The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
797
Votes
0
Parts
31
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Dua Belas: Persiapan Melawan Badai

Ruang singgasana Elarion tidak seperti yang lainnya mungkin yang tidak ada kaca patri dengan hiasan yang memiliki berbagai macam warna atau permadani yang mewah menghiasi dindingnya dan jalan menuju singgasana sang raja.

Sebaliknya, itu adalah aula refleksi yang diukir dari batu obsidian yang dipoles halus untuk mencerminkan langit di atasnya dengan lengkungan kristal yang menjulang seperti tulang rusuk di atas kepala untuk menangkap sinar matahari dari luar yang membelokkannya melalui jendela ruangan dalam tarian warna yang banyak variasinya.

Di tengah-tengah singgasananya yang tanpa podium atau panggung ditinggikan, berdiri seorang penguasa negeri ini dengan pakaian yang sederhana, tenang, namun juga berhati-hati.

“Perkenalkan saya adalah penguasa tertinggi di kerajaan Elarion, Aetheryn Velaros. Pengurus cahaya dan sumpah Elarion yang terikat oleh api, dan kalian adalah…?” Katanya dengan suaranya yang jelas dan menggema kuat di ruangan itu.

Namien melangkah maju dengan tangan terlipat di belakangnya itu berkata, “Ini Sora, Yang Mulia. Dia tidak berbicara sepatah kata pun atau dia terlahir dalam keadaan bisu, Yang Mulia. Tetapi, ia membawa lebih banyak kebenaran daripada banyaknya penguasa dengan kebohongan.”

Lalu Namien menunjuk dengan lembut ke arah Kaelith dan memperkenalkannya: \"Dia adalah Kaelith dari Virandel, Yang Mulia. Seorang pemanah dan juga seorang pemburu yang lahir dari dalam bayangan dengan memiliki tujuan untuk bertahan hidup di dunia ini.\"

Namien menoleh ke arah Vael dan berjalan mendekatinya.

\"Dan dia adalah Vael dari kerajaan Borreal, Yang Mulia. Penjaga sumpah dan kesatria kerajaan yang tertutup oleh pegunungan es dari utara dan serigala putih adalah bentuk kekuatan kerajaannya, Yang Mulia.\"

\"Dan aku sendiri, yang mulia. Namien Solis yang dulunya seorang anggota lingkaran dalam dan penasihat strategi perang di kerajaanmu, paduka. Dan sekarang hanyalah pedagang yang mengembara dengan terlalu banyak barang dagangan yang harus aku jual dan terlalu sedikit menemukan sebuah jawaban dari perjalananku.\"

Namien mengakhiri pengenalannya itu kepada penguasa Elarion itu dengan tatapan Raja Aetheryn yang melihat mereka satu persatu seolah-olah membebani rantai yang tak terlihat dari apa yang mereka bawa.

\"Aku hanya ingin bertanya satu hal saja kepada kalian para pengembara dan penyintas dari dunia yang hancur ini, apa yang kau inginkan dariku hingga menemui diriku ini?\" Kata Raja Aetheryn dengan melipat tangannya di belakang punggungnya itu.

Namien berhenti sejenak lalu menarik napas dengan dalam-dalam dan mulai berbicara mengenai kejujuran menemui Raja Aetheryn itu.

\"Kami mengikuti gema, yang mulia. Dari desa yang sudah hancur, kerajaan yang sudah menjadi abu, menara yang mengingat rasa sakit dan terbengkalai, serta tanah yang diselimuti keheningan yang sudah hampir sepanjang waktu. Kami mengikuti ramalan, sejarah, kutukan, dan ramalan akan dunia ini yang sudah melupakan secercah sinar harapan yang akan datang kepadanya.\" Ujar Namien dengan sopan dan dengan nada malasnya itu.

Lalu, Namien menunjuk ke arah Sora,

“Anak ini yang mulia, membawa pedang yang tidak ditempa tetapi dilahirkan dari bentuk dunia yang sudah melupakan kenangan indahnya. Senjata yang mampu bernapas layaknya manusia dan mendengarkan setiap apa yang diucapkan dari kebenaran yang sudah lama tersembunyi. Dan anak ini, telah berjalan di tempat kebanyakan orang yang tak memilih jalan dari kematiannya sendiri itu dan anak ini membuktikan dirinya bisa selamat dari hal-hal tersebut yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun bahkan dari kita sendiri sebagai temannya. Kami datang ke Elarion karena arsip yang kami butuh, Yang Mulia. Kami mengetahui bahwa paduka, brankas paduka, dan serta catatan paduka yang terikat oleh api kebenaran yang menjadi sebuah jawaban dari pertanyaan kami ini mungkin menyimpan sebuah jawaban tentang siapa anak ini sebenarnya dan apa yang akan terjadi dengan dunia nantinya, Yang Mulia.”

Raja Aetheryn mengangguk perlahan. “Jadi, kalian semua mencari sebuah jawaban untuk datang kemari.”

“Lebih tepatnya seperti itu, Yang Mulia.” Kata Namien dengan santai.

Penguasa tertinggi itu berpaling dari mereka, berjalan perlahan melintasi lantai tempat sinar matahari sore berkumpul dalam bercak-bercak yang berubah warna dari kaca patri yang terpasang di atasnya.

Raja Aetheryn tidak mengatakan apa pun untuk beberapa saat. Kemudian, ketika Raja Aetheryn melihat keluar jendela yang melihat pemandangan kerajaan Elarion itu berkata,

“Kalian semua tiba di akhir dari sebuah awal yang mungkin tidak pernah menemukan arti dari kedamaian dan awal dari semua yang kalian cari itu adalah sesuatu yang jauh lebih buruk mungkin yang menginginkan arti dari tempat tinggal.”

