Bab Empat Puluh Satu: Apel Merah Dan Darah Yang Lebih Merah
Jauh di bawah kemegahan menara istana tempat Goulash berpesta, Sektor Bawah Jargmund bernapas dalam irama kematian yang lambat. Udara di sini tidak membawa aroma anggur atau parfum mahal, melainkan bau busuk yang menyengat seperti bau campuran dari limbah yang tak mengenakan menggenang di jalannya, sampah yang menumpuk, dan bahan makanan tak layak konsumsi yang masih saja dijajakan di pasar-pasar kumuh.
Di gang-gang sempit yang lembap, mayat-mayat gelandangan yang mati karena kelaparan atau penyakit dibiarkan begitu saja, membusuk di sudut jalan. Orang-orang berlalu-lalang melangkahi tubuh kaku itu dengan tatapan kosong, sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan kematian hingga tak lagi merasa ngeri. Anak-anak yatim piatu dengan tubuh kurus kering duduk berderet di pinggiran jalan, menadahkan tangan kotor mereka kepada siapa pun yang lewat. Beberapa dari mereka, yang lebih berani dan putus asa, menyelinap di antara keramaian untuk mencuri roti berjamur demi mengisi perut adik-adik mereka yang menunggu dengan mata cekung.
Pedagang-pedagang pasar berteriak parau, menawarkan dagangan layu dengan harga selangit, memanfaatkan keputusasaan pembeli yang tak punya pilihan lain. Di sisi lain jalan, kehidupan malam yang kelam dimulai bahkan sebelum matahari terbenam.
Para pelacur berdiri di depan rumah bordil reot, berdandan dengan riasan tebal untuk menutupi lelah dan lebam di wajah mereka. Mereka berusaha terlihat menggoda, menawarkan satu-satunya aset yang mereka miliki demi bertahan hidup.
Salah seorang pelacur, gadis muda berusia sekitar delapan belas tahun, berdiri menyandar di tiang kayu rapuh. Ia tidak memakai riasan berlebihan, mengandalkan kecantikan alaminya yang mulai pudar dimakan kerasnya hidup dan aroma parfum murah yang menyengat untuk menutupi bau lingkungan sekitarnya.
Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun, dengan pakaian compang-camping yang lebih mirip kain pel daripada baju, melintas di depannya. Langkah anak itu terhenti saat melihat si pelacur.
Si pelacur melihat bocah itu menatapnya. Alih-alih mengusir, ia tersenyum menggoda dan sebuah kebiasaan profesional yang sulit hilang.
\"Hei, Kecil,\" sapa pelacur itu, suaranya serak-serak basah. \"Kau mau mampir? Atau kau cuma mau melihat-lihat saja?\"
Bocah itu terpaku, pipinya merona di balik debu yang menempel. Ia terpesona sesaat oleh senyum itu, sebuah kelembutan palsu di tengah kekejaman dunia. Namun, realitas segera menamparnya.
\"Aku... aku tidak punya uang,\" cicit bocah itu jujur.
Pelacur itu tertawa kecil, lalu mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi bocah itu sekilas. \"Kalau begitu, jangan main-main di sini, Sayang. Tempat ini bukan untuk anak kecil yang kantongnya kosong. Kembalilah kalau kau sudah jadi pria kaya.\"
Bocah itu menyentuh pipinya yang baru saja dicium. Ada desiran aneh di dadanya, sebuah motivasi yang salah arah. Ia merasa tertantang.
\"Kalau aku tidak bisa bayar dengan uang...\" kata bocah itu dengan polos namun nekat.
\"Bolehkah aku bayar dengan makanan? Atau barang bagus lainnya?\"
Pelacur itu menatap bocah itu, lalu tersenyum sinis yang tak tertangkap oleh mata polos si anak. \"Bawakan aku sesuatu yang berharga, nanti kupikirkan.\"
Dengan harapan yang melambung tinggi, bocah itu mengangguk mantap. Ia berlari meninggalkan gang prostitusi itu menuju pasar utama, tidak melihat pelacur itu melambaikan tangan dengan tatapan meremehkan saat ia membelakanginya.
Sesampainya di pasar yang hiruk-pikuk, bocah itu mulai mengobservasi. Suara bentakan pedagang dan tawar-menawar kasar memenuhi telinganya. Matanya yang tajam memindai setiap kios, hingga berhenti pada sebuah kios buah yang ramai dikunjungi. Di sana, di tengah tumpukan buah busuk, terdapat satu keranjang berisi apel merah yang terlihat sangat segar dan terlihat seperti barang langka yang mungkin ada di sektor bawah itu yang ditujukan untuk perwira atau orang kaya yang tersesat ke daerah tersebut.
Bocah itu menyusup. Tubuhnya yang kecil memungkinkannya menyelip di antara kaki-kaki orang dewasa.
\"Minggir, Tikus!\" bentak seorang pria sambil menendang kaki bocah itu.
\"Anak siapa ini?! Bau sekali!\" maki seorang wanita gemuk berusia 40 tahunan, yang kemudian meludahi kepala bocah itu karena ia menyerobot antrean.
