Bab Sepuluh: Senjata Mereka Dan Jalan Berbisik
Pria tua itu, Aldren mempersilakan mereka untuk menyantap camilan yang sudah ia letakan di atas meja dengan senyum hangat. Di dalam, suasananya begitu nyaman dengan perapian yang menyala lembut dan aroma yang menenangkan.
Mereka semua duduk dan berbagi sedikit cerita, hingga Aldren menatap tamunya dengan tatapan yang bijaksana dan matanya yang tajam mengamati setiap wajah yang lelah akan perjalanan yang mereka lalui itu.
Aldren memulai pembicaraannya dengan mereka dan suaranya dengan tenang berkata.
\"Kalian semua telah berjalan melewati abu dan bayangan. Katakan kepadaku para pengembara, apa sebenarnya tujuan akhir kalian yang membawa kalian saat ini hingga ke ambang pintu rumahku di Elarion ini?
Kaelith yang hanya bisa menunduk ke bawah dengan menatap tangannya yang kapalan itu, sementara Vael menatap lurus ke depan dan keheningannya adalah jawabannya tersendiri.
Namien menghela napas akan melihat reaksi mereka itu dan senyum liciknya yang biasa kini digantikan oleh ekspresi yang lebih tulus.
\"Ayah, Kami... \"
Namien berhenti sejenak dan melirik teman-temannya itu hingga melanjutkannya kembali.
\"Kami hanya mencari sebuah tempat, ayah. Sebuah tempat untuk berhenti berlari kurang lebihnya seperti itu.\"
Kaelith mengangkat kepalanya dan menanggapi perkataan Namien dengan suara yang lebih lembut kepada Aldren.
\"Sebuah tempat yang bisa kami sebut rumah. Setelah begitu lama... kami hanya ingin menemukan tempat di mana kami bisa bernapas tanpa rasa takut dan melihat fajar menyingsing di keesokan harinya.\"
Aldren menatap mereka dengan lama yang penuh kehangatan dan simpati terpancar dari matanya.
Ia mengangguk perlahan seolah memahami beban yang tak terucap dari mereka bawa selama itu.
\"Kalau begitu, kalian telah datang ke tempat yang tepat. Elarion selalu membuka pintunya bagi mereka yang mencari perlindungan seperti yang kalian katakan itu.\" Katanya dengan lembut.
Aldren akhirnya berdiri dari tempat duduknya itu dan memberi isyarat ke arah pintu.
\"Istirahatlah terlebih dahulu setidaknya di sini. Besok, Namien akan mengantar kalian ke kastil dan bicaralah dengan Raja. Ceritakan kisah kalian dan aku yakin... ia akan mendengarkan perkataan kalian satu persatu itu.\"
Sora yang sedari diam dan mendengarkan pembicaraan itu, akhirnya bangkit dari duduknya dan melangkah maju ke arah Aldren dan mengeluarkan pena dan secarik kertas yang ia simpan itu dengan menuliskan kepadanya.
‘Kami sungguh berterima kasih atas kebaikan yang Anda tawarkan itu kepada kami, namun cukup bagi kami yang telah beristirahat di tempat Anda ini walau hanya sesaat saja dan kami di sini bertujuan untuk tidak ingin merepotkan Anda sepenuhnya dengan teh dan camilan yang Anda telah sediakan untuk kami. Mohon maafkan saya, bila kami tidak menerima tawaran Anda itu dengan maksud tertentu tapi kami ingin secepatnya untuk menemui raja dari negeri ini dan sekali lagi, kami sungguh berterima kasih kepada Anda sebelumnya.’
Tangannya yang menuliskan sesuatu itu dengan penanya yang akhirnya selesai dan diberikan kepada Aldren dan ia membaca isi tulisan dari Sora itu dan hanya bisa tersenyum melihatnya.
Reaksi Aldren hanya memperhatikan mereka itu tetapi tidak mengatakan apa-apa selain dari,
\"Baiklah, kalau begitu. Namien, bisakah kau mengantarkan teman-temanmu ini ke kastil sekarang juga?\"
Namien yang mendengar hal itu dari ayahnya hanya bisa menghela nafasnya sembari berkata.
\"Dan, terjadi lagi untuk ke sekian kalinya.\"
Kaelith dan Vael berdiri dari tempat duduk mereka dan disusul oleh Namien setelah dari itu.
Sora, Kaelith, dan Vael memberikan tanda terima kasih mereka melalui tindakan mereka kepada Aldren yang telah menjamunya itu.
Dengan itu, mereka berempat meninggalkan kehangatan rumah Namien yang dijamu oleh Aldren sebelumnya.
Mereka melangkah kembali ke jalanan Elarion yang ramai dengan tujuan yang lebih jelas dan harapan yang baru dan berjalan di bawah menara-menara batu bata yang tersusun dengan rapi serta kaca-kaca dari kios dan bangunannya itu berkilauan yang mengarah jantung kerajaan.
Pada hari itu, mereka berempat melewati pintu yang terbuat dari kayu yang sangat besar mengarah pusat dari kerajaan Elarion, tempat di mana para pedagang pasar yang sedang berteriak menawarkan barang dagangannya untuk menarik perhatian para pengunjung serta pembelinya dan jembatan batu yang melengkung di atas sungai yang airnya jernih itu.
Jalan-jalan begitu ramai dengan kehidupan para pedagang berteriak, anak-anak berlarian dengan riang dan penuh tawa, serta untaian bendera warna-warni berkibar tertiup oleh hembusan angin.
Namien sebagai penunjuk jalan mereka, menuntun mereka bertiga melalui jalan yang berliku menuju gerbang istana, di mana menara-menara kerajaan terus menerus menebarkan bayangan panjang di seluruh kotanya.
Dan kemudian... langkah Sora tersendat karena ia memerhatikan sesuatu di tengah perjalanan mereka yang mulai fokus dan menaruh perhatian mereka itu di sepanjang jalanan yang banyaknya bangunan-bangunan di dalam kerajaan Elarion itu dan Sora memerhatikan yang tak jauh dari jalannya itu di pinggiran gang yang sepi dan setengah tersembunyi dalam bayangan gangnya terdapat seorang gadis berdiri dengan postur tubuh kecil, terlihat rapuh, dan umurnya tidak lebih tua dari sepuluh tahun.
Pakaiannya compang-camping dengan tanpa menggunakan alas kaki yang memperlihatkan kakinya begitu saja serta rambutnya yang acak-acakan dan terlihat kucel.
Gadis kecil itu tidak menangis dan tidak memohon sebuah bantuan melainkan hanya menatap Sora yang lewat di ujung depan gang sempit itu.
Ada sesuatu dalam tatapan gadis kecil itu yang memanggilnya bukan dengan putus asa tapi mencoba untuk memberitahu Sora sesuatu dan Sora memutuskan untuk memberhentikan langkahnya itu di depan gang dan menyelinap ke dalam gang tersebut untuk mengetahui gadis kecil yang menatapnya itu di ujung gang.
Tanpa sepatah kata pun, Sora berbalik dari kelompok itu dan mengikuti intuisinya itu dengan cepat. Tidak seorangpun dari mereka bertiga memperhatikan pada awalnya, mereka bertiga masih sibuk memperdebatkan protokol dan tata krama di dalam istana ketika mereka menyadari keheningan itu agak terlalu sunyi hingga Kaelith mulai menoleh ke belakangnya dan mendapati Sora sudah tidak ada di belakangnya itu.
Kaelith yang bingung itu dan rasa khawatir mulai menghampirinya berkata,
“Di mana—”
Sebelum perkataan Kaelith selesai sudah disela dan dilanjutkan oleh Vael dengan menggeleng-gelengkan kepalanya itu.
“Sora?”
Namien langsung berbalik ketika mendengar perkataan mereka itu dan menarik napasnya dalam-dalam.
“Ya ampun...”
Dan di saat itu, Sora sudah pergi dan menghilang dari pandangan mereka.
Sora mengikuti gadis itu yang berlari dengan pelan-pelan ke dalam gang-gang yang berliku dan mencoba mengikuti pergerakan gadis itu dengan mudah dengan langkah kakinya senyap.
Akhirnya, gadis itu keluar dari gang-gang yang sempit dan berhenti di depan air mancur yang tampaknya hancur dan patung-patung batu yang masih berdiri itu tampak pecah dan tertutup oleh lumut.
Gadis kecil itu mulai berbalik untuk melihat Sora yang mengikutinya dan mulai mengatur napasnya ketika sudah berlari sejauh mungkin hingga tak ada seorangpun di sekitar mereka.
Gadis kecil itu memulai pembicaraannya dengan Sora ketika napasnya sudah teratur,
“Aku tahu kau paling kuat mungkin dari teman-temanmu tadi, maka dari itu aku tak ingin meminta bantuan dari orang yang baru saja aku kenal tapi aku mohon kepadamu untuk membantuku, tuan.” Kata gadis kecil itu dengan suara memohon lembut kepada Sora.
