Bab Tiga Belas: Si Ular Berjubah Robek, Arsitek Keheningan, Dan Si Pendiam
Ruang perang di dalam kastel Elarion seperti bangunan kubah batu yang bercampur dengan api bergejolak yang ruangannya itu begitu lebar, berlangit-langit rendah, dan dipenuhi peta yang terbentang di atas mejanya di tengah-tengah ruangannya itu.
Ruangan itu seperti hidup dengan ketegangan yang dari setiap orang di sana dan diterangi oleh lentera gantung yang diisi dengan api sebagai lampu pijarnya menghasilkan bayangan-bayangan yang membentang seperti jaring laba-laba di atas model-model taktik yang direncanakan dengan beberapa tali yang terhubung dan tersebar di atas mejanya yang besar itu di tengah dengan penandanya.
Raja Aetheryn Velaros berdiri di ujung terjauh dengan tangannya yang berada di atas tumpuan kursinya dan tatapannya tertuju pada peta geografis di atas meja dengan memiliki banyaknya gambar perbatasan kerajaan yang mulai dari beberapa bukit, hutan, sungai, dan dataran terbuka di bagian selatannya.
Di sekeliling meja berdiri mereka berempat; Sora, Kaelith, Vael, dan Namien yang bergabung dengan beberapa orang yang berpengalaman dalam militer Elarion termasuk Komandan dari pasukan kerajaan Elarion hingga berkumpulnya beberapa prajurit yang sudah tua dengan pelindung bahu besi dan bekas luka di beberapa bagian anggota badannya.
\"Ini bukan pengepungan lagi, melainkan hal ini adalah sebuah proses pelahapan yang kita sendiri tidak bisa menghadapi makhluk selain dari manusia yang menginginkan sebuah penaklukan. Kita menghadapi makhluk yang bergerak seperti gelombang pasang yang didorong oleh hal tersebut melebihi dari rasa lapar dan haus akan darah pertempuran.\" Kata salah satu komandan pasukan kerajaan Elarion itu dengan nada datar.
Raja Aetheryn memulai pembicaraannya dengan suaranya tegas. “Namun kita akan memilih untuk bertahan di tempat ini demi mempertahankan apa yang ada di dalamnya.”
Vael yang memerhatikan kondisi tersebut mulai melangkah maju ke dekat meja dan jari-jarinya mengetuk tepi peta yang diukir.
“Bagaimana geografi lintasan selatan? Perkiraan dari mana mereka akan memasuki wilayah kerajaan nantinya? Dan, di mana tempat terbaik untuk menghentikan pergerakan mereka sebelum mencapai gerbang utama kerajaan ini?”
Komandan itu mulai mengangguk dan menunjuk dengan tangannya. “Ada lintasan sempit di sini.”
Dia mengetuk pada bagian lembah curam di bagian selatan yang menjadi jalan satu-satunya masuk ke dalam wilayah kerajaan Elarion itu.
“Valecrest Ridge. Hutan di satu sisi dengan tebing di sisi lainnya. Jika kita meruntuhkan jembatan yang terbuat dari bebatuan dan menarik mereka ke dalam corong, kita dapat memisahkan kavaleri dari infanteri pasukan mereka. Ideal untuk taktik penyergapan namun, memerlukan waktu yang sangat lam untuk menghancurkan jembatan itu dalam waktu yang sudah dekat dengan peperangan ini.”
Mata Vael mulai menyipit. “Baiklah kalau begitu, di situlah nanti aku akan berada. Berikan saja aku dua divisi pengguna tombak dan perisai. Aku akan membuat sebuah pertahanan yang bisa membuat mereka berdarah sebelum hancur nantinya.”
Kaelith melipat tangannya dan mengamati bagian geografis peta kerajaan Elarion mulai dari dinding luar kerajaan Elarion pada tanda yang menonjol itu. “Berapa banyak pemanah yang kau miliki saat ini?”
“Empat ratus orang terlatih namun, hal itu bisa ditambah dengan dua ratus lainnya yang bisa direkrut dari para pemburu yang ada dalam kerajaan ini.” Jawab komandan itu.
Alis Kaelith terangkat dan memberikan pendapatnya. “Itu sangat tidak cukup untuk dijadikan sebagai pertahanan di garis akhirnya dan membantu serangan dari belakang tembok dan garis lapangan medan peperangan nantinya. Peralatan pengepungan apa saja yang kau miliki untuk pertahananmu di tembok gerbang depan itu?”
“Tiga balista. Dua sudah siap pakai namun, yang satu lagi perlu diperbaiki.”
Kaelith hanya mengangguk sekali dan memahami kondisinya itu. “Aku akan memimpin barisan pemanah dari tembok. Aku ingin jangkauan di setiap tikungan buta dan untuk balista di tembok gerbang depan, hadapkan ke arah barat dan punggung bukit selatan dan mungkin, aku juga akan melatih para pemburu dengan diriku sendiri.”
Namien mengetuk bagian tepi peta dengan tangannya.
“Kau masih belum memberi tahu kami berapa banyak yang kami butuhkan jumlah pasukan kalian saat ini. Aku ingin tahu jumlah keseluruhan pastinya agar aku bisa mengatur keseluruhannya dan memikirkan strategi bertahan serta taktik yang akan digunakan untuk semuanya itu!”
Komandan itu tak bisa mengelak permintaan Namien dan memasang ekspresi yang tampak muram ketika permintaan itu mulai terdengar.
“Maafkan aku sebelumnya, menurut catatan kami memperkirakan memiliki lima batalion atau mungkin lebih dengan jumlah keseluruhan infanteri, pasukan berkuda, dan pemanahnya sebanyak 10.000 orang saja yang masuk ke dalam data kami termasuk dengan pemburu yang dijadikan pemanah nantinya. Kami tidak memiliki bangunan menara pengepungan namun terdeteksi jejak sihir di sepanjang dasar sungai barat. Sesuatu yang gelap dan mungkin penyalur yang rusak dari musuh kita saat ini dari informan kami yang mengintainya.”