Raja Aetheryn berhenti berbicara sesaat dan menoleh ke belakang yang mengarah ke mereka berempat itu.

“Akan ada perang terjadi tak lama lagi di dekat kerajaan ini setelah aku mendengar laporan dari beberapa perwiraku beberapa hari sebelum kalian datang kemari.”

Kaelith yang mendengar hal tersebut mendadak menegang, tangan Vael menggenggam di dekat gagang pedang barunya itu, Sora yang sedari tadi memerhatikan pembahasannya mulai memasang ekspresi serius kali ini, dan Namien mendengar hal itu mulai bertanya-tanya di dalam benaknya apa yang sebenarnya terjadi ketika ia meninggalkan kerajaan ini dengan waktu yang tak lama itu.

Raja Aetheryn melanjutkan perkataannya. “Bukan berasal dari perbatasan kerajaan ini. Bukan dari invasi yang dilakukan oleh manusia, melainkan berasal dari Deep Beyond yang tempat itu adalah asal muasal dari sesuatu yang kuno mulai bergejolak menyebabkan makhluk-makhluk selain manusia muncul ke permukaan dunia ini dan sesuatu yang tidak melupakan dunia ini walau sudah hancur yang kalian ketahui saat ini menurut salah satu ramalan yang kupercayai dari seorang peramal.”

Alis Namien mulai berkerut dan bertanya kepada Raja Aetheryn. “Apakah makhluk itu The Rift, yang mulia?”

“Tidak, mungkin lebih dari hal itu dan lebih tua dari The Rift sendiri. Bahkan lebih tua dari ciptaan para dewa, mungkin.” Jawab Raja Aetheryn yang mengkhawatirkan hal tersebut namun tetap bersikap tegar akan ancaman yang datang ke kerajaannya itu.

Raja Aetheryn melangkah maju lagi dan kini berdiri tepat di hadapan mereka berempat sekarang.

“Kalian mencari sebuah kebenaran yang terkubur dalam balik tabir, bukan? Aku bisa memberikan sebuah jawaban kepada kalian dengan memberikan akses ke Flamebound Archive dan Old Vault of Echoes di ruangan bawah tanah perpustakaan tapi aku menginginkan bantuan kepada kalian saat ini…”

Raja itu menatap mereka masing-masing yang sempat terhenti perkataannya dan kini mencoba untuk mengatakannya dari lubuk hatinya yang terdalam.

“Aku tidak meminta kepada kalian sebagai seorang raja melainkan sebagai seorang pria yang berdiri di tepi kehancuran dan keinginan untuk melindungi rakyatku sendiri dari ancaman dan bahaya yang akan datang nantinya. Pinjamkan kami kekuatan kalian saat bayangan-bayangan itu datang untuk menghancurkan kota ini dan aku memohon kepada kalian sebagai manusia biasa yang menginginkan sebuah kehidupan yang layak untuk ditempati untuk berdiri bersama kami dalam menghadapi ancaman dan bahaya ini dengan bersama-sama.”

Suara Raja Aetheryn merendah dan seketika aula singgasana itu menjadi sunyi setelah permohonan seorang Raja yang meminta bantuan kepada kelompok yang sudah melewati banyaknya ancaman dalam kehidupan mereka itu untuk mengemban tugas melindungi orang-orang yang berada di dalam kerajaan.

Ancamannya itu telah menghantui seorang Raja yang khawatir akan bahaya mendatanginya dan terlebih lagi, untuk setiap orang-orang yang berada di dalamnya itu.

Namien menundukkan kepalanya dan jari-jarinya mulai berkedut.

\"Paduka, aku tahu... aku melarikan diri sebelumnya dari medan peperangan karena aku sudah muak terhadap peperangan yang aku sendiri tak bisa menentukan nasib dan hasil akhirnya selain merancang saja dengan adanya peluang keberhasilan serta kegagalannya juga.\"

Raja Aetheryn tidak berkata apa-apa mengenai perkataan Namien itu yang dikatakannya itu ada benarnya juga.

Rahang Kaelith mulai menggertakkan giginya itu hingga tak bisa memercayai apa yang sebenarnya dunia ini inginkan selain kehancurannya itu sendiri walau sudah hancur begitu saja.

Vael yang sebagai seorang ksatria dulunya masih bisa merasakan berat dari sebuah beban pemimpin di bahu Raja Aetheryn yang memohon itu di badannya.

Dan dari mereka semua itu, tidak seorang pun yang bisa berbicara sekarang dan mereka semua menatap ke satu orang yang mereka pikirkan itu.

Sora yang sedari tadi hanya mendengarkan kini memulainya dengan melangkah maju ke hadapan sang raja dan memberikan jawaban dari permohonannya itu.

Dia berdiri diam seperti biasa tetapi tidak diam sepenuhnya ketika situasi serius seperti ini. Tangannya merenggang dan pedangnya yang diikatkan di pinggulnya itu dalam sarung pedangnya itu mulai berdengung dengan samar seperti detak jantung yang terasa ketika menembus sebuah baja zirah.

Meskipun dia terlahir dalam keadaan bisu dan tidak pernah ada suara yang keluar dari mulutnya sekalipun itu tetap kehadirannya itu mempertanyakan satu hal yang bisa menentukan segala hal sebagai jawabannya.

Dan apa yang akan Sora pilih dari kebenaran yang dia inginkan itu atau sumpah yang tak pernah diucapkan dari seseorang yang tak pernah berbicara itu?

Di dalam ruangan itu menunggu sebuah jawaban yang akan diucapkan dari kehadirannya saja.

