The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
797
Votes
0
Parts
31
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Lima Belas: Dia Yang Menggerakkan Angin

Bab Lima Belas: Dia yang Menggerakkan Angin

Kabut pagi memenuhi pemandangan di area Elarion seperti bisikan badai yang akan datang tak lama lagi.

Pekarangan di luar kastelnya dipenuhi dengan seratus prajurit terpilih dari seluruh prajurit terbaik dalam kerajaan Elarion itu dengan memakai baju besi dan menunggangi kuda mereka yang dipilih untuk mengawal satu orang ke reruntuhan yang terlupakan di balik Punggung Bukit Valecrest seperti yang telah direncanakan sebelumnya oleh Solhen itu.

Solhen Merach tengah menaiki kudanya yang sudah dipersiapkan untuknya dengan berpakaian mantel gelapnya, topi penyihirnya yang memiliki warna yang sama dengan mantelnya, dan tongkatnya digenggam oleh tangannya sendiri seperti pedang yang digenggam setiap prajurit yang siap bertempur itu.

Dia memegang kendali tali kudanya dengan ringan dan ekspresinya tenang seperti biasa tetapi, matanya membawa beban serius yang langka.

Karena, hal ini bukan keberangkatan biasa melainkan apa yang ingin dia lakukan dapat memengaruhi timbangan takdir yang sudah diukur sedemikian rupa atau menghabiskannya dengan membawa hasil yang lebih dari dugaan terburuk setiap orang yang berjuang.

Sebelum berangkat, Solhen melihat ke orang-orang yang berdiri di hadapannya sebelum ia berangkat menuju altar itu, orang-orang yang memegang kunci dari memenangkan hasil pertempuran ini dengan lebih dari satu cara.

Tatapannya pertama kali tertuju kepada Sora dan ia berkata kepadanya dengan tegas namun nadanya pelan.

“Kunci pertempuran ini ada padamu, Si Pendiam.” Kata Solhen dengan suaranya mantap.

“Di saat rencana yang telah kita rencanakan itu tak sesuai dengan hasilnya dan berujung gagal bahkan jika angin sekalipun tidak bertiup dengan kencang seperti yang telah aku janjikan sebelumnya, kau yang akan menentukan bagaimana pertempuran ini berakhir.”

Sora mengangguk dengan pelan dan tegas dengan matanya tidak menunjukkan rasa takut melainkan persiapannya mengenai ucapan dari Solhen Si Arsitek Keheningan itu.

Kemudian Solhen menoleh ke arah Kaelith dan memberikan sedikit penegasan kembali akan posisinya yang paling vital.

“Kau adalah tepi bayangan yang membantu serangan dari tembok ini dan sebagai pertahanan terakhir yang menjadikan dirimu dan unitmu sebagai perisai kastel terakhir, para pemanah adalah garis terakhir dalam medan peperangan dan mereka akan melihatmu saat harapan mulai menipis.” Katanya dengan tegas.

Kaelith hanya bisa menghembuskan napas pelannya tetapi, menjawab pernyataan Solhen itu dengan tegas.

“Biarkan mereka mendatangi kami dan mereka tidak akan pernah menyentuh atau melihat apa yang di balik gerbang ini.”

Solhen mendengar jawaban Kaelith itu hanya bisa memberinya senyum kecilnya akan ketahanannya dan keberaniannya itu.

Selanjutnya, ia mengalihkan pandangannya ke Vael dan bertanya mengenai seputar dirinya itu.

“Ksatria Borreal, katakan kepadaku... seperti apa rupa seorang ksatria Borreal sejati ketika berada di medan perang?” katanya dengan tegas namun di balik nadanya yang begitu tenang menanyakan perihal tersebut.

Vael melangkah maju mendekatkan dirinya ke arah Solhen dan ia mengambil pedangnya yang tersarung di pinggulnya itu dengan tangannya yang sudah tergenggam di gagang pedangnya.

“Kau akan melihat arti dan makna dari ksatria Borreal seperti yang kau katakan sebelumnya itu saat kau telah menyelesaikan rencanamu dan kau akan melihat dan mengerti, mengapa kami tidak pernah menulis atau mengukir kisah kami di medan perang yang telah kami lewati sepanjang hidup kami. Karena, kami lebih memilih untuk meninggalkan kisahnya di atas tanah bersama dengan orang-orang yang mencoba mengambil sumpah kami dengan cara paksa.” Katanya dengan jelas.

Perkataan Vael itu membuat Solhen mengamatinya sejenak lebih lama lalu mengangguk sebagai menghormati ksatria Borreal itu.

“Aku percaya kepadamu, ksatria Borreal.” Katanya dengan tegas dan senyum di bibirnya itu.

Dan akhirnya, tatapannya tertuju kepada Namien yang sebagai muridnya dan yang sudah dianggap anak olehnya itu.

Namien melangkah mendekat ke arah Solhen dengan senyum tipis di wajahnya meskipun kondisi sekitarnya penuh dengan ketegangan akan keberangkatannya.

“Sebelum kau pergi… satu teka-teki terakhir?” tanyanya dengan sambil berbisik-bisik itu.

Solhen mengangkat alisnya. “Kau sudah punya rencana untuk ini?”

Namien mengangkat kedua bahunya. “Kau sudah tua dan kau perlu pengingat bahwa kau masih punya pikiran sebagai manusia nantinya bukan selainnya yang kuinginkan, pak tua.”

Solhen terkekeh pelan mendengarnya itu. “Baiklah... baiklah... Berikan itu kepadaku!”

Namien mencondongkan tubuhnya lebih dekat dan berbisik-bisik kepadanya. “Apa yang berjalan tanpa kaki, terbang tanpa sayap, dan tidak dapat ditangkap kecuali kau mendengarnya terlebih dahulu?”

Solhen memejamkan matanya sejenak untuk berpikir dan kemudian... matanya terbuka perlahan dan mulai menjawab teka-tekinya.

"...Suara penyesalan seseorang?"