Nada bicara Namien menurun perlahan ketika hendak berbicara terkait hal itu. “Kalau begitu, kita tidak bisa menunggu lagi dan kita harus mempersiapkannya sebelum mereka membentuk barisan pasukannya nanti yang saat ini tak diketahui berapa banyak jumlah mereka pastinya itu. Gunakan lanskap dan pengetahuan yang kalian miliki secara menyeluruh serta aku butuh akses ke Aula Taktis sekarang juga dan Arsip Flamebound. Apa pun yang pernah kalian rekam jejak kalian selama peperangan sebelumnya yang pernah terjadi di dekat Hollow Expanse atau di daerah lainnya selama kerajaan ini masih berdiri sebagai pengalamannya dalam medan peperangan sebelumnya dijadikan sebagai sebuah pembelajaran dan riset.”
Raja Aetheryn mengangguk. “Baiklah, turuti permintaan Namien Solis ini dan lakukan apa yang dia katakan itu.”
Kemudian sang komandan mengalihkan perhatiannya ke keempat orang itu dengan penuh takjub. “Pengetahuan kalian adalah pengalaman kalian yang kami inginkan lebih dari sekadar saran bagi kami saat ini.”
Komandan itu berjalan mengitari meja perlahan-lahan dan memperhatikan mereka berempat masing-masing itu.
“Kami ingin kalian memimpin pasukan kami di setiap divisinya dan untuk Tuan Namien Solis, kami menginginkan Anda sebagai juru kunci ahli taktik kami dalam medan pertempuran nantinya.”
Komandan itu mulai menoleh ke arah Sora dan Vael. “Kalian berdua akan memimpin batalion garis depan dengan unit infanteri dan kavaleri. Misi kalian adalah mengganggu, menyebar, menghentikan serangan kavaleri musuh, dan mencekik pergerakan melalui celah bukit ini untuk melakukan penyergapan di barisan depan nantinya.”
Lalu komandan itu menoleh ke arah Kaelith, “Dan aku ingin kamu memimpin barisan pemanah di bagian belakang sebagai pertahanan terakhir dan sebagai pembantu serangan dari jarak jauh untuk garis depan nantinya. Pertahankan tembok yang menggunakan balista sebagai alat pertahanan tembok dan para pemanah hingga pemburu yang ditempatkan dalam posisi itu akan mengikuti perintahmu.”
Dan kepada Namien, “Taktik dan penempatan pasukan menjadi tanggung jawabmu. Kami akan mengikuti arahanmu dalam penempatan di medan perang. Ada api atau tidak, pikiranmu tetaplah salah satu yang paling tajam yang pernah dimiliki kerajaan ini.”
Dan setelah dari keputusan Raja Aetheryn buat dan pernyataan dari salah satu komandannya itu membuat seisi ruang dipenuhi keheningan yang panjang dan tidak ada yang keberatan dengan keputusan yang mungkin sudah dibuat itu dan apakah ada perubahan nantinya.
Sora yang mendapatkan mandat itu hanya mengangguk dengan pelan, mantap, dan yakin akan tugas dan posisi yang telah diberikan kepadanya.
Vael yang sudah lama tidak berpartisipasi dalam peperangan yang berskala besar ini setelah kerajaan Borreal sudah hancur dan runtuh itu, mulai mengepalkan tangannya sebagai tanda penerimaan tugas ksatria dari kerajaan lain yang membantu kerajaan lainnya dalam tugas dan posisinya.
Kaelith menghela napas panjangnya lalu mengangguk dengan pelan. “Akan kupastikan anak panah mereka tepat mengenai sasaran setidaknya.”
Namien mengangkat bahu dengan senyum tersungging di bibirnya. “Yah… sepertinya aku kembali ke titik awal sebagai sang peramu rancangan taktik dan strateginya untuk ke depannya. Jangan membuat diriku menyesali untuk nantinya.”
Raja Aetheryn melangkah maju dengan suaranya jelas berkata, “Kalian punya waktu dua bulan. Manfaatkan waktu itu dengan baik untuk menempa, melatih, dan merencanakan setiap hal yang diperlukan untuk kondisi ke depannya nanti. Saat waktunya telah datang bagai air laut yang mengalami pasang naik, orang-orang Elarion akan mengandalkan kalian sebagai pelindung untuk tempat tinggal mereka.”
Tatapan sang Raja jatuh pada Sora dan ada sesuatu dalam nada suaranya yang melembut ketika melihat Sora yang hanya memperhatikan kondisi tersebut tenang dalam keheningannya namun, tajam dari apa yang dilihat sang Raja kepadanya.
“Biarkan mereka melihat apa yang kau bisa lakukan dalam keheninganmu itu ketika kesunyianmu itu berdiri dengan tegak dan membungkam mereka yang mencari pertumpahan darah dalam kedamaian yang kami inginkan, si pendiam.”
Di luar ruangan, lonceng ibu kota berdentang sekali dengan nyaring suaranya yang menunjukkan waktu siang hari di tempat itu dan kota itu akan segera memulai persiapannya dalam mempertahankan ancaman dan bahaya yang datang dari luar tembok kota itu namun, di dalam hati keempat orang yang terpilih itu terdapat irama atau sebuah alunan musik perang telah berdengung di telinga mereka yang sudah dimulai sebelum puncaknya itu.
Matahari mulai terbenam di balik menara Elarion saat mereka kembali ke pondok dengan warna langit yang kini berwarna keemasan di setiap jalanan Elarion telah berubah menjadi kuning keemasan dan ketegangan masih menggantung di bahu hingga benak mereka seperti beban yang diberikan dan sebuah tanggung jawab yang seharusnya tak dimiliki itu.
Mereka masuk ke dalam pondok dengan keadaan diam bukan karena lelah tetapi, karena fokus apa yang akan mereka hadapi nantinya untuk mempersiapkan apa yang akan terjadi nantinya.
Saat pintu depan tertutup perlahan, Namien adalah orang pertama yang membuka pembicaraan di antara mereka itu.
“Kita perlu bicara sekarang.”
Yang lainnya mendengar perkataan Namien itu mulai berkumpul di ruangan tengah dan mengitari di sekitar meja.
Sebuah peta replika yang mirip dengan peta di dalam ruang diskusi tadi dibuka oleh Namien yang membawanya itu dengan bercak tinta hitam dan ditandai dengan beberapa coretan dari tintanya itu.
Posisi, jejak sungai, dan garis-gari yang sebagai jalannya itu sudah terbentuk di atas petanya mengenai geografis detailnya dan Namien berdiri di tepi meja dengan lengan terlipat ke belakang punggungnya serta alisnya mulai berkerut karena memikirkan beberapa taktik yang ingin digunakannya dalam formasi bertahan itu.