Ruang singgasana tetap sunyi ketika semua mata mulai tertuju kepada satu orang saja, Sora.

Dia berdiri di hadapan Raja Aetheryn dan tak bergerak sedikitpun dari tempat berdirinya dengan tatapannya yang rendah dan alis yang mulai berkerut seolah ia sedang menimbang kata-kata yang ingin diucapkannya.

Perang dan kehancuran yang akan melanda dari sebuah kerajaan yang ia tinggali saat ini dengan jawaban dari seorang raja yang memberikan akses ke arsip yang berada di bawah perpustakaan kerajaan Elarion itu yang mengungkapkan kebenaran sebagai ganti dari pertumpahan darah yang akan terjadi nantinya untuk sekali lagi.

Itu bukan sebuah keraguan yang dikarenakan ketakutan tetapi karena sebuah makna yang bergema apa artinya jika bertarung lagi walau hal itu tidak berlandaskan untuk balas dendam dan bukan sebagai bertahan hidup? Tetapi, untuk tempat yang belum disebutnya sebagai tempat tinggal itu?

Dengan perlahan, Sora seperti biasa menjawab permintaan sang Raja itu dengan mengangkat tangannya yang menunjukkan jari-jarinya terangkat dan telapak tangannya yang menghadap ke dadanya.

Kemudian ia mengisyaratkan dengan satu jari yang pertama menunjuk ke arah langit dan yang kedua ia menunjuk ke arah tanah yang berarti seimbang dan terikat oleh satu hal yang ia inginkan sebagai jawaban dari permohonan sang raja itu.

Sebuah gerakan yang sangat sederhana dalam keheningannya tetapi kuat akan makna dan artinya dan juga sebagai sebuah simbol dari persatuan dan pilihan yang hal itu bukan sebagai tanda menyerah atau bukan sebagai pembangkangan. yang berarti bila diterjemahkan,

‘Aku memilih untuk berdiri di sini, antara apa yang datang dari atas dan apa yang muncul dari bawah dan selamanya aku tidak akan lari dari hal itu.’

Yang lain tidak berkata apa-apa setelah melihat gerakan Sora tadi yang menunjukkan sebagai jawaban penentu dari permohonan itu dan mereka tidak perlu menjelaskan apa maksud dari gerakannya itu.

Sementara itu, Raja Aetheryn menatap Sora cukup lama untuk menebak apa yang dimaksud olehnya itu yang pada akhirnya membuat dirinya berkedip dan berujar dengan tak menyangka jawaban yang Sora maksud itu dengan ekspresi terkejut.

\"Kau adalah pria pendiam dan paling berani yang pernah kutemui atau mungkin yang paling puitis dalam memberikan sebuah jawaban selama aku temui.\" Gumamnya itu lalu tanpa diduga Raja Aetheryn tertawa ketika mengetahui jawaban Sora itu.

Bukan sebagai ejekan dan bukan sebagai kesombongannya yang ditunjukkannya itu melainkan suara tawa yang begitu dalam dan jujur dari seseorang yang sudah lama tidak menemukan kegembiraan dalam ketidakpastian kondisinya itu.

Raja itu mulai menyeka air matanya dari sudut mata. \"Pikirkan saja hal ini, dewanku saja takut pada seorang pembunuh ingin membunuhnya setiap waktu dan di sini, aku bertemu dengan seorang pria yang berdiri dan menjawab permohonan sang raja dengan satu jari saja.\"

Namien yang melihat hal itu hanya bisa mengembuskan nafasnya dengan setengah tertawa yang menandakan ketegangannya mereda, Kaelith membiarkan dirinya tersenyum tipis ketika sang raja mengetahui jawaban yang dimaksud oleh Sora itu, dan Vael melihat mereka semua dengan menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat itu.

Raja Aetheryn menegakkan bahunya untuk mengontrol dirinya dan mengangguk pelan yang masih tersenyum tipis itu.

“Baiklah, jalanmu sudah dipilih para penyintas dan apa yang akan terjadi kita akan hadapi bersama ke depannya.”

Raja Aetheryn menoleh ke salah satu penjaga di dekat pintu singgasana itu.

“Pengawal, pastikan tempat penginapan untuk tamu kita ini sudah disiapkan dengan kamar-kamar dekat pemandangan di selatan kerajaan yang dekat dengan kastel ini dan pastikan juga untuk mereka bisa beristirahat dengan tenang serta tidak terganggu oleh hal lainnya. Dan juga tugaskan dua penjaga untuk bertindak sebagai penghubung kerajaan antara mereka dengan pihak kerajaan.”

Penjaga itu memberikan anggukan untuk melaksanakan perintah raja dan pergi tanpa sepatah kata pun dari tempat itu.

Raja Aetheryn kembali menoleh ke mereka berempat. “Kalian punya waktu untuk beristirahat saat ini dan untuk itu, mempersiapkan diri adalah bagian dari pemulihan. Manfaatkan waktu kalian dengan baik dan arsip akan dibuka untuk kalian besok saat kalian membutuhkannya. Sampai saat waktunya telah tiba, tidurlah tanpa rasa takut dan dinding Elarion akan selalu berdiri tegak untuk kalian hingga waktunya telah tiba.”

Raja itu berhenti sejenak untuk terakhir kalinya saat mereka berbalik untuk pergi dari hadapannya dengan hormat.

“Dan sekali lagi, aku berterima kasih kepada kalian karena telah memilih untuk berdiri bersama kami dalam mempertahankan keinginan egois dari raja yang tak tahu diri ini.” Imbuhnya yang nadanya sekarang lebih pelan dari sebelumnya.