Namien mendengar jawabannya itu terkejut dan tertawa terbahak-bahak atas jawaban darinya itu. "Dasar bajingan tua, bukan itu jawabannya."

Solhen tersenyum melihat tingkah laku Namien yang masih sama seperti dulu ia mengajarnya itu.

Kemudian, ia memegang tali kekang kudanya di tangannya. "Tapi, itu jawaban yang tepat, bukan?"

Tawa Namien mulai memudar menjadi sesuatu yang lebih mesra. "Tentu saja..."

Solhen menoleh ke arah yang berkumpul, menatap Raja Aetheryn, yang berdiri di samping kapten dan perwiranya.

"Apa pun yang terjadi di Valecrest, angin yang kupanggil ini tidak akan bisa dijinakkan oleh siapa pun. Jaga apimu dan juga jaga rakyatmu." Kata Arsitek Keheningan itu yang membuat raja mengangguk akan perkataannya itu.

"Dan semoga keheningan menuntunmu, Arsitek."

Tangan Solhen terangkat perlahan untuk mengucapkan selamat tinggal yang angin sudah mulai bertiup di belakang punggungnya dan ia mulai memacu kudanya ke depan dengan perintah tekad yang tenang.

Solhen Merach dan pengawalnya yang berada di luar gerbang itu mulai bergerak keluar dari area Elarion menuju altar terlupakan yang terkubur di bawah punggung bukit Valecrest yang di mana tempat angin akan dipanggil oleh satu orang saja.

Di balik gerbang, saat debu kuku kuda-kuda mulai memudar, seluruh orang-orang yang berada di halaman mulai bergerak dengan cepat yang para pengungsi sudah dikawal diam-diam keluar dari distrik terdalam sekalipun mulai dari kemarin dan baru saja selesai pagi itu.

Semua penduduk Elarion mulai dari kasta tertinggi hingga kasta terendah pun dituntun menuju tempat aman di bawah kota yang berisikan tempat suci dan bangsal bawah tanah yang dirancang berabad-abad lalu untuk saat-saat seperti ini yang tersembunyi jauh di bawah akar kastelnya.

Kaelith mengumpulkan unit para pemanahnya, Vael berdiri di antara infanteri dengan memberikan arahan yang suaranya tegas dan tak tergoyahkan.

Namien memasuki tenda komando untuk meneliti peta geografisnya dan meminta informasi kedatangan musuh mereka dan mulai memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan umpannya, dan Sora… semenjak Solhen pergi, ia terus menatap ke luar gerbang itu dan tak bergerak sama sekali yang di mana ia merasakan sesuatu hal yang sangat aneh untuk dihadapinya saat ini.

Langit masih cerah dan kondisi di luar area Elarion masih begitu tenang yang di mana semua persiapannya sudah selesai itu, tak lama kemudian badai yang telah dinantikan mereka akan kedatangannya itu sudah terlihat dan setiap bagian yang telah diatur oleh Solhen… akan bergerak sesuai dengan rencananya saat ini.

Angin yang bertiup melewati Elarion kini tidak membawa kedamaian atau kehangatan melainkan hanya aroma tajam pertempuran yang membayang-bayang di cakrawalanya saat ini.

Pasukan sudah siap ketika mendapatkan informasi kedatangan musuh mereka itu, para unit pemanah berbaris di dinding tenggara membentuk formasinya, dan unit kavaleri ditempatkan di dekat tikungan Valecrest secepat mungkin.

Para pemburu yang ditugaskan sebelumnya, telah bersembunyi di balik hutan dengan formasi penyergapan dan mengintai keberadaan musuh.

Sementara itu, pasukan umpan berdiri diam di luar jangkauan area Elarion yang berisikan 100 orang tengah menunggu sinyal dari para pemanah akan kedatangan musuh mereka.

Keheningan mulai mencekam bahkan menyelimuti seluruh isi kerajaan Elarion saat ini.

Kemudian, gemuruh kaki kuda terdengar dari kejauhan dan dari balik punggung bukit utara itu, terlihat seorang penunggang kuda sendirian menerobos gerbang luar dengan debu mengepul di belakangnya seperti asap yang berasal dari anggota pengintai itu telah datang.

Para penjaga membiarkannya masuk tanpa penundaan dan gerbang utama kastel berderit saat mulai tertutup rapat di belakangnya.

Pengintai itu berkuda melintasi halaman batu menahan tali kekang kudanya dengan kuat agar berhenti dan turun dari kudanya dengan tergesa-gesa hingga membuat sepatu botnya menghantam tanah begitu keras.

Dia langsung dituntun ke tenda komando tempat Raja Aetheryn berdiri dikelilingi oleh para jenderalnya, Sora, Kaelith, Vael, dan Namien yang sudah berkumpul di sana setelah menyelesaikan persiapan mereka itu untuk apa yang akan terjadi selanjutnya dengan informasi dari si pengintai ini. Pengintai itu berlutut dan mulai melaporkan laporannya.

“Yang Mulia, mereka… mereka sudah dekat. Pasukan musuh akan berada dalam jarak pandang pegunungan utara dalam waktu kurang dari satu jam.” Pengintai itu terkesiap yang dadanya naik turun karena napasnya yang tidak terkontrol itu.

“Dan laporan kedua?” tanya Namien dengan suaranya yang penasaran apakah ada hal lainnya lagi yang hendak ingin dikatakan pengintai itu.

Pengintai itu membeku ketika mendengar pertanyaan dari Namien.

Mulutnya bergerak tetapi, tidak ada kata-kata yang keluar.

“Bicaralah!” kata Raja Aetheryn lebih tegas.

Pengintai itu mengepalkan tangannya untuk menjaga keseimbangan emosinya dari apa yang ia lihat tadi dan keringatnya mulai membasahi wajahnya seolah-olah sesuatu yang tak terlihat membebaninya dan pengintai itu menelan ludahnya sebelum melanjutkan perkataannya.

“Komandan mereka… dia seorang manusia, Yang Mulia.”

Keheningan di seluruh tenda komando itu dibuat tercengang akan informasi dari pengintai itu.