“Kita hanya diberi waktu dua bulan untuk mempersiapkannya dan hal itu tidak cukup untuk menempa resonansi dengan penuh antara tentara yang termasuk dalam pasukan kerajaan dan para pemburu nantinya yang tidak termasuk dalam kerajaan yang sudah terlatih itu. Tidak cukup untuk memperkuat di setiap titik pasukannya bila diposisikan di sepanjang tembok selatan dan di dalam pasukan garis depan nantinya bahkan, tidak cukup untuk menstimulasikan formasi yang pertempuran sesungguhnya itu akan dimulai dalam waktu tersebut. Mustahil bagiku untuk memperhitungkan segala kemungkinan strategi yang ingin dipakai dalam mempersiapkannya dengan keterbatasan waktu dan apa yang dimilikinya saat ini.”
Vael mencondongkan tubuhnya ke depan dan tangannya mulai menekan di atas meja.
“Kau pernah melihat peluang yang lebih buruk sebelumnya, bukan? Dan kau selamat dari yang lebih buruk.”
Namien mengangguk dengan pelan dan ekspresi wajahnya terlihat serius.
“Ya. Tapi, setiap kali aku mempunyai lebih banyak waktu dari ini tentunya untuk memuluskan apa yang ada dan itulah yang membuatnya bisa bertahan hingga kau bisa melihatku di sini.”
Kaelith menyilangkan lengannya dan matanya menyipit ke arah peta di atas meja itu.
“Jadi, kami melakukan apa yang kami bisa menurutmu begitu, bukan? Melatih para pemanah yang masih belum andal dalam menempatkan sasarannya dan menghancurkan hingga membangun kembali mental dan kesiapan para pejuang yang paling lemah dalam pasukan yang memfokuskan pada keunggulan medan tentunya. Dan kau Namien, apakah kau menginginkan hal itu dari kami tentunya?”
Namien terdiam beberapa saat dan tak lama dari itu ia mengangguk pelan terhadap perkataan Kaelith tadi.
Kemudian, jarinya bergerak melintasi peta dan menelusuri pada bagian punggung Bukit Valecrest yang di mana tempat tebing sangat curam ke arah garis hutan yang terlihat cocok untuk menempatkan jebakannya dan tempat untuk sebagai jalan transportasi yang menggunakan jembatan bebatuan itu untuk melintasi jurang bergerigi itu yang menghubungkan jalannya dengan bagian daerah selatannya itu.
Namien mulai mendongak dan melihat satu persatu ke mereka bertiga itu dan ada sesuatu yang tajam di matanya seperti sebuah ide yang bagus baginya bila dilakukan setelah mengamati beberapa medan perang nantinya itu dengan beberapa keuntungan geografisnya itu.
“Kita tidak perlu memenangkan seluruh perang dalam satu serangan atau bertahan selama kita bisa. Namun, kita hanya perlu melumpuhkan serbuan mereka yang akan mendatangi kita dengan menciptakan kekacauan di antara barisan mereka dan mematahkan momentumnya itu.” Katanya dengan nada suara liciknya mulai keluar dari mulutnya yang sudah menjadi khasnya.
Selama dirinya ditunjuk sebagai ahli strategi sekian lamanya itu.
Sora yang heran dengan perkataannya akan caranya itu mulai mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan rasa penasaran akan ide Namien itu dan mulai mendengarkannya dengan seksama.
Namien mengetuk peta di bagian punggung bukit. “Kita tarik mereka ke titik ini pada daerah yang memiliki hamparan tanah yang persis dalam peta ini dan tempat ini tentunya memiliki beberapa tanah yang tandus, semak-semak kering, dan medan tanah yang retak itu yang cukup sempit untuk menyalurkan pasukan mereka untuk diarahkan ke tempat ini sebagai medannya nanti.”
Kaelith mengerutkan kening dan mulai menangkap apa yang dimaksud oleh Namien itu. “Kau ingin menjebak mereka semua di sana, begitu?”
Namien mengangguk pelan dan seringai khasnya muncul. “Tidak semuanya tapi sebagian besar dari mereka saja dengan sedikit api untuk melumpuhkan mental mereka tentunya.”
Yang lain terdiam ketika mendengarkan rencana Namien itu akan perangkap yang dia usulkan. Namien melangkah mundur dan mulai mengitari mereka bertiga dengan pelan.
“Mereka datang sebagai satu massa binatang, manusia yang telah lama mati, buas, liar, dan apa pun itu. Namun, kekuatan sebesar itu tidak dapat melihat apa yang akan menembus dirinya sendiri jika kita memicu api yang terkendali di kedua sisi corongnya dan kita mengendalikan juga penglihatan mereka ketika mereka telah masuk dalam asap yang menjadi kobaran api bagi mereka nantinya. Kita mendorong mereka maju terlebih dahulu dengan lebih keras dan ketika mereka sampai di tempat terbuka itu yang sudah kita basahi dengan tar dan minyak, kita menyalakannya dengan api dan membuat mereka semua menjerit akan panasnya api itu.”
Vael mengangkat alis ketika mendengar idenya itu. “Menarik. Tapi, bagaimana dengan yang masih selamat itu?”
“Kita membakar mereka di tempat terbuka itu dari dalam. Begitu mereka berada di tengah, kita mendekat dari sisi-sisinya. Tidak ada jalan mundur bagi mereka tentunya dan tidak ada juga tempat berkumpul kembali bagi mereka yang sudah termakan kobaran api yang sudah disiapkan untuk pesta mereka. Seperti semut yang terjebak dalam lingkaran bensin yang sudah terbakar oleh api.”
Mata Kaelith menajam dan tak menyangka bahwa rencana Namien begitu di luar akal sehat baginya. “Itu brutal dan sama sekali tak bisa dimaafkan.”
Namien menatapnya dengan serius dan membantah pernyataannya itu. “Ini perang. Lebih baik membakar semak-semak kering dan memanfaatkan keadaan di sekitarnya untuk mendapatkan kemenangan yang diraih daripada membiarkan mereka membakar rumah-rumah dan membantai para penduduk dan kita yang lainnya mencoba untuk mempertahankan semuanya ini. Pikirkan lagi mengenai hal itu dan camkan hal itu di benakmu ketika kau berada di situasi saat ini.”