Bocah itu mengabaikan hinaan dan ludah itu. Matanya terkunci pada apel merah itu. Ketika si pedagang sibuk melayani pembeli yang rewel, tangan kecil bocah itu bergerak secepat kilat.
Satu buah apel merah berhasil ia ambil. Ia segera berbalik dan lari sekuat tenaga.
\"MALING! TANGKAP MALING KECIL ITU!\"
Teriakan pedagang itu memecah kebisingan pasar. Semua mata tertuju pada sosok kecil yang berlari memeluk apel. Pedagang itu, bersama beberapa pembeli yang kesal karena antrean mereka terganggu, langsung mengejar.
Bocah itu berlari kencang, jantungnya berdegup lebih cepat dari langkah kakinya. Ia menatap apel di tangannya sebuah apel begitu merah warnanya dan begitu indah. Ia membayangkan senyum pelacur tadi. Ia tidak melihat ke depan.
Bocah itu menabrak sesuatu yang keras dan dingin. Bukan dinding, melainkan barisan perisai baja.
Apel merah itu terlepas dari genggamannya, menggelinding pelan di atas tanah yang kotor dan berhenti tepat di dekat kaki seekor kuda putih yang gagah.
Bocah itu mendongak, gemetar hebat. Di hadapannya, satu pleton pasukan elit Jargmund telah memblokir jalan, tombak mereka terarah ke depan. Dan di atas kuda putih itu, duduk seorang Jenderal dengan zirah mengkilap terlihat dari helmnya itu wajah bengisnya seorang Jenderal yang sama dan pernah menghancurkan hidup Kaelith itu sebelumnya.
Bocah itu mematung, kakinya lemas melihat ujung tombak yang berkilat.
Tepat saat itu, pedagang dan para pengejarnya sampai. Napas mereka tersengal-sengal. Melihat Jenderal di hadapan mereka, pedagang itu merasa mendapat dukungan hukum.
\"Jenderal! Bagus sekali Anda di sini!\" oceh pedagang itu tanpa tahu diri, menunjuk-nunjuk si bocah.
\"Anak setan ini mencuri dagangan saya! Lihat apel yang dicurinya itu, Jenderal! Itu barang daganganku! Anda harus menghukumnya! Potong tangannya atau—\"
Jenderal itu menatap pedagang yang berisik itu dengan tatapan kosong dan dingin. Ia tidak mendengarkan satu kata pun. Baginya, suara pedagang itu hanya dengungan lalat yang mengganggu.
Perlahan, Jenderal itu mengangkat tangannya, lalu membuat gerakan memotong cepat dari atas ke bawah.
Itu bukan sinyal untuk menangkap pencuri. Itu adalah vonis mati.
Tanpa peringatan, barisan prajurit di depan bergerak serentak.
Tombak-tombak panjang menusuk dada pedagang dan para pembeli yang ada di barisan depan itu. Mereka bahkan tidak sempat menjerit. Mata mereka melotot kaget saat darah menyembur dari mulut dan dada mereka, lalu tubuh mereka ambruk ke tanah seperti boneka rusak.
Bocah kecil itu menyaksikan semuanya. Darah terciprat ke wajahnya. Ia melihat orang-orang yang tadi mengejarnya kini mati dalam sekejap mata. Rasa takut yang begitu besar melumpuhkan sistem sarafnya. Ia ingin lari, tapi kakinya terpaku di tanah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang.
Jenderal itu turun dari kudanya dengan gerakan santai. Ia berjalan menghampiri bocah yang mematung itu. Langkah kaki besinya berdentum di tanah.
Bocah itu mundur selangkah, lalu berbalik badan hendak lari. Namun, tubuh besar Jenderal itu sudah ada di belakangnya, menghalangi cahaya matahari.
Tanpa kata, tanpa keraguan, Jenderal itu menghunuskan pedangnya.
Bilah pedang menembus tubuh kecil itu. Bocah itu tersentak, matanya meredup, dan ia jatuh terkulai ke tanah, mati di samping apel merah yang ingin ia jadikan alat penukar kebahagiaan semu.
Jenderal itu membersihkan darah di pedangnya dengan kibasan singkat, lalu menyarungkan pedangnya kembali. Ia menatap mayat-mayat yang berserakan di kakinya dengan tatapan bosan.
\"Jangan tinggalkan sisa,\" perintah Jenderal itu pada pasukannya, suaranya datar namun menggema mengerikan.
\"Bumihanguskan tempat ini. Bersihkan semua sampah di Sektor Bawah. Cari pemberontak itu. Jika ada yang bergerak, bunuh.\"
Kepanikan meledak. Orang-orang di sekitar pasar yang melihat pembantaian itu berteriak histeris, berlarian tak tentu arah mencari perlindungan sebelum diburu seperti binatang.
Di tengah kekacauan itu, Jenderal tersebut membungkuk. Ia memungut apel merah yang tadi dicuri si bocah. Apel itu sedikit kotor oleh debu, tapi masih utuh.