“…Manusia? Seorang pria memimpin gerombolan liar itu?” kata Kaelith dengan alisnya mulai berkerut keheranan dan ketidakpercayaannya.

Pengintai itu mengangguk dan sedikit gemetar. “Dia berbaris di depan… dengan baju besi hitam… tetapi, semua yang ada di belakangnya—”

Dia berhenti sejenak karena ketakutannya itu membuatnya gemetar dan matanya sangat mudah terbaca akan ketakutan seseorang yang belum pernah melihat hal yang horor itu dengan apa yang telah dilihatnya.

“Iblis, goblin, raksasa, dan makhluk dari luar dunia ini. Bahkan, binatang buas tanpa nama dan… mayat hidup juga yang berjumlah lebih dari ratusan atau mungkin puluhan ribu total keseluruhannya yang bisa saya hitung sejauh ini.”

Ruangan itu seketika menjadi sunyi tak ada suara seketika mendengar informasi pengintai itu. Tangan raja mulai mencengkeram tepi peta di atas mejanya.

“Dan kau yakin dia adalah seorang... manusia?” Pengintai itu tidak menjawab.

Ia hanya… mengangkat satu jari yang menunjukkan hanya seorang pria saja dan hanya satu di antara ribuan pasukannya itu.

Raja Aetheryn melihat gestur isyarat itu dengan aliran darahnya yang sedikit mengalir dengan cepat di seluruh badannya.

“Bagaimana… bagaimana seorang pria bisa memerintahkan hal-hal seperti itu?” bisiknya yang tidak seorang pun mempunyai jawaban untuk hal itu.

Ini bukan sekadar perang saja melainkan ini adalah pembantaian massal akan terjadi dalam waktu yang cukup dekat.

Lalu, suara trompet yang terdengar mulai menggema di udara dengan panjang dan keras dari arah tembok tenggara.

Dari menara pengawas dekat dengan tembok tenggara terlihat tiga ledakan sebagai sinyal yang mereka semua takuti itu menjadi kenyataan.

Musuh telah mencapai punggung bukit dan armada puluhan ribu itu telah terlihat dari kejauhan gerbang Elarion. Jauh di ladang, pasukan umpan menunggu waktu yang tepat untuk bergerak dengan spanduk mereka yang berkibar saat angin yang awalnya berhembus dengan pelan kini mulai bertiup kencang sedikit demi sedikit dan hampir seperti yang dijanjikan Solhen dalam rencananya itu.

Perangkap telah dipersiapkan untuk mereka jauh-jauh hari itu yang hanya menunggu sinyal asap dinyalakan saja, tanah yang sudah dilumuri oleh minyak dan ter itu sudah disebar di sepanjang tempat perangkapnya ketika terdengar suara trompet dikumandangkan, unit pemanah dari tembok tenggara mulai mengawasi pergerakan musuh di depannya dan menunggu sinyal asap dari balik pepohonan hutan pegunungan timur.

Dan di atas semua itu… dinding tembok mulai bergetar bukan karena ketakutan tetapi, karena beratnya semua yang telah mereka persiapkan itu telah mengarah ke momen yang telah dinantikan ini dan tidak ada jalan kembali untuk mundur dari medan perang yang akan dimulai itu.

Gema trompet masih bergema di dinding saat Sora dan Vael bergerak masuk ke pelataran dalam kastel dengan jubah mereka yang beterbangan di belakang mereka saat mereka melompat ke atas kudanya.

Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka melainkan hanya anggukan yang menunjukkan satu tujuan saja dan mereka berdua mulai bergerak dengan kudanya yang melaju kencang hingga kuku kudanya menghantam batu bulat lalu bergemuruh di atas jalan tanah yang mengarah ke sisi hutan timur, tempat unit penyergap mereka bersembunyi dalam keheningan pepohonannya yang telah menanti mereka untuk dibakar.

Pada saat yang sama, Kaelith berlari kencang di sepanjang jalan yang mengarah ke tembok tenggara, melewati para prajurit dan kurir saat dia menaiki tangganya satu persatu hingga busurnya sudah ia siapkan dalam genggaman tangannya yang tadi masih tersampir di bahunya.

Dia melompat ke benteng ke tempat unit pemanahnya menunggu dan matanya tak berhenti melihat kedatangan armada musuh yang persis apa yang telah dikatakan pengintai itu sebelumnya.

Tanpa ragu, Kaelith membentak kepada unitnya, "Bentuk barisan, siapkan anak panah kalian dan fokuskan tembakan hanya pada perintah atau sinyalnya saja!"

Setelah memberikan instruksinya itu, Kaelith langsung bergerak ke arah samping yang melihat ke arah bagian ujung punggung bukit timur itu yang belum memberikan sinyal asapnya sekalipun.

Di dalam tenda komando pusat, Namien berdiri di samping Raja Aetheryn, menatap peta pertempuran yang dikelilingi oleh cahaya lentera dan para ahli taktik yang berbisik-bisik dengan penuh kecemasan.

Setiap detik berdetak seperti halnya bilah pedang yang tengah tergantung di udara sekitarnya. Lalu, angin kencang menyelinap melalui jahitan kanvas tenda komando itu dengan hembusannya yang kencang.

Kertas-kertas yang berada di atas meja itu mulai beterbangan dan obor di depan tenda membengkok ke arah samping.

Mata Namien mulai membelalak ketika melihat kejadian itu dan dia melangkah keluar dari tenda untuk melihat ke langit yang berwarna keabu-abuannya itu. Angin bertiup dengan kencang dari arah barat menuju timur, seperti yang dibutuhkan dalam pertempurannya, angin yang bergulung seperti kekuatan dengan stabil dapat menekuk pohon-pohon kecil dan meratakan padang rumputnya itu.

Namien melihat hal ini begitu terpesona dan ia berbisik, “Itu tidak mungkin…”

Kemudian dia tersenyum ketika ia tahu bahwa Solhen telah melakukan tugasnya.