Sora yang mendengarkan dan memperhatikan hal itu membuatnya langsung memiringkan kepalanya dengan keheranan yang dicampur oleh terkejut dan tak menyangka hal ini dari seorang gadis kecil yang diikutinya itu.
Gadis itu mulai mengambil barang pada saku kecilnya di pakaiannya itu dan mengulurkannya kepada Sora sebuah jimat yang terbungkus dari kulit yang sudah usang diikatkan di sekitar area batu berwarna merah itu yang sudah memudar kilauannya.
“Tolong, mereka menculik saudaraku. Orang-orang berjubah abu-abu itu mengatakan dia ditandai oleh api bintang dan menyeretnya dari tempat tinggal kami ke sebuah menara hitam di sana. Aku tahu tuan tidak mengenalku dan mungkin tuan menolak permintaanku ini namun aku tahu bahwa aku hanya seorang gadis kecil tak mempunyai apapun selain saudaraku dan kalung pemberian dari ibuku sebelum meninggalkan kami tapi tuan tampak seperti seseorang yang tidak berpaling dari permintaanku ini yang sangat egois. Sebagai imbalannya, aku hanya bisa menawarkan ini demi saudaraku yang ditahan oleh mereka itu. Aku mohon tuan.” Ujar gadis kecil itu dengan memohon kepada Sora dan genangan air matanya perlahan tak bisa membendungnya sehingga membasahi pipinya yang lusuh itu.
Sora melihat gadis kecil itu beserta jimat yang ditawarkannya sebagai imbalan membantunya itu. Sora mulai memperhatikan kedua tangannya yang gemetar ketika mendengar perkataan gadis kecil itu dan permohonannya yang tampak putus asa dalam membebaskan saudaranya yang ditahan oleh sindikat mungkin, membuatnya mantap dengan keputusan yang ia ambil.
Sora mulai mengambil kertas dan penanya itu dan menuliskan untuk gadis kecil itu dan memberikan kepadanya ketika sudah selesai menuliskannya.
Gadis kecil itu heran kepada Sora yang memberikan catatan yang dituliskan oleh Sora dan memulai membacanya,
‘Aku tidak bisa bicara pertama karena aku terlahir dalam keadaan bisu. Kedua, aku akan membantumu bila yang kau katakan itu benar dan aku tak mengharapkan jimat pemberian ibumu itu. Hal yang paling berharga dari warisan seseorang tidak boleh diberikan kepada siapapun itu karena hal itu harus kau jaga sebagai warisan terakhirnya. Tunjukkan jalannya, aku akan mengikutimu dari belakang.’
Gadis kecil itu mulai melihat ke arah Sora yang sudah memberikan gesturnya dengan meraih tangan mungil gadis itu dan mempererat genggaman tangannya dengan lembut pada tangan gadis itu, lalu gestur tangannya satu lagi menunjuk ke arah hatinya bahwa tanda Sora melakukan atas apa yang ada dalam hatinya itu sebagai sebuah sumpahnya itu kepada permohonan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mulai menyeka air matanya yang mengalir itu dan berkata kepada Sora dengan senyuman mungilnya itu.
\"Aku tidak ingin tuan bertarung untukku hingga melukai diri tuan sendiri. Permohonanku sebatas hanya untuk menemukan dan membebaskan saudaraku dan maafkan aku bila tidak tahu kalau tuan bisu sebelumnya.\" Tambahnya dengan nada yang pelan.
Sora yang melihat gadis kecil itu hanya bisa mengangguk kepada gadis kecil itu untuk mengisyaratkan bahwa tidak apa-apa tapi pilihan yang di ambil Sora tetap membantu gadis kecil yang hanya mengharapkan saudaranya kembali. Sora bisa saja meninggalkan gadis kecil itu tanpa menghiraukan permintaannya dan melanjutkan perjalanan dengan kelompoknya menuju ruang takhta melainkan Sora memilih untuk menjawab permintaan anak ini dan pertanyaan di benaknya kini ingin mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan yang terbilang damai dan banyak manusia yang masih hidup normal dalam kerajaan yang damai ini di dunia yang sudah terbilang mustahil untuk menemukan sebuah harapan.
Terlihat megah dan begitu sangat nyaman dan damai namun di baliknya tersembunyi dalam celah-celah sempit hingga ujung jalan yang tak tersentuh oleh kerajaan Elarion yang berkilauan akan pancaran sinarnya dan kehidupan yang menjanjikan untuk bertahan hidup di dalamnya.
Sora menoleh sekali ke belakangnya yang dia datangi sebelumnya lalu melihat ke arah batu yang dikalungkan di leher gadis kecil itu dengan tali yang sudah usang dan dari situ Sora membuat keputusannya sekali lagi untuk membantu gadis itu ke gang-gang berkabut di bagian ujung kerajaan Elarion yang tak tersentuh yang begitu tenang dengan kesunyian yang mencekam yang membuatnya merinding di area punggungnya dan perasaan yang aneh di dalam dadanya dirasakan.
Kali ini, Sora mengemban tugas bukan sebagai penyintas melainkan sebagai pelindung dari orang-orang yang seperti gadis kecil itu. Semakin dalam Sora dan gadis kecil itu memasuki ke gang-gang berliku di Elarion, semakin tidak miripnya kota itu dengan kerajaan yang dibangun dari marmer cemerlang seperti yang dijelaskan Namien sebelumnya kini batu-batu bulat sebelumnya itu berubah dengan kondisi jalanan dengan batu yang retak dan tidak rata sehingga lentera-lentera di atas berkedip-kedip samar yang hendak redup dan membentuk bayangan balkon-balkon yang bengkok seperti cakar di dinding serta aromanya digantikan oleh bau asam asap dan karat.
Tangan gadis kecil itu menggenggamnya dengan erat-erat tangan Sora yang menuntun jalannya dan jari-jarinya yang kecil gemetar tetapi tegas dalam niatnya sembari berkata kepada Sora.
\"Orang-orang itu menahan saudaraku di menara dekat dinding tuan, tapi mereka bukan sekelompok tentara kerajaan yang kulihat. Melainkan di zirah mereka tergambar dari satu lambang yang kurasa... mereka dulunya adalah tentara bayaran.\" Kata gadis kecil itu dengan napasnya yang terengah-engah ketika berbicara dan berjalan dengan cepat yang menatap Sora dengan mata cekungnya yang sudah berlinang air mata itu.
Sora yang mendengar hal itu tidak menduga hal itu bila terdapat sekelompok tentara bayaran di dalam kerajaan ini meskipun ia sendiri sudah memiliki pengalaman pahit dengan kata kelompok tentara bayaran itu.
Nalurinya menguat saat gadis kecil itu mengucapkan kata-kata yang tak ingin ia dengar itu. Tentara bayaran jarang berubah jika mereka mengambil keuntungan dari gadis ini dan saudaranya, pasti ada sebuah harganya yang patut harus ditebusnya demi membebaskannya.
Ketika mereka mencapai tempat tujuan mereka yang awalnya tempat itu tampak kosong dengan pemandangan hanya bangku-bangku yang telah usang, air mancur yang sudah tak berfungsi lagi dan sekitar area kolamnya sudah lama mengering, dan sisa-sisa kerangka dari apa yang dulunya merupakan sebuah tempat yang megah mungkin kini terbengkalai di tepi pemukiman kerajaan Elarion itu.
Namun, gerakan tampak samar-samar di sudut tempat dekat menara yang dimaksud gadis kecil itu, Dua pria yang tengah bersandar pada pilar menara yang tampak hampir runtuh itu tengah menjaga pintu masuknya, sebuah kelompok yang mungkin itu adalah tentara bayaran itu terlihat salah satu dari mereka yang menghisap pipa mengeluarkan asap duduk di sebuah kotak kayu sambil melihat langit dan yang lainnya terlihat berkumpul di depan pintu masuk menara itu yang tengah mengasah pisau dan pedang mereka.
Mereka yang tengah beristirahat itu segera melihat ke arah Sora yang dibawa oleh gadis kecil yang mereka kenali itu dan salah satu dari mereka yang menghisap pipa itu mulai menyambut mereka dengan bahasa selamat datang yang khas dari seorang kelompok tentara bayaran.
“Wah, wah, apa yang kita dapat di sini? Kau membawa seorang teman rupanya, gadis kecil.” Kata orang yang memegang pipa dengan asap yang keluar di ujungnya itu.
Sora melangkah maju perlahan dengan tangan terangkat dan tanpa menghunuskan pedangnya dari sarungnya itu dan tanpa menunjukkan perlawanan untuk mengisyaratkan mereka itu. Hanya sebuah bahasa universal dari gencatan senjata.
“Tidak bisa bicara, ya? Membisu, seperti yang telah dikatakannya itu membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk bernegoisasi.” Ujar yang memegang pipa itu dengan menyeringai licik.
Gadis kecil itu memegang tangan Sora lebih erat dan berkata kepada yang memegang pipa asap itu.