Jenderal itu mengelap apel tersebut ke jubahnya, lalu menggigitnya dengan renyah.
Ia mengunyah apel curian itu sambil tersenyum tipis, menikmati rasa manis buah itu sembari menyaksikan pasukannya mulai membakar kios-kios dan membantai rakyatnya sendiri, memenuhi keinginan gila Goulash untuk membersihkan kerajaannya dengan darah.
Sementara pembantaian mulai merayap di jalanan Jargmund, suasana di markas pasukan revolusi justru tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Bukan jenis keheningan yang damai, melainkan keheningan tegang seperti tali busur yang ditarik terlalu kencang dan siap putus kapan saja.
Di dalam tenda komando pusat, Veyla duduk seorang diri. Tubuhnya merosot di kursi kayu, matanya menatap kosong ke arah meja strategi yang berantakan. Gulungan peta Jargmund terhampar di sana, ditindih oleh batu-batu penanda posisi musuh yang kini terasa tak berarti. Kertas-kertas laporan intelijen berserakan di atasnya, berisi informasi tentang pergerakan pasukan dan logistik yang kini seolah tertutup bayang-bayang satu rencana besar yaitu air yang membanjiri seluruh isi kota.
Veyla merasa terjebak. Sebagai pemimpin, ia harus tegas. Namun, hatinya menolak menjadi algojo bagi rakyatnya sendiri.
Tiba-tiba, tirai tenda tersingkap dengan kasar. Lyra melangkah masuk. Langkah kakinya tegas, matanya tidak lagi merah karena tangisannya, melainkan memberikan tatapan serius dengan tekad baru yang ia dapatkan dari Sora.
Lyra berjalan langsung menghampiri meja, berdiri di hadapan Veyla yang bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk menyambutnya.
\"Veyla,\" panggil Lyra, suaranya jernih dan menuntut. \"Kita harus mengadakan rapat ulang. Sekarang.\"
Veyla menghela napas panjang, berat dan penuh kepasrahan. Ia memutar batu penanda di peta dengan jari telunjuknya, gerakan tanpa tujuan.
\"Untuk apa, Lyra?\" tanya Veyla lirih, tanpa menatap Lyra itu.
\"Tidak ada gunanya kita duduk berdebat lagi. Namien sudah melempar dadunya, dan Silas... Silas sudah menyetujuinya. Moralitas kita sudah mati di meja ini tadi pagi. Rapat hanya akan menambah luka yang ada.\"
\"Tidak,\" bantah Lyra cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja yang berantakan itu.
\"Aku punya solusi. Ada jalan tengah untuk mencegah kita kehilangan diri kita sendiri dalam rencana gila itu.\"
Mendengar nada bicara Lyra yang begitu yakin, Veyla akhirnya mendongak. Ia menatap mata Lyra, mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah keyakinan yang kokoh. Veyla mengerutkan kening, skeptis.
\"Solusi?\" ulang Veyla dengan nada sangsi.
\"Apa yang bisa kau lakukan, Lyra? Silas sudah membulatkan tekadnya. Namien tidak akan mundur. Apa yang bisa mengubah situasi yang sudah di ujung tanduk ini?\"
\"Jangan khawatirkan soal itu,\" potong Lyra serius.
\"Percayakan saja padaku. Aku dan... seseorang, sudah memikirkannya. Kumpulkan semua orang. Kita perbaiki kesalahan ini sebelum terlambat.\"
Veyla menatap Lyra beberapa saat lagi, menimbang-nimbang. Akhirnya, ia melihat secercah harapan di mata mata-mata mudanya itu. Dengan helaan napas pasrah namun sedikit lega, Veyla mengangguk.
\"Baiklah,\" kata Veyla.
Ia menegakkan tubuhnya, lalu berteriak memanggil perwira jaga di luar tenda.
\"Prajurit!\" seru Veyla. Seorang perwira masuk dengan sigap.
\"Kumpulkan kembali semua pimpinan regu dan staf inti. Kita adakan rapat darurat untuk meninjau ulang strategi. Sekarang juga.\"
Perwira itu memberi hormat dan bergegas keluar untuk menyebarkan perintah.
Lyra, yang merasa tugas pertamanya selesai, membungkuk hormat dan berbalik hendak meninggalkan tenda. Namun, suara Veyla menghentikannya tepat sebelum ia mencapai pintu keluar.
\"Lyra, tunggu.\"
Lyra menoleh. \"Ya, Veyla?\"
Veyla menatapnya dengan tatapan memohon yang jarang ia perlihatkan.
\"Feron,\" kata Veyla.
\"Kau tahu dia yang paling keras menolak rencana ini. Dia pergi dengan kemarahan yang besar sebelumnya. Aku butuh dia di rapat kali ini. Persenjataannya vital bagi kita, tapi lebih dari itu... kehadirannya penting untuk menjaga kewarasan kita.\"
Veyla berhenti sejenak, lalu melanjutkan, \"Bisakah kau membujuknya? Bawa dia kembali ke meja rapat nanti.\"
Lyra terdiam sejenak, teringat Feron yang mungkin sedang sama hancurnya dengan dirinya beberapa waktu lalu. Namun, mengingat janji Sora dan rencana evakuasi yang mereka susun, Lyra mengangguk mantap.