Saat pintu-pintu besar terbuka dan rombongan itu dibawa keluar ke aula-aula yang hiasan batu-batunya tertata dengan rapi dan pohon yang rindang di sekitarnya memenuhi tepi jalannya dengan hembusan angin yang sejuk di sore hari balik takhta kerajaan Elarion itu, bahkan tak seorang pun dari mereka berbicara setelah keluar dari tempat itu akan keputusan yang sudah diambil oleh pemimpin perjalanan mereka itu.

Namun di hati mereka masing-masing terutama Sora, ada sesuatu yang berubah yang hal itu bukan lagi tentang menemukan jati diri melainkan tentang memilih siapa nantinya ketika kegelapan kembali sebelum fajar akan terbit dalam melindungi orang-orang yang menginginkan kehidupan yang damai dan tenang.

Gerbang kastel tertutup pelan di belakang mereka saat keempatnya dituntun oleh penjaga kerajaan menyusuri jalan setapak bebatuan itu memiliki ukiran menuju pemandangan selatan kerajaan.

Kota di bawahnya itu tampak berkilauan keemasan dengan lentera emas saat senja merayap di cakrawala Elarion menghasilkan bayangan panjang di antara dinding marmer dan taman yang tenang.

Jalan berbatu yang mereka lewati kini terasa lebih aman dan lebih tenang, bukan karena tidak ada kehidupan tetapi karena rasa percaya dan aman dari semua hal yang pernah mereka hadapi sebelumnya.

Pemandu mereka seorang penjaga muda yang terlatih dengan baik, tanpa kata-kata mengantar mereka menuju halaman dengan berdinding yang terselip di bawah menara kecil yang ditumbuhi tanaman merambat dan diapit oleh patung singa kembar yang berhadapan.

“Tempat ini dikhususkan oleh tamu kerajaan dan bangsawan penting, ini adalah mandat untuk kalian menginap di sini selama raja mengizinkannya.” Penjaga muda itu menjelaskan dengan singkat sebelum pergi dari hadapan mereka dengan hormat untuk kembali bertugas.

Namien melihat sekeliling dan mengangguk. “Nyaman untuk ditempati dan mengingatkanku pada tempat yang pernah aku rusak sebelumnya.”

Dia menoleh ke yang lain dan membetulkan jubahnya itu dengan seringai yang khasnya.

“Kalian akan menemuiku besok. Aku masih memiliki urusan yang belum kuselesaikan.” Nada suaranya sedikit menurun dan lebih tenang dari biasanya.

“Tokoku masih di sini. Terkunci dan kemungkinan tertutup debu sekian lama aku meninggalkannya dan sebaiknya aku membukanya juga berpura-pura untuk membuka tokoku agar berguna lagi.”

Kaelith mengangkat sebelah alisnya yang perkataan Namien menarik perhatiannya. “Kau punya toko?”

Namien mengedipkan mata. “Barang-barang ajaib, tinta terkutuk, gulungan keputusan buruk, dan masih banyak lagi. Seperti biasa daganganku seperti itulah.”

Dengan perkataannya itu, dia melambaikan tangan malasnya dan melangkah kembali ke dalam bayangan kota yang perlahan mulai berubah warna menjadi gelap langitnya dan dengan begitu saja dia pergi dari hadapan mereka bertiga.

Di dalam pondok yang disediakan oleh Raja Aetheryn, cahaya hangat memenuhi ruang tengah dari perapiannya saat mereka duduk di tempat itu.

Sebuah perapian berderak di satu sisi yang memancarkan cahaya lembut pada balok kayu dan lantai kayunya dan aroma lavender tercium dari mangkuk dekat jendelanya. Vael yang duduk di bangku dekat perapian menatap pedangnya sejenak lalu dia berdiri.

“Aku akan keluar sebentar dan hendak ingin berbicara dengan Thramund lagi… tentang bilah pedang yang diberikan olehnya ini.” Katanya dengan menyentuh gagang pedang saudara perjuangannya itu yang kini terikat di pinggulnya dengan sarung pedangnya.

“Dan juga aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan tentang jatuhnya The Profaned Capital. Ada kebenaran yang terkubur di bawah reruntuhan itu dan aku perlu tahu apa yang dibawanya itu... serta apa yang hilang darinya.”

Kaelith mengangguk dengan pelan. “Jangan sampai tersesat. Ini Elarion, bukan Borreal.”

Vael memberinya senyum tipis yang langka. “Kau berbicara lebih dari seperti seorang teman dan tidak seperti seorang kapten seharusnya.”

Kemudian dengan pandangan terakhir ke arah Sora yang penuh dengan hormat dan tenang, ia melangkah keluar ke dalam kegelapan malam Elarion dengan lentera-lentera di tepi jalannya itu dan jubahnya berkibar di belakangnya. Pintu tertutup ketika Vael sudah benar-benar keluar dari pondok itu.

Di dalam pondok itu saat ini, hanya menyisakan dua orang saja.

Sora yang berdiri di dekat jendela lengkung dengan lengan disilangkannya menatap ke kota yang disinari oleh cahaya lentera-lenteranya itu dan Kaelith hanya diam sedari tadi dengan jari-jarinya yang mulai mengetuk ke alas meja kayu di dekatnya yang tanpa sadar menelusuri tepi busurnya dan busurnya itu diletakkan di atas meja di dekatnya.

Kemudian Kaelith berbicara lebih lembut dari biasanya dan terdengar gugup untuk memulai pembicaraannya dengan Sora itu.

“Jadi... hanya kita berdua saja, ya?”

Sora menoleh sedikit ke arahnya dan mengangguk pelan. Kaelith yang melihat reaksi Sora, tersenyum dengan canggung.

“Kau tahu... kau sungguh tidak membuat hal ini berjalan dengan lancar dan mudah, bukan?”