“Aku ingin saudaraku, kau mengatakan akan membebaskannya jika aku membawa uang yang cukup untuk membayarnya bukan.” Kata gadis kecil itu yang membuat Sora langsung melihat ke arah gadis kecil itu ketika mengatakan uang yang ia sendiri tak tahu berapa jumlah uang yang miliki saat ini dengan meraba ke arah saku belakangnya itu untuk mengetahui berapa banyak koin yang ia miliki.
“Tepat sekali, kau membawa uang yang cukup bukan bila kau sudah datang ke sini?” Kata pria itu yang menghisap asap dari pipa itu lalu menghembuskannya ke atasnya.
Sora hanya bisa mengangguk ketika mendengar perkataannya itu, meraih saku belakangnya dengan perlahan dan ia mengeluarkan kantong kecil yang berisikan semua koin yang tersisa dari perjalanannya itu dengan suara gemerincing lembut di tangannya itu saat Sora mengulurkannya.
Salah satu dari mereka yang mengasah senjatanya itu mengambil kantong itu dan memberikan kepada pria yang menghisap pipa itu lalu pria itu membuka isi dari kantong koin Sora diberikannya tadi dan mulai bersiul dengan nada kegembiraan.
\"Lumayan, kau memberikan kepada kami ini hanya bisa untuk membeli makanan untuk waktu seminggu saja.\"
\"Kau bilang itu sudah cukup asal aku membayarnya bukan?\" Ujar gadis kecil itu dengan emosi dan matanya terbelalak menatap pria yang menghisap asap dari pipa itu.
\"Ya, tapi sayangnya harganya telah berubah, nak. Dan tentunya juga ketika orang itu sedang putus asa untuk membayar hutangnya, bukan?\" Jawab pria itu dengan menyeringai.
Mata Sora mulai menyipit dan tangannya perlahan mulai memegang gagang pedangnya itu di atas ikat pinggangnya.
Pria yang memegang pipa itu melihat tindakan Sora yang mulai menunjukkan tanda perlawanan mulai berkata dengan santai namun mengancamnya itu.
“Kau, bocah bisu. Pikirkan lagi sebelum bertindak dan bisa jadi gadis yang bersamamu itu menjadi korban juga bila kau bertindak gegabah. Lebih baik kau cukup diam saja dan apabila kau ingin membantunya, berikan apa yang kita mau untuk menebus saudaranya itu.”
Dengan nada peringatan yang terdengar ancaman itu, Sora mencoba untuk tetap tenang dan tidak mengulangi hal yang menimpanya di Weeping Hollows sebelumnya itu. Sora mulai mencari sesuatu di dalam kantongnya lagi tanpa menunjukkan perlawanan yang perkataan pria itu mulai mengincar gadis kecil itu bila pertarungan akan terjadi. Sora mengeluarkan satu koin saja dari kantongnya itu yang lebih kecil dan lebih tua dari sebuah medali yang sebenarnya hanya terbuat dari besi yang usang dan disertai bercak darah yang ada dalam lambangnya di koin itu.
Sora melemparkannya ke tanah di hadapan mereka dan salah satu mereka hanya mengumpat tidak jelas yang didengar oleh Sora atas perbuatannya itu ketika melemparkan koin itu di atas tanah dan memberikannya kepada pria yang masih menghisap pipa itu.
Ketika pria itu masih menyeringai dan melihat koin yang diberikan oleh Sora tadi dengan pengamatannya dan membuat matanya mulai tidak mempercayai bahwa Sora mungkin salah satu dari pemegang koin ini saja.
Hingga pria itu berkata kepadanya dengan ekspresi yang tidak memercayai Sora memiliki koin yang usang dan dengan bercak darah di sekitar lambangnya itu.
\"Tanda lambang unik dan bekas darah di koin ini... dari mana kau mendapatkan ini, bocah bisu?\" Tanya pria itu dengan meletakkan pipanya itu dan ekspresinya mulai menegang.
Sora tidak menjawab pertanyaannya melainkan hanya menatapnya dengan mata yang mulai memerhatikannya itu.
Pria itu menunduk lagi dan melihat ke arah koin itu dan terukir sebuah lambang segitiga hitam dan matahari berongga.
“Kau... kau salah satu dari kami?” Tanya pria itu yang terlihat mulai ketakutan ketika melihat kebenaran yang hanya bisa terucap dari mata Sora itu yang melihatnya.
Sora tidak mengangguk dan Dia tidak perlu menjawab pertanyaannya lagi dengan keheningan yang terpancar di matanya dan hal itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan dari pria itu.
Kesunyian membentang di antara mereka dan ketegangan yang perlahan-lahan mulai berderak tapi si pria itu hanya bisa tertawa pendek dan mulai gusar dengan fakta Sora memiliki koin itu.
“Sial, aku merasakan ada yang aneh denganmu dan hal itu membuat semua bulu di badanku merinding ketika aku salah dalam memilih lawan atau mangsaku itu.”
Pria itu berbalik ke arah menara dan berkata kepada yang menjaga pintu masuk menara itu.
“Anak laki-laki itu, bebaskan sekarang juga! Cepat! Sebelum kita menjadi potongan mayat yang dilemparkan ke dalam sarang singa, sialan.”
Sora hanya melangkah maju ke arah pria itu dan membuat pria itu mulai perlahan-lahan melangkah mundur ketakutan dan berkata.
“Jangan pakai pedang, kumohon.” Ujar pria itu dengan memperingatkan Sora yang sudah mulai ketakutan itu.
Sora berhenti di depannya itu dan mengulurkan tangannya ke arah pria itu yang memberikan sebuah isyarat untuk mengembalikan koin itu dari pria itu dan pria itu melangkah ke arah Sora dan meletakkan koin itu di atas telapak tangannya dengan tangan yang gemetar.
Tak lama dari itu, terlihat seorang anak laki-laki yang dibawa keluar dengan sedikit kasar tapi masih hidup setidaknya dan sedikit luka terlihat di sekitar area wajahnya yang banyak memar dan benjolan kemerahan.
Gadis kecil itu langsung berlari ke pelukan saudaranya itu yang penuh luka itu ketika melihat Saudaranya telah kembali itu dan menangis di pelukan saudaranya itu.
Kelompok tentara bayaran itu memilih untuk pergi dengan tidak mengucapkan sepatah katapun untuk Sora dan gadis kecil itu yang memeluk saudaranya.
Mungkin karena rasa ketakutan dari pemimpin mereka itu yang mengetahui Sora bukanlah orang biasa yang berlagak menjadi pelindung dari orang-orang yang lemah dalam cerita pahlawan melainkan karena koin yang diberikan Sora itu kepada pemimpin mereka yang menjadikan sebuah ancaman tak terucapkan tentang apa yang bisa terjadi pada Sora jika mereka menekannya dan meneruskannya terlalu jauh hingga membuat pertumpahan darah di antara mereka itu.
Sementara itu, kembali ke kota yang padat...
Namien mengerutkan kening saat mereka berisitirahat di taman kota yang dekat dengan kasti kerajaan Elarion itu mulai kebingungan dengan tingkah laku Sora.
“Sora masih belum di sini?”
Vael melihat ke arah sekelilingnya untuk melihat apakah terlihat Sora mungkin yang sedang lewat itu dengan lengannya disilangkan.
“Dia tidak pernah kehilangan jejak dari pandangan kita sebelumnya seperti ini. Ada yang aneh menurutku.”
Kaelith yang sedari tadi mondar-mandir di samping air mancur terlihat raut wajahnya yang jelas kesal meskipun suaranya menunjukkan kekhawatiran yang lebih dalam seperti ibu yang kehilangan seorang anaknya di tengah keramaian pasar.
“Kita seharusnya lebih waspada dan memerhatikannya bila ia terjebak dalam kerumunan tadi dan kehilangannya di belakang.”
Namien berpikir mungkin saja Sora tertarik dalam satu hal di perjalanan mereka tadi. “Dia tidak pergi jauh, mungkin... ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia punya kebiasaan itu, bukan?”
“Aku tahu dan hal itulah yang kutakutkan.” Gumam Kaelith sebagai jawaban dari pertanyaan Namien tadi.
Tetapi di antara kerumunan dengan kota yang damai dan aman saja itu tidak terlihat ada tanda-tanda konflik ataupun tidak ada teriakan dan suara dentingan baja yang memulai pertarungan namun tetap saja... Sora menghilang dari pandangan mereka. Namien hanya bisa menghela napas panjang.
“Kita tunggu sedikit lagi. Kalau dia tidak kembali saat matahari terbenam... kita cari saja di seluruh penjuru kerajaan ini.”
Dan di bagian Elarion yang lainnya, di antara naungan menara yang usang dan retak...
Sora berjalan perlahan bersama gadis itu dan saudaranya menuju ujung gang yang terlihat di depan mereka dan dia melihat keduanya itu berjalan yang tampaknya mulai terasa lega serta gadis kecil itu menuntun saudaranya yang terluka oleh penyiksaan menimpanya itu dengan berjalan dalam keadaan pincang itu.