\"Aku akan membujuknya untuk hadir,\" janji Lyra.
\"Dan aku pastikan, kali ini dia akan menyetujui usulan kita di rapat nanti. Aku akan pastikan itu.\"
Veyla mengangguk pelan, rasa terima kasih terpancar di matanya. \"Terima kasih, Lyra. Pergilah.\"
Lyra pun keluar dari tenda dan meninggalkan Veyla sendirian kembali.
Sepeninggal Lyra, Veyla kembali merosot di kursinya. Ia menatap ke arah tumpukan kertas dan peta di hadapannya. Pikirannya melayang pada nasib Jargmund yang kini berada di pundaknya.
Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, merenungkan betapa beratnya tugas ini bukan hanya tentang memenangkan perang melawan tiran Goulash, tetapi juga memenangkan perang di dalam pasukannya sendiri.
Ia juga harus menjaga agar pasukan revolusi ini tidak terpecah belah antara kubu pragmatis Namien yang didukung Silas, dan kubu idealis yang kini sedang dibujuk untuk kembali. Veyla berharap, apa pun solusi yang dibawa Lyra, itu cukup kuat untuk menahan badai yang sedang mengamuk di antara ketegangan mereka saat ini.
Lyra berlari kecil membelah debu perkemahan, langkahnya terarah pasti menuju satu-satunya tempat yang masih mengepulkan asap tipis di sektor logistik. Ia tiba di depan bengkel terbuka Feron, napasnya sedikit tersengal.
Di dalam, Feron sedang menunduk, tangannya bergerak ritmis mengasah bilah pedang Thelan milik Vael dengan batu asah halus. Bunyi yang stabil mengisi keheningan di bengkelnya itu dan Vael hanya bisa duduk di bangku kayu yang tak jauh dari sana dengan matanya terfokus pada prosesnya itu, namun segera beralih saat mendengar langkah kaki mendekat. Feron pun menghentikan gerakannya, mengangkat kepala, dan melihat Lyra berdiri di ambang pintu bengkel.
Tanpa membuang waktu, Lyra menghampiri pandai besi bertubuh besar itu.
\"Feron,\" panggil Lyra dengan nada mendesak namun penuh harapan.
\"Veyla setuju untuk mengadakan rapat ulang. Kita akan membahas kembali rencana Namien. Aku... aku memintamu untuk hadir. Kami butuh suaramu di sana.\"
Feron meletakkan pedang Vael dan batu asahnya di meja kerja. Ia menatap Lyra dulunya seorang gadis yang ia temukan dan dilindunginya itu hingga dibesarkan selayaknya darah dagingnya sendiri di tengah kerasnya Jargmund itu. Feron bangkit dan membersihkan tangannya yang kotor di apron kulitnya, lalu memegang kedua bahu Lyra dengan lembut namun kokoh.
\"Lyra,\" kata Feron, suaranya berat dan serak, penuh dengan kasih sayang kebapakan.
\"Kau tahu aku menyayangimu. Kau adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih sudi berada di pasukan revolusi yang menyedihkan ini. Tapi... untuk duduk kembali di meja itu dan mendengarkan rencana pembantaian? Aku tidak bisa. Jangan minta aku merestui dosa itu.\"
Lyra menggeleng cepat, menatap mata Feron lekat-lekat.
\"Justru karena itu kau harus ada di sana,\" bantah Lyra.
\"Di rapat sebelumnya, kau adalah satu-satunya yang berani berteriak. Kau adalah kompas moral kami di tengah kegilaan itu. Dengar... aku punya solusi. Aku punya cara untuk mencegah kehancuran total bendungan itu tanpa harus membatalkan serangan. Tapi aku butuh dukunganmu untuk melawan argumen Namien.\"
Feron mendengus pelan, senyum getir terukir di wajahnya yang tertutup jelaga. Ia melepaskan pegangannya dari bahu Lyra.
\"Aku? Kompas moral?\" Feron tertawa hambar. \"Itu kesalahan terbesarmu, Nak. Aku hanyalah tukang besi tua yang lelah.\"
Feron kemudian menoleh dan menunjuk ke arah Vael yang duduk diam mendengarkan percakapan mereka.
\"Jika kau mencari kompas moral sejati di pasukan ini, dia ada di sana,\" kata Feron, merujuk pada Vael dan, secara tersirat, pada sosok bisu yang diikuti Vael.
\"Orang yang duduk di sana yang mengikuti seseorang dengan arah yang benar, bukan aku.\"
Lyra tidak menyerah. Ia melirik Vael sekilas, lalu kembali menatap Feron.
\"Mungkin benar,\" kata Lyra. \"Tapi kau tidak kalah pentingnya. Kau adalah tulang punggung kami, Feron. Tanpa persetujuanmu, pasukan ini akan pincang.\"
Vael, yang merasa namanya disebut, akhirnya angkat bicara dari tempat duduknya. Ia menatap Feron dengan tatapan hormat.