Sora hanya bisa mengangguk pelan dan memahami apa yang dimaksud oleh Namien dengan rencananya walau Kaelith mengatakan hal seperti brutal dan tak bisa dimaafkan jika menggunakan jebakan itu terhadap manusia tentunya dan Namien melakukan hal itu dengan tanpa ragu atas apa yang ia rencanakan.
Dia mengerti arti dari konsep sebuah perang yang ada di balik pemahaman Namien saat ini yaitu: ketepatan dalam menyusun rencana dan eksekusi rencana dengan pertimbangan risiko yang membebani moral pasukan di kedua belah pihak juga.
Vael melipat tangannya dan menanyakan mengenai rencana Namien tadi.
“Bukankah hal itu memerlukan pengaturan waktu yang tepat dan harus dilakukan sebelum-sebelumnya seperti orang yang mengeksekusi rencana ini membutuhkan sinyal atau tanda tertentu tentunya seperti sinyal dengan menggunakan asap sebagai alat komunikasinya, formasi barisan yang tertata dengan rapi untuk menjalankan rencananya, dan juga para pemanah kita harus memahami arti dari sinyal yang diberikan oleh orang-orang yang mengetahui arti dari sinyal itu yang akan mengeksekusi rencanamu tadi seperti penggembala yang menggiring ternaknya dalam satu tempat.”
Kaelith menambahkan beberapa poin penting dari Vael sebutkan tadi, “Ballista di tembok pertahanan juga dapat menembakkan busur api untuk membuat garis pasukan musuh terputus dan kehilangan keseimbangannya. Serahkan kepadaku mengenai pasukan pemanah dan aku akan melatih mereka untuk menembak dengan ketepatan yang kau inginkan dan mendorong mereka ke tempat yang sudah kau sediakan nantinya sebagai jebakan yang kau rencanakan itu.”
Namien menatap mereka masing-masing dengan penuh keyakinan hingga ia menghela napasnya ketika mereka mendukung rencananya itu dan ia kini duduk di kursi dekatnya dan mulai bersandar sambil menatap kembali peta yang digelarnya itu di atas meja.
“Itu masih tahapan rancangan kasarnya dan tidak bersih. Mungkin hal itu tidak terhormat bagi kalian yang masih memegang teguh dari prinsip sebagai manusia atau sebagai pejuang di garis depan atau belakang tentunya tapi, hanya itu saja satu-satunya cara kita dapat mengulur waktu untuk mematahkan momentum mereka dalam sekejap dan membalikkan keadaan yang tak bisa kita tentukan dalam medan perang untuk bertarung mempertahankan di tanah kita pijak saat ini tentunya.”
Tidak ada yang membantah perkataan Namien karena apa yang dikatakan benar sepenuhnya dan keheningan di antara mereka bukanlah keraguan melainkan hal itu adalah komitmen yang terbentuk dari segala risiko dan peluang yang mereka miliki saat ini dan juga mereka tidak membutuhkan pahlawan untuk mengeksekusi rencana yang terbilang kotor itu.
Mereka hanya membutuhkan percikan saja untuk menjalankan rencana yang telah dibentuk itu agar memenangkan pertempuran yang mereka tak inginkan tentunya.
Dan ketika matahari terbenam seutuhnya dan digantikan oleh gelapnya malam itu, mereka yang sudah menyelesaikan rencananya baru saja tadi sore tapi mereka semua yang berada di sekitar area meja itu hanya terdiam dan masih memikirkan beberapa variabel lainnya dalam mengeksekusi rencana Namien itu karena Namien sendiri dan yang lainnya berpikir ada sesuatu yang kurang dalam rencana ini ketika dijalankan nantinya.
Api di perapian telah meredup menjadi cahaya yang begitu lembut dan menghasilkan bayangan yang tengah menari-nari di atas meja itu dan tempat peta yang sudah dipenuhi oleh beberapa tanda-tanda dan juga beberapa benang yang terikat di antaranya pada lokasi Elarion yang terbentang di sepanjang petanya. Namien baru saja selesai menguraikan rencananya perangkap api untuk mematahkan gerak maju musuh dan ruangan menjadi sunyi saat beban strategi itu menimpa mereka karena kekurangan variabel yang mungkin saja terlewatkan oleh mereka.
Kemudian di tengah-tengah keheningan mereka yang memikirkan apa yang kurang dari rencana Namien itu, Sora tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya yang terlihat ia menemukan sesuatu untuk melengkapi rencana Namien yang mereka pikirkan akan kelengkapannya itu.
Tanpa sepatah kata pun, Sora berjalan keluar dari pondok itu ke halaman depannya dengan udara malam yang berhembus dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, pintu berderit terbuka lagi dan ia kembali dengan kedua tangannya yang dipenuhi sekumpulan batu dan kerikil kecil yang beberapa di antaranya itu ada yang seukuran dengan telapak tangannya.
Sora berjalan ke meja di mana peta itu terbentang di sepanjangnya dan dengan hati-hati ia menyingkirkan salah satu penanda formasi yang diletakkan oleh Namien sebelumnya yang membuat Namien sendiri kebingungan dan heran melihat tingkah laku Sora dan ia mulai meletakkan beberapa batu-batu itu dengan tenang yang ia ingin sampaikan kepada yang lainnya tengah memperhatikan tingkah lakunya itu.
Sora meletakkan satu batu di beberapa tempat dan beberapa di sepanjang tepi selatan tempat perangkap yang disiapkan Namien sebagai lokasinya itu.
Dua batu yang bergerombol bersama itu mengarah ke tengah medan tempat Namien menandai perangkap itu dan kemudian Sora mulai memberi isyarat yang di mana ia menarik jarinya dari tepi luar medan seperti meniru kekuatan yang bergerak dan melengkungkannya ke arah jalur umpan yang telah dibentuknya.
Jejak umpan yang dimaksudnya itu dengan tangannya yang bergerak cepat untuk mengisyaratkan sinyal asap atau tanda yang mengepul untuk alat komunikasinya dan menunjuk ke arah tembok pertahanan dan gerbang depan Elarion itu yang nantinya tempat itu diisi beberapa para pemanah yang dipimpin oleh Kaelith menjadi pemicu dari reaksi ide Namien yang melibatkan dengan api itu.