Keheningannya tetap ada namun setidaknya keduanya itu selamat untuk saat ini dan di suatu tempat di sepanjang jalan gang itu yang tampaknya akhir dari jalan gang itu ke kerumunan pasar, gadis kecil itu membungkukkan badannya untuk terakhir kalinya dan berkata kepada Sora:
“Terima kasih tuan sudah membantuku dan aku minta maaf atas uang yang tuan keluarkan untuk membebaskan saudaraku ini.”
Untuk sesaat, Sora mendengar perkataannya itu dan menghampiri gadis kecil itu. Sora menurunkan badannya agar setara dengan tinggi gadis kecil itu dan memberikan koin yang ia sempat tunjukkan kepada tentara bayaran tadi itu untuk tandanya sebagai perpisahan mereka itu.
Gadis kecil itu hanya bisa menerima apa yang Sora berikan kepadanya dan masih teringat dengan tulisan apa yang Sora pernah tuliskan untuknya sebelum itu.
“Aku akan menjaganya seperti yang tuan tuliskan sebelumnya dan aku tak tahu bagaimana aku membalas kebaikan tuan.” Ujar gadis kecil itu dengan linang air matanya yang sudah menetes ketika melihat Sora.
Sora bangkit dan dia akan segera kembali ke kelompoknya itu dengan berjalan menuju ujung gang yang mengarah kerumunan pasar itu.
Sora menghela napas lega saat gadis kecil itu dan saudaranya saat ia menghilang di antara kerumunan tanpa menoleh ke arah belakangnya itu dan untuk terakhir kalinya Sora hanya mengangkat satu tangannya ke atas sebagai ucapan sama-sama kepada mereka yang masih memerhatikannya mungkin dan tangan mereka masih saling bertautan dengan harapan.
Namun saat Sora hendak untuk menelusuri kembali langkahnya, beban gang-gang yang tidak dikenal dan jalan-jalan kota yang berkelok-kelok itu menimpanya seperti kabut. Menara-menara megah Elarion menjulang ke atas tetapi semua yang ada di permukaan tanah berputar seperti labirin baginya.
Alisnya perlahan mulai berkerut dan berhenti berjalan di tengah-tengah kerumunan yang berlalu lalang itu. Ia melihat ke kiri dan ke kanan yang di mana ia melihat banyak orang yang asing lewat tanpa menyadari ekspresinya yang dilanda kebingungan itu.
Seorang pengamen menyanyikan lagunya di tepi jalan pasar, penghibur mulai menunjukkan bakatnya yang menyemburkan api ke udara, dan para pedagang meneriakkan penawaran dari dagangannya kepada para pengunjung di sekitarnya itu hingga suara gemerincing kereta yang ditarik oleh keledai dan dentingan koin di setiap etalase pedagang yang bergema di sekelilingnya.
Namun, tetap saja tidak ada yang memberinya petunjuk untuk keluar dari kerumunan pasar Elarion itu.
Dan di saat itulah, Sora tersadar akan satu hal yang sangat ia benci namun sudah menjadi sifatnya yang lebih ia khawatirkan dari sebuah pertarungan yang pernah ia hadapi sepanjang hidupnya itu.
Ia tersesat dengan kelalaiannya dan kesalahannya itu. Jantungnya mulai berdegup dengan kencang bukan karena takut akan bahaya tetapi karena kebingungan belaka dan kebingungan mulai menyerangnya di tengah-tengah kerumunan orang-orang asing di sekitarnya itu.
Tangannya menekan dadanya dan ia menarik napas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang cepat itu. Ia melihat ke sekelilingnya sekali lagi di tempat itu, matanya bergerak dengan cepat untuk menemukan seseorang yang ia kenali dan masih belum ada tanda-tanda dari Kaelith, Namien, atau Vael.
Kemudian, tepat di tengah-tengah pasar Sora melakukan sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun. Kepanikan yang menjadi-jadi yang bukan dengan berteriak atau memanggil orang-orang di sekitarnya untuk membantunya melainkan dia tidak bisa melakukan hal itu.
Karena kesunyiannya yang permanen namun matanya mulai melebar akan tak menyangka hal ini dan tangannya mulai menggaruk-garuk bagian kepalanya seolah meraih sesuatu yang tidak ada di sana.
Dia menyenggol bahu seseorang yang sedang berjalan di jalanan dan mencoba untuk meminta maaf dengan membungkuk tergesa-gesa dan dengan gugup dan tegang ia berputar lagi untuk melihat ke sekelilingnya.
Kemudian... matanya mulai memerhatikan celah di antara kerumunan itu mengarah jalan yang terlihat sepi di ujungnya dan mencoba untuk berjalan ke area itu. Sora menarik napasnya dalam-dalam, pelan, dan mantap mulai berjalan ke arah jalan itu. Kakinya bergerak sendiri, dipandu bukan oleh akal sehat tetapi oleh naluri yang sebagai kompas baginya yang terkubur di dalam hatinya telah membimbingnya sejak awal ke arah jalan itu.
Sementara itu...
\"Mungkin para penjaga menangkapnya karena tak bisa berbicara dan mungkin dianggap ancaman atau undead yang wajahnya terlihat pucat setiap saat.\" Gumam Kaelith dengan penuh kekhawatiran akan kondisi Sora yang menghilang itu dengan lengannya yang disilangkan erat.
Vael mengerjap padanya. \"Menurutmu Sora ditangkap?\"
“Yah, dia menghilang saat ini, bukan? Setelah menyelinap pergi tanpa memberi tahu kita dan itu membuatku merasa curiga kepadanya.” Jawab Kaelith dengan matanya mulai berkedut. Namien hanya bisa menahan tawanya di balik tangannya.
“Kaelith… kau pikir dia bagian dari sindikat rahasia, bukan?” Kaelith hanya bisa mengira-ngira saja.
“Aku tidak tahu! Kau tahu apa yang dia lakukan saat menghilang seperti itu? Mungkin dia… menyelundupkan relik ajaib! Atau memperdagangkan elf terlarang! Atau bahkan lebih buruk laginya, dia mungkin berkeliaran dengan wanita dari prostitusi dan melakukan... Ah, sudahlah.”
Vael yang mendengar perkataan Kaelith itu langsung tersedak napasnya saat tertawa dengan tawanya yang meledak itu.
“Bermain dengan wanita?! Apa benar Sora punya ketertarikan seperti itu?!”
Namien membungkuk dengan tawanya itu dan tangannya menepuk bahu Vael.
“Ya Tuhan, bayangkan isyarat tangan tanpa suara itu! Itu drama baginya mungkin!”
Wajah Kaelith memerah. “Aku serius!”
Bahkan dia tidak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya dengan perasaan frustasi dan emosinya itu.
Di lain sisi...
Sora berjalan lurus melewati bagian pasar yang paling padat tadinya dan mengabaikan aroma roti rempah dan daging panggang yang menggoda di sepanjang jalannya.
Sebaliknya, tatapannya tertuju pada sebuah toko kecil di ujung terjauh dari jalan itu yang setengah teduh di bawah lengkungan jembatan batu.
Sebuah papan kayu pudar berderit di atas pintu: ‘Bengkel Urren – Tanpa Kebohongan dan Hanya Baja yang Jujur.’
Suasana sunyi dan hawa panas dari bengkel yang terlihat pada umumnya melalui jendela yang terbuka.
Dan sesuatu menarik perhatiannya untuk bergerak maju ke dalamnya hingga ia melangkah masuk ke dalam bengkel itu. Pandai besi di dalam bengkel itu adalah seorang pria jangkung dengan rambut bergaris-garis perak yang diikat ke belakang menjadi simpul kulit.
Lengannya yang basah karena keringat dan jelaga dari hasil kerjanya itu disertai dengan percikan api menari-nari di sekitar landasan besi yang ditempanya.
Penempa besi itu tidak melihat ke arah Sora yang baru saja sampai ke bengkelnya itu dengan bunyi lonceng pintu masuknya dan ia mendengar gesekan lembut sepatu bot di atas lantai kayunya itu.
\"Apa— Oh. Seorang pengembara rupanya.\" Kata penempa besi itu kepada Sora yang melihatnya dengan menundukkan kepalanya yang sopan.
\"Tidak ada kata-kata?\" Tanya pria itu kepada Sora yang melihatnya.
“Ah, aku pernah melihat yang seperti itu. Sama-sama diam atau tidak. Jadi, Apa urusanmu datang kemari, nak?” Tanya penempa besi itu lagi dan Sora mengeluarkan pedangnya dari sarungnya itu dengan hati-hati dan menunjukkan pedangnya itu di atas meja kerja penempa besi itu.
Melihat pedang Sora itu, Suara pandai besi itu tercekat di tenggorokannya saat matanya tertuju pada pedangnya itu.