\"Jika rapat akan diadakan kembali,\" suara Vael tenang namun berwibawa,
\"aku menyarankan agar kau turut andil, Feron. Pasukan ini butuh penyeimbang. Kau bukan hanya aset dalam membuat pedang, tapi kau adalah pengingat bagi kami tentang apa yang sedang kami perjuangkan. Kehadiranmu akan memberi bobot pada keputusan nanti.\"
Feron terdiam mendengar bujukan dari dua sisi itu. Ia menatap Vael, lalu kembali menatap Lyra.
Di mata Lyra, Feron tidak melihat seorang mata-mata yang dingin atau wakil komandan yang keras. Ia melihat bayangan gadis kecil yang dulu sering ia gendong di pundaknya, gadis kecil yang tertawa saat Feron berpura-pura menjadi monster untuk menghiburnya di pengungsian. Ikatan batin itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Feron menghela napas panjang, bahunya merosot tanda menyerah. Ia tahu ia tidak bisa menolak permintaan putrinya itu.
\"Baiklah,\" kata Feron akhirnya, nadanya pasrah namun ada sedikit kelegaan di sana.
\"Kau menang, Nak. Aku akan datang. Tapi pastikan solusimu itu benar-benar bisa mematahkan argumen penyihir gila itu. Karena jika tidak, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rapat bersamaku.\"
Mata Lyra berbinar. Senyum lebar merekah di wajahnya. Tanpa ragu, ia memeluk tubuh besar Feron dengan erat.
\"Terima kasih, Feron,\" bisik Lyra.
\"Aku janji. Kita akan memperbaikinya.\"
Feron membalas pelukan itu, menepuk punggung Lyra dengan tangan kasarnya yang hangat. Untuk sesaat, suasana bengkel yang suram itu terasa lebih ringan.
Di tengah momen haru itu, Vael yang masih duduk menunggu hanya bisa tersenyum tipis melihat interaksi mereka. Namun, ia tidak lupa tujuannya datang ke sana.
\"Ehem,\" dehem Vael pelan.
\"Maaf mengganggu momen keluarga ini, tapi... Feron, pedangku sudah selesai dipoles?\"
Feron menoleh ke arah Vael, sementara tangannya masih memeluk Lyra. Wajah sangar pandai besi itu berubah jenaka.
\"Demi Dewa Besi, Vael.\" Gerutu Feron dengan nada bercanda yang dibuat-buat. \"Bisakah aku meminta waktu lima menit saja untuk merasakan jadi seorang ayah di sini? Pedangmu tidak akan tumpul hanya karena menunggu pelukan ini selesai.\"
Lyra tertawa pelan dalam pelukan Feron mendengar gerutuan itu. Vael hanya bisa menghela napas keheranan, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membiarkan dua jiwa yang saling menguatkan itu menikmati momen singkat kedamaian mereka sebelum badai rapat kembali menerjang.
Kabar mengenai rapat darurat menyebar dengan cepat melalui saraf-saraf perkemahan pasukan revolusi. Para prajurit pembawa pesan berlarian, menembus debu dan ketegangan yang menggantung di udara untuk memanggil kembali para aktor utama dalam drama ini.
Di dalam tendanya, Namien sedang berbaring santai dengan tangan di belakang kepala, menatap langit-langit tenda sambil bersenandung kecil. Ketika seorang prajurit masuk dan menyampaikan bahwa rapat akan diadakan kembali, seringai tipis muncul di bibir penyihir itu.
\"Akhirnya dimulai kembali, ya...\" gumam Namien pelan. Ia bangkit dengan malas, merapikan topinya, siap untuk kembali menjadi penjahat yang dibenci semua orang.
Di area latihan fisik, Arelan sedang melakukan push-up dengan satu tangan, keringat membasahi kening dan tubuhnya yang kekar. Otot-ototnya menegang setiap kali ia mendorong tubuhnya naik turun. Saat prajurit pembawa pesan datang dan memberitahunya, Arelan tidak berhenti. Ia hanya mengangguk singkat di tengah gerakannya, memberi isyarat bahwa ia mengerti, sebelum prajurit itu pergi meninggalkannya untuk menyelesaikan set latihannya.
Di tenda medis, Kaelith masih duduk dengan tatapan kosong, pikirannya dipenuhi oleh rasa sakit pengkhianatan Sora. Kedatangan prajurit yang membawa pesan rapat mengalihkan perhatiannya. Dokter yang menjaganya hendak membuka mulut untuk melarang, namun Kaelith mengangkat tangannya, memotong ucapan dokter itu dengan tatapan tajam.
\"Aku akan hadir,\" kata Kaelith dingin, nadanya tidak mentolerir bantahan. \"Aku tidak akan tertinggal lagi.\"
Dokter itu hanya bisa menghela napas pasrah dan menggelengkan kepalanya saat melihat pasiennya memaksakan diri.