Kemudian, Sora menunjuk dirinya juga menunjuk Vael dan tangannya bergerak lagi dengan tegas tetapi, terlihat dengan jelas bahwa ketika saat sinyal asap sudah mengepul sebagai tandanya, para pemanah dari tepi punggung bukit itu akan menembakkan dan menghujani anak panah mereka dengan api dan kebingungan di antara pasukan musuh yang sudah terperangkap itu akan menyadari setelah mereka terkena jebakannya yang sudah membakar mereka menjadi abu hingga hangus itu.
Kemudian muncul gerakan dua sosok dari dalam hutan yaitu dirinya sendiri dan Vael memimpin pasukan di sisi melalui tepi yang melengkung karena api menuju musuhnya itu yang terjebak dalam kobaran api kini formasinya telah tercerai-berai.
Namien melihat hal itu dengan perlahan-lahan memahami maksud Sora yang usulkan dengan tangannya yang disilangkan ke dadanya itu dan menyaksikan semuanya hingga terungkap dan paham apa yang dimaksud oleh Sora itu.
“Kau menggunakan tipu daya unit umpan depan bukan untuk menarik mereka ke garis depan melainkan untuk menarik mereka langsung ke dalam perangkap sebelum mereka menyadari bahwa mereka keluar dari jalurnya dan formasi yang telah dibentuknya itu.” Gumam Namien dengan takjub akan pemikirannya.
Kaelith yang tertarik dengan perkataan Namien yang menafsirkan apa yang Sora maksudkan itu mulai mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke meja dan matanya menatap batu-batu di atas peta itu.
“Mereka akan mengira barisan depan akan hancur atau melarikan diri dan ketika mereka mengejar dalam jumlah banyak, itulah saat mereka melihat garis api yang kita buat—”
“—Dan mereka sudah terjebak di dalam kobaran apinya.” Vael menyelesaikan perkataan Kaelith itu dengan matanya menyipit karena kagum akan jebakan yang terlihat sempurna bagi rencananya itu.
“Cerdas sekali. Formasi mereka akan meregang dan runtuh tanpa disadari bahkan oleh mereka sendiri.” Ujar Namien dengan terkekeh terhadap Sora yang sedari tadi diam.
Namun, ia melengkapi dari sebuah rencananya itu dengan manis sebagai pembuka dan penutup dari rencananya itu.
Sora hanya mengangguk sekali akan setuju bagaimana Namien katakan atas maksudnya itu.
Namien melihat hal itu hanya bersiul pelan dan kekaguman yang dipenuhi rasa senang.
“Kau mungkin tidak berbicara sepanjang waktu atau selamanya tapi, entah bagaimana kau bersuara lebih keras dari kebanyakan ahli taktik yang pernah kutemui dalam hidupku.”
Sora hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari Namien itu.
Kaelith yang tak tahu apa lagi yang harus ia katakan, ia hanya menyeringai dengan lengan disilangkan.
“Jadi kita hanya perlu memancing mereka, menjebak mereka di tempat yang sudah direncanakan itu, membuat mereka kebingungan di saat mereka tergiring suatu tempat yang sudah dibasahi oleh minyak dan tar itu, lalu langkah terakhirnya adalah menghancurkan mereka dari dalam dengan membakarnya hingga menjadi abu hingga hangus.”
“Cukup bersih bagiku untuk menyelamatkan apa yang kita pertahankan dan kita menyerang mereka itu sebelum senjata mereka mencapai gerbang depan.” Kata Vael dengan penuh semangat.
Namien melangkah mundur dari meja di depannya itu dan sekali lagi ia melihat gambaran lengkapnya sekarang yang di mana perangkapnya diperkuat dengan tambahan ide dari Sora yang tidak bersuara itu.
“Baiklah, Kita punya api, kita punya umpan, dan sekarang kita punya kail untuk menarik mereka.” Katanya dengan menaruh tangannya di bawah dagunya itu.
Mereka berempat berdiri dari tempat duduk mereka hanya beberapa saat untuk menatap susunan rencana di peta itu dengan batu-batu kecil dan penanda kayu tetapi, dalam pikiran mereka sudah dicat dengan api, baja, dan darah dari rencana yang telah dibuat itu.
Hanya 2 bulan saja dan hanya itu waktu yang mereka punya saat ini untuk mempersiapkan keseluruhannya namun, di malamnya strategi mereka telah menjadi tujuan dan kunci dari medan peperangan yang telah menanti mereka dan ketika gelombang pasang menerjang Elarion, kota itu tidak akan lengah oleh ancamannya.
Keesokan paginya dengan langit dipenuhi warna biru dan kuning keemasan dari cahaya mentari paginya itu.
Lonceng dari menara atas Kastel Elarion bergema di seluruh kota menandakan panggilan untuk para pejuang perang berunding di dalam ruang perang strategis yang mereka perbincangkan sebelumnya itu dengan peta yang sama sebelumnya diletakkan di atas meja di tengah ruangan itu yang kini mendominasi bagian tengah ruangan dengan tata letaknya sudah di replikasi secara penuh dengan penanda tambahan, spanduk berwarna, dan formasi yang sudah berlabel itu.
Raja Aetheryn duduk di ujung ruangan seperti biasanya dengan diam dan tenang diapit oleh para jenderal terbaiknya dan komandan terdekatnya.
Pria dan wanita dengan baju besi yang matanya memikul beban puluhan operasi militer di sepanjang pembahasan ruangan itu dan mereka menaruh perhatian yang tertuju pada empat sosok kini berdiri di depan peta, yaitu: Namien, Kaelith, Vael, dan Sora.
Untuk pertama kalinya, Namien memasang ekspresi serius tanpa humor dan gaya santainya itu yang menunjukkan betapa seriusnya kondisi dari persiapan yang telah dibuatnya dan beberapa kemungkinan yang akan terjadi selama perang berlangsung dalam pembahasan kali ini di ruangan itu.
Namien melangkah maju dan memulai penjelasannya.
“Oke, sebelumnya kita tarik mereka ke Valecrest Ridge untuk menahan mereka dan mengurangi jumlah pasukan yang mereka punyai itu dengan geografis di tempatnya yang medannya kering dan retak itu dan diapit oleh hutan yang tebal dan tebing dangkalnya. Kami menempatkan pemanah dan beberapa pasukan infanteri di area ini untuk melakukan pengepungan di sepanjang tikungan luarnya dan menipiskan barisan musuh sebelum mereka menembus tepi punggung bukit ini.” Katanya yang sambil menunjuk ke medan terpahat itu.