“Pedang ini…”
Penempa itu melangkah mendekat ke arah mejanya itu dengan tatapannya yang tak menduga apa yang baru saja ia lihat dengan matanya sendiri dengan tangannya sedikit gemetar.
“Ya Tuhan…”
Jari-jarinya menyentuh permukaan bilah pedang itu hingga menyentuh ujungnya, ia hanya bisa merasakan dari dengungan, berat, dan kehadiran pedangnya itu.
“Ini bukan baja pada umum yang ditempa begitu saja, tidak seperti yang aku lakukan. Ini… benar-benar terasa nyata.” Gumamnya itu yang seperti baru saja bangun dari mimpinya yang menjadi kenyataan.
Sora mendengar perkataannya itu mulai memiringkan kepalanya sedikit yang membuat bingung dan juga heran dengan ekspresinya hingga perkataannya. Pandai besi itu melanjutkan perkataannya yang mengatakan dengan nada kekagumannya itu.
“Pedang ini tidak dibuat hanya dengan dentingan dari setiap palu dan api yang mengeluarkan percikannya. Pedang ini lahir dengan memiliki jiwa di dalamnya dan aku bisa merasakan sesuatu yang lebih tua dari pedang ini bahkan lebih tua dari umurku.”
Penempa besi itu mulai melihat ke arah Sora dan mulai bertanya kepadanya.
“Di mana kau mendapatkan pedang ini, nak?”
Sora yang mendengar hal itu, mulai ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan penempa besi itu.
Kemudian, ia mengeluarkan secarik kertas yang ia punya dari kantongnya itu dan penanya cukup untuk menuliskan bagaimana ia bisa menemukan pedang itu dengan menuliskan,
‘Aku hanya menemukannya di reruntuhan kuno dan sesuatu membisikkan untuk mengambil pedang itu hingga aku membawanya di sepanjang perjalananku.’
Dan Sora memberikan kertas itu kepada penempa besi untuk membacanya dan pandai besi itu membaca keseluruhan isi tulisannya itu hingga menarik napasnya saja ketika selesai membacanya.
\"Jadi... sudah dimulai lagi, ya.\" Ia menatap mata Sora dan berkata.
\"Kau tidak tahu apa yang kau bawa, nak?\"
Keheningan Sora sudah cukup menjadi jawaban sebagai ketidaktahuannya itu. Pandai besi itu hanya bisa tersenyum ketika melihat Sora yang kebingungan itu lebih seperti rasa kasihan daripada kesombongan.
\"Kalau begitu, aku iri padamu, nak dan di saat yang sama aku juga takut pada nasibmu juga tentunya di waktu yang akan datang.\"
Sora yang mendengar hal itu terdiam di tempat berdirinya dan matanya tertuju pada pandai besi yang sekarang bergerak dengan penuh hormat setelah menunjukkan pedangnya itu dan penempa besi itu mengetahui sejarah dari pedang itu juga setelah melihat pedang dari cerita mitos orang-orang sekitar hingga hal itu nyata adanya sebagai legenda yang pernah ada saat ini berada di hadapannya.
Penempa besi itu mulai memperkenalkan dirinya dengan suara rendah dan kasar seperti kerikil.
“Kau bisa memanggilku Thramund dari Profaned Capital, putra terakhir dari Anvil. Satu-satunya api yang tersisa dari kota yang menghasilkan para pengrajin pedang dulunya.” Kata penempa besi saat tangannya dengan lembut mengambil pedang yang diletakkan di meja kerjanya itu dan memberikannya ke telapak tangan Sora yang kapalan itu.
Sora yang masih memperhatikannya itu dan menerima pedangnya itu mulai mencoba menuliskan beberapa hal mengenai pedangnya itu dengan menuliskan
‘Apakah kamu bisa memperbaiki pedang ini atau mungkin mempertajam bilahnya, mungkin?’
Lalu kertas itu diberikan ke Thramund yang menerimanya dan membaca isi tulisan yang dituliskan Sora itu.
Thramund ketika selesai membaca tulisan Sora, ia langsung memeriksa bilah pedangnya itu bukan seperti memeriksa senjata tetapi seperti memeriksa hewan yang sedang terluka.
“Kau juga merasakannya, nak?” Thramund bergumam ketika menggerakkan ibu jarinya di sepanjang bilah pedangnya itu tanpa menyentuh ujungnya yang sangat tajam.
“Pedang ini terlihat begitu hidup dan bernapas sama seperti manusia. Seperti sesuatu dari dalam yang ditekan jiwanya dengan penuh kegelisahan.”
Saat itu Thramund menatap Sora dan sesuatu di wajahnya yang sudah lapuk melembut.
“Pedang seperti ini tidak cocok untuk orang yang mencari perang. Pedang ini cocok untuk orang yang sudah menderita dan hidup untuk menanggung setiap bebannya. Dan aku melihatmu anak, cukup tahu apa yang sudah kau lalui dalam perjalananmu yang sangat panjang itu dan juga tentunya melelahkan.”
Sora menundukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuan ketika mendengar pernyataan Thramund itu yang dikatakannya bukan kata-kata tetapi kenyataan dari beban yang dipikulnya begitu lama.
“Aku akan memperkuatnya bukan untuk mengubah bentuk pedang yang dimilikinya. Hanya memperkuat apa yang sudah ada. Jiwa pedang ini tahu apa yang diinginkannya saat ini dan aku di sini hanya untuk membantunya untuk mencapai keinginannya itu.” Kata Thramund dengan tegas tapi nadanya lembut itu dan dari saat itu, pekerjaannya itu telah dimulai.
Sora yang sedari tadi duduk diam di sudut bengkel itu dengan lengannya bertumpu di lututnya dan matanya tidak pernah lepas dari percikan api atau pukulan lambat ke pedangnya itu serta kesabaran dari seorang prajurit yang tidak lagi memiliki apapun selain senjatanya yang tengah ditempa yang telah menjadikan sebagai partnernya dalam pelindungnya dalam perjalanannya itu.
Sementara itu, di seberang pasar Elarion...
Kaelith memimpin jalan di depan dan maju seperti seorang prajurit yang berbaris menuju pertempuran dengan tangannya yang terkepal dengan emosi dan frustasi yang sudah meledak itu bergumam kesal.
“Dia menghilang tanpa memberitahu yang lainnya dan diriku itu. Si bisu bodoh itu apa yang dipikirkannya selama ini? Oh, demi Tuhan apa yang salah dengannya sebetulnya itu?”
Di belakangnya, Namien dan Vael mengikuti dengan langkah yang jauh lebih santai dan saling bertukar pandang setelah mendengar dan melihat tingkah laku Kaelith yang jelas sangat mengkhawatirkan Sora itu mulai menggodanya dengan usil.
“Mungkin dia menjalani kehidupan ganda, seperti di waktu siang hari dia bertingkah seperti pendekar pedang yang pendiam. Malam harinya dia bertingkah seperti pangeran bayangan dari dunia kriminal bawah tanah.” Kata Namien sambil menyeringai usil.
Vael yang mendengar perkataan Namien terkekeh dan menambahkan.
“Atau mungkin dia bergabung dengan kelompok pertunjukan sirkus jalanan ya seperti yang kau ketahui, memberikan pertunjukan aksi berpedangnya itu dan menggaet beberapa wanita yang terpikat oleh keahliannya itu, mungkin.”
Kaelith berputar dan mendengar perkataan mereka berdua itu mulai melotot ke arah mereka berdua.
“Kalian bahkan tidak bisa bertindak serius di saat-saat ini, ini sama sekali tidak lucu!”
“Oh, tapi itu memang lucu ketika kami berdua melihat tingkah lakumu yang sangat terlalu berlebihan dan mendengar gumaman kesalmu seperti kekasih yang baru saja diselingkuhi atau pasangannya melarikan diri itu.” Gumam Vael dengan nada bercandanya.
Kaelith mencoba tidak memedulikan di saat Vael dan Namien menertawakan sikapnya itu dan lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya serta bergumam setiap beberapa langkah akan kekhawatirannya.
“Bagaimana jika dia terluka? Atau ditangkap? Atau seseorang menculiknya?” Namien mengangkat alisnya dengan senyum usilnya itu. “Kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Kau hanya terlalu... posesif saja bagi kami.”
Wajah Kaelith langsung memerah dan hampir saja ia tersandung saat berjalan ketika mendengar perkataan Namien dan berkata.
“A-aku tidak... aku hanya... Arrgh... Dia sangat ceroboh! Dan terlebih lagi tidak bertanggung jawab! Dia... dia bahkan tidak berbicara sekalipun!”
“Tepat sekali, seorang pria yang tidak bisa berbohong kepadamu. Pria yang ideal untuk sebuah pasangan, sejujurnya.” Kata Vael sambil mengedipkan matanya ke arah Namien yang melihatnya dan mulai tertawa terbahak-bahak kembali.
Kaelith mengerang keras karena rasa frustrasinya sudah mulai memuncak.