Sementara itu, di dekat bekas api unggun yang sudah mati, Sora duduk menyendiri. Matanya menatap tumpukan abu dan arang hitam sisa-sisa dari kehangatan api yang membakar kayu itu sebelumnya yang kini mendingin, seperti perasaannya saat ini. Ketika prajurit datang menghampirinya dari samping dan menyampaikan pesan, Sora hanya mengangguk perlahan. Ia tidak menoleh, matanya kembali terpaku pada abu itu setelah prajurit itu pergi, mengumpulkan mental untuk peran besar yang harus ia mainkan.
Di tenda komando, Silas Verne tidak perlu menunggu jemputan. Ia sudah mendengar keramaian di luar dan dengan insting tajamnya, ia tahu apa yang sedang terjadi. Ia melangkah masuk ke tenda Veyla dengan tongkatnya, senyum geli terukir di wajah tuanya.
\"Jadi,\" sapa Silas tanpa basa-basi saat melihat Veyla duduk di kursinya.
\"Apakah kau akhirnya menerima usulan gila Namien itu, Komandan?\"
Veyla mendongak, wajahnya lelah namun ada sedikit harapan di sana. \"Lyra... dia bilang dia membawa solusi. Dia meminta kesempatan untuk bicara.\"
Silas tertawa pelan, suara yang berderik di tenggorokannya. \"Oho? Gadis kecil itu ingin menyangkal rencana Namien? Menarik. Aku sudah menyiapkan argumenku, tapi aku penasaran... seefektif apa solusi yang ditawarkan oleh hati nurani yang terluka itu. Kita lihat saja nanti.\"
Tak lama kemudian, tenda Veyla mulai dipenuhi orang. Satu per satu mereka berdatangan. Sora masuk lebih dulu, wajahnya tenang namun matanya waspada. Disusul oleh Lyra yang berjalan tegak dengan Feron dan Vael di sampingnya. Kemudian Namien masuk dengan langkah santai yang menjengkelkan. Terakhir, Arelan dan Kaelith masuk hampir bersamaan, diikuti beberapa perwira elite lainnya untuk mengisi kekosongan kursi.
Saat Kaelith masuk, mata Sora langsung tertuju padanya. Namun, Kaelith membalas tatapan itu dengan dingin. Wajahnya datar, tanpa emosi, seolah Sora adalah orang asing yang tidak berarti baginya. Hati Sora mencelos, namun ia menahannya dalam diam.
Namien, yang berdiri menyandar di tiang tenda, memperhatikan sekeliling. Ia mendengar bisik-bisik para perwira yang menatapnya dengan curiga dan benci. Namien sudah menduga hal ini. Ia memilih untuk tetap diam, memasang wajah tebal layaknya seorang ahli strategi yang tidak peduli pada sentimen.
Suasana hening sejenak. Veyla berdiri, menatap semua orang yang hadir.
\"Kita berkumpul lagi untuk satu tujuan,\" suara Veyla memecah keheningan.
\"Sebelum itu, mengenai usulan Namien sebelumnya yang untuk menghancurkan bendungan sebagai rencananya... apakah ada yang keberatan atau memiliki pandangan lain sebelum kita melangkah lebih jauh?\"
Tanpa menunggu detik berganti, Lyra mengangkat tangannya. Ia maju ke depan meja strategi dengan langkah perlahan namun pasti. Tindakan ini menarik perhatian semua orang. Namien mengangkat alisnya, dan Sora menggenggam tangannya erat di bawah meja.
Lyra menarik napas panjang, menatap Veyla, lalu berbalik menatap seluruh ruangan.
\"Aku menyetujui rencana Namien,\" kata Lyra dengan tegas.
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong.
Semua orang terbelalak. Keheranan dan kebingungan melanda ruangan itu. Mereka yang mengenal Lyra sebagai penentang keras rencana itu terutama Feron yang tak bisa percaya akan perkataan Lyra itu.
Feron mematung, matanya menatap Lyra dengan tatapan \'apa yang akan kau lakukan, Nak?\'. Ia merasa dikhianati, karena Lyra sebelumnya menjanjikan sebuah solusi, bukan sebuah persetujuan.
Tenda itu seketika menjadi ribut. Suara protes dan pertanyaan berdengung keras.
\"DIAM!\"
Teriakan Lyra menggelegar, membungkam kegaduhan itu seketika. Ia berdiri tegak, matanya menyala dengan otoritas yang jarang ia perlihatkan.
Setelah suasana kembali hening, Lyra menatap mereka satu per satu, lalu pandangannya berhenti sejenak pada Sora sebelum kembali ke Veyla.
\"Aku menyetujuinya,\" ulang Lyra, nadanya lebih rendah namun penuh penekanan. \"Namun... aku punya solusi dan syarat mutlak untuk pelaksanaan rencana ini.\"
Semua orang kini menahan napas, menunggu apa yang akan keluar dari mulut gadis mata-mata itu selanjutnya.
Di tengah ketegangan yang menyesakkan tenda, Lyra berdiri tegak di depan meja strategi. Ia menatap lurus ke arah Namien, jari telunjuknya terarah tajam pada penyihir itu.