Jauh di atas altar Valecrest yang terlupakan di reruntuhan bagian selatannya, Solhen Merach berdiri dikelilingi oleh batu-batu penanda kuno yang telah lapuk selama berabad-abad dengan jubahnya terbang karena kencangnya angin yang telah dipanggilnya.

Tongkatnya yang tidak pernah diangkatnya selama puluhan tahun itu terlihat menyala di ujungnya dengan samar saat ia berlutut di depan altar untuk melakukan sebuah ritual pemanggilan angin saja.

Satu tangan ditekan ke tanah dan tangan yang lain diangkat ke langit dengan menggenggam tongkatnya itu seperti orang yang tengah berdoa.

Suaranya pelan dan terdengar berbisik-bisik yang menggetarkan udara dengan bisikan kata-kata sihir kuno: “Biarkan keheningan terpecah, biarkan napas menjadi badai, biarkan api membara di tengah-tengahnya, dan biarkan angin yang kupanggil ini bertiup dengan kencang.

Langit tampak berubah dan begitu juga dengan anginnya yang berubah menjadi binatang buas seperti tengah mengaum atas panggilan perintahnya.

Di medan perang, pasukan musuh yang baru sampai dengan mempercepat langkah mereka itu melihat pasukan umpan berada di hadapan mereka yang tak jauh dari pandangan mereka itu mulai bergerak karena haus akan pertumpahan darah.

Ribuan prajurit yang dibangkitkan menjadi mayat hidup, binatang-binatang buas yang tak pernah terlihat sebelumnya, dan makhluk-makhluk lainnya seperti goblin, orc, ogre, dll mulai menyerbu ke depan dengan menjerit seperti mayat hidup berdenting dengan panji-panji kematiannya berkibar di atas suara jeritan mereka sebagai genderang perang mereka.

Di depan ribuan makhluk-makhluk asing itu… seorang pria dengan 99 orang di belakangnya dengan di atas kudanya masing-masing, mulai memberikan gestur bergerak ke titik jebakannya dengan memacu kudanya sebagai aba-abanya yang sudah dikelilingi oleh kekacauan yang ada di hadapannya saat ini.

Para penunggang umpan di garis depan memperhatikan musuh-musuh mereka dengan mata menyipit yang kemudian, beberapa di antara mereka mulai terjatuh di atas kudanya akan sergapan dari binatang-binatang buas yang lebih cepat dari kuda mereka itu dan dihabisi dengan brutal oleh makhluk-makhluk yang haus akan darah manusia itu.

Pemimpin pasukan umpan itu berteriak kepada yang lainnya, “LAJUKAN KUDAMU SECEPAT MUNGKIN! BAWA MEREKA KE TITIK JEBAKAN YANG SUDAH DISIAPKAN UNTUK MEREKA!”

Sisa-sisa dari pasukan umpan itu terus melaju ke arah pegunungan timur itu yang sudah mencapai area hutan itu.

Mereka terus memacukan kuda mereka secepat mungkin dan tak terasa kuda-kuda mereka berlari kencang seperti kilat itu dibantu oleh angin yang telah dipanggil Solhen sebelumnya yang membuat kecepatan kuda mereka semakin cepat dan begitu pula pergerakan binatang-binatang buas di belakang mereka yang semakin ringan langkah kakinya dalam mengejar sisa-sisa dari pasukan umpan itu.

Hingga ketika pemimpin pasukan umpan itu menengok ke arah belakangnya saat ini, tersisa 20 orang saja dari 99 orang yang dipimpin olehnya masih selamat dan ketika Sora, Vael, unit infanteri dan kavalerinya yang sedang bersembunyi di balik pepohonan dan batu itu tengah menunggu.

Kedatangan pasukan umpannya dan ketika mereka sudah melihat salah satu pasukan umpan sudah terlihat di hadapan mereka, Vael dengan sigap memberikan gestur aba-aba untuk memberikan sinyal api kepada salah satu infanteri di sana.

Para penunggang umpan itu memacu kudanya dengan kencang seakan-akan badai itu sedang menerjang punggung mereka karena memang begitu. Angin menderu di belakang mereka, menerobos pepohonan dan bukit-bukit seakan-akan dunia ini ingin mereka sampai ke perangkap itu.

Kawanan musuh di belakang mereka meraung dan mengejar bagai para iblis tengah meneriakkan sesuatu, binatang buas mulai melolong, dan bilah senjata dari para goblin hingga ogre itu terdengar akan terseretnya senjata mereka di atas tanahnya yang beradu dalam rasa lapar akan daging manusia dan mereka mencoba untuk menangkap mangsanya.

Ketika pasukan umpan sampai di tempat yang sudah dijanjikan itu, pemimpin pasukan umpan itu langsung berteriak seketika, “SUDAH DATANG!”

Setelah mengucapkan itu, pemimpin pasukan umpan langsung membubarkan pasukannya dan bersembunyi di balik pepohonan sebelum ikut terbakar bersama para musuhnya.

Sebuah tanah lapang di tengah-tengah hutan yang memiliki hamparan seperti padang rumput gersang dan semak-semak keringnya itu yang begitu basah dan lengket akan minyak dan ter itu sudah disiapkan sebagai perangkapnya.

Persis seperti apa yang telah direncanakan Namien sebelumnya.

Sebuah sinyal asap telah mengepul di cakrawala dari arah kanopi hutan yang hijau terang itu.

Kaelith melihatnya dari dinding tenggara dan seketika ia berteriak dengan suaranya yang terdengar seperti genderang perang itu.

“PEMANAH, TEMBAK!!”

Seribu tali busur putus bersamaan ke arah kanopi hutan itu.

Panah-panah api melesat menembus langit bagai badai roh-roh pendendam, melesat merah tua melintasi senja yang ditiup angin yang berhembus dengan kencang agar mencapai targetnya.

Anak panah itu turun seperti elang pemburu dan menghantam tanah perangkap di bawahnya bagaikan mangsanya.

Barisan musuh yang sudah sampai di titik area pengejarannya itu mulai mencari keberadaan pasukan umpan yang sudah berpencar itu dan ketika mereka menelusuri bersama dengan peliharaan binatang buasnya itu, mereka merasakan sesuatu hal yang aneh ketika mereka berjalan di atas tanah yang becek dan baunya bukan seperti air.