Sora memiringkan kepalanya dan mencoba memahami pertanyaannya itu dengan ekspresi wajahnya yang lembut.

Kaelith yang membuat Sora bingung karena ucapannya itu mulai terkekeh gugup. “Hanya saja… saat aku di dekatmu, semuanya menjadi… lebih... tenang. Ya, tenang maksudku.”

Kaelith yang sedari tadi mencoba menghilangkan perasaan anehnya itu di dalam hatinya untuk bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan ke arah jendela tempat Sora berdiri itu cukup dekat agar cahaya api dapat menyinari wajahnya dan suaranya merendah.

“Dulu aku berpikir keheningan berarti kekosongan atau menghindari dari segala masalah yang ada pada dirimu itu. Tapi, ketika aku melihatmu…” Kaelith berhenti sejenak.

“Hal itu membuatku berpikir ulang dengan memahami arti dari katanya. Aku merasa keheningan itu sendiri seperti kau dapat mendengar pikiranmu sendiri dengan lebih baik ketika kau mencoba untuk memahami seluruh masalah fisik, batin, dan juga mentalmu tentunya.”

Tatapan Sora bertemu dengannya dan Sora tidak berkata apa-apa namun tangannya mulai bergeser dengan perlahan untuk meraih punggung tangan Kaelith itu dengan lembut.

Napas Kaelith mulai tercekat ketika tangannya bersentuhan dengan Sora tanpa ia sadari itu.

“Aku… tidak tahu apa ini tapi aku rasa, aku ingin mengetahuinya.” Bisiknya dengan lembut serta wajahnya langsung memerah dan dia mengalihkan pandangan karena gugup untuk melihat wajah Sora yang dekat dengannya.

“Sialan, kedengarannya lebih baik aku ucapkan di kepalaku saja.” Gumam Kaelith dengan malu-malu ketika semua ucapan begitu saja terucapkan di hadapan Sora.

Sora yang melihatnya seperti itu tidak tertawa melainkan kehangatan di matanya terpancar dengan lembut dan begitu hati-hati ketika Sora menawarkan tangannya itu kepadanya.

Kaelith yang awalnya ragu-ragu lalu ia mulai meletakkan tangannya di atas tangan Sora yang penuh dengan bekas luka dan kapalan itu.

Mereka berdua berdiri di sana dan tangan mereka bergandengan dalam cahaya api dan keheningan di pondok itu yang menyaksikan kota dengan cahaya lenteranya bersiap menghadapi bayangan yang akan menyelimuti cakrawalanya.

Mereka menganggap hubungan mereka bukan sebagai sepasang kekasih tetapi sesuatu yang tak terucapkan mulai terbentuk dalam hati mereka yang seperti api unggun bergejolak di hati mereka yang membara itu.

Nyata, tenang, dan menunggu akan kepastian tanda-tandanya saja.

Malam di Elarion semakin larut dan bintang-bintang berkilau samar melalui tabir awan tipis yang di mana lentera bergoyang dengan lembut di tepi jalan-jalannya seperti kunang-kunang yang dipandu oleh kenangan dan di sudut jalan yang tenang dengan deretan batu yang telah diukir dan dinding yang ditumbuhi tanaman Ivy, Vael melihat sosok yang dikenalnya sedang menutup papan kayu usang dari etalase pertokoan yang memiliki banyaknya debu itu.

Namien ada di sana yang di mana dia berdiri di luar etalase pertokoan yang kecil itu dengan papan nama tokonya yang lama memudar tetapi masih bisa terbaca dalam cahaya yang berkedip-kedip itu.

“Solis Arcana — Barang Antik Terkutuk dan Kebenaran yang Setengah Terlupakan.”

Namien ketika selesai menutup tokonya dan menguncinya, ia berbalik dan segera melihat Vael yang tengah memerhatikannya selama ini dari belakangnya itu dan Namien mengangkat alisnya.

\"Biar kutebak, kau tidak bisa tidur, ksatria Borreal?\" Tanyanya.

Vael hanya bisa menyeringai. \"Kurang lebih seperti itu... aku pikir seseorang akan membiarkan pintu tokonya tidak terkunci saat ingin pulang.\" Namien terkekeh.

\"Tertutup lebih rapat daripada tiga penyesalanku sebelumnya. Tapi, ayolah.\"

Saat mereka berdua mulai berjalan berdampingan menyusuri jalan berbatu, Namien melirik sekilas ekspresi Vael itu.

“Jadi… apa yang terjadi di pondok saat ini? Apakah ada yang… mencerahkan mungkin?”

Vael tersenyum samar yang Namien juga mengetahui maksudnya. “Katakan saja begini… keheningan terpecah lebih dari satu cara.”

Namien menyeringai lebar dan mulai menyikutnya. “Sudah cukup lama bagi mereka berdua itu. Aku pernah melihat mayat bergerak lebih cepat daripada perasaan seseorang yang sudah lama dipendam sekian lamanya untuk menyatakan perasaannya.”

“Kita semua membawa bekas luka dengan cara yang berbeda dan hanya penyembuhannya dilakukan oleh perasaan yang sama-sama ingin sembuh dari hal itu.” Jawab Vael dengan singkat.

Namien hanya bisa mengangguk pelan. “Benar, tapi terkadang butuh bekas luka lain untuk membuat kita melihat seberapa dalamnya luka tersebut.”

Mereka berjalan bersama, tawanya kini lebih lembut dan berjalan menuju bengkel Thramund tempat cahaya jingga redup masih berkedip dari cerobong asapnya.