\"Sebelum kita membahas detailnya,\" kata Lyra dengan suara lantang, \"biar kuperjelas satu hal. Aku menyetujui rencana ini secara taktis. Tapi secara moral? Jujur saja, aku menolak 100% rencana penyihir gila ini.\"
Namien mengangkat alisnya, sedikit heran dengan persetujuan yang dibungkus hinaan itu. Namun, sebelum ia sempat membalas dengan sarkasme, ia merasakan tepukan di bahunya. Sora, yang berdiri di sampingnya, meletakkan tangannya di sana dan menyodorkan secarik kertas yang sudah ia tulis sebelumnya.
Namien melirik tulisan Sora itu: Aku sudah memberitahu syaratku kepadanya.
Melihat itu, senyum miring khas Namien merekah. Ia menatap Sora dengan tatapan bangga yang aneh. \"Kau benar-benar memilih sekutu yang tepat, Pahlawan Bisu. Kau tahu siapa yang bisa diandalkan saat dunia mau kiamat.\"
Lyra mengabaikan interaksi itu dan kembali fokus ke peta. Tangannya bergerak cepat, menyusun ulang bebatuan penanda. Ia mengelompokkan batu-batu kecil di area pemukiman padat dan menaruh batu berwarna merah di pos-pos penjagaan musuh.
\"Rencananya sederhana tapi sangat berisiko,\" jelas Lyra, jarinya menelusuri jalur di peta.
\"Sebelum Namien meledakkan bendungan itu, kita harus mengevakuasi penduduk. Ini bukan negosiasi. Saat kita mulai bergerak mengevakuasi warga, musuh pasti akan menyadarinya. Mereka akan mengirim pasukan, dan besar kemungkinan... Vorlag akan keluar dari sarangnya untuk memburu sisa-sisa kita demi memuaskan kebosanannya.\"
Pernyataan Lyra memicu bisik-bisik gelisah di antara para perwira. Silas, Veyla, dan Feron terdiam, menyimak dengan intensitas penuh. Ancaman Vorlag adalah mimpi buruk yang nyata bagi mereka semua.
\"Kita harus berpacu dengan waktu,\" lanjut Lyra, matanya menyapu wajah-wajah tegang di hadapannya.
\"Evakuasi harus dilakukan secepat kilat. Kita gunakan pergerakan evakuasi itu sebagai umpan untuk menarik perhatian musuh, sehingga area penjagaan di bendungan menjadi kosong untuk disusupi.\"
Silas tertawa pelan, tawa yang penuh apresiasi. Feron menatap Lyra dengan sorot mata serius, sementara Veyla tampak berpikir keras, menimbang risiko nyawa pasukannya.
\"Jika kita berhasil mengevakuasi mereka sebelum Vorlag tiba,\" Lyra menyimpulkan dengan nada final, \"Maka, silahkan banjiri seluruh Jargmund. Air itu akan menyapu bersih pasukan kerajaan, bukan rakyat.\"
Feron yang melihat tekad bulat di mata anak angkatnya itu, akhirnya bertanya, \"Berapa lama waktu yang kau butuhkan, Lyra? Ribuan nyawa tidak bisa dipindahkan dalam sekejap.\"
\"Tujuh belas menit,\" jawab Lyra cepat.
\"Maksimal dua puluh jika kita terdesak. Kita beri mereka peringatan tentang banjir, dan kepanikan akan membuat mereka bergerak cepat.\"
\"Lalu?\" tanya Veyla tajam. \"Ke mana mereka akan dibawa? Kita tidak bisa menampung ribuan orang di sini.\"
\"Saluran air bawah tanah,\" jawab Lyra mantap, menunjuk jalur biru di peta yang terhubung dengan markas mereka.
\"Jalurnya mengarah ke dataran tinggi di luar kota. Aku hafal setiap belokan di sana. Itu satu-satunya jalan keluar yang aman.\"
PLOK! PLOK! PLOK!
Silas bertepuk tangan lambat namun keras.
\"Brilian,\" puji Silas, matanya berbinar licik. \"Aku tak menyangka kau bisa meramu rencana bunuh diri yang begitu elegan untuk meminimalisir korban.\"
Namun, tepuk tangan itu berhenti mendadak. Wajah Silas berubah serius, tatapannya menusuk Lyra. \"Tapi satu pertanyaan, Nona Mata-mata. Penduduk mana yang hendak kau selamatkan? Kita tidak punya waktu untuk mengetuk setiap pintu di Jargmund.\"
\"Penduduk Sektor Bawah,\" jawab Lyra tegas tanpa keraguan. \"Hanya mereka saja.\"
Jawaban itu memicu keributan lagi. Beberapa perwira merasa itu tidak adil, sementara yang lain merasa itu masuk akal. Suara-suara beradu argumen memenuhi tenda.
BRAK!
Veyla menghantamkan tangannya ke meja strategi dengan kekuatan penuh, membuat bebatuan di atas peta berloncatan.
\"DIAM!\" bentak Veyla.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Napas Veyla memburu, matanya menyala dengan emosi yang selama ini ia pendam.