Kaelith mengangguk dan melanjutkan perkataan Namien tadi. “Saat kami melihat pasukan utama mereka maju, kami menyalakan garis tembakan di sini dan di sini.”
Kaelith menunjuk ke arah sisi kanan dan kiri dari tembok pertahanan dan gerbang depan Elarion yang dimaksud Namien.
“Panah api yang terkendali dengan anak panahnya yang basah oleh minyak dan api juga dipandu oleh angin yang berhembus di daerah itu. Kami membutakan mereka, mengisolasi pasukan mereka, dan menggiring mereka ke tengah perangkap yang sudah disediakan.”
Kemudian Sora melangkah maju dan dengan gerakan hati-hati, dia meletakkan beberapa batu putih di antara peta itu sebagai pendekatan musuh yang diharapkan mereka dan zona perangkap nantinya.
Namien menjelaskan penjelasan untuk tindakan Sora itu.
“Ini adalah rute umpan. Kami akan memancing barisan depan mereka dengan unit yang melakukan Fake Decoy untuk menarik perhatian musuh dan mengejar pasukan unit umpan ini yang tengah mundur untuk memikat mereka jatuh ke dalam perangkap. Begitu berada di dalam garis tengah, sinyal asap akan dilepaskan sebagai bentuk alat komunikasi eksekusi rencananya dan di saat itulah para pemanah kami yang di pimpin oleh Kaelith akan meluncurkan tembakan berujung api langsung ke tempat perangkap yang sudah disediakan.”
Vael menambahkan perkataan Namien saat Namien berhenti sejenak itu. “Dan saat itulah, Sora dan aku memimpin serangan dari samping sebagai pasukan penyergap. Infanteri dan kavaleri dari kami akan menyerang ke titik buta mereka yang di mana musuh kebingungan dan dikelilingi oleh kobaran api yang menutup penglihatan mereka dan menghancurkan sisa-sisa dari mereka.”
Keheningan panjang terjadi setelah mereka berempat mendemonstrasikan rencana yang diusulkan oleh Namien itu.
Para komandan yang berkumpul dan memerhatikan rencana mereka berempat itu mulai saling bertukar pandang.
Salah satu dari mereka, seorang pria dengan rambut abu-abu dan bekas luka melengkung di bawah matanya akhirnya angkat bicara.
“Dan bagaimana kau bisa yakin hal ini dapat memenangkan pertempuran nantinya walau kami melihat rencanamu ini memiliki peluang dengan kemenangan sebesar 95% di awalnya dan bagaimana dengan hasil akhir yang ingin kalian perkirakan itu? Dan Bagaimana dengan 5% lainnya?”
Pria itu menatap langsung ke Namien dengan pertanyaan setengah meyakinkan yang membuat Namien tidak bergeming akan peluangnya itu.
“Hal itu adalah bagian yang tidak bisa kita persiapkan dan prediksi untuk hasil akhirnya mungkin.” Katanya dengan pelan.
Namun, terdengar seisi ruangan itu hingga Raja Aetheryn mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengatakan dengan suaranya yang tenang.
“Jelaskan hal itu, tuan Solis!”
Namien menyilangkan lengannya.
“Setiap pasukan musuh yang pernah kita hadapi mengikuti pola seperti ambisi, balas dendam, dan hasrat akan penaklukan. Tapi yang ini… tidak bisa kita katakan mereka itu bergerak seperti ada yang mengendalikannya. Seperti ada sesuatu yang menyeret mereka ke depan untuk melancarkan sesuatu yang tak pernah kita bayangkan dengan akal sehat manusia sendiri.”
Alis sang Raja mulai terangkat dan terlihat kebingungan apa yang dimaksud oleh Namien itu.
\"Kau percaya mereka punya Turf Card, bukankah begitu? Maksudmu, kekuatan tersembunyi?\"
\"Tepat sekali, langkah terakhir sering kali yang menjadikannya sebagai penentuan akan segala hasil akhirnya. Sesuatu yang mematahkan pola dari rencana kita buat atau mungkin seseorang komandan dengan bakat yang tidak wajar yang dapat mengendalikan pasukan monster yang tak pernah kita lihat dalam kehidupan dunia ini selama Anda mengatakan bahwa yang kami lawan saat ini bukanlah manusia melainkan berasal dari The Deep Byond atau sesuatu yang tidak dapat kita duga yaitu sesuatu yang tidak dapat kita hadapi.\" Jawab Namien dengan tegas dengan melihat ke sekeliling ruangan dengan tatapannya yang serius itu.
\"Aku tidak akan mengatakan hal itu akan terjadi tapi, jika kita tidak bersiap untuk hal yang mustahil atau hal buruk yang mengubah skala medan pertempuran ini menjadi kacau dari yang kita tak bisa bayangkan itu. Maka, kita sudah kalah sejak awal sebelum pertempuran terjadi, Yang Mulia.\"
Keheningan di ruangan itu terasa menusuk ke dalam tulang setiap orang yang mendengar perkataan Namien itu.
Kemudian Raja Aetheryn perlahan berdiri dari tempat duduknya dan mengarahkan pandangannya ke seluruh peta, orang-orangnya, dan keempat orang yang telah melangkah maju dengan rencana yang dapat menyelamatkan kerajaannya beserta orang-orangnya.
\"Kita menerima strategi kalian yang usulkan tadi.\" Kata sang Raja dengan tegas dan ia menoleh ke komandannya dan berkata.
\"Mulai persiapannya! Sesuaikan posisinya, tugaskan para teknisi untuk konstruksi garis tembak dan penempatan balistanya. Kita berpegang pada rencana yang sudah diusulkan itu mulai dari umpan, perangkap, dan pelatihannya.\"
Raja Aetheryn menatap Namien sebelum mengakhiri diskusi di ruangan itu.
“Dan jika 5% itu datang…”
Namien hanya tersenyum tipis tetapi tidak ada humor di dalamnya. “Kalau begitu kita improvisasi saja. Sama seperti halnya, kita tengah berjudi nasib apakah keuntungan berpihak kepada kita atau kematian yang mengetuk pintu kita, Yang Mulia.”
Dan dengan akhir perkataan Namien itu, rapat pun diakhiri.
Di luar ruangan itu, bel berdentang lagi yang bukan lagi sebuah tanda panggilan melainkan sebagai peringatan peperangan akan datang.