Salah satu binatang buas mereka itu mulai menggonggong ke arah langit hingga membuat mereka semua yang berada di sana melihat apa yang terjadi.

Di situlah mereka terperangkap dalam serangan mereka sendiri dan beberapa dari mereka mulai berteriak ketakutan dan beberapa binatang buas mencoba melarikan diri dari area yang sudah dipenuhi oleh minyak dan ter.

Semuanya sudah terlambat ketika apa yang mereka pikir di atas itu adalah bintang jatuh itu bukanlah bintang yang dimaksud mereka.

Melainkan anak panah yang sudah dibakar oleh api untuk kematian mereka.

Panah-panah api menghujani dan menghantam tanah yang kaya minyak dengan ketepatannya. Api itu meletus seperti binatang buas yang hidup.

Gelombang merah dan jingga melahap lantai hutan, berpacu dengan angin yang dipanggil Solhen, menyebar ke seluruh dedaunan dan ranting-ranting kering di sekitarnya dan jeritan mereka memenuhi seluruh isi pepohonannya.

Lima ribu pasukan musuh setidaknya terperangkap dalam api hanya dalam hitungan menit saja.

Dari punggung bukit di atas, Vael dan Sora yang menyaksikan melalui asapnya saja dan pasukan penyergap mereka itu terdiam seketika karena kagum dan juga mengerikan bila dilakukan kepada sesama manusia tentunya.

Vael bergumam pelan, "Itu taktik Solhen..."

Namun, api itu baru permulaan dari peperangannya. Di belakang barisan pasukan musuh, sang komandan yang sosoknya menunggangi kuda hitam itu mulai mengangkat tangannya dan memerintahkan 10.000 pasukannya untuk menyerang musuh yang berada di hadapannya saat ini yang sudah diliputi oleh amarah serta emosi.

Karena, ia telah melihat kumpulan asap dari arah timur itu dan mendengar jeritan pasukannya juga membuatnya menyerang dengan frontal dan memusatkan serangannya ke arah garis depan langsung yang hanya dengan satu gerakan singkat saja, ia memberi isyarat gelombang kedua untuk maju.

Beberapa pasukan lainnya mulai bergerak dan sebagian mereka menggeram dengan ragu-ragu saat mereka melihat rekan-rekannya terbakar itu.

Namun, keinginan komandan mereka mutlak hingga perintahnya itu dapat membuat mereka berbaris, menyusun formasi menyerang, dan bergerak menuju gerbang depan.

Menuju perangkap berikutnya, di tenda perang Namien berdiri di dekat peta strategi dan ketika para penjaganya memanggil gelombang kedua mulai mendekat, ia tidak ragu-ragu untuk memberikan perintah kepada penjaga itu dengan berkata, "Beri tanda kepada unit pemanah untuk menembak ke tempat yang sudah dilumuri oleh minyak dan ter itu, Sekarang!"

Serangkaian tanda lain melesat ke arah tembok pertahanan tenggara dan Kaelith yang menerima perintah Namien itu mulai menggenggam busurnya di tangan dan memberikan perintah kepada unitnya.

"PEMANAH! TEMBAK KE ARAH TANAH!"

Puluhan anak panah, kali ini menyala dengan api lagi dan melesat ke arah parit yang melingkar dan mengelilingi bagian depan kastel.

Parit-parit ini, tersembunyi dan dibasah oleh ter hingga meletus seperti gelora api dari dasar yang terbakar seperti dinding api yang membumbung ke atas dengan panas yang membakar dan api yang menderu sebagai penghalang yang tidak dapat dilewati manusia mana pun tanpa berubah menjadi abu.

Gelombang kedua dari pasukan musuh mulai berhenti dan berteriak dalam kebingungan hingga diliputi rasa amarah juga.

Monster-monster di belakang mereka mulai melolong dan beberapa dari mereka jatuh ke dalam kobaran api itu hingga daging mereka sudah matang.

Tapi sosok yang tak diduga itu akan muncul secepat itu, raksasa-raksasa itu telah tiba dan langkah kaki mereka seperti guntur.

Daging mereka pucat dan penuh luka yang membusuk. Beberapa diikat dengan baja gelap dengan menyeret pentungan besar dan yang lainnya membawa perisai yang terbuat dari kayu pepohonan.

Mereka tidak ragu-ragu ketika mereka menyerbu untuk menembus api itu, tubuh mereka terbakar hingga membuat kulitnya melepuh tetapi tidak merasakan sakit dari api itu dan tidak menyerah.

Mata Kaelith menyipit dan mulai meneriakkan perintah baru.

"Balista! SIAP!"

Anak panah besar seperti lembing diisi dengan tangan yang gemetar dan sudah siap untuk diluncurkan itu.

"TEMBAK!!"

Balista itu menembakkan anak panahnya dan satu anak panahnya menghantam salah satu dada raksasa yang membuatnya jatuh ke belakang dengan suara dentuman ke tanah yang cukup keras untuk menghancurkan bumi.

Anak panah lainnya merobek bahu raksasa itu tetapi raksasa kedua meraung lebih keras daripada merasakan kesakitannya.

"ISI ULANG! CEPAT!" teriak Kaelith dengan melihat 5 raksasa tersisa sedang menuju ke arah tembok pertahanannya itu.

Di sisi timur, Vael mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan meneriakkan perintahnya.

"KAVALERI! MAJU!!" Suara hentakan kaki-kaki kuda mulai menggetarkan tanah sekitarnya dan puluhan ksatria berkuda bergemuruh maju dengan teriakan perang mereka yang bergema di antara pepohonan.

Mereka menyerbu ke dalam kobaran api yang menyala-nyala seperti roh pembalasan dan menyerbu melalui jalan setapak di antara api yang telah dibuka.

Pedang mereka menyala dengan api dan mulai menebas ke sisa-sisa gelombang pertama yang masih selamat dari kobaran apinya hingga tak bersisa.

