Prolog: Di Masa Sebelum Keheningan
Dulu, ketika sungai belum berubah menjadi debu dan kehidupan setiap makhluk masih terjaga.
Di saat itu, dunia masih memiliki banyak bintang-bintang di langit dan berakhir di satu saat ketika bintang-bintang itu mulai berjatuhan untuk terakhir kalinya dan menara-menara tua yang dulunya agung dan megah, kini menjadi reruntuhan hingga hancur tak bersisa.
Dan setiap manusia pada saat itu masih memiliki sebuah harapan yang terjalin dalam nafas dunia.
Bukan sebuah harapan yang keras yang dipanjatkan.
Bukan sebuah harapan yang dinyanyikan oleh penyanyi keliling atau terukir di sebuah Prasasti oleh mereka yang masih memercayainya.
Tetapi yang mereka inginkan hanyalah sebuah harapan yang tenang untuk hidup kembali seperti dahulu.
Harapan yang bertahan karena tak terlihat oleh mata yang dirasakan.
Dan di antara keheningan mereka itu, berjalanlah seseorang yang tidak lahir dari ramalan atau diciptakan dengan kekuatan khusus dari para dewa.
Dia tidak membawa sebuah legenda yang tidak memiliki darah dewa di nadinya.
Namun, ketika tabir antara apa yang ada dan apa yang seharusnya tidak pernah ada telah terbelah.
Dia berdiri di tempat para orang-orang yang sedang berlutut pasrah tunduk kepada kekuatan absolut.
Namun, dia berdiri sebagai tanda perlawanan akan takdir yang kejam dan tak menentu itu.
Dia bukanlah seorang pejuang.
Bukan seorang yang suci .
Tetapi, hanya seorang saksi.
Dengan sebuah rasa sakit yang dipikulnya.
Dengan sebuah harapan membawa perubahan.
Dan dengan sebuah kebenaran yang selalu dibawa olehnya.
Dia berjalan bukan untuk memimpin pasukan atau mengklaim mahkota, tetapi untuk mengingat apa yang dilupakan dunia bahwa menjadi manusia bukanlah takdir yang ditulis oleh takdir itu sendiri, tetapi pilihan yang dibuat dalam bayangan yang paling tergelap dari diri mereka sendiri.
Awalnya, Dia tidak disebut apa-apa dan hanyalah jiwa manusia lainnya yang terbebani oleh waktu yang terus berjalan.
Namun, saat kerajaan-kerajaan mulai hancur, saat binatang-binatang bergerak di bumi yang terdalam, dan saat kebohongan dimahkotai dan kebenaran dibuang ke pengasingan.
Dia memilih bangkit untuk mengembalikan harapan yang pernah diharapkan bagi umat manusia.
Berbisik dalam hembusan angin yang tenang namun dingin.
Diucapkan oleh pohon-pohon yang hampir mati dengan dahan kasarnya.
Dan, terukir dalam cahaya api unggun yang menyinari dalam dinding-dinding gua sebagai mural akan kembalinya peradaban.
Hanya menjadi seorang Saksi.
Bukan sebagai seorang penyelamat.
Bukan juga sebagai seorang pahlawan.
Tetapi orang yang melihat bentuk dari apa yang mungkin akan datang nantinya, dia memilih untuk tetap melangkah maju tanpa melihat ke arah belakangnya.
Dan dengan demikianlah cerita tentang seseorang yang berjalan di dunia yang sudah hancur itu, telah dimulai kisahnya.
Dia berjalan tidak dengan sebuah misi penyelamatan dunianya yang sudah hancur itu.
Dia berjalan tidak dengan sebuah misi kemuliaan yang dibawanya sebagai misinya.
Namun dengan keberanian dan jiwa yang cukup untuk menanggung seluruh penderitaan dalam perjalanannya di dunia yang sudah rusak itu.
Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Desviar : Libur Dari Kata-kata
Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...