Keesokan paginya setelah strategi perang mereka disetujui dan Elarion terbangun dengan urgensi baru, kota itu tidak lagi menunggu badai dengan tenang melainkan kota itu tengah bersiap untuk badai yang akan datang itu.
Di seberang halaman dan di sepanjang dinding luar, irama palu para penempa besi, latihan para perwira, dan perintah dari seorang pemimpin pasukan yang meneriakkan para prajuritnya dalam latihannya memenuhi seluruh isi kota Elarion seperti genderang perang yang ditabuhkan sejak awal.
Di lapangan latihan selatan kastel, Kaelith berdiri dengan tatapan tajam di bawah matahari yang mulai bersinar terik dengan di hadapannya sudah terdapat barisan pemanah baik dari veteran maupun pemburu yang tengah berusaha meraba-raba posisi memanah mereka, jari-jarinya yang mulai menarik tali busurnya, dan menembakkan ke sasaran yang meleset dari targetnya itu.
Membuat Kaelith bergerak di antara mereka seperti hantu yang sedang mengoreksi sudut pegangan mereka, mengencangkan tarikan tali busur mereka itu, dan meneriakkan perintah-perintah yang menyuruhnya untuk menembakkan ke target yang ia inginkan itu.
Rambut pirangnya diikat erat kini dan matanya semakin rapat akan mengawasi jalannya latihan yang diamanatkan kepadanya itu.
“Tarik napas dan lepaskan anak panah kalian ke target, bodoh!”
Itulah yang dikatakan Kaelith kepada mereka dalam sesi latihannya dan mereka mematuhi dan mendengarkan setiap ucapannya itu.
Tak jauh dari sana, di balik punggung bukit utara tempat lapangan latihan para infanteri dan kavaleri yang bertemu dengan tepi sungai.
Vael memimpin formasi infanteri dan kavaleri dengan suaranya terdengar seperti jenderal yang berpengalaman tetapi, tenang, saat ia menunjukkan cara mengencangkan garis pertahanan setiap prajurit yang membawa perisai, menambatkan tombak mereka ke arah target di depannya, dan menghancurkan formasi penyerangan dengan serangan cepat seperti kilat itu.
\"Bertahanlah sampai aku berkata sebaliknya dan jika kalian menyerah terlalu cepat, jebakan akan hancur bersamamu juga!\" Teriaknya dengan lantang.
Area latihannya itu dipenuhi juga dengan suara derap kaki kuda yang bergemuruh saat kavaleri mengulangi latihan serangan sayap mereka hingga keringat mereka mengalir seperti hujan di baju zirah dan kulitnya.
Vael tidak pernah kehilangan ritme dalam mengajarkan mereka itu dan di tengah latihan yang membimbing semua persiapannya ini.
Namien berada di tempat lain yang berdiri di tempat pengamatannya tengah mengamati gerakan di bawah matahari terik itu dengan mata yang mengamati latihan mereka dengan penuh perhatian.
Dan pada akhirnya, Namien menoleh ke sosok yang diam di sampingnya itu yang juga sama memerhatikan setiap latihan di hadapannya itu.
\"Sora, kau tidak butuh dalam latihan seperti ini melainkan kau adalah penentunya dari semuanya ini.\" Katanya dengan santai dan seringai khasnya muncul kembali.
Sora yang mendengar perkataannya itu mulai memiringkan kepalanya yang menunjukkan kebingungannya.
Namien hanya tersenyum tipis melihat reaksinya itu. \"Aku hanya ingin kau ikut denganku saja. Ada seseorang yang perlu kau temui dan aku juga ingin menemuinya dari sekian lama waktunya aku tak bertemu dengannya.\"
Namien berhenti sejenak dari perkataannya itu dan melanjutkan kembali perkataannya.
“Aku hendak menemui seorang mentorku dulunya dan ia kini menjadi teman bagiku.”
Hal itu menarik perhatian Sora atas perkataan Namien yang begitu bijak namun, nyeleneh bagi Sora.
Namien melanjutkan perkataannya kembali. “Dia tinggal di luar Elarion, di balik jalan setapak hutan tua. Jauh di dalam hutan dan tidak banyak yang tahu tentangnya. Mentorku lebih suka menyendiri dari hal-hal seperti itu tapi dia, berbeda yang kau bandingkannya sepertiku ini dan aku pikir kau akan mengerti mengapa aku membawamu ke sana saat kau bertemu dengannya nanti.”
Sora mengangguk pelan untuk mengikuti perjalanannya itu bersama Namien dalam menemui mentornya yang ia sebutkan itu.
Dan di hari itu, mereka berdua segera mengumpulkan perlengkapan mereka seperti jubah, tas perjalanan, sedikit makanan, dan menunggangi kuda yang diberikan oleh penjaga untuk mereka dalam menempuh perjalanannya dari gerbang timur Elarion di bawah terik matahari siang.
Kota di belakang mereka ramai dengan persiapan tetapi, di depannya terbentang jalan yang lebih sepi dan berkelok-kelok melalui jalan setapak hutan yang dipenuhi lumut, akar-akar tua, dan bau menyengat dari aroma binatang buas.
Saat mereka berjalan melalui hutan itu, Namien tidak sering berbicara namun, di sela-sela momen tertentu ia bercerita tentang mentornya itu di sebagian perjalanan mereka berdua.
“Dialah yang mengajariku cara menyalurkan api. Bukan dengan mantra juga bukan dengan gulungan tetapi, dengan apa yang kita rasakan di sekitar kita dan dapat memegang kendalinya atas aliran Mana dalam tubuh kita itu.”
Namien menoleh ke arah Sora dan melanjutkan perkataannya lagi. “Dan kau mengingatkanku kepadanya ketika keheninganmu itu dan fokusnya itu yang mirip denganmu dan dia juga jarang berbicara tetapi, setidaknya ia tidak senyap seperti dirimu.”
Sora menatapnya dengan rasa ingin tahu siapakah mentor Namien yang ia maksud itu.
Namien hanya terkekeh pelan. “Kau akan lihat nanti bila kita sampai di depan rumahnya itu.”
Dan ketika mereka masuk lebih dalam ke hijaunya pepohonan hutan, ke dalam bayangan, dan kicauan burung terdengar di mana-mana yang menjadikan udaranya menjadi sejuk ketika angin berhembus dan pepohonan mulai berbisik dalam bahasa yang lebih tua dari bahasa manusia itu sendiri.