Dan di belakang mereka, unit infanteri menunggu dengan perisai mereka yang terkunci dengan diam dan tenang.

Menunggu perintah dari Vael dan di antara asap itu, Sora mulai bergerak seperti bayangan yang dilepaskan.

Pedang di pinggulnya itu sudah ditempa ulang dan hidup kembali yang bernyanyi dengan irama yang sama seperti hembusan angin Solhen itu. Api di sekitar medan perang berderak pelan padam menjadi bara dan abu saat angin bertiup pelan di atas kepala mereka yang masih hidup dan tengkorak mereka yang sudah mati.

Vael yang duduk di atas kudanya itu dengan pedangnya bersandar di pinggulnya saat kavalerinya melambat hingga berhenti di ladang tepat di hadapannya yang tidak lain hanyalah mayat yang sudah hangus dari sisa goblin, ogre, dan makhluk lainnya yang terpelintir berubah menjadi abu dan tulang menghitam. Asap mengepul ke langit dalam bentuk spiral yang khidmat, tebal dan sunyi.

Vael mulai menyipitkan matanya dan bergumam pelan, "Tidak ada yang tersisa lagi,"

lalu ia berteriak ke seluruh unitnya termasuk infanterinya. "PINDAH KE TITIK BERIKUTNYA!"

Pasukan penyergap di belakangnya itu bergerak cepat untuk mengikuti jejak Vael yang melintasi jalan setapak yang hangus itu bersama dengan Sora yang juga tengah berkuda di sisinya dalam keadaan diam dan tenang itu membuat jubahnya berkibar karena tertiup angin yang diaduk oleh sisa pemanggilan Solhen sebelumnya.

Sementara itu, di dalam punggung bukit bagian atas hutan, para pemburu tetap berada di posisinya yang mulai menaiki jalan setapak di puncak bukitnya dan busur mereka tersampir di belakangnya dengan anak panah yang dibungkus oleh kain yang telah dibasahi oleh minyak sebelumnya.

Misi mereka hanya memberikan serangan berikutnya dari atas dan mengeksekusi serangan terakhir dari ketinggian bukitnya.

Kembali di kastel, Kaelith terdesak dalam kegilaan yang raksasa-raksasa itu mulai mendekat ke arah tembok pertahanannya itu dan balista telah menembakkan anak panahnya ke tiga raksasa yang tubuh mereka itu sekarang terkulai di dekat dinding api tetapi yang keempat masih berjalan lamban menuju tembok dengan api menjilati kulitnya itu dan lebih buruknya lagi, kobaran dinding apinya mulai memudar seiring waktu yang membuat Kaelith semakin frustrasi akan kemunculan unit kavaleri dari Sora dan Vael itu.

"DI MANA YANG LAIN, HAH!?" geram Kaelith yang sedari tadi melepaskan anak panahnya terus menerus dan langsung mengarah ke mata raksasa yang terbuka itu dan membuat raksasa itu melolong kesakitan hingga terhuyung-huyung mundur tetapi, masih tetap berdiri dan tak lama dari kesakitannya itu raksasa mulai terus maju mendekat ke arah tembok pertahanan Elarion.

Minyak habis dan ternya begitu juga untuk dijadikan sebagai bahan bakarnya dan tangan Kaelith tidak pernah berhenti bergerak, anak panah lain telah dipasang dan targetnya sudah ditandai.

Dan tepat ketika napasnya mulai sesak, suara jeritan pasukan kavaleri beserta infanteri menyergap dari samping yang membelah udara di samping pegunungan timur itu.

Kaelith melihat hal itu tepat pada waktunya ketika ia melihat kavaleri Vael menyerbu armada musuh yang menunggu habisnya dinding api itu mulai terkejut dan menuruni punggung bukit dengan pedang mereka yang sudah terangkat serta perisainya bersinar dengan pantulan cahaya mataharinya.

Di samping Vael, terlihat Sora yang tengah memacu kudanya dengan bilahnya digenggam itu saat ia memimpin barisan kedua untuk melakukan serangan juga.

Pasukan penyergap itu menabrak barisan musuh seperti gelombang baja dan mengagetkannya seketika.

Gelombang musuh kedua hancur seketika karena benturan tak terduga dari arah samping mereka hingga banyaknya korban berjatuhan di pihak musuh yang awalnya berjumlah 10.000 berkurang menjadi 3/4 sisa pasukannya yang tersisa dan beberapa saat kemudian, infanteri tiba dengan barisan lambat tetapi, tepat ketika tombak mereka melesat maju seperti seribu duri besi terhadap musuh di depan mereka yang mencoba meruntuhkan formasi mereka.

Medan perang mulai berubah dari jumlah pasukan yang tak seimbang bisa dibalikkan dengan alur gelombang yang dimainkan sesuai permainannya itu mengubah seluruh keadaannya.

Namun, komandan pasukan musuh itu yang memimpin armada dalam jumlah yang sangat besar itu betul-betul kesal melihat apa yang terjadi saat ini dari bukit tinggi dekat bagian belakang barisan pasukannya itu, komandan itu mengeluarkan dan memecahkan batu kecil yang berukir tulang dari kantongnya.

Wajahnya tidak terbaca dengan apa yang akan terjadi selanjutnya tapi, dengan bunyi patahan yang disengaja itu bukanlah sebuah retakan yang menggema di langit melainkan suara itu bergema di seluruh medan perang yang begitu menusuk dan tidak wajar.

Ratapan yang menghentikan api dalam napasnya ketika sosok mulai bermunculan dari awan yang kemunculannya seperti menembus batu dan keluar dari tanah bahkan di dalam tenda perang saja sang raja begitu tersentak dan Namien membeku ketika mereka semua di dalam tenda itu melihat kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi dengan matanya yang melihat dalam keadaan terbelalak.

"Suara itu... apa itu—?" bisik sang raja.

Ekspresi Namien berubah menjadi marah dan menghantam meja di depannya dengan kedua tangannya yang sudah terkepal itu.

"Tidak mungkin..."