“Aku bersumpah, jika aku menemukannya membeli dan memakan roti manis sambil berjalan dengan wanita lain yang mulai saling menggoda itu, aku akan mencekiknya sampai mati.”
Saat itulah mereka berbelok di sudut pasar dan sesuatu menarik perhatian mereka ketika melintasi jembatan batu dan melihat gumpalan asap dari bengkel dan tanda kayu yang mengarah ke arah bengkel dengan bertuliskan:
‘Bengkel Urren — Tanpa Kebohongan dan Hanya Baja yang Jujur.’
Kaki Kaelith berhenti mendadak dan memerhatikan plang kayu itu dan melihat ke arah bengkel itu.
Kaelith memutuskan untuk berjalan ke arah bengkel itu dan ketika sampai di depan bengkel itu, ia mendapati di dalam bengkel itu dari balik jendelanya, seorang penempa besi yang sedang memoles pedang dan terlihat Sora duduk dengan tenang di ujung sudut ruangannya itu yang sama sekali tidak menyadari badai telah datang apa yang telah dia buat di luar bengkel itu.
Kaelith tanpa berpikir panjang langsung menyerbu masuk ke arah pintu bengkel itu dan Sora yang duduk dengan tenang, kaget ketika ia melihat pintu bengkel berderit terbuka dengan kasar dan tidak tahu apa yang terjadi, Sora mulai merasa merinding ketika melihat sebuah badai datang menghampirinya yang membuatnya mengedipkan matanya dengan cepat lalu... Sora membeku di tempatnya ketika melihat Kaelith berdiri di ambang pintu masuk bengkel itu dengan pipinya sudah berwarna merah dan matanya menyala-nyala seperti api yang berkobar.
\"Kau! Kau ke mana saja, bodoh?! Kau menghilang begitu saja dan tak ada kata-kata, tak ada isyarat apapun, hingga tak ada tanda-tanda untuk memberitahu kami sebelumnya, hah?\" Teriak Kaelith yang menggelegar dan memenuhi suasana dalam bengkel itu hingga membuat Thramund berhenti sejenak melihat kedatangan Kaelith itu yang sedang memarahi Sora dan tanpa berlama-lama, Thramund kembali melanjutkan perkerjaannya yang ia hanya mencari aman saja tanpa perlu mencampuri urusan mereka berdua itu.
Sora secara naluriah mengangkat tangannya seperti anak kecil yang tertangkap basah akan melakukan tindakan nakalnya itu.
\"Kupikir... kupikir sesuatu terjadi kepadamu.\"
Kaelith yang hendak melanjutkan perkataannya itu mendadak berhenti di tengah-tengahnya dengan suaranya mulai terdengar bergetar akan kekhawatirannya kini menemukan titik kejelasan.
Sora berdiri dari duduknya itu dengan perlahan, tubuhnya bergerak maju, dan menunjukkan gestur permintaan maaf tergambar di posturnya untuk Kaelith yang memarahinya seperti badai tak terkendali itu.
Thramund melirik mereka berdua sekali lagi lalu dengan bijak memutuskan untuk tetap fokus pada pekerjaannya saat ini.
Di belakang Kaelith, Namien dan Vael mengintip dari balik kusen pintu seperti anak-anak yang sedang memata-matai sesuatu. Kaelith yang menyadari bahwa ia telah menyerbu bengkel sambil berteriak, melipat tangannya ke dadanya, dan mengalihkan pandangannya ke arah Sora.
\"Kau seharusnya mengatakan sesuatu untuk saat ini, bukan?\"
Sora hanya bisa memiringkan kepalanya sambil tersenyum pahit dengan menunjukkan kata-kata dalam ekspresinya.
‘Kau tahu aku tidak bisa.’
Dan sesuatu dalam kemarahan Kaelith pecah begitu saja hingga membuatnya menghela napasnya begitu dalam.
Kaelith menatapnya lagi dan sesaat... rasa sakit itu memudar begitu saja dan digantikan oleh kehangatan yang tidak berani dia akui dalam hatinya itu bertanya dengan lembut kepada Sora.
\"Jadi, apa yang kau lakukan di sini sebenarnya?\"
Sora yang mendengarnya mulai menunjuk dengan jarinya ke arah pedang yang saat ini berada di tangan Thramund, pandai besi itu memoles dan meningkatkan senjatanya itu dengan membuat bilah pedangnya itu tidak mungkin mengkhianatinya.
Kaelith hanya berkedip lalu melangkah lebih dekat ke arah Sora yang cukup dekat untuk melihat keringat di alis Sora dan cukup dekat untuk merasakan keheningan di antara mereka ketika berbicara dengan menggunakan bahasa yang berbeda.
Dan kemudian—
\"Baiklah, kurasa bulan madu mereka berdua sudah memperlihatkan akhirnya.\" Kata Vael dengan santai dan menyeringai melihat mereka berdua dari jarak yang cukup itu.
Namien hanya bisa menimpalinya dengan mengangguk bijak. \"Mereka tumbuh begitu cepat dan bunga yang bermekaran di musim semi dengan begitu cepat ya...\"
Kaelith berbalik ke arah mereka berdua yang berada di belakangnya itu dengan tatapan marah dan berkata.
\"Keluar!\"
Vael yang melihat wajah Kaelith memerah itu dan berteriak seperti itu hanya bisa tertawa dan melangkah mundur darinya.
“Sangat sepadan atas hasilnya yang dari kubayangkan!”
Sora memperhatikan mereka semua dan untuk pertama kalinya hari itu... ia tak tahu apa yang mereka lakukan namun hal itu membuatnya tersenyum melihatnya. Bukan hanya dengan bibirnya tetapi juga matanya yang melihat keseluruhan kejadiannya.
Dan di suatu tempat di bengkel yang bersinar di belakangnya, bilah pedangnya berdenyut sekali lagi dan hidup seperti jiwa manusia yang lebih kuat dari sebelumnya membuat deringan itu sudah mereda dan yang tersisa sekarang hanyalah derak hangat api dari tungkunya yang berdengung pelan di latar belakangnya dengan keringat di dahinya dan jelaga di lengannya mendekati Sora dengan penuh perhatian.
Di tangannya, tergenggam bilah pedang yang telah ditempa ulang itu yang bukan lagi sekadar baja tetapi sesuatu yang lebih dari apa yang dibayangkannya. Thramund memberikannya kepada Sora, pedangnya yang berkilau lembut di bawah cahaya api.
\"Itu, tidak mengubahnya. Hanya mengingatkannya seperti apakah bentuk jiwa pedangnya itu.\" Katanya dengan pelan.
Sora menerima bilah pedangnya itu perlahan dan bobotnya sekarang berbeda yang terasa lebih mantap seolah seimbang bukan hanya di tangannya saja tetapi juga jiwa pedangnya itu.
Di sepanjang bilah pedangnya, ukiran halus berkilau samar yang bukan rune tetapi pola seperti angin yang mengalir dan diukir dengan sangat halus sehingga terasa seperti memori yang bukan sebagai tanda khusus.
\"Aku memperkuat tepinya, memperkuat bilahnya dengan paduan benang perak dan tentu saja aku bangga ketika pedang itu masih hidup tetapi sekarang ia akan berdengung lebih baik dengan keinginanmu, nak. Bicaralah saat jiwamu berbicara ketika menggunakannya.\" Ujar Thramund dengan tersenyum tipis dan suaranya melembut.
“Dan pedang itu akan bertahan lebih lama dari umur kita berdua bila digabungkan.” Sambungnya dengan tawanya kemudian.
Sora membungkuk sebagai bentuk rasa dari tanda terima kasihnya dan sambil menempelkan tangannya ke dadanya.
Kemudian dari balik pintu bengkel Thramund, terdengar sebuah suara yang familiar memecah keheningan bengkelnya. “Kau masih berbicara seolah-olah kau sudah menikah dengan logammu, Thramund.”
Si pandai besi menoleh dan untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar menyeringai ketika melihat orang yang mengucapkan dengan suara yang ia kenali itu.
“Demi abu dewa! Namien? Dasar burung pipit terkutuk, kau masih hidup rupanya?”
Namien melangkah maju dan kedua tangannya terbuka untuk menyambut Thramund yang penuh keringat itu.
“Masih compang-camping dan seperti biasa dengan penuh penyesalan. Tapi ya setidaknya kau masih bernapas yang kulihat saat ini.”
Mereka berpelukan seperti prajurit tua dan suaranya tegas dan nyaring untuk di dengarkan. Thramund tertawa dengan kasar hingga menepuk bahu Namien.
“Kupikir reruntuhan itu telah membawamu bersama yang lainnya. Namun, di sinilah kau masih kuat untuk seorang penyihir.”
“Pedagang yang mengembara untuk saat ini, jalanan bebatuan lebih lembut bagiku daripada medan perang yang meneriakkan namaku. Setidaknya untuk lututku ini.” Kata Namien dengan bercanda sambil mengangkat bahunya itu.