Saat mereka tiba, pandai besi tua itu sedang menempa cahaya terakhir di hari itu dengan percikan api yang mengalir dari landasannya seperti bintang yang jatuh ke baja yang tengah ditempanya.

Thramund mendongak ketika ada seseorang yang masuk ke dalam bengkelnya itu dan mulai tersenyum ketika melihat Namien dan Vael sudah berada di hadapannya saat ini.

“Aku pikir aku mendengar sosok hantu yang sedang mengetuk pintu bengkelku untuk menempa senjata terkutuknya.”

Namien mengangkat tangannya yang memainkan peran seperti hantu. “Dua roh telah kembali dari kuburannya.”

Vael mengangguk hormat kepada Thramund. “Aku punya pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadamu dan mungkin sedikit minuman untuk dibagikan untuk pembahasan malam ini mungkin.”

Si pandai besi itu tertawa terbahak-bahak. “Kalau begitu, kau datang ke tempat yang tepat. Mari kita bicara tentang api, baja, dan reruntuhan yang terkubur itu.”

Sementara itu…

di pondok yang tenang, api telah menyala rendah dan menghasilkan bayangan lembut di dindingnya. Kaelith dan Sora duduk di dekat perapian, keheningan di antara mereka kini berbeda dari sebelumnya yang tidak tegang tetapi begitu personal.

Mata Kaelith sekali-kali meliriknya dan menelusuri lekuk posturnya hingga keheningannya yang melihat perapian di hadapannya.

Ada hal-hal tentangnya yang masih belum diketahuinya dan Kaellith ingin mengetahuinya lebih dalam lagi dan akhirnya dengan pelan, Kaelith bertanya kepada Sora.

“Semua pertarungan yang kau lalui itu, apakah semua rasa sakit itu begitu kau rasakan atau membiarkannya? Cara kau bergerak hingga kau sendiri telah terluka lebih dari sekali, apakah tidak membuatmu menderita?”

Sora menatapnya dengan tidak yakin bagaimana cara menjawab pertanyaannya itu.

\"Maksudku, berapa banyak bekas luka yang dimiliki oleh orang sepertimu itu?\" Lanjut Kaelith dengan suaranya merendah.

Sora yang awalnya ragu-ragu untuk menjawabnya namun dengan perlahan, ia mulai membuka tali pengikat di dadanya dan melepaskan lapisan luar kemejanya.

Cahaya api kini memperlihatkan bekas luka di seluruh badannya mulai dari sayatan pedang, gigitan dari binatang buas, luka yang ia tidak ketahui kapan didapatnya, dan terakhir, sebuah luka yang mencekung sedikit ke dalam dadanya yang terlihat sayatan pedang yang terbelah di tengah dadanya memudar tetapi begitu dalam, seolah-olah sesuatu telah merobeknya sejak lama dan meninggalkan bekasnya tidak hanya pada daging tetapi juga jiwanya itu.

Punggung Sora yang menanggung luka lebih banyak mulai dari luka yang bersilangan dengan sayatan pedang dan luka bakar yang diterimanya akan kenangan bilah pedang yang menjadi tanda dari penderitaannya dan api yang sempat membakar bagian belakang tubuhnya itu.

Sesuatu yang jauh lebih tua dari keduanya yang membuat napas Kaelith tersendat ketika melihatnya ketika duduk di sampingnya itu.

\"Bagaimana kamu masih bisa hidup hingga saat ini dengan luka-luka yang aku sendiri tak bisa jelaskan itu?\" Bisiknya dengan jari-jari Kaelith mulai menyentuh di atas bekas luka Sora itu.

Sora tidak menatapnya dan dia tidak perlu menjawab melainkan keheningannya sudah cukup menjadi jawaban dari pertanyaan Kaelith tadi.

Dia memilih untuk hidup dan hanya itu yang ada di dalam benaknya ketika menerima luka-luka seperti itu.

Namun, tangan Kaelith bergerak dengan sendirinya yang menelusuri setiap bagian luka-luka Sora itu dengan lembut menyentuh hingga berhenti di tepi bekas luka besar di dada pria itu yang dekat dengan jantungnya. Jari-jarinya masih menempel di dada Sora.

\"Aku tidak bisa membayangkan... apa yang kau alami selama itu hingga kau bertemu dengan kami. Aku tak ingin membayangkan lagi dirimu menderita seperti ini lagi.\" Kata Kaelith dengan suaranya yang sedikit bergetar dan rapuh itu ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi oleh Sora di balik diamnya itu.

Mata Sora akhirnya bertemu dengan mata Kaelith yang saling melihat satu sama lainnya. Tatapan mereka terkunci, seperti ada sesuatu yang telah berlalu di antara mereka dan sesuatu yang tak bisa terucapkan oleh kata-kata saja dan bukan sebagai belas kasihan serta bukan hasrat hewani dalam diri mereka.

Hanya sebuah pengakuan dari kedua orang yang hidup di dunia yang sudah rusak untuk bisa bertahan dari ancaman serta bahaya yang menghantui mereka.

‘Kau melihat kematian dan kau memilih untuk terus berjalan di jalannya itu untuk menemukan apa yang sebenarnya kau inginkan selain dari kematiannya, bukan?’

Dan kemudian Kaelith bergerak mendekat dengan napasnya yang mendekati napas Sora itu, telapak tangannya menekan lembut ke dada pria itu bukan untuk menguji rasa sakitnya melainkan untuk merasakan apakah ada sesuatu yang masih berdetak di balik semua kesunyiannya itu.

Dahi mereka bersentuhan satu sama lain dan dalam momen kecil yang dicuri dari kehangatan itu, mereka berdua yang sudah terluka cukup lama itu bukanlah seseorang penyintas lagi melainkan mereka berdua hanyalah dua jiwa yang mencoba mengingat bagaimana rasanya ingin dipeluk yang memahami perasaan mereka yang sebenarnya.