Di luar apa yang mereka lihat itu, awan di atas medan perang mulai berputar-putar dan menunjukkan sosok bayangan mulai menampakkan wujudnya dari balik awan itu.

Dari cakrawala, lima sosok besar muncul dengan sayap berwarna kehitaman akan kebusukan dan seperti di beberapa bagian sayapnya ada yang robek hingga menembus cahaya matahari melaluinya.

Mayat hidup dari Naga yang sudah mati dengan sisik yang membusuk, mulutnya kosong dan tulang rahangnya terlihat jelas, serta napas mereka meracuni udara dengan kabut hijau mengalir dari rahang mereka seperti bisikan kematian.

Satu persatu naga itu mengeluarkan raungan yang begitu parau dan membuat langit berguncang seketika.

Medan perang berubah dalam sekejap sama halnya seperti sebelumnya dengan membalikkan keadaan semudah membalikkan tangan saja.

Sang komandan berdiri tak bergerak saat ia melihat pemanggilannya berhasil, menyaksikan para naga berputar-putar di atas hutan yang terbakar dan kehadiran mereka mengubah nasib perang itu sendiri.

Dari tenda perang, Namien menghantamkan kedua tangannya lagi ke meja.

“SIALAN! BAJINGAN APA YANG KITA COBA LAWAN INI, HAH?”

Suaranya menggelegar seisi ruangan itu hingga Raja Aethryn mendengar perkataannya itu.

“Lima dari mereka—! Bagaimana dia bisa memanggil lima sekaligus, BAGAIMANA CARANYA?”

Tak seorang pun bisa menjawab pertanyaan yang tidak masuk akal itu bahkan seorang mantan murid jenius dari Azure College pun tak bisa menjawab pertanyaan yang di luar akal sehatnya.

Namien berbalik dan mencoba mengeluarkan gulungan dari kantongnya dan hendak menuliskan rencana selanjutnya yang ingin ia buat sempat mungkin dengan risiko lebih besar.

“Aku butuh waktu. Waktu untuk berpikir agar kita bisa menjatuhkan salah satu dari kelima naga itu dengan anak panah atau api tapi... tidak dengan ini. Tidak...”

Namien menemukan satu hal yang bisa mungkin terjadi dan mulai mengucapkannya, “Jika salah satu dari pasukan itu terikat pada sebuah batu pemanggilan.”

Namien dengan cepat menoleh ke arah raja dan bertindak dengan cepat. “Jika kita tidak memutuskan hubungan dengan si pemanggil secepat mungkin, mereka akan mengubah kota ini bahkan kerajaan ini menjadi abu dan pasukan tambahan mereka nantinya.”

Raja hanya bisa mengangguk muram. “Kalau begitu temukan hubungannya, sekarang juga!”

Mata Namien mulai menyipit dan terlihat kesal atas jawaban itu namun mengingat lawan bicaranya itu adalah Raja Aetheryn, ia memilih menahan ledakan emosinya itu dan mencoba untuk tidak menonjolkannya.

“Oh, aku bermaksud melakukannya seperti itu sekarang, Yang Mulia.”

Di luar tenda itu, saat naga-naga mayat hidup turun dengan amarah yang melengking dan Elarion gemetar di bawah sayap kematiannya…

Rencana kelahiran api yang dulunya kokoh, kini menghadapi tantangan tergelapnya di tengah-tengah keheningan reruntuhan altar kuno yang di mana tempat Solhen melakukan ritualnya itu telah usai dan ia menghembuskan napasnya dalam-dalam di tempat itu sendiri.

Angin telah dipanggil dan begitu pula dengan ritualnya telah usai. Meskipun mantra itu terukir dalam jiwanya, membuat anggota tubuhnya mulai gemetar dan dadanya terasa sesak untuk mengatur napasnya tapi, mantra itu berhasil.

Api telah menjawab dan perangkap itu berhasil dieksekusi.

Dengan begitu, Elarion punya kesempatan untuk memenangkan pertempuran menurutnya.

Namun kesempatan itu kini goyah ketika Solhen yang keluar dari tempatnya itu dan di tepi jalan setapak hutan, ia menaiki kudanya dan didampingi oleh seratus pengawalnya itu, Solhen Merach mengangkat pandangannya ke langit dan merasakan sesuatu sedang tidak beres akan hal ini dan ia segera ingin melihat kondisi medan perangnya saat ini.

Dengan penampakan lima naga mayat hidup dengan bayangan di atas langit yang pucat dan berputar-putar mengelilingi Elarion seperti pertanda kehancuran yang sudah dekat.

Napas mereka menghanguskan tanah dalam lengkungan api hijau yang menyapu dan bau kematian akan pembusukan yang sudah mencapai pepohonan di sampingnya.

Mata Solhen menyipit yang memerhatikan langit sudah dipenuhi makhluk yang seharusnya sudah lama tidak muncul itu kembali dengan kondisi dibangkitkan dari kematiannya itu.

"Mereka terikat... melalui sihir dari batu jiwa," gumamnya pelan.

Solhen bisa merasakannya di udara yang kehadiran sihirnya terbentuk secara tidak alami dan sihirnya itu tidak sepenuhnya berasal dari dunia ini... tidak sepenuhnya jauh dari medan perangnya itu.

Ia mencengkeram tali kekang kudanya untuk menghentikan pergerakan kudanya di dalam hutan dan turun dari kudanya.

“Hanya ada satu kesempatan tersisa untuk mengatasi hal ini.” Ujarnya dengan pelan lalu Ia menoleh ke pasukannya.

“Pertahankan posisi ini dan buatlah perimeter penjagaan. Jangan bersuara dan jangan bertindak gegabah. Jika mereka merasakan kehadiranku ketika aku mengucapkan mantra untuk mengembalikan situasi dan kondisi saat ini, mantra ini akan gagal sepenuhnya.” Perintahnya dengan suaranya yang lantang dan tegas.

Para prajurit di sekitarnya turun dari tunggangan kudanya dan mulai menyebar ke seluruh perimeter penjagaan yang dimaksudnya itu.