Tawa mereka seperti mengibaskan debu dari langit-langit bengkel Thramund namun, tawa mereka tidak berakhir di sana.
Pandangan Thramund beralih ke Vael berikutnya yang bersama Namien itu matanya mulai menyipit karena mengamati Vael yang tak asing itu. Kemudian dia melihatnya sebuah lambang samar dan mulai pudar itu, tergambar dengan hati-hati di tepi jubah Vael yang menunjukkan lambang serigala dari Borreal.
Thramund langsung menegakkan tubuhnya itu dan nadanya berubah menjadi sesuatu yang hampir sakral ketika melihat Vael berasal dari Borreal itu.
“Borreal… Kau membawa sigil dan sumpahmu itu, ksatria?” Gumamnya yang begitu terkejut dengan bercampur kekagumannya.
Vael hanya mengangguk perlahan dan meletakkan tangan di baju zirahnya dengan lambang kerajaannya yang sudah pudar itu.
“Aku lahir di bawahnya dan dibesarkan di saljunya hingga kini, aku masih berjalan dengan sumpah yang aku masih pegang.”
Thramund meletakkan tinjunya di dadanya yang tepat di atas jantungnya. “Kalau begitu aku berutang rasa hormat padamu, saudaraku. Profaned Capital berdiri bersama Borreal dalam Perang Langit Hitam, berdarah di sampingnya, berbagi baja, roti, dan juga sebuah sumpah. Jika masih ada darah yang tersisa dari utara, aku selalu menghormatinya di sini.”
Vael berkedip dan tindakan serta ucapan Thramund itu cukup membuatnya terkejut tetapi Vael membalas hormat Thramund itu dengan membungkukkan badannya dengan hormat.
“Dan kami mengingat api bengkelmu dalam kisah-kisah lama kami.” Thramund terkekeh.
“Ya, api itu lebih panas dari emosi kami. Hampir setiap harinya.”
Kemudian matanya berkedip lagi, ketika Thramund tak sengaja melihat ke arah busur yang disampirkan dengan santai di punggung Kaelith itu.
Ekspresi riangnya berubah menjadi minat yang terfokus ketika melihat busur itu kembali lagi di hadapannya.
“... Itu bukan busur pemburu biasa...” Gumamnya dengan nada yang tak mempercayai ketika melihat busur itu kembali lagi.
Kaelith sedikit menegang dan melihat reaksi Thramund itu.
“Ada apa denganmu itu?”
Thramund melangkah lebih dekat dan tangannya terangkat perlahan untuk mencoba melihat dan menggenggam busur yang dibawa Kaelith itu lebih dekat lagi dan sebagai isyarat izinnya itu.
“Bolehkah, aku?”
Kaelith yang melihat tingkah Thramund dengan ragu-ragu lalu mengangguk perlahan untuk melepaskan busurnya dari punggungnya itu dan memberikan kepadanya.
Tangan Thramund bergetar begitu hebat yang menelusuri setiap bagian dari busur itu yang dipoles sama persis dalam ingatannya itu mulai dari tatahan kayu gelap dan berwarna perak itu.
Ia memutarnya dan memeriksa sigil-sigil kecil yang diukir di pangkal dekat pegangannya yang alisnya berkerut lebih dalam di setiap detik ia melihatnya.
Dan kemudian, ia melihat ke arah Kaelith sembari berkata,
“Di mana kau mendapatkan ini?”
Kaelith terdiam ketika mendengar pertanyaan Thramund itu dan menjawab dengan perlahan-lahan. “Aku menemukannya... di reruntuhan yang terkubur di kerajaan Borreal. Tidak ada yang tersisa dari orang yang memegangnya hanya abu dan tulang tetapi setidaknya busur itu tidak tersentuh oleh siapapun.”
Rahang Thramund menegang.
“Busur ini… milik dari Ratu terakhir dari kerajaan The Profaned Capital, Calyra Flamearrow. Ia bukan seorang pejuang, melainkan seorang ratu. Ia adalah penjaga kenangan dan kebijaksanaan. Ketika kegilaan melanda ke kota kita, ia menolak untuk melarikan diri.” Bisik Thramund dengan mengusap busur itu dengan ibu jarinya di tatahannya.
Thramund kembali melihat seluruh ke arah kelompok itu sekarang dengan suaranya yang semakin berat dengan setiap kata yang diucapkannya itu.
“Dia mempercayakan busur ini kepada seseorang dari Borreal, yaitu temannya sendiri satu-satunya pemanah yang dia yakini dapat melindungi apa yang tidak lagi bisa ia lindungi. Itu adalah hadiah terakhir yang diberikannya sebelum dia... meninggalkan dunia ini dalam mempertahankan Profaned Capital.”
Kaelith berdiri tak bergerak yang mengerti bahwa busur itu merupakan beban artefak yang memiliki ceritanya tersendiri yang begitu terasa sangat nyata di tangannya saat Thramund mengembalikannya padanya.
“Aku tidak pernah mengira akan melihatnya lagi dan sekarang busur itu ada di tanganmu.” Gumamnya.
Kaelith menundukkan kepalanya dan berkata kepada Thramund dengan nada pelan.
“Aku akan menggunakannya dengan penuh hormat di setiap lesatan anak panahku.”
Thramund hanya tersenyum tipis.
“Jangan gunakan busur itu dengan hormat saja, melainkan dengan jujur saja hanya itu yang pernah dari permintaan pemilik pertamanya untuk siapapun yang memilikinya.”
Keheningan kembali menyelimuti bengkel itu hingga di luar bengkel itu matahari mulai terbenam lebih rendah ke langit yang sudah berwarna jingga itu menebarkan bayangan yang memanjang di setiap bangunan yang tinggi itu dan warna langit yang seperti keemasan di sepanjang jalan-jalan Elarion.
Pada saat itu, mereka berempat itu berdiri bukan sebagai orang asing yang dipertemukan oleh takdir tetapi sebagai pembawa cerita dari garis keturunan dan warisan yang lebih tua daripada yang pernah mereka ketahui saat mereka memulai perjalanannya itu dan pintu-pintu perjalanan mereka berikutnya yang akan mereka lalui mungkin akan meminta lebih dari sekadar darah yang akan tumpah dan sebuah cerita yang menjadi dongeng bahkan sejarah nantinya dan tentunya, mereka akan meminta kebenaran di balik setiap perjalanannya.
Saat kehangatan bengkel besi itu meresap ke tulang-tulang mereka, Thramund bersandar di meja kerjanya dengan lengannya yang disilangkan ke dadanya yang berlumuran keringat itu dan matanya kembali menatap Namien, kali ini dengan kilatan samar dan rasa penasaran.
“Kau selalu punya cara untuk berkelana, Namien. Tapi orang-orang ini… mereka bukan tentara bayaran melainkan mereka membawa sesuatu yang lebih berat dari tumpukan koin dalam kantongnya. Jadi katakan kepadaku, kau menemukan mereka di mana sebetulnya?”
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang melihat ke arah Sora, Kaelith, dan Vael itu dengan penuh takjub dan keheranan.
Namien mengembuskan napas panjangnya lagi melalui mulutnya dan mengusap bagian belakang lehernya.
“Mereka menemukanku sebetulnya saat aku sudah kehilangan terlalu banyak dari yang kumiliki dan aku rasa aku tidak menemukan mereka melainkan takdir mungkin telah memutuskan sudah waktunya aku mengingat apa artinya berjalan bersama orang-orang seperti mereka ini lagi.”
Thramund mengangkat alisnya dan Namien hanya bisa tersenyum tipis, lalu melanjutkan perkataannya.
“Mereka bukan hanya pengguna baja yang haus akan pertempuran, pertumpahan darah, atau gemerincing uang mungkin. Mereka melakukan perjalanannya masing-masing yang telah melihat hal-hal sudah terbakar melalui keheningan dan pedang yang sering bergema di setiap perjalanannya. Dan anak itu namanya Sora, dia telah menanggung kehilangan yang lebih dalam keheningannya sejak dia masih kecil. Dan perempuan itu Kaelith, anak panahnya telah mengenai lebih dari sekadar binatang dan ia telah mengukir jalan melalui kesedihan. Dan Vael…”
Namien menatap kesatria itu dengan sesuatu yang mendekati rasa hormat.
“Vael bertarung bukan hanya untuk kemuliaan tetapi untuk penebusannya di masa lalunya yang masih menghantuinya. Dosanya yang membuat sumpah lamanya itu masih tetap hidup dan ia pegang hingga saat ini.”
Thramund terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Sora.
Pendekar pedang yang bisu itu dengan tenang dan pedangnya sekarang bersandar di sarung pinggulnya itu berdengung dengan lembut dari hasil tempaannya yang baru-baru ini.
Pandai besi itu mengangguk kecil sebagai tanda setuju dari pernyataan Namien sebelumnya itu lalu bertepuk tangan sekali dengan suara yang memenuhi seisi ruangan bengkel itu dan tiba-tiba di ruangan yang sunyi itu.