Mulut mereka saling terhubung di malam hari dan mereka membawa jiwa mereka ke dalam kamar setelah mereka menemukan kehangatan dan kenyamanan yang dibutuhkan dari diri mereka itu.

Kembali ke bengkel Thramund

Thramund menuangkan minuman untuk kedua pengunjungnya itu.

\"Untuk menempa besi!\" Katanya.

“Untuk sebuah sumpah!” Imbuh Vael.

“Untuk menemukan makanan yang layak dimakan!” Pungkas Namien.

Gelas mereka berdenting dan di malam itu, dalam keheningannya yang terurai membawa mereka ke kenangan akan api, baja dan sesuatu yang rapuh untuk belajar menjadi hidup lagi.

Tungku bengkel itu masih berderak dengan bara api yang hampir padam saat Vael melangkah keluar ke jalan-jalan Elarion yang tenang dan meninggalkan Namien dan Thramund di dalam bengkel Thramund dengan kehangatan cerita-cerita lama serta berbagi kesedihannya.

Udara malam kini terasa segar seperti tersentuh oleh hawa dingin yang samar dan mengisyaratkan datangnya pagi.

Saat Vael berjalan sendirian di bawah langit yang bersinar keperakan, tanda-tanda pertama fajar mulai muncul di cakrawala dan benang-benang tipis jingga pucat menerobos tabir nila di atas menara-menara.

Ia berhenti di sebuah gapura batu dan memiringkan kepalanya ke arah awan putih yang mulai menyambar cakrawala.

\"Sudah berapa lama aku meninggalkan mereka di pondok itu?\" Gumamnya pada dirinya sendiri sambil menyeringai tipis.

Pemandangan selatan mulai terlihat dan bersamanya, pondoknya itu yang masih sunyi dengan lentera-lentera tamannya masih berkedip-kedip lembut seperti bintang-bintang yang memudar.

Ia mendekati pintu kayu dan mendorongnya dengan perlahan-lahan hingga terbuka dengan suara pelan yang membiarkan keheningan pagi menyelimuti dalam pondoknya itu.

Di dalam, ruang tengah terlihat kosong dan api unggun tinggal bara api terakhirnya saja. Langkah kaki Vael yang melangkah ke atas hendak menuju kamarnya itu nyaris tak bersuara saat ia melangkah melalui lorong meskipun ada sesuatu dalam keheningan yang membuatnya melambat dalam langkahnya.

Saat ia melewati koridor kecil, matanya menangkap sesuatu hal yang menarik perhatiannya selama ini. Pintu kamar Sora sedikit terbuka dan celahnya itu cukup untuk mengintip ke dalam kamarnya.

Mata Vael mulai melirik ke arah celah pintu kamar Sora itu dan ia terkejut karena sekilas ia melihat melalui celah kecilnya itu, melihat apa yang tak dapat disembunyikan oleh keheningannya.

Dua sosok sedang meringkuk di bawah selimut dengan kulit mereka berdua yang saling bersentuhan dalam cahaya keemasan pagi.

Rambut Kaelith yang terlihat kusut di lengan Sora yang kepalanya itu di atas bantal yang empuk dan alis Kaelith menempel lembut di lekuk lengannya yang membuat tangan Sora dijadikan sebagai bantalannya, seolah-olah saat ia tidur pun ia memilih untuk dekat dengan seseorang yang dicintainya dan tertidur di sampingnya itu.

Tidak ada ketegangan di antara mereka berdua dan juga tidak ada rasa bersalah melainkan hanya berbagi kehangatan untuk mereka berdua saat ini.

Vael yang melihat mereka berdua melalui celah pintu itu hanya bisa tersenyum bukan karena menggoda tetapi karena pengertian yang begitu tenang.

\"Sudah waktunya, kurasa.\" Bisiknya itu dengan nafasnya yang pelan melalui hidungnya.

Dengan gerakan yang hati-hati itu, ia mengulurkan tangannya untuk menutup pintu kamar Sora hingga tertutup dengan lembut tanpa bersuara dan membiarkannya tertutup selembut mungkin.

Tanpa menggoda dan juga tanpa suara biarkan mereka menikmati momen ini untuk sekali saja. Vael berjalan menuju kamarnya dengan sepatunya kini dilepaskan dan dibawa oleh tangannya untuk menghindari derit lantai kayu pondok itu.

Saat ia mencapai tempat tidurnya dan akhirnya ia berbaring di kasur dengan tenang dan sekali lagi sebelum Vael memejamkan matanya, ia melihat ke arah jendela kamarnya kini fajar mulai memancarkan sinarnya ke dunia ini dan perang yang akan datang bisa menunggu untuk hari ini saja baginya dan untuk saat ini saja, biarkan keheningan di pondok ini tidak membebani dari keheningan itu memang pantas untuk didapatkan.

Dan Vael seperti seorang penjaga di masa lalunya itu, akhirnya membiarkan dirinya beristirahat di atas kasurnya.

Kehangatan siang hari menyusup pelan melalui tirai kamar Sora yang memantulkan sinar ke lantai kayu yang sunyi di pondok itu.

Angin berbisik samar melalui jendela yang terbuka dan membawa aroma dari kota di seberang sana akan aroma roti segar, bunga musim semi, serta suara obrolan dari kejauhannya. Sora pada akhirnya terbangun dari tidurnya itu mulai beranjak dari tempat tidurnya.

Nafasnya lambat pada awalnya begitu dalam dan lega hingga matanya itu kini terbuka sepenuhnya.

