana, Namun malam ini mereka selamat bukan hanya dari gigi serigala besar dan pedangnya... tetapi juga dari kejujuran dan pengakuan akan kesalahan masa lalupun memiliki caranya sendiri untuk menyelamatkan seseorang dari masalahnya terkadang.
Other Stories
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Horor
horor ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...