Di suatu tempat, di depan mereka ketika melewati tanaman yang merambat dan penuh akan kenangan bagi Namien yang setiap kali berkunjung ke hutan itu, seorang pria yang pernah membentuk api dalam diri Namien sedang duduk di teras rumahnya yang berada dalam hutan itu.
Jalan ke arah rumahnya itu kini terbentang di hadapan mereka yang tidak dengan bebatuan yang sudah tertata rapi seperti di Elarion tetapi, tanah yang begitu alami dalam hutannya dan berkelok-kelok melalui alam liar luar Elarion.
Namien dan Sora berjalan berdampingan dengan memacu kuda mereka dan teriakan latihan di balik dinding batu Elarion tak terdengar dari hutan itu yang menukar suaranya dengan irama alam liarnya.
Namien berhenti sejenak di tempatnya itu dan melihat ke belakang bahunya ke pemandangan di belakang mereka itu.
\"Masih berpikir dunia berakhir di gerbang kerajaan?\" Tanyanya dengan lembut ke Sora.
Sora tidak menjawab pertanyaannya tidak dengan kata-kata namun, matanya menunjukkan rasa keheranan dan keheningan yang mengatakan lebih dari cukup dari hal yang ditanyakan Namien itu.
Mereka melintasi padang bukit yang diselimuti bunga-bunga angin dan rumput liar yang tinggi dan di mana satu-satunya teman mereka adalah rusa yang berlari dengan cepat dan suara elang di atas kepala mereka.
Saat siang berganti malam dan siang kembali lagi, perjalanan itu terasa lebih seperti perjalanan melalui sesuatu yang sakral daripada sekadar perjalanan biasa.
Dan kemudian, akhirnya, di hari ketiga mereka berjalan lamanya telah mencapai tepi hutan yang dibicarakan Namien namun, hutan itu tidak seperti hutan lainnya.
Saat mereka melangkah ke pelukan kanopi, udara di sekitarnya berubah yang membuatnya semuanya terdiam namun, tetap masih hidup.
Pohon-pohon tua menjulang tinggi di atas mereka yang akarnya terjalin menjadi lengkungan alami dengan batangnya tebal, penuh dengan lumut dan waktu yang membuat pohon-pohon itu menjadi semakin tua.
Pancaran cahaya keemasan yang menembus kanopi tengah menari-nari di atas tanah subur yang kaya dengan pakis dan bunga-bunga yang hanya mekar di tempat yang damai dan hewan-hewan dalam hutan itu terlihat sedang memperhatikan mereka berdua itu hingga seekor rubah yang tengah duduk diam dengan mata penuh ketenangan, seekor kelinci yang terlihat tidak takut dan tidak melarikan diri melainkan berhenti tepat di samping sepatu Sora.
Bahkan burung-burung di atas mereka sedang bernyanyi dan mereka tampak berpindah dari satu dahan ke dahan lain di depan pasangan itu, seolah-olah menuntun jalan Sora dan Namien itu.
Namien berjalan lebih lambat sekarang dan lebih tenang. Suaranya merendah dengan penuh hormat.
“Mereka yang berada di dalam hutan ini, tidak takut kepadanya karena dia tidak memberi mereka apa pun untuk ditakuti. Itulah perbedaan antara seorang penyihir dan seseorang yang mengajari penyihir.”
Sora melihat ke binatang-binatang itu dengan ekspresinya penuh pertimbangan dan kekaguman. Dia berlutut sejenak dan membiarkan seekor burung pipit kecil hinggap di bahunya sebelum terbang ke atas untuk menuntun jalannya.
Saat mereka mengikuti burung itu lebih dalam, pepohonan semakin lebat hingga mereka mencapai tanah terbuka alami dalam lingkaran tanah yang subur dengan rerumputan halus dan sinar matahari yang berbintik-bintik, mereka menemukan tempat yang di mana sebuah pondok batu berdiri di antara dua pohon ek yang menjulang tinggi.
Atapnya ditumbuhi lumut dan pintunya diukir dengan ukiran spiral api tua yang bukan seperti kekuatan tetapi, sebagai perlindungan pemilik rumahnya.
Asap mengepul lembut dari cerobong asap pondok itu dan aroma herba kering menggantung di udaranya.
Namien berhenti beberapa langkah di depan pintu pondok itu dan ia mengembuskan napasnya. “Kita sudah sampai di tempatnya.”
Dan pintu pondok itu berderit terbuka sebelum mereka sempat mengetuk pintunya dan di sanalah ia berdiri tinggi dengan rambut putih yang diikat di belakang kepalanya, jubah berwarna cokelat kulit kayu yang lembut dan merah bara, dan matanya seperti awan badai yang telah melihat terlalu banyak dan memilih untuk tetap bersikap tenang di setiap kondisinya.
Lalu sosok itu menatap Namien dan menatap Sora di sampingnya.
Senyum lembut tersungging di sudut bibirnya ketika melihat Namien berada di depan pondoknya itu.
“Sudah cukup lama kau tidak berkunjung kemari.” Katanya dengan pelan dan suaranya seperti angin yang melewati dedaunan yang berwarna hijau itu.
Namien menyeringai ketika melihat mentornya masih sama seperti biasanya. “Masih mengamati burung-burung untuk menyambut tamumu, begitu?”
Pria itu tertawa pelan mendengar perkataan Namien itu lalu ia melangkah ke samping dengan api perapian di belakangnya berkedip-kedip hangat melalui ambang pintu pondoknya itu.
“Baiklah, kau membawakanku sebuah keheningan yang ditempa dalam wadah yang sangat spesial. Masuklah, kalian berdua dan buat diri kalian nyaman.” Katanya dengan matanya sekarang melihat ke arah Sora itu.
“Banyak yang bisa dibicarakan… bahkan jika salah satu dari kalian tidak berbicara sama sekali.” Ujar pria itu lagi kepada mereka berdua.
Sora dan Namien memasuki pondoknya yang belum tahu bahwa pertemuan ini akan membentuk lebih dari sekadar strategi peperangan yang akan terjadi di Elarion melainkan itu akan membentuk api yang dibawa Sora dalam dirinya.
Other Stories
Hujan Dan Lagu-lagu Tentang Rindu
Randy sekarat, dan seorang malaikat maut memberinya pilihan untuk meminta maaf pada para p ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...