Selimut di sampingnya telah bergeser yang kini sekarang kosong akan kehangatan itu masih ada tetapi tidak lagi diisi oleh orang yang tidur di sampingnya tadi malam.

Dia duduk perlahan di tepi kasurnya, otot-ototnya terasa sakit dengan cara yang sudah dikenalnya dan bekas luka di punggungnya terasa bergeser saat dia meraih kemejanya untuk dikenakannya.

Ruangan itu masih membawa aromanya seperti aroma bunga yang bercampur dengan wangi parfumnya.

Sesuatu yang lebih tajam, seperti cahaya bulan yang tersangkut di jajaran bintang-bintang yang telah memudar. Sora mengusap rambut cokelatnya dengan tangannya itu, terdiam sejenak lalu berdiri dari tempat duduknya itu yang sudah berpakaian dengan rapi dalam keheningannya.

Pintu kamarnya berderit saat dia mendorongnya terbuka dengan suaranya yang lembut dalam keheningan siang hari.

Dari lorong, desisan lembut bisa terdengar dan membuat dirinya itu melangkah ke dapur yang di mana asal suara itu berasal.

Dan di sanalah dia, Kaelith yang sedang berdiri di depan tungku perapian batu kecil dengan lengan bajunya digulung dan rambutnya yang diikat dengan acak-acakan menjadi sanggul longgar yang membiarkan beberapa helai rambut keemasannya jatuh di lehernya.

Kaelith bergerak dengan sangat mudah yang seperti ia sudah terbiasa dengan mengaduk dan mencicipi hasil masakannya dengan ujung sendok kayu yang dipegangnya itu.

Kaelith tidak memperhatikan belakangnya itu ketika Sora hanya memerhatikannya saja dari pintu dapur itu.

Sora berhenti di ambang pintu, lalu melangkah pelan ke meja makan dan duduk dengan siku di meja makan meletakkan dagunya di telapak tangannya saat ia hanya memperhatikan Kaelith yang sedang memasak itu.

Ada sesuatu tentang dirinya di sana tidak terjaga, elegan, dan berseri-seri dalam kesederhanaan yang membuat waktu begitu terasa lambat.

Lalu,

“Selamat pagi, sepasang kekasih.”

Kaelith membeku seketika ketika mendengar perkataan itu dari belakangnya.

Suara itu datang dari pintu dapur dan Vael dengan lengan terlipat dan bersandar di sisi pintu dapur hanya bisa seringai puas tersungging di sudut mulutnya.

Bajunya yang longgar dan rambutnya sedikit acak-acakan karena tidur tetapi matanya tajam seperti biasa.

Kaelith tidak menghiraukan ucapannya itu dengan mencoba untuk menyembunyikan lehernya yang sudah memerah sebelum wajahnya itu.

“…Diam, Vael.” Gumamnya tanpa melihat ke belakangnya.

Vael melangkah masuk ke dapur dan mengambil apel dari meja makan.

“Aku hanya bilang, ini hari yang indah, bukan? Makanan di dapur dan suara seseorang yang tidak mondar-mandir di tengah malam sepertinya.”

Sora memiringkan kepalanya yang mendengar nada bicara Vael dengan kebingungan yang sudah jelas tidak mengerti maksud tersiratnya tetapi Sora tetap tenang dalam membaca kondisinya itu.

Tak lama setelah itu,

“Selamat pagi, sayangku.”

Pintu depan berderit terbuka dan Namien masuk dengan lengannya terentang seperti tuan rumah memasuki kedainya dan dia menyeringai lebar melihat pemandangan di depannya ketika sampai di ambang pintu dapur pondok itu.

Kaelith berbalik dengan cepat dan setengah ketakutan yang di mana sendok kayunya masih di genggam oleh tangannya.

“Ada apa dengan kalian berdua?!” Tanya Kaelith dengan emosi kepada Namien dan Vael itu yang sudah mulai menjahili Kaelith.

Namien membungkuk pura-pura kepadanya. “Tidak ada. Kami hanya mengagumi perubahan mendadak dalam rumah tangga dan juga drama yang dilanda di tengah-tengah perang ini.”

Vael bersandar di kursinya itu yang sudah jelas menikmati setiap detiknya akan momen ini. “Aku selalu menduga dia bisa memasak.

Hanya saja tidak menyadari bahwa dia butuh inspirasi dari sosok yang ia pendam perasaannya saja di tingkatan tersulit itu.”

Wajah Kaelith mulai merah merona. “Aku akan menuangkan sup ini ke kepalamu, Vael.”

Namien hanya bisa tertawa puas. “Pastikan supnya panas, setidaknya.”

Sora yang hanya memerhatikan tingkah laku mereka duduk dengan tenang di kursinya dan menatap mereka bertiga dalam keadaan yang membuatnya benar-benar bingung tetapi memperhatikan reaksi Kaelith dengan saksama dan mata Sora bertemu pandang Kaelith yang melihat ke arahnya sekali dengan tatapannya yang gugup disertai bibirnya terkatup dengan rapat.

Sora hanya tersenyum melihat reaksi Kaelith itu dan Kaelith meskipun tidak suka akan hal itu, juga tersenyum bahkan saat dia kembali ke memasak masakannya dan bergumam pelan.

“… Dasar bodoh.”

Dan dalam kehangatan pagi yang sederhana itu dengan langkah kaki di pondok itu, suara-suara menggoda, dan aroma masakan Kaelith yang dimasak untuk semua yang berada di sana mengingat seperti apa rasanya kedamaian bahkan saat perang menanti di balik cakrawala yang penuh kedamaian itu.


Other Stories
Koper Coklat Ibu

Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Sudut Pandang

Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Download Titik & Koma