“Kalau begitu, bengkelku akan selalu terbuka untuk kalian semua. Tidak ada koin dan tidak ada hutang.”
Thramund menatap mereka satu per satu. “Jika kau membawa kebenaran di senjatamu dan tujuan di hatimu, maka apiku adalah milikmu juga. Ini adalah bengkel sumpah dan bukan perdagangan lagi setelah mendengar temanku ini.”
Sora membungkuk rendah sebagai tanda terima kasihnya, Kaelith menawarkan gerakan tangan hormat di atas dadanya, dan Vael mengangguk dengan tegas.
Mata mereka semua berkilau samar dengan beban pemahaman yang sama-sama mengerti apa yang diucapkan Thramund kepada mereka.
Thramund hanya bisa terkekeh. “Bagus. Kalau begitu, tinggalkan senjata kalian apapun itu yang perlu kau ingin tempa ulang atau meningkatkannya. Aku tidak akan tidur sampai senjata kalian lebih tajam dari hari di mana ketika senjata kalian dilahirkan.”
Saat kelompok itu mulai mengemas barang-barang mereka dan bersiap untuk pergi menemui penguasa Elarion, Thramund tiba-tiba memanggil Vael dengan suaranya yang cukup terdengar olehnya dan menahan Vael sesaat saja,
“Vael. Tunggu sebentar!”
Vael berbalik dan alisnya terangkat oleh panggilan Thramund itu. “Ya?”
Pandai besi itu melangkah ke belakang bengkelnya yang menarik tirai tebal dan kembali beberapa saat kemudian dengan kotak kayu yang panjang dengan kondisi kotak itu tua dan terjaga tetapi dirawat dengan kehati-hatian.
Thramund meletakkannya dengan lembut di meja kerjanya dan membuka kaitnya dengan sangat hati-hati dan menunjukkan di kotak itu, terdapat dua senjata: pedang panjang dan belati melengkung yang keduanya sudah tua tetapi berkilau dengan polesan yang sangat rapi.
Pedang itu memiliki ukiran lambang Borreal di gagangnya yang bergambar kepala serigala keperakan melolong di bawah bintang sabit. Belati itu mencerminkan lambang yang sama, terukir di gagangnya juga.
“Ini… milik Komandan Thelan, kapten terakhir dari barisan depan kerajaan Borreal yang berdiri bersama kami di gerbang kerajaan The Profaned Capital saat itu.” Kata Thramund dengan lembut kepada Vael yang menatap senjata itu dan napasnya tercekat di tenggorokannya ketika mendengar nama Thelan.
“Sebelum ia jatuh, dia bersumpah dengan darah dan bajanya tidak akan pernah menyerang dengan kejam hanya untuk membela kerabat dan kebenarannya akan sumpah yang ia pegang terhadap Borreal itu sendiri. Ketika dia tewas dalam pertempurannya, aku mencoba mencari dan mengambil kembali senjatanya ini. Untuk menyimpannya sejak saat itu dan diberikan seseorang yang layak untuk memilikinya.”
Thramund menatap lurus ke mata Vael.
“Kau bukan Thelan tapi aku melihat api yang sama yang ditempa dalam salju di dalam dirimu itu. Pedang tua yang kau bawa itu sangat setia tapi telah memudar dan akan rusak dalam beberapa waktu ke depannya. Berikan kepadaku senjatamu saat ini dan biarkan aku memberikan penghormatan dengan benar dan layak untuk senjatamu itu dan sebagai gantinya, ambillah ini untuk mereka yang ditakdirkan untuk hidup kembali dan membawa nama ksatria Borreal dalam pertempurannya.”
Vael awalnya ragu-ragu untuk menerima senjata Thelan itu, namun pada akhirnya dia meraih tangannya itu untuk melepaskan pedang yang telah ia bawa bersamanya melewati api dan es.
Dia memegangnya dengan kedua tangan dan bilahnya ditandai oleh waktu dan pertempuran yang sudah cukup lama ia hadapi. Vael melangkah maju ke depan dan meletakkan senjatanya dengan lembut di meja kerja Thramund.
“Semoga dia beristirahat di kota para ksatria Borreal bersumpah dan tempaan dalam Profaned Capital.” Ujar Thramund dengan pelan dan nadanya begitu lirih terhadap senjata Vael itu.
Thramund menggerutu puas dan menyerahkan kotak kayu yang berisikan pedang dan belati Komandan Thelan kepada Vael.
“Gunakan senjatanya itu dengan baik dan ingat selalu, kau tidak hanya membawa baja sekarang melainkan kau juga membawa sebuah nama di dalamnya.”
Vael mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Dan aku akan membawanya dengan hormat atas sumpah saudaraku itu juga di bawah panji Borreal.”
Saat kelompok itu melangkah sekali lagi ke dalam cahaya matahari sore Elarion, si pandai besi memperhatikan mereka pergi dari pintu masuk tokonya dengan menyandarkan badannya itu di samping pintu dan cahaya matahari menari di dalam matanya itu.
\"Teruslah berjalan di jalan yang benar.\" Gumam Thramund dengan lembut dan pelan kepada mereka berempat yang berjalan menuju kastil Elarion itu.
Dan gema dari kerajaan The Profaned Capital meskipun terkubur di kedalaman yang sangat dalam dan sudah hancur lama oleh waktu kembali berbisik melalui baja yang sekarang hidup di tangan pemilik yang layak.
Gerbang kastil Elarion berdiri tinggi di atas mereka berempat, dilingkari tanaman merambat ivy yang melingkar dan ditandai oleh jambul singa kembar yang berdiri saling membelakangi, satu dengan mahkota dan yang lain dengan rantai terputus. Para penjaga yang ditempatkan di kedua sisi menegang saat mereka melihat salah satu dari mereka berempat itu.
Kemudian, mata para penjaga itu melihat kehadiran Namien di dalam kelompok itu dan salah satu penjaga, seorang pria dengan baju besi yang mengilap dengan lambang menara kerajaan di bahunya melangkah maju dengan alisnya yang terangkat karena tidak percaya bertemu dengan seseorang yang berpengaruh dalam kerajaan Elarion ini.
“Atas kobaran api para dewa… apakah dia Namien Solis?”
Namien yang mendengar hal itu hanya bisa menghela napasnya dan melambaikan tangannya dengan malas.
“Dalam daging, tulang, dan sakit punggung ini? Ya, sepertinya begitu.”
Penjaga itu tidak ragu-ragu untuk berlutut dengan satu kaki dan rekannya juga mengikutinya dengan ketepatan yang khusyuk.
Namien sedikit meringis dan menghela napasnya yang sudah tak tahu apa yang ia ingin ucapkan kepada penjaga itu. “Itu benar-benar tidak diperlukan…”
“Kau adalah Pembawa Api dari Lingkaran Dalam, penyihir Arche dari Elarion yang agung. Kau menghilang saat keruntuhan dan kami pikir kau sudah mati saat itu.” Kata salah satu dari penjaga itu dengan kagum ketika melihat Namien berada di hadapan mereka saat ini.
“Benar dan dalam segala hal yang penting.” Gumam Namien. Sora berdiri di sampingnya tanpa bersuara dan ekspresinya heran ketika mendengar dan melihatnya, Kaelith memperhatikan percakapan itu dengan satu alis terangkat yang menunjukkan keterkejutannya, sementara Vael melirik ke arah Namien sekilas yang setengah penasaran dan setengah rasa hormat yang baru ditemukannya.
Namien menarik napasnya lalu meletakkan tangannya di bahu penjaga itu. “Tolong… jangan membungkuk. Aku tidak datang sebagai salah satu anggota lingkaran dalam lagi. Aku datang sebagai… diriku sendiri saat ini. Jadi, bisakah kalian berdiri?”
Penjaga itu bangkit perlahan. “Sesuai keinginanmu, Tuan Solis.”
Para penjaga itu berbalik dan berteriak ke arah bagian dalam gerbang. “Buka jalannya dan beritahukan bahwa ada rombongan yang datang di bawah bimbingan Tuan Namien Solis saat ini. Mereka ingin bertemu dengan Raja Aetheryn saat ini.”
Gerbang kastil yang berat itu berderit terbuka dan besi kuno serta tatahan hiasan emasnya berayun lebar untuk memperlihatkan jalan di baliknya.
Beralas batu putih dan diterangi bola-bola cahaya pucat yang melayang, halaman yang terbentang itu hidup dengan ketenangan di dalam taman yang bermekaran penuh, air mancur yang berbisik seperti bintang jatuh, dan balkon tempat para bangsawan berbisik pelan, memperhatikan kelompok yang mendekat dari balik tabir sutra dan bayangan berwarna jingga itu.
Mata Sora mengamati setiap koridor dan setiap jendela menara yang megah itu, nalurinya selalu lebih tajam dalam keheningan bila m
Other Stories
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...