Mengambil posisi bertahan dengan perisai dan busur silang yang wajah mereka tampak muram tetapi menaruh kepercayaan mereka kepada Arsitek Keheningan itu. Solhen langsung mundur ke hutan dan masuk lebih ke dalamnya untuk menyembunyikan dirinya itu.

Di jantung hutan tempat angin pun menahan napasnya, Sang Arsitek Keheningan berlutut dan menancapkan tongkatnya ke tanah dengan bibirnya bergerak perlahan yang melantunkan kata-kata lama dan kata-kata yang mengartikan sebagai kematian itu bercampur dalam satu mantra.

Tanah di sekitarnya berdenyut dan pohon-pohon mulai berguncang hingga langit mulai tampak tak menentu.

Kembali di medan perang, semua ketertiban mulai runtuh dan pasukan kavaleri Vael, yang tadinya sangat akurat dan kuat kini tercerai-berai hingga terbakar dalam kekacauan.

Api naga menghujani para penunggang kuda dan mengubah manusia menjadi bayangan yang menyala-nyala.

Jeritan memenuhi udara saat baju besi meleleh dengan daging yang berubah warna menjadi kehitaman. Vael meneriakkan perintah dengan suaranya yang serak saat ia menerobos barisan musuh untuk membukakan jalan bagi unitnya itu.

“BERKUMPUL KEMBALI! TEMBOK PERISAI, SISI BARAT—!”

Namun kata-katanya hilang di bawah jeritan api dan gemuruh sayap dari naga mayat hidup itu ketika mengeluarkan semburan apinya lagi.

Di sampingnya, Sora bertarung seperti hantu di dalam api dengan bilah pedangnya mulai menyala dan menebas semua yang berani mendekat ke arahnya itu.

Namun, gerakannya ikut melambat di bawah beban panas, tekanan jumlah pasukan tak seimbang, dan kekuatan semata dari atasnya. Pasukan mereka berdua dikepung dari segala penjuru dan bahkan di dinding kastel pun, Kaelith melepaskan anak panah terus hingga tabung panahnya hampir kosong dan matanya mulai terpaku pada raksasa terakhir di hadapannya itu dengan kondisi kulitnya sudah hangus, lengan kirinya hampir hilang tetapi raksasa itu masih berdiri tegak.

Dan sekarang… raksasa itu ada di dinding pertahanan Kaelith dan mulai menghantamkan gadanya ke dinding batu yang memecahkan pijakannya dan raksasa itu menangkap dua pemanah di dinding itu lalu melemparkannya ke udara seperti ranting.

"TAHAN RAKSASA ITU!" teriak Kaelith dengan amarah dan frustrasinya.

"TERUS MENEMBAK! BIDIK KE TENGGOROKANNYA!"

Beberapa pemanah yang masih hidup mematuhi perintahnya dan melepaskan anak panah mereka saat raksasa itu meraung lagi dengan darahnya yang keluar deras.

Tetapi, saat Kaelith hendak memasang anak panahnya sebagai tembakan terakhirnya, ia melihat sesuatu yang lebih buruk. Naga-naga itu datang ke arah tembok dan salah satu di antara naga itu menukik rendah yang membuat Kaelith berteriak dengan putus asa,

“MENUNDUK!”

Ledakan api menelan dinding bagian barat dan membakar setengah lusin pemanah sebelum mereka sempat berteriak atau menunduk.

Dinding pertahanan itu retak dan menara di belakangnya hancur karena benturan oleh efek hantaman gada dari raksasa sebelumnya juga. Panas menerjangnya hampir menjatuhkan badan Kaelith ke tanah dan ia mulai menggertakkan giginya dengan matanya yang sudah terbakar oleh emosi.

Kaelith bangkit dan mulai menembakkan anak panah terakhirnya langsung ke mata raksasa itu. Raksasa itu menjerit dan terhuyung-huyung tetapi tidak jatuh.

Kaelith melihat hal itu langsung mengambil langkah mundur lalu berlari ke arah raksasa itu dan melompat ke arah raksasa itu dengan menghunuskan belatinya tepat di wajahnya yang berlumuran abu dan darah yang membuat raksasa itu mundur dan Kaelith langsung menarik diri dari raksasa itu sebelum ia ikut jatuh bersamanya.

Kaelith melompat ke arah tembok yang setengah hancur itu berhasil sebelum ia jatuh bersama puing-puing batu tembok itu. melihat raksasa itu terjatuh yang terasa seperti gempa bumi sesaat itu membuatnya tak bisa bernafas dengan lega karena masih menyisakan satu raksasa lagi ditambah dengan lima naga mayat hidup.

Di atas, langit mulai mengerang dan di langit itu, komandan musuh bergerak perlahan ke depan untuk melihat keseluruhan medan perang saat ini.

Dia bergerak menuju ujung tebing pegunungan utara bersama ribuan orang terbaiknya mendampinginya.

Binatang buas, penyihir, dan prajurit yang sudah berzirah itu. Dia tidak mengatakan apa-apa untuk menghancurkan kerajaan Elarion itu dan dia tidak perlu melakukannya bila ia harus turun tangan dalam menanganinya sendiri.

Medan perang tunduk di hadapannya api, tulang, dan kematian. Pasukan kehancurannya maju begitu brutal dan tanpa ampun untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai dari para naga mayat hidup itu yang telah dipanggilnya.

Pertahanan kerajaan Elarion terlihat mulai goyah dan strateginya hancur berantakan. Sedangkan, orang-orang Elarion sudah kehabisan waktu untuk menahan semua serangan yang datang terus menerus tanpa hentinya dari berbagai arah.

Namun jauh di dalam hutan, jauh dari jeritan orang-orang yang mengharapkan pertolongan. Solhen berbisik untuk mereka yang sudah merasakan penderitaan yang lebih keras dan di saat itulah tanah di sekitarnya mulai bergetar seketika dan sesuatu yang lebih tua dari api mulai terbangun yang seharusnya tidak boleh dibangunkannya itu.


Other Stories
Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Download Titik & Koma