\"Kalian ribut soal siapa yang diselamatkan?\" suara Veyla bergetar menahan amarah.
\"Dengar baik-baik. Aku bukan berasal dari selokan seperti kebanyakan kalian. Aku lahir di Sektor Atas dan aku berasal dari kalangan menengah ke atas.\"
Pengakuan itu membuat Silas menatapnya dengan senyum tipis dan ia sudah tahu sejak awal, itulah alasan mengapa Silas merekrut Veyla. Namun bagi yang lain, ini adalah kejutan.
\"Orang-orang kaya itu... para bangsawan dan pedagang kelas atas...\" lanjut Veyla dengan nada jijik yang kental.
\"Mereka tidak akan sudi mendengarkan peringatan dari tikus selokan seperti kita. Selama mereka bisa membayar upeti dan menyerahkan budak wanita untuk Goulash, mereka merasa aman. Mereka memilih menikmati remah-remah di bawah meja tiran itu daripada kebebasan.\"
Veyla teringat masa lalunya. Teringat wajah ayah, ibu, dan adiknya yang tertawa saat menyiksa pelayan mereka. Teringat kekejaman yang membuatnya muak dan lari dari rumah mewahnya untuk bergabung dengan revolusi.
\"Jadi aku setuju dengan solusi Lyra ini,\" putus Veyla. \"Kita selamatkan Sektor Bawah. Orang-orang di atas sana merasa aman karena ada Vorlag yang melindungi mereka. Biarkan mereka tenggelam bersama rasa aman palsu i—\"
Ucapan Veyla terpotong.
DUARRR!
Suara gemuruh terdengar dari kejauhan, tapi bukan dari dalam tenda. Suara itu datang dari atas, dari arah kota. Bukan suara guntur, melainkan suara ribuan jeritan manusia yang menyatu menjadi satu gelombang horor. Teriakan minta tolong, raungan kesakitan, dan bunyi logam beradu.
Semua orang di tenda mendongak, wajah mereka pucat. Sora adalah yang pertama bereaksi. Matanya membelalak, tangannya seketika mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Instingnya menjerit bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi.
Tirai tenda tersingkap kasar. Seorang prajurit masuk dengan napas tersengal-sengal, wajahnya berlumuran darah yang bukan miliknya.
\"Lapor!\" teriak prajurit itu panik. \"Kerusuhan besar sedang terjadi! Pasukan Kerajaan... mereka turun ke Sektor Bawah! Mereka membantai semua orang yang ada di sana! Mereka berniat melakukan pembasmian massal!\"
Berita itu menghantam seisi ruangan seperti ledakan bom. Namun, sebelum siapa pun sempat mengeluarkan perintah, sebuah bayangan melesat.
Sora.
Tanpa satu kata pun, tanpa menunggu komando Veyla atau persetujuan Silas, Sora berbalik dan berlari keluar tenda secepat kilat. Ia tidak ragu sedikit pun. Kakinya membawanya menuju sumber jeritan, menuju tempat di mana darah rakyat sedang tumpah.
Namien, Feron, Vael, dan Arelan terperangah melihat reaksi impulsif itu. Lyra, yang masih berdiri di dekat meja, bertanya dengan bingung, \"Namien! Apa yang dia lakukan?! Rencananya belum matang!\"
Namien menatap pintu tenda yang masih bergoyang bekas kepergian Sora. Ia tersenyum, senyum yang kali ini tulus meski diwarnai sarkasme pahit.
\"Apa yang dia lakukan?\" ulang Namien. \"Itulah Sora. Dia adalah tipe orang bodoh yang kakinya bergerak dengan sendirinya sebelum otaknya berpikir saat melihat orang lain menderita.\"
Silas yang melihat kekacauan itu, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ia berdiri, memukulkan tongkatnya ke lantai.
\"Kalau begitu, laksanakan rencananya sekarang!\" seru Silas, matanya berkilat liar penuh semangat perang. \"Rencana kita sekarang sederhana: IKUTI ANAK BISU ITU!\"
Silas menunjuk ke arah pintu keluar.\"Selamatkan siapa pun yang bisa diselamatkan! Lindungi evakuasi! Dan begitu penduduk aman, kirim sinyal ke bendungan. Ledakkan tempat itu ke neraka!\"
Perintah itu membakar semangat semua orang. Keraguan sirna dan digantikan oleh adrenalin yang membara di setiap hati orang akan tindakan Sora dan kekejian tirani Jargmund. Veyla langsung menyambar helm dan senjatanya. Feron, Vael, dan Arelan berlari keluar menyusul Sora.
Kaelith masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya terpaku pada pintu tempat Sora menghilang. Tindakan Sora yang tanpa ragu menerjang bahaya demi orang asing itu mengguncang hatinya, meruntuhkan tembok kemarahan yang tadi ia bangun.
Dengan napas tertahan, Kaelith menoleh ke arah Namien, satu-satunya orang yang tahu detail rencana ini dan pengusung rencana gila ini.
Other Stories
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...